Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 112



Liana yang kecewa dengan Nalendra yang lebih memilih Rania dibanding dirinya, mulai berniat membalas sakit hatinya pada Rania. Mereka memang bersahabat sedari kecil, tetapi cinta benar-benar bisa membuat yang dekat menjadi menjauh.


Dia mulai menceritakan kebohongan pada teman kecilnya yang lain. Dia bercerita jika Rania telah membuatnya dicampakan oleh kekasihnya.


"Udah ditanyain sama mantanmu kenapa ghosting?"


"Buat apa, dia udah jadi suaminya Rania!" ujar liana lirih. "Nanti dikira aku yang jadi pelakornya!"


"Sabar ya, Na'." Yumna mengusap punggung Liana pelan. "Kamu kemaren sakit demam, udah baikan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Rasanya tidak nyaman menggosipkan orang lain ketika yang lain serius mendengarkan khutbah.


"Alhamdulillah, mendingan. Kemarin aku ke rumah Rania, ngobrol sama mereka berdua. Lumayan sakit lagi, tapi ya sudahlah bukan jodohku. Sakitnya itu kaya ditusuk dari belakang!"


Yumna hanya mengangguk mendengarkan Liana bercerita. Dia merasa tidak enak dengan yang lain karena terkadang Liana berbicara dengan sedikit keras.


Seperti yang lain, mereka mengantri bersalaman setelah shalat idul fitri.


"Maaf lahir batin ya, Bu." ucap Yumna pada Bu Sekar.


"Maaf lahir batin juga, Yumna."


"Rania mana Bu?"


"Oh, Teteh lebaran di Garut," jawab Bu Sekar. Yumna pun tersenyum melanjutkan langkahnya bersalaman dengan yang lain. Dia tidak mungkin mengobrol lama dengan Bu Sekar karena antrian di belakangnya masih panjang.


"Udah baikan?" tanya Bu Sekar begitu bersalaman dengan Liana.


"Alhamdulillah, Bu."


"Syukurlah."


**


Saudara Pak Sulaiman datang ke rumah Abah Danu di sore hari. Semua berkumpul menghangatkan rumah yang biasanya hanya ditingali seorang diri.


Dareen bermain dengan cucu buyut yang lain di halaman rumah. Rania membantu Bu Sekar menyiapkan makan malam.


"A, kapan jadinya resepsinya?" tanya salah satu adik sepupu Nalendra.


"Pengenna mah abis lebaran, tapi si ayah nunggu dulu selese proyek Singapore."


"Kalau ga selese-selese gimana?"


"Huss, ya harus selese!" sergah Nalendra.


"Iya, gimana kalau selesenya lama."


"Ga mungkin lama, paling dua atau tiga bulanan kurang lagi juga selese," jawab Nalendra. "Kalau lama ya gampang, resepsi dulu aja biar nanti bulan madunya ke Singapore sekalian kerja," lanjut Nalendra tertawa.


"Aa ke Singapore bawa si teteh?"


"Kemaren mah enggak, dia nunggu di Jakarta. Visanya masih dalam proses, nanti kalau udah selese paling disuruh nyusul aja."


"Berarti nanti Aa ke sana sendirian ya. Kasian, LDR an," ejek Aris, adik sepupu Nalendra.


Saudara-saudara Nalendra begitu bahagia sore itu, mereka punya sesuatu yang bisa jadi bahan buat mengejek Nalendra. Alaric pun sama dengan saudaranya yang lain, dia merasa puas bisa mengejek kakaknya yang menurut dia lelaki sempurna.


Berbeda dengan Rania, dia hanya mendengarkan para wanita mengobrol. Memang sesekali ada yang bertanya padanya, tetapi pertanyaan yang membuat Rania dan Bu Shafira yang mendengar mengerutkan dahi.


"Teh, katanya Teteh temen sekelas Aa waktu SMA ya?" tanya Asri, adik sepupu Nalendra.


"Iya." Rania mengangguk.


"Apa kalian menikah sekarang karena cinta lama bersemi kembali gitu?" tanyanya sambil tertawa.


"Enggak kayanya. Dulu kami hanya berteman saja."


"Tapi kata Kak Nalendra, dia suka sama Teteh dari SMA dulu!"


"Iya mungkin, aku juga baru tau itu belakangan."


"Coba A Nalendra ngakuin cinta ke Teteh dari dulu. Kalau sekarang kan dapet jandanya!" ucap Asri tanpa merasa bersalah.


"Karena belum waktunya, Allah yang mengatur kapan seseorang berjodoh!" seru Bu Shafira yang melihat mantunya menundukan kepala.


**


Hari ke tiga lebaran, keluarga Pak Sulaiman kembali ke Bandung. Mereka langsung menuju ke rumah orangtua Rania untuk bersilaturahmi.


"Wa'alaikumsalam, damang, Pak?" pak Idris menyapa balik.


