Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 71



"Dareen, Sayang," panggil Rania pada Sang anak yang masih bergumul dengan selimut di depan tv. Sang anak hanya menoleh padanya ketika Rania memanggil. "Tuh, Om nya dateng," ujar Rania memberitahu.


Tidak butuh dua tiga kali untuk menjelaskan siapa Om yang datang, Dareen langsung mengerti. Dia bangun dan berlari ke luar rumah seperti seorang anak yang sedang menunggu ayahnya pulang setelah beberapa lama tidak pulang.


"Om, Om," panggil Dareen.


Nalendra yang baru saja memarkirkan mobilnya tersenyum pada tingkah anak kecil yang sekarang sedang berdiri di teras menunggunya keluar dari mobil.


"Halo, Jagoan," ucapnya, menghampiri Dareen dan menggendongnya masuk ke dalam rumah, padahal belum dipersilahkan masuk oleh Si empunya.


Rania keluar dari arah dapur membawa nampan berisi secangkir teh manis hangat, dan beberapa potong kue brownies dalam piring kecil.


"Assalamu'alaikum, Bu." Nalendra memberi salam pada Bu Sekar yang keluar dari arah dapur juga.


"Wa'alaikumsalam, gimana kabarnya?" tanya Bu Sekar.


"Alhamdulillah, baik, Bu." jawab Nalendra.


"Saya masuk dulu ya, lagi masak takut gosong. Silahkan teh nya," ujar Bu Sekar yang berlalu masuk.


"Eh, 'Nak Nalendra. Kapan sampe di Indonesia?" tanya Pak Idris, dia tahu kalau kemaren Nalendra masih di Singapore.


"Tadi malam," jawabnya tersenyum.


"Om, lama banget kerjanya. Kemarin aku jalan-jalan, ke mana bunda?" tanyanya ke Rania.


"Mesjid agung, Sayang."


"Iya, ke sana. Banyak superhero, Doraemon, ada hantu juga. Om takut hantu ga?" tanya Dareen.


"Ada hantu di sana, Dareen ga takut? kalau Om takut ga ya?" kata Nalendra.


"Jangan takut, itu cuma boongan Om!"


Rania terkekeh, dia keluar rumah melaksanakan niat awal, membersihkan halaman. Dia bersenandung riang ketika menyapu, paginya terasa lebih cerah dan hangat walaupun embun masih menutupi sebagian dedaunan.


"Teh, jangan terlalu siang berangkatnya. Takutnya macet di jalan!" seru pak Idris dari. "Dareen, ayo mandi dulu!" Dareen melompat dari pangkuan Nalendra, mengikuti Pak Idris.


"Ayo, kita cari tempat liburan lagi," gumam Nalendra mengeluarkan ponsel dan mulai mencari tempat wisata karena dia mengira akan pergi jalan-jalan lagi.


"Eh, ada Aa. Kapan datang?"tanya Zyan yang baru masuk ke rumah.


"Baru aja," jawab nalendara.


"Alhamdulillah, berarti nambah orang buat bantu-bantu," ujar Zyan tertawa kecil sambil berlalu masuk, mencari Bu Sekar.


Bantu-bantu, bantu-bantu apa? pikir Nalendra. Mengernyitkan dahinya.


Rania masuk ke dalam rumah, melihat Nalendra yang asik menscroll layar ponselnya. "Dareen mana?"


"Tadi disuruh mandi sama Bapak," jawab Nalendra.


"Oh." Rania pun masuk ke dalam mencari Zyan.


"Hei, Jangan lupa beli keran!" seru Rania pada Zyan.


"Teh, aku di rumah aja ya. Ada Kak Nalendra, biar dia aja yang nyetir."


"Enak aja, nyuruh-nyuruh orang. Dia baru nyampe sini jam 6!" jawab Rania.


"Aku juga baru nyampe sini. Semalem kurang tidur," rengek Zyan.


"Suruh siapa ga tidur! Berangkatnya, biar Teteh aja yang nyetir." kata Rania. "Di sana juga cuma nemenin yang mau bersih-bersih doang," lanjutnya.


"Ayo, sarapan dulu. Jangan bertengkar aja!" Bu Sekar memanggil semua keluarga termasuk Nalendra untuk sarapan.


"Rencananya, hari ini kami mau ke Bekasi. membersihkan rumah Dareen, ada yang mau ngontrak rumah," ujar Pak Idris memulai percakapan.


"Kalau begitu, bolehkah saya ikut?" tanya Nalendra.


