Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 32



"Dareen sekolah ya, Om kerja dulu. Nanti dijemput Abah. Jangan sedih lagi," gumamnya sambil berjongkok mensejajarkan pandangannya dengan Dareen.


Dareen memeluk Nalendra erat sebelum mereka berpisah.


"Dareen, itu siapa?" tanya seorang ibu, setelah memastikan Nalendra sudah pergi dari sana.


"Om Nalendra," jawab Dareen polos.


"Om nya Dareen?" tanyanya lagi.


"Iya," jawab Dareen sambil memainkan bola yang berada di depannya.


"Ko ga di anterin mama atau Abahnya?" selidik si ibu.


"Mama lagi nemenin Oma sakit, Abah ada di rumah. Nanti di jemput Abah pulangnya," jawab Dareen polos.


"Ada apa Jeng?" tanya ibu yang lain penasaran.


"Sini Jeng, sini ...!" ajak Ibu yang tadi bertanya kepada Daren. "Tadi aku liat Dareen dianterin laki-laki, kata Dareen Om nya. Cakep banget lho Jeng, dia juga rapi banget kayanya orang kantoran soalnya pake kemeja dan dasi juga," tutur si ibu.


Ibu itu adalah Mommy Zio, dia sangat terkenal dikalangan ibu-ibu di sekolah Dareen karena dia seorang yang kepo dengan kehidupan orang lain.


"Masa sih Jeng, bukannya adik mamanya masih kuliah ya belum kerja?" tanya mama Seno.


"Iya itu dia makanya aku nanya Dareen. Mungkin ga sih dia calon ayah tirinya Dareen?"


"Masa sih, emang udah berapa lama ayahnya Si Dareen meninggal, bukannya baru beberapa bulan yang lalu ya?" ujar mama Seno.


"Dia kan udah selese iddahnya. Jangankan baru selese Iddah,yang baru cerai aja banyak yang punya gandengan baru!"


"Ah, aku rasanya ga percaya Jeng. Ga mungkin kan bundanya udah punya yang baru. Dia 'kan keliatannya ga gitu juga," ungkap mama Nizar, teman dekat Dareen di sekolah.


"Situ 'kan temennya, coba deh tanya mamanya?" ujar mommy Zio.


"Mungkin benar itu sodaranya kali Bu," ucap bunda Azka. "Ga baik menyimpulkan sesuatu kaya gitu. Kalaupun benar juga ya biarkan saja toh dia sudah beres Iddah kayanya jadi boleh dengan siapapun."


"Makanya aku bilang ma dia nyuruh dia tanyain ke Si bunda Dareen. biar kita tau kebenarannya itu lho!"


Mama Nizar hanya menggelengkan kepalanya, berlalu dari sana. "Bu, pamit ya. Aku lupa rumah dah dikunci belomnya, kayanya harus diliat!" ujarnya, semakin dia lama di sana pasti beritanya akan semakin heboh lagi. Dia harus secepatnya menghilang dari sana.


***


Pak, Dareen biar aku yang jemput. Rania pulang dulu, tadi Pak Darmawan nyuruh pulang buat istirahat.


Itulah pesan yang diterima pak Idris ketika dia bersiap hendak menjemput Dareen.


Iya, hati-hati di jalannya. balasnya.


Pak Idris kembali membersihkan kolam di depan rumah Rania. Kolam itu sudah sebulan tidak dibersihkan hingga terlihat lumut hijau di salah satu dindingnya.


Rania telah tiba diparkiran sekolah untuk menjemput anak semata wayangnya. Dia melihat mama Nizar telah duduk di bawah pohon halaman sekolah tempat para orangtua menunggu anaknya pulang.


"Hei, itu Rania dateng," ujar Mommy Zio.


"Hay, Ran. Kata anakmu, kamu nungguin Omanya sakit. Emang sakit apaan?" tanyanya membuka pembicaraan.


"Iya, Biasa hipertensinya kambuh juga mungkin kelelahan," jawab Rania.


"Oh, pantes tadi Om nya yang anter," ujarnya lagi, memulai ke topik yang ingin dia ketahui.


"Om nya?" Rania mengernyitkan dahinya. "Apa Zyan ada di rumah, ko aku ga tahu!" pikirnya.


Mommy Zio memperhatikan raut wajah Rania yang terkejut, tersenyum senang. "Tapi yang tadi itu kayanya bukan adikmu yang dulu pernah antar jemput Dareen. Dia kayanya tadi pakai kemeja rapi banget kaya mau berangkat kerja," pancingnya.


