Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 105



Bu Sekar menyiapkan makan malam untuk suaminya, Pak Idris. Dia menata makanan di atas karpet yang digelar di ruang keluarga. Mereka akan makan malam di ruang keluarga sambil menonton tv.


"Assalamu'alaikum," Pak Idris memberi salam, lalu duduk di karpet.


"Wa'alaikumsalam, ayo makan, Pak. Mama udah lapar nih!" ajak Bu Sekar. Dia pun menyiapkan makan untuk suaminya.


"Pak, tadi Mama ke warung. Kata Si mbak warung Liana masuk rumah sakit. Dia liat Bu Ratna masuk ambulance."


"Naha kunaon? tadi Bapak lewat rumahnya, tapi ga apa-apa, sehat."


"Ih, Saha ari Bapak. Bapak mah meren liat Bu Ratna, ini mah yang sakit Liana, Pak!"


"Eh, panya teh Bu Ratnannya," ujar pak Idris terkekeh karena salah mengerti. "Kunaon cenah?"


"Ga tau, Mama cuma tau dia masuk rumah sakit aja. Padahal Sabtu kemarin ga apa-apa, ke sini nyamper Si Teteh mau reunian," jawab Bu Sekar.


"Udah ngasih tau Teh Rania belum?" tanya pak Idris sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Belum, nanti aja abis isya. Kalau nelepon sekarang, kagok (tanggung) sebentar lagi isya, taraweh."


Pak Idris hanya mengangguk, dia tahu bagaimana istrinya ketika menelepon Rania, tidak bisa hanya semenit dua menit. Mereka selalu punya bahasan untuk diobrolkan hingga menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit.


Pukul setengah sembilan, Bu Sekar menghubungi Rania. Beberapa kali hanya terdengar nada panggilan. "Kemana ari Si Teteh, di telepon teu diangkat wae!"


"Lagi nidurin Dareen kali Mah," ucap Pak Idris.


"Kita telepon sekali lagi!" Bu Sekar kembali menghubungi Rania.


"Kamana wae Ceuceu, ditelepon teu diangkat wae!" gerutu Bu Sekar begitu Rania mengangkat teleponnya.


"Ada, ga kedengaran," jawab Rania di seberang telepon.


"Teh, nuju di mana, meni rame?" tanya Bu Sekar mendengar banyak suara selain suara Rania.


"Lagi di tempat es krim. Lagi jalan-jalan sama Dareen."


"Ini udah jam berapa, ko masih di luar? cepat pulang!"


"Jalan-jalannya juga di bawah apartemen ko, mall-nya satu bangunan sama apartemen. Rania juga udah minta izin sama Nalendra, dia izinin ko. Bentar lagi Rania pulang, lagi nungguin Dareen makan eskrim dulu," jawab Rania.


"Jangan malem-malem. Kasian Dareen, besok dia harus bangun buat sahur!"


"Iya, Mah." Ranai melihat menghela napas. Mamanya lebih protektif dibanding Nalendra, suaminya.


"Mama mau ngasih tau, Liana masuk rumah sakit tadi sore. Mama tau dari Ceu Empon, tadi mama belanja terus dia cerita," ungkap Bu Sekar.


"Apa, ko bisa. Kenapa?" tanya Rania terkejut.


"Ga tau atuh, Mama belum nanya ke Bu Ratna. Nanti ajalah, besok Mama kirim pesan."


"Rania telepon jangan ya. Ah, Rania belum bisa pulang, disuruh di sini nunggu Nalendra balik dari Singapore!"


"Iya udah di sana aja, cuma nunggu satu hari lagi juga pulang," ucap Bu Sekar.


"Mah, nanti telepon lagi. Dareen udah selesai, mau pulang dulu!"


"Ya udah, hati-hati. Awas ada orang jahat! walaupun Deket tapi tetep harus hati-hati di kota mah!"


"Iya, assalamu'alaikum," pamit Rania mengakhiri teleponnya setelah Bu Sekar menjawab salamnya.


Keesokan harinya, Seperti biasa Dareen selalu mengajak Rania berjalan kaki setelah solat subuh. Dia berkata jika Daddy yang menyuruhnya mengajak Rania berolahraga. Dengan rasa enggan Rania pun menurutinya.


Pukul 8 pagi, Rania dan Dareen sudah berada di apartemen. Setelah selesai mandi mereka berdua rebahan di depan tv, menonton.


"Bunda, telepon tuh!" seru Dareen menggoyangkan lengan Rania yang sedang bertumpu.


