Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 53



Radit masuk ke kamar dan mengambil ponsel yang tadi menyala.


"Ponselmu," ujar Radit menyerahkan ponselnya pada Nalendra. Dia melihat notifikasi panggilan masuk.


"Siapa?" tanya Radit penasaran melihat raut wajah Nalendra yang tersenyum. Nalendra tidak menjawab hanya memberi senyuman.


"Si penggemar rahasia masih suka misscall?" tanya Agus.


"Oh iya, aku udah tau siapa si penggemar rahasia itu!" timpal Ergha tersenyum bangga.


"Siapa?" tanya Nalendra dengan wajah penuh keraguan.


"Rania."


Deg, Jantung Nalendra seakan berhenti beberapa detik. Apa aku salah dengar?" batinnya.


"Siapa?" kata Agus meminta Nalendra mengulang.


"Rania, namanya Rania, R-A-N-I-A!" ujar Ergha mengeja.


"Apa kamu punya teman bernama Rania?"


"Rania yang sekelas sama kamu waktu SMA, bukan?" tanya Indro memastikan. Nalendra hanya menggelengkan kepalanya.


"Tapi nih ya, dia itu lucu banget menurutku. Dia telepon aku saat pulang semesteran dulu, waktu aku lagi di bis. Dia meneleponku sambil nangis-nangis!" Ergha tertawa mengingat kejadian itu.


"Nangis?" Nalendra terkejut membulatkan mata. Mie instan yang hendak masuk ke mulutnya, terjatuh kembali ke dalam mangkok.


"Iya, aku sendiri kaget waktu angkat telepon denger dia nangis. Katanya dia habis putus sama pacarnya," tutur Ergha.


"Putus?" tanya Nalendra pelan. "Coba siapa nama pacar dia, cerita ga?" Nalendra begitu penasaran dengan hal itu. Kali aja itu Rania yang berbeda, bukan. Berbeda dengan Rania yang dia maksud.


"Siapa ya, Nata gitu. Katanya dia putus gitu aja, kalau ga salah pacarnya ga lulus kuliah di Bandung, jadi dia kuliah di kotanya. Dia orang seberang!"


Nalendra termenung mendengarkan semua yang Ergha katakan.


Kasian, dia pasti sedih!batin Nalendra.


"Terus, kalian ngobrol apa lagi?" Agus semakin bersemangat. "Kenapa dia telepon kamu, bukan telepon aku?"


"Emang dia punya nomormu?" tanya Nalendra terkejut.


"Enggak!"


"Dia bilang, pengen nangis aja. Pengen cerita ke seseorang, tapi orang yang dia ga kenal. Makanya dia telepon nomor yang ga dia kenal, biar dia ga malu saat cerita. Katanya gitu," ungkap Ergha.


"Jodoh berarti, cantik ga sih orangnya?" tanya Radit lagi. "Pantesan ga telepon Nalendra. Terus ditanyain kenapa dia suka misscall Nalendra?"


Saat Radit menanyakan hal itu, ponsel Nalendra kembali berdering.


Rania! batin Nalendra.


Nalendra mengangkat teleponnya dan seperti biasa hanya misscall an.


"Gha, coba kamu telepon. Diangkat ga sama dia?" Radit semakin penasaran dengan perempuan ini. Dia selalu misscall Nalendra, tetapi juga menghubungi Ergha dan yang jelas dulu dia punya pacar.


Ergha berdiri mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Rania. "Ga diangkat, Bro!"


"Coba hubungi lagi!" pinta Radit.


Ergha duduk dikelilingi temannya yang pada penasaran dengan Rania. Tak lupa dia me loud speaker.


"Halo, assalamu'alaikum." Suara seorang perempuan terdengar merdu di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam," balas Ergha.


"Ada apa Gha?" tanya perempuan tadi.


"Tanya terus!" bisik Radit.


"Lagi apa nih?" tanya Ergha, matanya berkeliling memandang semua bergantian.


"Lagi duduk, kenapa?"


"Ganggu ga?" tanya Ergha, berharap dia berkata kalau saat ini sedang sibuk. Entah kenapa dia merasa enggan membagi suara Rania dengan yang lain.


"Enggak," jawab perempuan di seberang telepon itu.


"Rania, lama ga teleponnya?" terdengar suara perempuan lain di sana. "Aku pulang ya, makasi. Nanti aku balik lagi!" kata perempuan lain itu. Sepertinya dia berteriak karena terdengar lumayan jelas oleh Ergha.


"Siapa itu, kamu lagi sibuk ya?" tanya Ergha.


"Itu temanku, Liana. Enggak ko, dia udah pulang."


Liana? berarti benar dia Riana. pikir Nalendra tersenyum. Kalau memang benar Riana yang selalu iseng misscall, nanti dia akan menghubunginya.


"Riana, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ergha ragu. "Apa kamu kenal Nalendra?"


