Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 147



Kandungan Rania semakin hari semakin besar. Kini sudah memasuki trimester akhir. Nalendra pun semakin protektif dibuatnya. Dia melarang Rania bepergian jauh. Jika ingin bertemu dengan orangtuanya, dia akan meminta orangtua mereka untuk datang.


Keluarga kecil itu, mulai menempati rumah mereka yang sudah direnovasi. Namun, hanya menempati di hari libur saja, Sabtu dan Minggu. Di hari kerja atau hari sekolah, mereka akan tinggal di apartemen karena Dareen masih bersekolah di TK yang dekat dengan apartemen mereka.


"Apa berat?" tanya Nalendra, melihat Rania menghela napas ketika hendak berdiri.


"Tidak, kenapa?" Rania duduk kembali di dekat suaminya.


Nalendra hanya menggelengkan kepala. Tidak pernah terbayangkan bagaimana kesusahannya seorang ibu ketika mengandung, membawa calon buah hati kemanapun dia pergi.


"Kapan kita mulai beli keperluan baby?"


"Nanti saja kalau sudah masuk 36 atau 37 Minggu."


Nalendra yang sedang berbaring di pangkuan Rania, menghadapkan wajahnya ke perut sang istri. Diciuminya perut Rania hingga janin tersebut bergerak aktif.


"Hay sayang, sehat terus ya." Nalendra mengusap perut Rania.


"Bunda, baby-nya gerak-gerak. Sakit ga?" tanya Dareen melihat perut Rania.


"Enggak, bunda ga sakit. Aa mau megang Dede baby?" Rania mengusap Dareen yang berdiri di sampingnya. "Duduk Dadd, Dareen mau ngelus Ade katanya!"


Nalendra pun duduk dan mendudukkan Dareen di pangkuannya. Dia tertawa begitu tangannya ditempelkan ke perut Rania dan merasakan gerakan dari dalam perut sang Bunda.


"Dia bergerak, Bunda." Dareen tertawa.


"Dia Salim ke Aa. Dia bilang 'Hallo Aa'," ujar Rania.


Dareen tersenyum, mencium Rania dan memeluknya erat. Selama Rania hamil, Dareen tak pernah menunjukan penolakan. Dia paling antusias ketika tahu Sang bunda sedang mengandung. Dia sangat senang karena akhirnya dia akan mempunyai seorang adik.


"Daddy, ada telepon tuh!" Dareen memberitahu karena ponsel Nalendra beberapa kali berbunyi.


"Angkatlah, mungkin penting!" suruh Rania mulai merasa risih dengan suara ponsel yang sejak tadi berbunyi.


Nalendra pun beranjak dari duduknya, mengambil ponsel yang sedang dia changer tak jauh dari tempat mereka duduk. Lama Nalendra berdiri menggulir layar ponsel.


"Dari siapa?" tanya Rania membuyarkan Nalendra yang setengah termenung.


"Anak-anak!" jawabnya.


Nalendra kembali menghampiri ibu dan anak yang masih duduk di sofa dan kembali duduk diantara mereka.


"Ada apa?" Rania merasa raut wajah Nalendra berubah.


"Ga ada apa-apa?" jawab Nalendra. "Nanti saja."


Rania mengangguk, mereka memang berusaha memilah obrolan ketika berada di depan Dareen. Dia mengelus pipi Nalendra dan meraba kumis tipis di atas bibir suaminya.


"Bercukurlah!" Nalendra hanya tersenyum mendengar Rania memintanya bercukur.


Malam harinya, seperti biasa pasangan muda itu melakukan pillow talk. Saat inilah mereka bisa bebas bercerita apapun, tidak seperti ketika ada Dareen. Nalendra pun bercerita tentang pesan yang temannya kirim tadi siang.


"Benarkah?" tanya Rania terkekeh mendengar penuturan Nalendra.


"Iya."


"De, kamu sudah punya penggemar yang fanatik ternyata!" Rania terkekeh sambil mengusap perut buncitnya.


"Kamu ga marah?"


"Sedikit, tapi bukan marah hanya sedikit kesal saja. Aku sedang belajar menerima kenyataan bahwa suamiku punya penggemar fanatik!"


Nalendra menunduk sambil tersenyum. Dalam hatinya, dia takut jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Dia sering mendengar di berita tv atau media sosial, banyak terjadi pembunuhan yang berawal dari cemburu. Dia benar-benar takut itu terjadi pada Rania maupun Dareen.


Siang tadi, temannya menghubungi Nalendra, memberitahu jika Liana sedang mencari alamat mereka tinggal di Jakarta. Bahkan dia juga sempat bertanya tentang alamat kantor Nalendra. Mereka tidak mengetahui tujuan dia menanyakan semua itu, hanya saja temannya mengingatkan Nalendra untuk selalu mawas diri, menjaga anak dan istrinya. Apalagi mereka tahu jika rumah Liana dan Rania berdekatan, tentu dia akan mencari cara mendekati ketika mereka berkunjung ke rumah orangtua Rania.


Ya, Liana belum berhenti mengejar cinta Nalendra. Bu Ratna selaku ibunya pun selalu mengingatkan jika Nalendra sudah beristri dan tentu tidak baik mengganggu rumah tangga orang lain. Dia juga mengajak sang anak untuk ke psikiater, tetapi selalu dia tolak dengan beribu alasan.


Dia selalu berkata, jika dia akan menunggu Nalendra seperti yang dilakukan olehnya ketika Rania menikah dengan Ergha. "Dia cinta sama aku Mih. Aku akan nunggu dia, dia janji buat nikahin aku!"


"Tapi dia sudah menikah, Na'!"


"Itu karena terpaksa. Rania berusaha merebutnya dariku, Mih. Rania menjebaknya!"


"Na' sadarlah!"


"Aku sadar, makanya aku tau semua itu. Pokonya Amih tenang saja, Percaya sama aku. Nalendra pasti kembali ke sisiku!"