"Iya, itu sodaranya almarhum Ergha yang kerja di Jakarta. Oma nya Dareen kan sakit, aku jagain dia di rumah sakit makanya sepupunya almarhum yang bantu anter anakku biar sekalian jalan juga 'kan." jawab Rania santai, walaupun dia sendiri tidak tahu dan penasaran siapa yang mengantar Dareen tadi pagi.


"Oh, dia masih single?" tanya mama Seno mulai menyelidiki.


"Udah nikah Mbak, Istrinya yang sekarang bantu jagain Ibu. Makanya aku bisa pulang dulu buat ngurus Dareen."


"Baik banget ya, padahal 'kan sepupuan aja."


"Katanya dulu dia sempet tinggal ma Ibu jadi udah nganggap Ibu sendiri," jawab Rania yang berpikir jawabannya semakin mengada-ada.


Terdengar suara anak-anak berlarian keluar dari dalam sekolah. Rania berdiri bersama mama Nizar hendak menyambut anak-anak mereka dekat gerbang, tetapi alasan utamanya untuk menjauhi Mommy Zio yang selalu penasaran dengan kehidupan orang lain yang bisa dia jadikan bahan gosip.


"Eh, Ran. Ibu-ibu tuh dari pagi gosipin Lo, tadi pagi gue disuruh nanyain sama Lo tentang sepupu almarhum itu , jadi gue pulang aja pas gue balik lagi dia juga masih ngegosipin Lo. Males banget 'kan!" ujarnya.


"Biarkan saja mereka kaya gitu," ujar Rania.


"Dareen!" seru Rania ketika melihat anaknya berjalan gontai bersama Nizar.


"Lemes banget ya?" tanya Rania melihat raut wajah anaknya.


"Tadi aku habis lari-lari sama Nizar," jawab Dareen.


"Iya, keliling-keliling nyampe cape ya," timpal temannya, Nizar.


"Oh," ucap Rania dan mama Nizar berbarengan.


"Ayo, aku duluan ya!" ujar Rania melambaikan tangan, sambil berlalu ke arah parkiran mobilnya.


"Bunda udah pulang? aku kira Abah yang jemput," ucap Dareen.


"Jadi Dareen mau dijemput Abah?" tanya Rania.


"Enggak, aku pikir bunda masih nunggu Oma," jawabnya. "Bunda, boleh aku beli ice cream?" tanya Dareen dengan senyuman manis yang menggemaskan.


Rania tertawa melihat tingkah Sang anak, "Ya Allah, kamu lucu banget sih," ujar Rania mencubit pipi Dareen.


"Boleh?" tanyanya lagi. Rania pun mengangguk.


Mereka mampir di minimarket membeli ice cream dan beberapa biskuit dan cemilan yang lain. Rania juga membeli beberapa bungkus roti untuk dia bawa ke rumah sakit menemani Ibu mertuanya nanti malam.


Sesampainya di rumah, Rania mengganti baju Dareen dengan baju rumahan dan memasak untuk makan siang.


"Bunda mandi dulu ya," kata Rania pada Dareen yang sedang melihat ikan di kolam yang sudah dibersihkan oleh pak Idris.


Rania langsung masuk ke dalam kamarnya, mengguyur kepalanya dengan air agar rasa lelah di badannya hilang. Setelah selesai Rania langsung mengambil ponsel di tas dan mulai melihat rekaman cctv kemarin.


Rumah Rania memang dilengkapi cctv di luar juga di dalam rumah, kecuali di kamar. Dia putar rekaman cctv dari pagi tadi saat Dareen berangkat ke sekolah, penasaran siapa Om yang mengantar Dareen sekolah.


Rania mulai memutar rekaman cctv yang diambil dari jam 6 pagi tadi. Terlihat Mobil warna hitam terparkir di halaman rumahnya. "Mobil siapa itu?" gumamnya. Dia pun mempercepat video rekaman cctv nya.


Di Pukul 6.28 seorang pria berpakaian kemeja lengkap keluar dari pintu rumah dan mendekati mobil hitam tadi. "Siapa dia?" gumamnya lagi karena hanya terlihat bagian belakang tubuhnya saja.


"Om," suara Dareen terdengar, pria itu berbalik menghampiri Dareen.


Deg, wajah Nalendra yang tersenyum membuat Rania mengertakan giginya, kesal. "Ternyata dia," Rania menutup matanya menghembuskan napas pelan mencoba menenangkan rasa kesal dalam dirinya.


Rania kembali memutar video dari jam 7 malam, 8 malam dan jam 9 malam mencari tahu kapan dia datang ke rumah.


"Apa aku harus bertanya pada Bapak?" tanyanya dalam hati.