"Biarin aja, kalau penting juga nanti dia telepon lagi!"


"Biarin aja dulu, Bunda lemes abis olahraga!" ketus Rania.


"Aku enggak lemes!"


"Iya, Dareen masih anak-anak harus kuat badannya. Kalau bunda udah emak-emak harus banyak istirahat," jawab Rania.


"Bunda, teleponnya bunyi lagi!" Dareen bangun dari tidurnya mengambil ponsel Rania yang dia simpan di meja. "Bunda, bener kan kataku, Daddy telepon!"


Dareen segera mengklik tanda hijau pada layar ponsel untuk menerima telepon yang masuk. "Assalamu'alaikum, Daddy," sapa Dareen.


"Iya, bunda lagi tiduran. Katanya lemes abis olahraga." Dareen dengan polosnya bercerita pada Nalendra. "Bunda, ini," Dareen memberikan ponsel pada Rania.


"Ya, Assalamu'alaikum," sapa Rania.


"Kamu sakit?" tanya Nalendra, terdengar suaranya yang khawatir di seberang telepon.


"Enggak, cuma lemes biasa aja. Tadi aku jalan-jalan di bawah sama Dareen!"


"Jangan terlalu cape. Kalau nanti masih lemas, kasih tau aku. Nanti aku suruh supir jemput kamu buat nganter ke rumah sakit," ujar Nalendra yang masih terdengar khawatir.


"Aku ga apa-apa ko, baik-baik aja!" jawab Rania. Dasar Nalendra, siapa juga yang nyuruh Dareen ngajak aku olahraga pagi. Aku lemas aja langsung nyuruh ke rumah sakit! gerutu Rania dalam hati.


"Ndra, kamu baik-baik aja di sana?"


"Iya, aku baik-baik aja ko. Kamu jangan kecapean ya. Kalau buat buka nanti pesan online aja, ga usah masak."


"Iya, gimana nanti aja. Ini masih pagi juga, udah ngomongin buka!" sergah Rania. "Ndra, tadi malam Mama telepon aku. Beliau ngasih tau, Liana masuk rumah sakit."


"Oh, kenapa katanya?"


"Ga tau, Mama juga ga tau. Beliau hanya ngasih tau dia masuk rumah sakit, tapi ga ngasih tau kenapa-kenapa nya!"


"Oh, iya. Sayang, jangan pulang ke Bandung dulu. Tunggu aku pulang!" Nalendra takut Rania akan balik ke Bandung setelah mendengar temannya masuk rumah sakit.


"Iya, tenang aja. Aku tunggu kamu ko," jawab Rania.


"Nanti aku telepon lagi. Kasian Aziz sudah menungguku," ujar Nalendra pamit.


"Iya, baik-baik di sana," kata Rania.


"Aku merindukanmu, Assalamu'alaikum," pamit Nalendra.


"Aku juga," balas Rania.


Rania menghabiskan waktu paginya dengan membuat kue-kue kering bersama Dareen. Dia takut Dareen akan merasa bosan jika hanya menonton dan bermain mainannya.


**


"Dareen ayo cepat!" ujar Rania yang sudah pegal menunggu anaknya belum keluar juga dari kamar.


"Ko lama banget!" Rania menyusulnya ke dalam kamar. Nampak Dareen sedang memilah mainan yang akan dia masukan ke dalam tasnya.


"Bawa aja yang Dareen mau, jangan dibawa semua, berat!" titah Rania.


Dareen memilah beberapa mainan dan mengikuti Rania keluar dari kamar. Hari ini mereka akan ke Bandara internasional Soekarno-Hatta, menjemput Nalendra.


Nalendra take off dari Bandara internasional Changi pukul 12.20 waktu Singapore menggunakan maskapai milik pemerintah Indonesia dan akan sampai di Bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 13.20 WIB.


Rania sudah berada di terminal 3 bandara internasional Soekarno-Hatta. Terminal 3 memiliki total luas 422.804 meter persegi. Luas Terminal 3 lebih besar dari Terminal 3 Bandara Changi, Singapura. Gate 1 sampai 10 di Terminal 3 digunakan untuk penerbangan internasional, sementara gate 11 sampai 28 untuk penerbangan domestik.


"Daddy ...!" Dareen berlari diantara banyaknya pengunjung Bandara.


"Dareen, jangan lari. Awas 'Nak ketabrak, hati-hati!" Rania berteriak, setengah berlari mengejar Dareen.