Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 80



"Maunya, aku lebaran di mana?"


"Malah balik nanya!" ketus Rania. "Kamu makan pedas?" tanya Rania melihat Nalendra menambahkan sambal di buburnya.


"Baru bisa sedikit, harus belajar di suruh Abahku," jawabnya. Rania tersenyum mendengar jawaban Nalendra.


"Abahmu lebih pengertian dari cucunya." Rania terkekeh.


"Aku akan lebaran di sini ko. Kasian, sekarang ada yang menungguku di Indonesia."


Rania mengerlingkan matanya, "Emang dulu ga ada yang nunggu!" ketus Rania.


"Dulu 'kan hanya Ibu sama ayah aja," jawabnya.


"Enggak boleh gitu, Ndra. Kalau ada waktu sering-sering lah pulang ke Bandung. Kasian mereka nungguin anaknya, enggak pulang-pulang kaya bang Toyib!"


"Iya, aku akan sering pulang."


Rania dan Nalendra terus mengobrol sampai bubur mereka tandas tak tersisa. Nalendra mengantarkan Rania ke sekolah tempatnya mengajar.


"Hati-hati," ujar Rania sebelum keluar dari mobil Nalendra.


"Sampai ketemu nanti sore atau malam," ucap Nalendra.


Rania mengangguk. "Assalamu'alaikum," pamitnya keluar mobil. Rania berdiri ditempatnya, sampai mobil Nalendra menghilang di kejauhan.


"Siapa, Bu?" tanya seorang rekannya.


"Oh itu, seseorang," jawab Rania.


Seluruh rekannya di sekolah sudah tahu jika Rania seorang janda beranak satu. Awalnya hanya beberapa orang saja yang tahu, tetapi kemudian ada beberapa guru pria yang mencoba bertanya tentang Rania pada salah satu guru yang diseniorkan di sana. Pria tersebut meminta untuk dikenalkan dan ingin ta'aruf dengan Rania.


Guru senior tersebut pun memberi tahu pada Si pria, kalau Rania seorang janda beranak satu. Maka pria tersebut langsung mengundurkan diri. Sejak saat itu, kabar Rania yang seorang janda beranak satu pun tersebar dengan cepat.


Rania tidak pernah mempersalahkannya, toh memang itu kenyataan tentang dirinya. Dia hanya sedikit risih ketika sebagian rekan guru wanita menggosipkan dia dengan beberapa orang yang juga mengajar di sana.


Rumor tentang Rania yang diantar ke sekolah oleh seorang pria tampan, tentu saja langsung menyebar pula di lingkungan sekolah. Apalagi ditambah dengan Rania yang sekarang tidak menggunakan cincin kawinnya.


Istri ketua yayasan yang juga teman Bu Sekar selalu menyemangati Rania. Dia juga tahu tentang acara pertunangan Rania sore nanti, tentu saja bu Sekar yang menghubungi memberitahu beliau.


"Selamat ya," ucapnya berbisik ketika berpapasan dengan Rania.


**


Dareen pulang sekolah dengan berlinang air mata. Dia menangis di-bully temannya. Mereka mengejek Dareen yang sudah tidak mempunyai seorang ayah.


Dareen masih sesenggukan di pangkuan Pak Idris ketika Rania pulang.


"Kenapa?" tanyanya pelan pada Pak Idris.


Pak idris hanya mengangkat tangannya agar Rania tidak bertanya dulu.


"Baby bunda, sini sama bunda!" Rania duduk di sebelah pak Idris mengambil alih Dareen darinya. Dia memeluk Dareen erat tanpa bertanya dahulu. Rania juga mengusap buliran bening yang sesekali masih keluar dari matanya yang terang.


"Ehm, anak bunda udah besar. Udah berat badannya," ujar Rania sambil memeluknya erat.


"Bunda," panggilnya.


"Apa Sayangku?"


"Kata me-mereka a-aku ga punya a-yah," ungkap Dareen yang kembali menangis.


"Dareen punya ayah ko. Setiap orang di dunia ini pasti punya seorang ayah dan ibu, kecuali Nabi Isa as. Dareen sudah tau kan ceritanya," jawab Rania, mengusap rambut Dareen lembut.


"Tapi ayah Egha udah meninggal. Jadi aku ga punya ayah lagi," keluhnya.