"Nalendra?" kata Rania. "Aku punya teman SMA namanya Nalendra. Kenapa?"


"Dulu aku pernah cerita kan sama kamu, kalau aku tau nomormu dari temanku. Dia Nalendra," tutur Ergha.


"Benarkah? tapi ga mungkin Nalendra tau nomorku," ujar Rania di seberang telepon. "Ini nomor baru dan kalau diingat lagi, dulu waktu di buku kenangan juga hanya tertulis nomor telepon rumah bukan nomor ponselku," ungkap Rania yang penasaran kenapa Nalendra bisa mengetahui nomornya.


"Mungkin kamu pernah menghubungi dia atau misscall dia!" Ergha mulai merasa, benarkah Rania ini seorang yang jujur? padahal dia sudah mulai nyaman ketika mengobrol dengan Rania.


"Tidak, aku ga tau nomor ponsel dia," jawab Rania.


"Masa, bukankah nomor dia ada di buku kenangan SMA?" tanya Ergha lagi penasaran sampai mana Rania akan berbohong.


"Aku tidak pernah melihatnya," ucap Rania jujur.


"Tadi kamu misscall Nalendra. Ini aku lagi di rumah dia!" Ergha sudah tidak mau mendengar Rania berbohong lagi.


"Tadi?" tanya Rania balik. "Aku baru memegang ponselku. Dari tadi ponselku dipinjam teman. Apa dia yang menghubungi Nalendra?" gumam Rania mulai berpikir keras.


"Maaf, bisakah nanti kamu telepon lagi. Aku akan bertanya dulu sama temanku. Ih dia bikin malu!" gerutu Rania di seberang telepon. "Assalamu'alaikum."


"Tunggu, nanti kalau kamu mau nanya sama dia. Kirim pesan sama aku, biar aku telepon kamu. Aku ingin mendengar teman kamu. Aku penasaran kenapa dia selalu misscall Nalendra menggunakan nomormu. Maaf jika kamu tersinggung," ucap Ergha.


"Ga apa, aku ngerti. Assalamu'alaikum," pamit Rania lalu mengakhiri teleponnya sepihak.


"Menurutmu, dia jujur atau bohong?"


"Menurutku dia jujur, celetuk Indro. Seingat aku, Rania bukan seorang yang suka berbohong. Dia seorang yang setia, aku ingat dia memang sudah pacaran sejak di SMA dan LDR. Aku tahu karena teman sekelas ku waktu SMA dulu pernah dia tolak," ungkap Indro.


"Siapa?" tanya Nalendra terkejut.


"Si Odeng, tau kan?"


"Oh, padahal si Odeng cakep ya," ujar Nalendra.


"Jadi, dia ga mungkin misscal-misscall laki lain. Sifat seseorang tidak bisa berubah secepat kilat," kata Indro penuh penekanan.


"Kau benar!" jawab Ergha meyakinkan diri jika Rania adalah gadis yang baik.


Kurang dari setengah jam kemudian, Rania mengirim pesan pada Ergha untuk meneleponnya.


"Shuttt, jangan ribut!" ucap Ergha.


Ergha dan Rania berteleponan. Ergha ga bisa membayangkan bagaimana Rania menyembunyikan ponsel yang sedang dipakai dari teman perempuan yang misscall Nalendra.


"Na, tadi aku liat ada nomor ga dikenal di ponselku. Kamu yang telepon ya, soalnya aku ga tau nomor siapa itu?" tanya Rania terdengar pelan tapi jelas.


"Dia telepon balik ga?" tanya teman perempuan Rania, dari suaranya terdengar panik.


"Jadi, kamu yang telepon?" tanya Rania tersentak kaget. "Enggak, dia ga telepon!"


"Oh, kirain telepon balik!"


"Emang itu nomor siapa?" selidik Rania.


"Ada deh! kalau nomor itu telepon jangan diangkat. Sini aku kasih nama biar kamu inget ga ngangkat telepon dari nomor itu," ujar Liana menadahkan tangannya meminta ponsel Rania.


"Aku ga bawa ponsel," jawab Rania.


"Itu yang dipegang apa?"


"Ah, hahaha ... ternyata bawa." Rania langsung menekan tombol telepon tertutup pada ponselnya.


"Yah, dimatiin. Padahal lagi seru!" ucap Radit.


"Siapa tadi nama temannya itu?" tanya Agus.


"Liana," jawab Nalendra pelan. Hatinya sedikit kecewa saat tahu bukan Riana yang sering menghubungi dia, tetapi Liana.


Setidaknya dia punya nomor Riana. batinnya.


"Namanya hampir sama ya, Riana Liana."


"Eh, dia kirim pesan nih!" kata Ergha.


Tolong sampaikan maafku pada Nalendra, maaf kalau dia merasa terganggu.


Entah kenapa Nalendra semakin merasa menyesal telah memberi nomor Rania pada Ergha.


"Aku menyukainya!"