Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 25



"Nak Nalendra kami akan menginap di penginapan sekitar sini, 'Nak Nalendra mau pulang atau mau ikut menginap bersama kami?" tanya pak Idris.


"Kalau dibolehkan ikut, saya mau ikut, Saya bosan kalau di rumah sendirian," ucapnya.


"Tentu saja boleh, ayo," ajak pak Idris.


Rania langsung melirik tajam ke arah Bu Sekar, tetapi ibunya malah tersenyum.


"Bapak pasti sudah mempertimbangkan semuanya, dia insyaallah tau yang terbaik," pikir Bu Sekar.


"Ayo," ucapnya menggandeng tangan Rania masuk ke mobil lagi.


Mereka berenam cek-in di salah satu hotel yang berada dekat dengan wahana SeaWorld juga dunia fantasi karena mereka berencana ke sana keesokan harinya.


Hari yang sangat melelahkan, tetapi begitu menyenangkan. Nalendra mungkin tidak akan pernah melupakan apa yang dia lalui hari ini. Bermain seharian dengan Dareen, makan bersama dengan keluarga dari wanita yang selalu dia dambakan.


Dareen tertidur dipangkuan Nalendra, kelelahan dan kekenyangan. Matanya tertutup rapat, tetapi bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Ya, dia melewatkan hari yang membahagiakan.


"Zyan, bawa Dareen. Kasian, Dareen 'kan berat," ujarnya melihat Dareen tertidur di pangkuan Nalendra.


"Ga apa-apa, nyante aja." Nalendra tersenyum.


"Biar Kak Nalendra aja yang gendong. Kak, tolong nanti tidurkan aja sekalian di kamarnya ya," pinta Zyan sambil memperlihatkan jika tangannya penuh., memegang beberapa tas.


"Apa yang dia pikirkan, menyuruh laki-laki lain masuk ke kamar kakak perempuannya!" gerutu Rania dalam hati.


Rania tidak bisa meminta tolong pada pak Idris, karena orangtuanya masih berada di bawah. Mereka berkata ingin jalan-jalan dahulu, berdua saja.


Rania membuka pintu kamar yang akan dia tempati dengan Dareen. Dia mempersilahkan Nalendra masuk untuk menidurkan anaknya di tempat tidur.


"Terimakasih," ucapnya canggung.


Bagaimana tidak canggung, hanya ada mereka berdua sekarang di sana karena Dareen sudah tidur dan Zyan menyimpan tas milik orangtua mereka ke kamarnya.


"Iya, a-aku ... aku permisi," pamitnya keluar dari kamar Rania.


"Tidak mungkin aku bisa berlama-lama bersamanya, hanya berdua pula. Setan ada dimana-mana!" pikirnya, menyalahkan setan yang membuatnya berpikir macam-macam.


Nalendra segera masuk ke kamarnya yang berada di samping kamar orangtua Rania. Dia segera masuk kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air agar segar.


Malam itu, tidak ada lagi yang keluar setelah mereka masuk ke kamar masing-masing. Mereka bahkan tidak tahu kapan Bu Sekar dan pak Idris pulang dari jalan-jalan mereka. Semuanya beristirahat, mengistirahatkan badan untuk hari esok yang pasti akan lebih menguras tenaga mereka berkeliling berbagai wahana.


Nalendra tidak bisa tidur karena terlalu bahagia, dia juga merasa gugup menyambut hari esok.


"Aku harus tidur," gumamnya berusaha memejamkan mata, tetapi dia tetap terjaga.


"Apa jantungku bermasalah," ujarnya lagi meraba dada sebelah kirinya. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Bagaimana ini, besok aku ingin menemani Rania lagi, mengajak Dareen bermain. Aku tidak boleh sakit apalagi masuk rumah sakit!" pikirnya.


Keesokan harinya Nalendra turun untuk sarapan.


"Apa tadi malam kakak ga bisa tidur?" tanya Zyan melihat ada garis hitam di bawah mata Nalendra. Wajahnya pun terlihat sedikit kelelahan.


"Semalam ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawabnya beralasan.


"Kau yakin baik-baik saja jika ikut kami sekarang? maksud saya, 'Nak Nalendra bisa beristirahat dahulu nanti bisa menyusul kami ke sana," tanya pak Idris.


"Tidak apa-apa, aku sudah tidur tadi 2 atau 3 jam sebelum subuh," jawab Nalendra.


