
Sudah empat hari Rania berada di rumah sakit. Keadaannya sudah mulai membaik, terlihat dari wajah Rania yang berseri-seri. Setiap hari, Bu Sekar atau Bu Shafira bergantian menjaganya di siang hari. Mereka akan pulang ke apartemen begitu Nalendra datang selepas kerja, di sore hari.
"Sarapan dulu gih!" Rania berulang kali menyuruh Nalendra untuk membeli sarapan. "Suruh siapa kemarin minta ibu sama mama ga usah dateng!"
"Kasian, mereka pasti cape pulang pergi ke sini setiap hari. Lagian hari ini Dareen juga libur."
"Kapan aku pulang? aku sudah bosan di sini!"
"Mau jalan-jalan lagi?"
"Enggak, aku mau pulang!" Rania sedikit merengek. Entah kenapa beberapa hari ini, emosinya cepat sekali berubah.
"Ini hari Sabtu, mungkin nanti hari Senin. Makanya harus mau makan, jangan nahan lapar," ujar Nalendra tanpa tau perkataannya membuat Rania semakin cemberut.
"Aku juga pengen makan, tapi mual. Kamu aja yang ga tau mualnya kaya gimana!"
Ehm, salah ngomong lagi! gerutu Nalendra dalam hati.
"Aku kangen Dareen!" seru Rania memandang jendela di samping tempat tidurnya.
"Bukannya tadi udah teleponan, mau telepon lagi?"
"Ih, dasar kamu kurang peka!"
Apa aku salah ngomong lagi? pikir Nalendra.
"Bedalah telepon sama ketemu. Aku kangen pengen meluk dia!"
Nalendra hanya tersenyum melihat Rania yang kesal entah karena apa.
"Sayang, gimana dengan rencana resepsi kita. Apa kita batalkan saja?" Nalendra teringat dengan rencana resepsi pernikahan mereka yang akan digelar setelah dia selesai mengerjakan proyek ini.
"Jangan, kita udah booking gedung juga!" Mereka memang sudah membooking tempat untuk acara resepsi tersebut, hanya belum dipastikan tanggalannya saja.
"Aku takut kamu kecapean," ujar Nalendra tidak bis menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Aku kan bisa duduk. Kasian Ibumu kalau kita batalin, beliau pasti pengen punya kenangan tentang resepsi pernikahan anak sulungnya."
"Bukannya kita udah punya foto-foto di mesjid dekat KUA itu?"
"Ya, bedalah. Itu kan hanya sebatas keluarga aja, kalau ini rekan kerja dan kenalan keluargamu. Mereka juga pasti pengen ngenalin mantunya yang cantik ini pada teman-temannya!" ucap Rania dengan penuh percaya diri sambil memegang dadanya dengan telapak tangan.
Nalendra tertawa mendengar perkataan Rania. Baru kali ini Rania berkata seperti itu, lucu sekali ekspresi yang dia tunjukan tadi. Nalendra mencubit hidung Rania dengan gemas.
"Ya, undur aja acaranya. Ibu hamil emang begini di trimester awal, tapi waktu Dareen aku ga kaya gini. Waktu Dareen, aku bisa melakukan apapun sendiri." ungkapnya mengingat dirinya saat hamil pertama dulu.
"Tapi aku senang sekarang. Walaupun rasanya ga enak banget saat mual, tapi aku senang. Aku senang semua orang rela meninggalkan pekerjaannya buat nemenin aku!"
"Masa iya istri lagi begini, aku tinggal!" jawab Nalendra sambil menepuk-nepuk punggung tangan Rania.
Dia ingat, saat dulu dia hamil Dareen. Ergha tetap masuk kerja karena Rania memang tidak mengalami morning sickness. Rania bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Rania tersenyum miris saat mengingatnya, tetapi ingatan itu akan dia simpan sendiri, tidak akan dia ceritakan pada Nalendra.
Nalendra melewatkan sarapan paginya karena keasikan mengobrol dengan Rania. Dia baru bisa meninggalkan Rania saat dia tertidur karena pengaruh obat yang diminum.
Nalendra membeli makan siang di tempat makan sekitar rumah sakit. Dia berjalan kaki sambil menenteng kantong makan siangnya. Dia akan makan siang di kamar inap saja, dia takut jika Rania terbangun dan mencarinya.
"Pak Nalendra," sapa seorang pria paruh baya bersama dengan wanita berumur di penghujung 40an, tetapi masih terlihat sisa kecantikannya saat muda dahulu.
Nalendra berbalik ke arah sumber suara. "Mr. Watson." Nalendra menyapa balik. "Tidak saya sangka akan bertemu Anda di sini. Apa kabar?"
Mr. Watson adalah salah klien Nalendra. Mereka bekerja sama setahun yang lalu. Walaupun begitu, setiap Nalendra ke Singapore atau mereka bertemu di suatu acara, dia selalu menyapa Nalendra terlebih dahulu.
"Baik, Kami mau makan siang. Apa Anda mau bergabung dengan kami?" tanyanya dengan santun.
"Tidak, terima kasih. Saya harus segera balik ke rumah sakit."
"Siapa yang di rumah sakit?"
"Istri saya," jawab Nalendra tersenyum.
"Sakit apa?"
"Hanya kelelahan, dia sedang hamil muda."
"Oh, istri Anda sedang hamil? selamat kalau begitu, kami turut senang mendengarnya."
"Kalau begitu, maaf saya harus segera kembali. Saya takut istri saya mencari saya."
*****
Terima kasih masih setia menanti up cerita Rania dan Nalendra. Sambil menunggu, yuk mampir baca ke novelku yang lain, udah tamat lhoooo...