Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 30



"Om, mau ga nemenin Dareen sekarang?" tanya Dareen di seberang telepon.


"Sekarang?" tanya Nalendra, "emang Dareen mau ditemenin tidurnya sama Om?" tanyanya lagi.


Nalendra melihat Dareen mengangguk sendu. "Apa benar dia ingin aku di sana, Apa tidak masalah jika aku menginap malam ini di sana. Bukankah Rania sedang tidak di rumah, Berarti ga masalah dong aku menginap di sana?" pikirnya.


"Pak, saya pulang dulu ya. Nanti saya hubungi lagi," pamit Nalendra.


"Iya, makasi sudah telepon," jawab pak Idris. "Assalamu'alaikum," pamitnya pada Nalendra.


"Wa'alaikumsalam." Nalendra mematikan teleponnya kau bergegas membereskan meja kerjanya.


"Hampir jam 7. Bisalah nyampe rumah jam 9," gumamnya tersenyum sambil membereskan mejanya.


Nalendra keluar dari ruangannya dan langsung menuju lift, sampai tidak mendengar Aziz dan beberapa karyawan memanggil menyapanya.


"Apa ada sesuatu yang urgent nyampe dia buru-buru gitu?" tanya salah satu karyawan pada Aziz.


"Entahlah," jawab Aziz bengong.


Nalendra selalu menyimpan beberapa stelan pakaian kerja dan kaos untuk tidur di mobilnya untuk keperluan mendadak, seperti ketika dia harus bergadang mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk atau tiba-tiba harus ke luar kota.


Malam itu dia meluncur membelah jalanan untuk mengunjungi Dareen. Entah kenapa dia merasa sangat terikat dengan anak itu, bukan hanya karena dia anak dari sahabatnya atau pun anak dari wanita yang dia cintai. Ada perasaan yang berbeda ketika dia bersama Dareen, rasa bahagia seperti ingin melindunginya.


***


"Ih Abah. Bangun!" seru Dareen. "Itu denger bel nya bunyi!"


Pak Idris akhirnya bangun berjalan ke arah pintu melihat siapa yang datang larut malam.


"Eh, iya ada tamu. Siapa ya?" gumamnya melihat sosok manusia di balik pagar, Pak Idris segera membuka pintu dan berjalan ke arah pagar depan.


"Eh ko bisa da di sini?" tanyanya terkejut.


"Emm, i-iya ... tadi Dareen bilang ingin ditemani. Jadi aku ke sini, maaf tidak bilang dulu, tidak minta izin dulu. Jujur saja aku lupa," ungkap Nalendra.


"Masuk 'Nak," ujar Pak Idris segera membuka pintu gerbangnya agar Nalendra memasukan mobilnya ke halaman rumah.


"Abah, Abah ...," teriak Dareen dari dalam rumah.


"Iya, sebentar," jawab Pak Idris.


"Abah, ko lama?" tanyanya sambil berlari ke luar rumah.


Dareen terdiam saat melihat seseorang sedang memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Menunggu siapa yang keluar dari mobil.


"Om," teriaknya dengan girang begitu melihat kepala Nalendra muncul dari balik pintu mobil.


"Om ke sini," Dareen lari ke arah Nalendra merentangkan tangannya minta di gendong. Nalendra langsung mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kamu sudah makan?" tanya pak Idris. "Tadi siang Rania memasak lumayan banyak, kalau kamu lapar tinggal angetin aja." pak Idris membuka kulkas mengecek makanan di sana.


"Oh, astaghfirullah. Tadi aku beli martabak, sebentar aku ambil dulu di mobil." Nalendra langsung berdiri keluar rumah.


Nalendra kembali dengan membawa kresek berisi martabak dan sebuah travel bag kecil yang digendongnya. Dia membuka kresek martabak dan menyodorkan ke arah pak Idris.


"Maaf, aku tidak meminta izin dulu datang ke sini." Nalendra masih merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, saya senang jadi ada teman ngobrol."


"Oh iya, saya ambilkan baju ganti dulu, tapi maaf baju ganti yang seukuran 'Nak Nalendra yang ada hanya punyanya almarhum," ucap pak Idris.


"Tidak usah pak, saya bawa baju ganti," ucap Nalendra. "Ehm, saya selalu sedia baju ganti di mobil karena terkadang saya harus bergadang di kantor juga kadang-kadang ada pekerjaan mendadak ke luar kota," lanjutnya menjelaskan.


"Iya, mari," pak Idris berdiri berjalan ke arah kamarnya diikuti Nalendra.