"Alhamdulillah, sawalerna?"


"Alhamdulillah, mari masuk." Pak Idris mempersilakan keluarga Nalendra masuk ke dalam rumah. "Dareen tidur?" tanya pak Idris melihatnya dalam gendongan Nalendra.


"Iya," jawab Nalendra segera masuk ke dalam rumah untuk menidurkan Dareen di kamarnya.


Begitu masuk ke dalam rumah, Rania segera menuju dapur membantu Bu Sekar menyiapkan minuman dan cemilan.


"Teh," bisik Bu Sekar.


"Apa, Mah?"


"Mamah mau nanya, kalau Liana teh mantannya A Nalendra?"


Rani mengerutkan dahi melirik Bu Sekar. "Bukan, kenapa?"


"Tetangga di sini lagi heboh gosipin Teteh yang ngerebut Nalendra dari Liana?" bisiknya memberitahu Sang anak.


"Masa?" Rania tersentak kaget.


Bu Sekar menempelkan jari telunjuk ke mulutnya sendiri, meminta Rania jangan terlalu keras agar tidak terdengar oleh orang lain. "Iya, ibu-ibu pada nanyain ke mama soal A Nalendra. Ya, mama jawab weh sesuai yang mama tau."


Rania nampak berpikir, "Seingat Rania mah, mereka ga pernah pacaran. Almarhum ayah Dareen juga pernah bilang kalau Nalendra ga pernah punya pacar. Kalau pun punya pacar pasti dikenalin ke keluarganya. Kata orangtuanya juga Aa mah anti perempuan!"


"Nya udah atuh, nanti kita ngobrol lagi. Ini bawa ke depan, pasti udah pada nunggu," titah Bu Sekar pada Rania yang masih termenung. "Jangan dipikirkan, itu mah gosip. Ga mungkin A Nalendra bohong, apalagi keluarganya juga kan bilang begitu!"


Rania membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat ke depan. Dia meletakan nampan tersebut di meja, lalu segera pamit untuk menyusul Nalendra yang masih berada di dalam kamar Dareen.


Harus aku tanyakan! pikir Rania.


Nalendra masih berada di kamar Dareen, merebahkan diri di tempat tidur sambil memandangi Dareen yang masih terlelap.


"Ndra, jangan tidur!"


"Iya, enggak. Ini cuma rebahan bentar meluruskan pinggang, pegel nyetir lama!" jawab Nalendra beralasan.


"Ndra ada yang mau aku tanyakan. Apa kamu pernah berhubungan lebih dengan Liana?" tanya Rania setengah berbisik.


"Maksudnya?"


"Ehm, gini. Ada yang bilang kalau kamu mantannya Liana, apa itu benar?"


Nalendra terkekeh. "Ga benar, kamu kan udah tau ceritanya. Kenapa kamu nanyain itu lagi, apa kamu ga percaya sama aku?"


"Aku percaya, hanya lagi ada gosip kalau aku ngerebut kamu dari Liana. Mama denger, bahkan ibu-ibu sini nanyain kamu sama mama," jawab Rania sendu.


Nalendra menghela napas pelan. "Maaf, aku menyesal kenapa dulu aku nyari informasi tentangmu lewat dia." Nalendra menggenggam tangan Rania, menatap wajah Rania lekat.


"Ayo, keluar. Mereka pasti nunggu kita, nanti mereka nyangka kita lagi ngapa-ngapain lagi!" ajak Rania.


"Ya ga apa-apa mereka nyangka begitu. Kita kan udah suami istri."


"Ayo!" Rania menarik tangan kekar Nalendra. Bisa bahaya kalau Nalendra sudah bilang begitu.


Rania dan Nalendra keluar kamar Dareen, bergabung dengan keluarga mereka yang sedang bersenda gurau di ruang tamu.


"Sabar, Kak. Tolong itu jarinya dikondisikan, di sini ada Alaric yang jomblo!" ucap Bu Shafira terkekeh melihat kelakuan Nalendra yang terus mencolek pinggang istrinya.


"Eh, ketauan," jawab Nalendra tertawa bangga tanpa ada rasa malu.


"Kemarin nyuruh fokus kuliah, sekarang ngejek jomblo. Jadi aku harus gimana?" tanya Alaric pada Bu Shafira.


"Kuliah dulu aja. Jodoh mah nanti kalau udah waktunya pasti Allah kasih."


"Tapi, Bu. Sekarang mah banyak yang nikah padahal masih kuliah," ujar Alaric. "Ada istilah menikah menjemput rezeki."


"Enggak, enak aja. pokonya harus kuliah dulu selesein!" tolak Bu Shafira. "Anak sekarang banyak alasannya. Mereka ga tau bagaimana kehidupan setelah menikah."


"Makanya biar Aric tau, izinin buat nikah."


"Enak aja!"


"Emang udah punya calonnya?" tanya Zyan menertawakan Alaric.