Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 22



"Teh, nih Wa mau nanya ke teteh," ujarnya. "Teteh kan masa Iddah sebentar lagi udah selesai 'kan. Teteh ada kepikiran buat nyari pasangan lagi ga?" tanya Wa Nia.


"Ya, teteh kan masih muda, Dareen juga masih kecil. Kalau misalkan ada yang mau sama teteh gimana? teteh mau ga?" lanjutnya.


Rania membulatkan matanya, tidak percaya dengan yang dia dengar. Wa nya Ergha menanyakan hal semacam itu padanya, padahal dirinya masih dalam masa Iddah walaupun akan berakhir sebentar lagi.


"Belum terpikir ke sana Wa," jawabnya. Sebenarnya Rania masih merasa berduka dengan kematian suaminya. Jangankan untuk mencari pengganti, hatinya saja masih terpaut pada suaminya.


Keluarga Ergha menginap dua malam di rumah Rania. Sekalian menemani Rania sampai pak Idris datang, pikir mereka.


Selama itu pula Wa Nia menceritakan tentang seorang laki-laki yang masih terikat saudara jauh dengan Ergha. Mereka berencana menjodohkan Rania dengan lelaki itu atau bisa dibilang adik sepupu Ergha yang kakeknya adalah adik adik dari nenek Ergha.


Rania tidak menerima ataupun menolaknya, dia hanya mendengarkan semua yang ingin mereka ceritakan. Rania terlalu malas berdebat. Dua hari yang terasa amat panjang, pikir Rania.


Ketika pak Idris telah datang dan keluarga Ergha pun akhirnya pulang ke kampungnya, Ranai menceritakan semua unek-unek yang selama dua hari itu membuatnya kesal.


"Masa mereka mau jodohin Rania!" serunya dengan nada kesal.


"Ya teu nanaon atuh teh. Mungkin mereka terlalu sayang sama teteh, mereka ingin teteh tetap selalu bisa ketemu teteh. 'Kan kalau sekarang mah mungkin mereka berpikir bakalan canggung ketemu teteh, soalnya udah ga ada aa Ergha nya." ujar pak Idris mencoba meredakan kekesalan anaknya.


"Tapi ya ga gitu juga kali pak. Rania 'kan baru kehilangan masa harus langsung pilih penggantinya. Rasanya mereka ga ngerasain apa yang lagi Rania rasa." air matanya merembes keluar.


"Ya sudah, ga usah dipikirkan kalau teteh ga setuju mah. Biarkan saja, lagian mereka cuma bilang aja, nawarin aja ke teteh. Kalau teteh ga mau ya ga apa-apa," kata pak Idris.


"Teteh kangen aa, pak," ujarnya menangis tersedu.


Pak Idris segera memeluk Sang anak, dia tidak berkata apa-apa lagi. Hatinya ikut sakit melihat anak perempuannya menangis merindukan suaminya yang telah meninggal.


Di dunia ini tidak ada seorang pun yang ingin ditinggalkan oleh orang terkasih, tetapi jika Allah sudah berkehendak maka kita hanya bisa berusaha ikhlas dan berdoa.


Seorang Bapak, Ayah, Papah, Abi, Abah atau apapun panggilannya pasti ikut merasakan sedih jika melihat putri kesayangannya sedih. Namun, dia hanya bisa memeluknya dan selalu mendoakan yang terbaik buat sang anak.


"Berdoa sama Allah, kalau teteh kangen doakan aa nya doakan Almarhum semoga Allah mengampuni dosanya memberikan Nikmat kubur pada almarhum. Allah Maha Mendengar, Maha tahu yang terbaik buat hamba-Nya." nasehat pak Idris.


Rania merasa tenang setelah berbicara dengan pak Idris tentang semua keluh kesahnya. Sejak kecil Rania memang selalu menceritakan apa yang sedang dia rasa pada pak Idris atau pun Bu Sekar, hanya pada orangtuanya dia bercerita.


Bu Sekar selalu mewanti-wanti agar Rania tidak curhat kepada orang lain, walaupun itu sahabat dekatnya. Apalagi curhat di media sosial yang semua orang bisa membacanya.


Di hari pertama Rania lepas dari masa Iddah, dia pun merajuk pada pak idris untuk memperbolehkan dia jalan-jalan.