Dia tidak mungkin melewatkan sedetik pun kesempatan bersama Rania dan Dareen. Tidak, dia sudah menunggu cukup lama untuk ini. Kali ini dia tidak boleh menyia-nyiakan waktu berharganya.


"Kau yakin?" tanya Rania.


"Tentu, aku sudah biasa tidur hanya beberapa jam karena pekerjaan." Nalendra benar-benar merasa senang. Ternyata Rania mengkhawatirkannya, pikir Nalendra.


Selesai sarapan mereka kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang dan langsung cek out. Mereka sudah terlebih dahulu memisahkan mana barang yang akan dibawa ke Dufan dan mana yang akan mereka simpan di mobil.


Rania berjalan bergandengan bersama Bu Sekar, mereka yang terakhir datang ke depan pintu pemeriksaan tiket masuk.


"Ikut beli tiket," jawab Zyan.


"Sama Nalendra?" Zyan mengangguk.


"Kenapa ga digendong ma kamu aja sih!" gerutu Rania. "Malah nyuruh orang lain yang jaga!" lanjutnya.


"Dareennya yang ga mau di gendong sama aku, dia mau nya digendong kak Nalendra!" sergah Zyan.


"Marah-marah Mulu," pikir Zyan.


"Ga usah bertengkar, Nalendranya juga ga keberatan ko."


"Tapi 'kan ga enak pak."


"Ya udah, shuutttt!" ujar Bu Sekar. "Orangnya datang tuh."


"Ini tiketnya." Nalendra menyodorkan beberapa tiket masuk.


Dareen langsung berlari begitu mereka melewati pemeriksaan tiket. Nalendra langsung mengejarnya, takut dia terjatuh atau menabrak orang lain.


"Tuh kan, manfaat 'kan ngajak Nalendra. Bapak ga akan secepat itu ngejar Dareen." ujar pak Idris.


"Ada Zyan," jawab Rania.


"Nikmati saja liburannya. Jangan banyak berpikiran negatif sama orang yang lagi baik sama kita, syukuri aja dulu." kata Zyan menepuk pundak Rania.


"Apaan sih, ga nyambung!"


"Ko digendong Om nya?" tanya Bu Sekar.


"Ayo turun, sini sama bunda," ucap Rania menyodorkan tangannya agar di pegang Dareen.


Dareen pun turun dari pangkuan Nalendra. Dia mendekati Rania dan berjalan berpegangan tangan dengan ibunya.


Nalendra berjalan di belakang Rania dan Dareen seperti seorang suami yang siap mengawal istrinya.


Dareen menarik tangan Rania ke salah satu wahana Komidi putar.


"Bunda, ayo. Aku mau naik itu," ujarnya setengah berteriak menarik tangan Riana agar berjalan lebih cepat lagi.


"Sabar, Sayang. Jalan kaki aja, kalau lari nanti ga bisa naik karena kecapean," jawab Rania menghalau Dareen yang terus menariknya.


"Sini, Sayang. Harus ngantri dulu di sini." Rania berdiri di belakang Dareen untuk mengantri.


"Aku mau naik kuda yang itu, Bunda."


"Iya, sebentar."


Nalendra dan Zyan melihat Rania dan Dareen menaiki Komidi putar. Dareen melambaikan tangan ke arah mereka dan di foto oleh Zyan.


Zyan yang bertugas mengabadikan setiap moment liburan kali ini. "Jangan jauh-jauh," begitu kata Rania ketika Zyan ingin pergi sendiri menjelajah setiap wahana.


"Teh, aku pengen naik turbo drop ya," rengeknya.


"Nanti aku temenin, sekarang temenin dulu ini Dareen pengen naik poci di sana," jawab Rania.


"Bapak sama mama bisa pisah, masa aku harus ngikutin dia." tunjuknya pada Dareen. Bu Sekar dan pak Idris memang memisahkan diri, mereka lebih senang berjalan berkeliling lalu mencari restoran untuk beristirahat.


"Ya udah, sini kameranya. Biar aku yang ambil foto," ucap Nalendra meminta kamera yang di pegang Zyan.


"Aku cuma naik turbo drop doang ko. Setelah itu aku balik lagi, ga akan lama. Kalau nanti siang pasti antriannya panjang," ujarnya merayu Rania.


Tanpa menunggu jawaban dari kakaknya, Zyan langsung memberikan kamera yang dipegangnya pada Nalendra lalu pergi ke wahan yang ingin dia naiki.


"Ayo," ajak Nalendra pada Dareen yang terlihat senang tanpa tahu mamanya sedang kesal.