
Rania harus beradaptasi dengan waktu Singapore yang berbeda satu jam lebih awal dengan Indonesia.
"Dareen, bangun sayang." Rania mencium pipi Dareen yang masih terlelap. "Bangun, Sayang!"
"Biarkan saja dia tidur sedikit lebih lama. Kasian, pasti kecapean," titah Nalendra.
"Baiklah." Rania beranjak dari tempat tidur Dareen.
Setelah selesai shalat subuh, Rania ke dapur. Dilihatnya tiap bupet kitchen set, tidak ada bahan makanan di sana. Dia beralih ke kulkas, di sana pun hanya tersedia beberapa botol air mineral.
"Ndra, ko ga ada bahan makanan?" tanya Rania menghampiri Nalendra yang sedang fokus melihat laptopnya.
"Iya, aku selalu makan di luar atau pesan makanan. Nanti siang atau sore, aku temani belanja," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Terus kita sarapan apa?"
"Nanti beli di bawah. Oh ya, beberapa blok dari sini juga ada supermarket."
"Belanja bahannya nanti aja sama kamu!"
"Baiklah," jawab Nalendra tersenyum melirik istrinya yang terlihat cemberut.
Pukul 6 pagi waktu Singapore, Nalendra mengajak Rania dan Dareen keluar, mencari sarapan. Banyak orang yang berlalu lalang, berolahraga di taman dekat apartemen mereka.
"Kebanyakan tempat makan di sini baru buka pukul 7." ungkap Nalendra.
Rania melihat sekeliling, jalanan sudah ramai oleh orang yang berolahraga. "Kita makan apa?"
"Mau nasi lemak? kalau di Indonesia mungkin nasi uduk karena sama-sama pakai santan."
"Baiklah, di mana belinya?"
Nalendra hanya tersenyum, dia menuntun Dareen. "Kita makan di sana. Tempat makan itu cukup terkenal."
Mereka masuk ke dalam tempat makan tersebut. Rania duduk berhadapan dengan Nalendra, napasnya masih tidak beraturan karena kecapean berjalan kaki.
"Kenapa?
"Ndra, apa ada angkutan umum dari sini ke apartemen?"
Nalendra terkekeh, "cape ya?" tanyanya. "Aku belum pernah naik kendaraan umum selama di sini. Mungkin ada, tapi orang-orang sini terbiasa berjalan kaki."
Rania dan Dareen begitu lahap memakan nasi lemaknya. Bukan tanpa sebab, mereka begitu lelah diajak jalan kaki oleh Nalendra.
"Ndra, bisakah kita beli sesuatu dulu ke sana?" Rania menunjuk minimarket yang buka 24jam. Nalendra hanya mengangguk.
Setelah selesai sarapan, mereka berjalan kembali dan mampir ke minimarket yang tadi ditunjuk Rania. Minimarket tersebut buka 24 jam dan lumayan lengkap.
Rania meminta Nalendra mengambil troli untuk tempat barang yang akan mereka beli. Rania melihat beberapa Snack anak dan susu, membaca kemasannya lalu disimpan di troli belanjaan.
"Kenapa beli minyak goreng?"
"Untuk menggoreng ini!" Rania menunjuk nugget dan sosis.
"Pakai microwave aja," bisik Nalendra.
"Oh, baiklah." Rania menyimpan kembali minyak goreng ke tempat semula.
"Ndra, nanti siang aku sama Dareen makan apa?"
"Nanti aku pesankan saja. Beli aja untuk cemilan dulu, nanti siang kita belanja."
Setelah selesai, mereka kembali ke apartemen dengan berjalan kaki. Aziz telah menunggunya di depan pintu apartemen Nalendra.
"Saya menghubungi Anda, pak," ujar Aziz masih memegang ponsel hendak menghubungi Nalendra.
"Maaf, aku sedang malas mengangkat telepon," ujarnya terkekeh. "Masuk, aku harus mandi dulu.
Nalendra pun segera bersiap, dibantu oleh Rania.
Senangnya ada istri di sini. pikir Nalendra.
"Sayang, nanti siang mau aku jemput atau kita bertemu di supermarket aja?"
"Jemput aja!"
Rania berpikir tidak akan sanggup lagi berjalan kaki lumayan jauh. Saat ini saja kakinya masih terasa pegal.
Dareen pun sama, dia langsung merebahkan diri di sofa begitu sampai apartemen.
"Sayang, kalau bosan berjalan-jalan saja ke taman bawah. Di sana juga biasanya banyak anak yang bermain. Besok baru akan aku daftarkan Dareen di sekolah dekat sini!"