"Apa boleh Rania jalan-jalan, kemana gitu ...," ucapnya tidak menyebutkan nama tempat.


"Emang teteh mau ke mana?" tanya pak Idris yang sangat mengerti jika Rania merasa suntuk dengan semua kejadian yang menimpanya.


"Ya, jalan-jalan kemana aja," jawabnya.


"Tapi harus tetep ditemenin dulu ya teh," ujar pak Idris.


"Ga apa-apa, asal udah bisa jalan juga Rania dah seneng. Enaknya kemana ya?" gumam Rania.


"Pak, boleh nginep ga?" tanyanya.


"Bolehlah, nginep semalam. Nanti bapak bilang ke mama sama Zyan agar Sabtu ini kita berangkat."


"Asiik," ucap Rania kegirangan seperti Dareen yang dapat mainan baru.


***


Bu Sekar datang di Jumat malam bersama Zyan, mereka naik kereta api dari Stasiun Bandung ke Stasiun Bekasi. Mereka dijemput oleh pak Idris, Rania juga Dareen.


Sengaja pak Idris membawa Rania dan Dareen keluar, dia ingin mengajak Rania dan Dareen makan di rumah makan.


"Teh, kita makan di mana?" tanya zyan sambil menyetir.


"Mau makan bakso atau nasi?"


"Bakso seger tuh teh, nasi juga bagus," ujar Bu Sekar.


"Nasi aja lah," ucap pak Idris.


Rania pun mengajak keluarganya makan di rumah makan yang menyediakan Steak, tempat itu menjadi tempat favoritnya ketika Ergha masih ada. Selain tempatnya yang bagus, makanannya enak, menunya bervariasi harganya juga lumayan murah.


Mereka asik bercerita tentang semua hal yang mereka lewati selama tidak berjumpa. Rania juga menceritakan pada mamanya jika keluarga Ergha berniat menjodohkannya dan ditertawakan oleh Zyan.


"Jadinya kita kemana besok?" Zyan akhirnya buka suara mengenai rencana jalan-jalan.


"Ke puncak mau?" tanya Rania.


"Ah, pasti macet pulangnya," ujar Zyan yang membayangkan dia akan merasa bosan jika harus menyetir menghadapi kemacetan sedang yang lain tidur.


"Ke pantai aja yuk," ajaknya.


"Pantai mana?"


"Ancol aja yang deket," ujar Zyan.


"Di sana juga 'kan bisa ngajak Dareen ke SeaWorld."


"Ya udah berarti besok kita ke Ancol ya, terus nginep di mana?" tanya Rania.


"Ya di hotel," jawab Bu Sekar. "Di sana juga 'kan disediain hotel."


"Baiklah" jawabnya malas.


Sebenarnya Rania ingin sekali liburan ke Bandung, menikmati udara Bandung yang segar. Dia ingin menginap di salah satu villa yang berada di Lembang atau dekat tempat wisata lain di sana. Namun, pak Idris berpikir akan lebih baik jika Rania berlibur masih di daerah Jabodetabek.


Pagi nya, Rania sibuk mengepak semua yang akan dia bawa. Dia memasukan beberapa stel baju Dareen, mengingat dia akan pergi ke pantai dan bermain tentu harus membawa lebih banyak baju.


"Bunda, jam berapa sih kita perginya. Aku udah ga sabar," ungkapnya.


"Katanya Dareen mau jagain rumah aja," canda Zyan.


"Bunda, Om nya nih. Jahat!" seru Dareen.


"Kalau Om jahat ga akan ngasih cokelat. Tadi 'kan Om ngasih cokelat, berarti Om baik," kata Zyan.


"Dareen ikut ke pantai, Om," ucapnya merajuk.


"Coba bilang sekali lagi, dulu udah Om ajari gimana." Zyan masih penasaran mengerjai ponakannya.


Dareen tersenyum, "Aku ikut ke pantai ya Om," ujarnya sambil mengedip-ngedipkan mata.


Zyan tertawa terbahak melihat betapa lucu dan menggemaskan ponakannya.


Mereka pun segera berangkat berangkat ke Ancol agar tidak terkena macet. Apalagi weekand, jalanan arah ke tempat wisata selalu macet.