
"Waktu kamu nikah, dia dateng enggak?" tanya Liana.
Rania tak dapat menahan tawanya, dia terbahak. Bagaimana mungkin Nalendra tidak datang ke acara nikahannya sendiri. pikir Rania.
"Maaf," ucap Rania masih berusaha menghentikan tawanya. "Kenapa kamu nanyain Nalendra?"
"Nanya aja, dia susah dihubungi. Aku pikir dia masih suka ke sini," ujarnya penuh harap
"Bunda, katanya mau ke rumah nenek!" Dareen menghampiri Rania dan bergelondotan padanya.
"Iya, nanti sore." Rania mengusap kepala Dareen lembut.
"Kamu mau pergi?" tanya Liana.
"Ehm, iya. Mertua baruku nyuruh nginep di sana," ujar Rania. Dia masih enggan memberitahu Liana siapa suaminya.
"Suamimu jemput?"
"Enggak, aku ke sana sama Dareen berdua."
"Kenapa?"
"Suamiku lagi kerja di Singapore."
"Singapore, dia TKI?" tanya Liana terkejut.
"Iya, bisa dibilang begitu," jawabnya tersenyum. Rania tidak berbohong soal Singapore dan bisa dikatakan juga jika Nalendra kini sedang menjadi TKI, toh dia memang sedang bekerja di sana dan berasal dari Indonesia.
"Oh, iya nanti sabtu ada buka bersama Reuni kelas, biasa." kata Liana. "Ikut ya, bareng sama aku, yang lain pasti bawa pasangan. Suamimu ga pulang Minggu ini bukan?"
"Enggak kayanya. Dia mungkin pulang nanti pas mau lebaran. Baiklah, aku ikut," jawab Rania.
Tidak ada salahnya dia ikut reuni. Sudah lama dia tidak bertemu dengan teman-teman SMA nya. Sebelumnya setiap ada acara reuni, pasti aja dia tidak bisa hadir.
Nalendra pasti mengizinkanku ikut, toh dia juga teman sekelas ku waktu SMA. pikir Rania.
Terdengar bunyi klakson dari luar gerbang rumah Rania. Mobil hitam sudah berada di depan pagar, meminta dibukakan pagar.
"Kenapa ga buka sendiri!" gerutu Rania lirih. "Dareen, tolong buka pagarnya, bilang sama Om agar buka pagarnya sendiri!"
Dareen setengah berlari ke arah gerbang, membuka kunci engselnya.
"Siapa, suamimu?" tanya Liana terus memandangi mobil hitam tersebut. Rasanya aku pernah melihat mobil itu, tapi di mana, pikir Liana mengernyitkan dahi.
Dari mobil hitam itu, keluar seorang pria muda. Dia segera membuka pagarnya lebar-lebar agar mobil yang dia bawa bisa masuk ke halaman.
"Rasanya aku pernah melihatnya, di mana ya? apa dia suamimu?" tanya Liana.
"Bukan, dia adik iparku!"
"Aku kira kamu sama brondong!" ujar Liana terkekeh.
"Teh," sapa Alaric menyalami Rania.
"Emang sekarang, padahal aku bisa ke sana sendiri," kata Rania merasa tidak enak merepotkan adik iparnya.
"Ga repot ko."
"Mau pergi sekarang ya. Kalau begitu aku pulang ya, jangan lupa kalau Nalendra ke sini kasih tau aku ya," ucap Liana berlalu meninggalkan rumah Rania, tanpa tahu Alaric adik Nalendra.
"Siapa dia?" tanya Alaric, rasa penasaran muncul ketika Liana menanyakan kakaknya.
"Penggemar Nalendra," jawab Rania mengatupkan bibir, menahan tawa.
Alaric masuk ke dalam rumah mengikuti Rania dengan menggendong Dareen. Dia duduk di ruang tamu, menunggu kakak iparnya bersiap berangkat.
Pagi-pagi Nalendra menghubunginya, memintanya menjemput Rania. Nalendra tahu akan ada acara buka bersama di rumah orangtua mereka. Tentu Rania harus hadir sebagai istrinya.
"Hati-hati di jalannya, salam buat Bu Shafira dan pak Sulaiman ya," ucap Bu Sekar begitu Rania dan Dareen menaiki mobil Alaric.
**
Rumah keluarga Nalendra tidak begitu banyak berubah, dari pertama kali Rania datang ke rumah tersebut saat SMA dulu. Halamannya masih sama, pohon mangga yang berada di tengah pekarangan pun masih berdiri di sana, hanya jenis bunga yang ditanam berbeda. Sekarang lebih banyak tanaman berdaun lebar dibanding tanaman berbunga.
Rania melirik samping garasi, dahulu di sana terdapat pekarangan dan kandang ayam di samping rumah, sekarang sudah dibangun.