"Dareen ingat kalau Nabi Muhammad Saw juga ayahnya meninggal, bahkan saat beliau belum lahir, masih dalam perut bundanya. Ketika bundanya meninggal pun beliau tetap kuat dan tidak bersedih karena beliau masih mempunyai Kakeknya juga pamannya yang sangat menyayangi Rasullullah."


"Om, bunda lupa Om belum kesebut!" timpalnya.


"Oh iya, ada Om juga ya."


Rania terus bercerita untuk menghibur Sang buah hati agar tidak bersedih lagi.


Waktu terus berjalan, matahari sudah mulai condong ke barat. Keluarga Pak Idris mulai disibukan dengan mempersiapkan acara pertunangan Rania.


Begitupun dengan keluarga Pak Sulaiman, mereka pun sibuk menyiapkan hantaran. Bu Shafira telah membeli satu set perhiasan untuk Rania sebagai pengikat. Dia juga menyiapkan beberapa keranjang buah, kue-kue, cake untuk dibawa ke sana.


"Bu, aku mau," ujar Alaric melihat kue kesukaannya.


"Jangan yang itu, ambil di meja. Ada di sana!" sergah Bu Shafira pada Si bungsu.


"Kenapa harus ngambil ke dapur, padahal sama aja!" ketusnya.


"Bu, udah telepon Si kakak? bilang sama dia jangan terlalu sore, macet!" kata pak Sulaiman mengingatkan.


Tidak berapa lama terdengar suara mobil Nalendra masuk pekarangan.


"Tuh, dia pulang. Tenang aja Yah, Nalendra ga mungkin telat. Orang dia udah ngebet banget!" celetuk Bu Shafira.


"Assalamu'alaikum. Abah udah dateng," ujarnya langsung mencium tangan Abah Danu dan orangtuanya.


"Yang mau lamaran cerah banget mukanya," sindir Abah Danu.


"Ya masa harus sedih," jawab Nalendra. "Bu, mana aku liat cincinnya," pinta Nalendra menghampiri Sang Ibu yang sedang mengatur kue di keranjang.


"Ada di kamar, ambil aja!"


Nalendra segera masuk ke kamar Bu Shafira dan Kembali dengan menenteng sebuah kotak kaca berisi satu set perhiasan.


"Boleh dibuka ga?" tanya Nalendra pada Ibunya.


"Buat apa, mau nyoba?" Bu Shafira bertanya balik. "Buka aja. Coba cincin buat kakak, cukup ga?"


Nalendra membukanya dan mengambil cincin yang berukuran besar, dia memasangkannya di jari tengah tangan kanannya. "Agak kecil," keluhnya.


"Pake di jari manis tangan kiri, Kak. Kalau tangan kanan itu untuk cincin kawin."


"Beda ya. Cukup ternyata," ujarnya setelah memindahkan cincinnya ke jari manis. "Coba tangan kanan," ujarnya seraya memindahkan kembali ke ajri manis tangan kanannya. "Cukup juga," ujarnya terkekeh.


Abah Danu yang melihat kelakuan Nalendra tertawa. "Nanti kalau udah nikah baru tahu senangnya seperti apa, cepatlah menikah jangan ditunda lama-lama!"


"Doain aja, aku maunya begitu," jawab Nalendra.


"Kak, mandi dulu gih!" titah Bu Shafira melihat Nalendra malah cengengesan dengan Abah Danu. "Oh iya, baju buat nanti, udah bunda simpan di kamar Kakak."


**


Sesudah shalat magrib, Nalendra dan keluarganya berangkat ke rumah Rania. Hanya keluarga inti ditambah Abah Danu dan Kakak tertua dari keluarga Bu Shafira yang ikut menemani.


Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk tiba di sana.


Pak Idris dan tokoh di sana pun bersiap menyambut ketika terdengar suara tiga buah mobil terparkir di depan rumah mereka.


"Om," panggil Dareen dalam gendongan Zyan. Nalendra segera menghampiri Dareen dan menggendongnya.


Wajah Dareen masih terlihat sedikit sembab karena menangis lama tadi siang. "Kenapa matanya?" tanya Nalendra.


"Biasa," ujar Zyan.


"Dareen, nangis kenapa?" Dareen hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Nalendra.