Dareen sudah tertidur di kasur lantai depan tv ketika Nalendra keluar dari kamar Pak Idris.


"Dia udah tidur, mau dipindahin ke kamarnya?"


"Nanti saja, dia baru saja tertidur kalau di pindahin sekarang nanti dia bangun lagi, jadi harus nunggu terlelap dulu," ujar pak Idris.


"Nak Nalendra biasanya kalau pulang ke Bandung seminggu sekali atau bagaimana?" tanya pak Idris membuka percakapan.


"Dulu awal kerja di Jakarta saya usahakan seminggu sekali pulang, tapi sekarang-sekarang dua atau tiga Minggu sekali baru saya bisa pulang. Apalagi dengan pekerjaan saya yang semakin banyak," ungkap Nalendra.


"Orangtua ga masalah berarti ya jarang pulang juga?"


"Alhamdulillah tidak karena kalau saya ada kerjaan di Bandung, saya pasti pulang tidur di rumah tidak di hotel walaupun sudah disediakan oleh perusahaan. Yang penting kita berkabar aja tiap hari, itu harus," ucap Nalendra.


"Sepi ya tiap hari sendirian di rumah?" selidik pak Idris.


"Saya tinggal di apartemen, kalau rumah saya kontrakan karena ya itu terasa sekali sepinya kalau di rumah. Kalau di apartemen 'kan ga terlalu besar cukup untuk sendirian lah," ungkapnya.


"Maaf nih ya Bapak jadi banyak nanya," ucap pak Idris.


"Ga apa-apa, saya senang ada teman ngobrol, biasanya saya menghabiskan waktu dengan kerja, tidur, makan."


"Ya cari pasangan aja biar ada temennya. 'Kan kalau sudah berkeluarga ada yang nungguin di rumah, ada temennya juga."


"Mau nya sih gitu, tapi belum ketemu jodohnya kali." Nalendra tertawa.


"Ah, pasti banyak yang ngantri pengen jadi istri 'Nak Nalendra. Bapak tidak percaya kalau kamu bilang ga da yang mau."


"Ya, saya maunya sama anak bapa," batinnya.


"Ga tau juga, saya belum kepikiran ke sana," jawabnya.


"Menikah itu ibadah jika sudah ada jodohnya dan sudah yakin mampu untuk bertanggung jawab dihadapan Allah, ya harus secepatnya menikah. Kalau misalkan 'Nak Nalendra nih suka sama satu perempuan dan yakin perempuan itu belum ada yang khitbah atau pinang atau belum ada yang punya sebaiknya harus secepatnya saja melamar. Kecuali, kalau perempuan itu sudah ada yang punya ya cari lagi," tutur pak Idris.


Lama Nalendra terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh Pak Idris. "Apa aku harus jujur pada ayahnya, meminta restu sekarang untuk mendekati anaknya. Bagaimana kalau ditolak dan dia mengusirku, menyuruhku untuk tidak datang lagi." pikir Nalendra.


"Oh iya, Nanti 'Nak Nalendra tidur di kamar tadi saja. Saya tidur dengan Dareen," ujarnya.


"Saya tidur di sini saja pak, saya lebih nyaman tidur di sini," ucapnya.


"Baiklah, kalau begitu kita tidur di sini aja bertiga malam ini. Apa 'Nak Nalendra keberatan?"


"Hahaha ..., enggak lah Pak. Masa iya saya yang tamu keberatan, Sebaiknya Bapak di dalam saja. Di sini dingin," jawabnya.


"Bekasi panas," Pak Idris tertawa kecil.


"Saya kalau nginep di sini, lebih sering tidur di luar dari pada di kamar. Memang ada AC, tapi yang ga biasa pakai AC semaleman kaya saya suka jadi gampang masuk angin."


"Oh iya, Pak. Tolong jangan bilang Rania kalau saya menginap malam ini di sini ya," pinta Nalendra. Dia tidak mau di cap sebagai orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Tenang saja, saya juga tidak mau dia marahin saya," jawab pak Idris tertawa.


"Rania itu seorang yang mudah akrab dan gampang berteman dengan siapa saja. Rania juga seorang yang mudah mengekspresikan apa yang dia rasa, tapi terkadang kalau marah dia akan cemberut hanya cemberut ga bilang apa-apa persis mamanya," ungkap pak Idris.


Sungguh wanita adalah makhluk yang misterius. Memiliki berjuta pesona, tetapi juga memiliki berjuta teka-teki yang sulit terpecahkan.


"Pak, kalau saya bermaksud menjadikan Rania istri saya, apa Bapak akan mengusir saya?