"Tentu, tapi bukankah 'Nak Nalendra baru sampai di Indonesia. Apa tidak cape?"


"Tidak apa-apa, Saya tadi sudah tidur dulu di rest area."


"Kamu langsung ke sini dari bandara, tidak pulang ke rumah?" tanya Rania terperanjat.


Kenapa dia malah ke sini, bukannya pulang ke rumah orangtuanya. Bagaimana jika nanti orangtuanya marah padaku, anaknya lebih milih ke sini dibanding ke rumah mereka. Dasar Nalendra! gerutu Rania dalam hati.


"Iya, aku langsung ke sini dari bandara. Nanti juga aku pulang ke rumah, ada kerjaan beberapa hari di Bandung. Aku akan menginap di rumahku," jawab Nalendra.


"Apa ga apa-apa gitu, Aa ikut kami ke Bekasi?" tanya Bu Sekar. "Apa Aa masih kuat nyetir?"


"Tidak apa-apa, Bu. Aku sudah biasa kaya gini, asal sudah tidur dua atau tiga jam," jawab Nalendra.


"Ya udah, gini aja. Rania sama Nalendra aja ke Bekasi, Bapak juga sebenarnya ada keperluan hari ini. Tadi Bapak di telepon Hasan, dia ngajak Bapak jenguk Suardi." Terang Pak Idris pada istri dan anaknya.


"Bukannya kita mau ke rumah Pak Darmawan juga, Bapak ini gimana!" sergah Sang istri. "Sebentar lagi puasa, kita ke sana buat silaturahmi dulu."


"Iya, ya. Bapak lupa," jawab Pak Idris.


"Apa ga masalah kalau saya ikut?" tanya Nalendra merasa belum siap bertemu Pak Darmawan.


"Ya, tidak apa-apa." Jawab Pak Idris.


Nalendra mengangguk. Apa aku harus sekalian melamar Rania di sana? pikirnya.


Mereka berangkat ke Bekasi pukul delapan. Rania ikut bersama dengan Nalendra dan Dareen, sedangkan Pak Idris dengan Bu Sekar dan Zyan. Mobil yang dikendarai Zyan Hanya cukup untuk 4 orang.


Mereka pun memutuskan Rania harus ikut ke mobil Nalendra agar tidak terlalu sesak. Juga agar Rania bisa menggantikan Nalendra mengemudi, jika dia mengantuk.


Zyan sedikit mengeluh dengan pengaturan tersebut, tetapi tidak bisa menolak juga karena Pak Idris yang memutuskan.


"Kenapa aku harus ikut?" keluh Zyan.


"Enggak usah ngeluh, nurut aja sekalian refreshing juga!" jawab Bu Sekar.


"Kenapa ga bawa mobil yang besar aja, bukan yang ini. Lebih irit kan?"


"Bawel amat sih!" kata Bu Sekar.


Padahal mereka bisa membawa satu mobil saja yang bisa menampung 6 hingga tujuh orang. Kenapa harus membawa dua mobil yang hanya cukup untuk 4 orang! gerutu Zyan dalam hati. Dia mendengus kesal memikirkan hal itu.


"Udah jangan marah-marah. Bapak nyuruh bawa mobil kecil agar Teteh bisa menemani Nalendra berkendara. Kalau bawa yang besar nanti Nalendra akan menawarkan diri mengemudi, Bapak merasa ga enak apalagi dia habis perjalanan jauh."


Di mobil Nalendra, Dareen menatap keluar jendela, memperhatikan pohon-pohon di sepanjang jalan tol. Pohon-pohon itu seperti berlarian mengejar mobil yang mereka tumpangi.


"Apa kamu ga lelah? kalau lelah biar aku saja yang bawa," tanya Rania.


Nalendra memang merasa agak lelah, tetapi dia juga enggan menyuruh Rania menggantikannya mengemudi. Dia merasa senang karena seperti sedang berkendara bersama keluarga kecilnya.


"Tidak apa-apa, nanti aku akan memberitahumu jika sudah mengantuk," jawabnya.


"Kenapa kamu memaksakan diri buat ikut. Kenapa ga beristirahat aja?" keluh Rania.


"Apa kamu merasa ga nyaman bersamaku?" tanya Nalendra.


"Bukan seperti itu. Hanya ... sebenarnya aku merasa tidak enak padamu. Kenapa kamu malah pulang ke rumahku bukan ke rumah orangtuamu?"


"Karena aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu," jawab Nalendra sambil melirik Rania yang tertegun mendengar penuturannya.