Garasinya diluaskan, pikir Rania. melihat rolling door menutup bangunan baru tersebut.
"Ayo, Teh," ajak Alaric. "Sini biar aku bawa," Alaric mengambil totebag dari tangan Rania.
"Makasi." Dibalas anggukan oleh adik iparnya.
Rania mengikuti Alaric masuk, Luas teras rumah juga masih sama, hanya pintu yang sudah berganti model. Ruangan itu hanya terdapat ruang tamu saja, dahulu ada ruang tv juga di sana. Sekarang di ruangan itu terdapat kolam ikan. Dareen langsung berlari dan duduk di samping kolam melihat berbagai jenis ikan.
"Assalamu'alaikum," ucap Rania begitu masuk ke rumah di sambut oleh Bu Shafira.
"Wa'alaikumsalam, akhirnya dateng juga. Ibu nunggu dari tadi," ujarnya.
"Macet, Bu." Alaric beralasan.
"Kamar Si Kakak di atas, ayo Ibu anterin." Bu Shafira berjalan terlebih dahulu menunjukan kamar Nalendra.
Rania berjalan ke arah dapur, dia memperhatikan ruangan baru di samping dapur. Seingatnya dahulu tidak ada ruangan di sana. Rania melirik ruangan tersebut, lampunya menyala.
Ruang kerja, pikirnya. Melihat laptop yang berada di atas meja di ruangan tersebut dan tumpukan kertas di sampingnya.
Rania menaiki tangga yang terbuat dari tumpukan kayu, berbentuk spiral. Mereka melewati beberapa kamar.
"Itu kamar Alaric," kata Bu Shafira menunjukan kamar di sudut ruangan. "Ini kamar Nalendra," lanjutnya, membuka pintu kamar. "Sebentar lagi asar, nanti kalau sudah selesai shalat, ke bawah ya."
"Baik, Bu." Rania tersenyum pada Bu Shafira.
"Tidak usah khawatirin Dareen, dia anteng liatin ikan. Nanti di jaga Alaric, biar dia ada kerjaan. Ga main game mulu!" seru Bu Shafira. "Ibu ke bawah dulu," ujarnya berlalu.
Rania menutup pintu kamar, dia melihat sekeliling. Tempat tidur ukuran king berada di tengah ruangan, di seberang tempat tidur ada bufet minimalis dan tv berukuran 42 inci menggantung di atasnya. Meja belajar berada di sudut ruang dekat jendela besar tertutup vitrase. Lemari pakaian berada dekat pintu kamar mandi.
Rania menyimpan tas berisi pakaiannya di dekat lemari. Dia berjalan ke arah tempat tidur, menyimpan ponsel di sampingnya dan merebahkan diri di sana. Matanya lurus menatap ke langit-langit kamar. Berada di kamar Nalendra, membuat Rania tambah merindukan suaminya.
Kamar itu hanya ditempati Nalendra ketika pulang ke Bandung saja, itu pun hanya satu atau dua malam. Namun, wangi parfum Nalendra masih tercium di kamar tersebut.
"Apa ibu menyemprotkan parfum Nalendra?" lirih Rania menghela napas.
Rania mengambil ponsel yang berada di sampingnya. Dia mengulir layar dan mengirim pesan pada Nalendra. Beberapa menit kemudian, ponsel Rania menyala. Nama Nalendra tertera di sana.
"Ya, Assalamu'alaikum." Rania melambaikan tangan ke arah ponselnya, melihat Nalendra di sana. Mereka melakukan panggilan video.
"Wa'alaikumsalam, udah sampai. Sama siapa ke rumah ibu?" tanyanya memandang sang istri yang sedang tiduran menyamping.
"Tadi dijemput Alaric. Apa aku ganggu?"
"Tidak, kamu tidak pernah mengangguk, Sayang. Aku baru selesai shalat," ujar Nalendra tersenyum.
"Di sini belum asar, sejam lagi." Dia tahu waktu Singapore satu jam lebih cepat dibanding waktu Indonesia bagian barat. "Ndra, tadi Liana ke rumah. Dia mengajakku ke acara reuni, buka bersama. Aku mau ikut reuni kelas, boleh ya. Tadi aku udah bilang iya ke dia," ungkap Rania.
"Sabtu besok ya?" tanyanya.
"Ko kamu tau?"
"Tau lah, temen-temen pada ngobrolin itu di grup!" ujar Nalendra tersenyum.
"Oh, aku enggak masuk grup." Rania termenung sebentar. "Udah ya, aku pengen tidur sebentar. Aku ngantuk, baik-baik ya di sana," ucap Rania melambaikan tangan lalu menekan tanda mengakhiri panggilan.