Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 86



Nalendra dan Rania menghabiskan waktu pagi dengan berjalan di taman apartment. Seperti sedang berbulan madu saja, hanya mereka berdua. Nalendra merangkul Rania dengan mesra, seakan ingin memberitahu semua orang jika mereka suami istri.


Apartemen Nalendra termasuk salah satu apartemen mewah di bilangan Jakarta Selatan. Fasilitas yang tersedia di sana sangat lengkap. Penghuni dapat bersantai di Coffee House yang ada di area apartement, menggunakan ruang meeting, gym, courtyard, serta playground untuk si kecil. Masih satu kawasan dengan pusat perbelanjaan, dekat dengan sekolah TK hingga SMA, juga hanya 10 menit ke rumah sakit besar.


"Sayang, kita pulang besok aja ya?" pinta Nalendra.


"Dareen gimana?"


"Mereka pulang hari Minggu," ucap Nalendra. Dia sudah menghubungi orangtuanya.


"Aku takut Dareen merepotkan mereka!" terdengar rasa khawatir berlebih dari suara Rania.


"Tenang saja, Dareen bukan anak yang merepotkan. Malah Kakek Neneknya senang bisa bermain sama cucunya," ujar Nalendra menenangkan Sang istri.


Sudah Kakek Nenek ya! pikir Rania.


Mereka menghabiskan bubur yang telah dipesan sebelum kembali ke apartemen. Pagi pertama yang sangat sempurna bagi Nalendra karena kini ada seorang istri yang menemaninya.


"Ndra, hari Jumat pakai kemeja atau koko?" tanya Rania yang akan menyiapkan pakaian Nalendra.


"Koko aja," ucapnya yang baru masuk ke dalam shower room.


Rania segera menyiapkan pakaian untuk Nalendra dan menyimpannya di tempat tidur. Cahaya matahari masuk ke kamar Nalendra lewat jendela di sampingnya. Pemandangan kota Jakarta terlihat jelas lewat jendela tinggi itu, jika tidak di tutupi vitrace.


Rania menggeser vitrace-nya dan melihat jauh ke depan. Kamar Nalendra berada di lantai atas, Bangunan-bangunan tinggi menjulang berada di depannya, orang-orang di bawah terlihat lumayan kecilnya.


Rania sedikit terkejut ketika Nalendra memeluknya dari belakang, tubuh Nalendra yang tinggi besar merengkuh tubuh Rania yang kecil. "Liat apa?"


"Melihat semua yang di depan," jawab Rania tersenyum. Dia mengelus pipi Nalendra. Wangi tubuh Nalendra yang baru saja mandi menyeruak, kulitnya pun terasa sangat segar menempel di kulit Rania.


"Cepat pakai baju, nanti masuk angin kalau kelamaan ga dibaju!" Rania tahu Nalendra hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di pinggangnya.


"Ga dingin ko, terasa hangat," jawab Nalendra mengeratkan rengkuhannya.


Rania hanya terkekeh mendengarnya. "Ayo dibaju dulu!"


"Baiklah," jawab Nalendra melepas pelukannya.


"Ndra, nanti siang aku mau belanja ya." Rania meminta izin pada Nalendra.


"Sore aja, nanti aku temani!" jawab Nalendra.


"Siang, sekalian nyari makan siang. Aku belanja di bawah aja," sergah Rania.


"Maaf, kamu harus keluar buat nyari makan. Makan siangnya aku pesankan aja ya," kata Nalendra. Dia ingin menemani Sang istri berbelanja, tetapi mengingat jadwalnya yang tidak bisa ditinggal hingga sore nanti. "Siang aku ga bisa temani, ada beberapa kerjaan dan meeting juga. Nanti aku jemput jam empat, aku ingin menemanimu berbelanja!"


"Okelah, tapi nanti aku izin ke bawah ya kalau aku bosan di sini. Ga apa-apa ko, ga usah khawatir, nanti kalau ada apa-apa juga aku telepon," pintanya dengan wajah sedikit merayu.


Nalendra mengangguk pelan, ada rasa tidak rela terbersit di benaknya. Namun, dia tahu bagaimana bosannya menunggu. "Nanti kalau jadi ke luar telepon aku dulu ya." Nalendra mendekati Rania dan mencium dahi Rania.


"Hari ini aku merasa malas bekerja, tapi aku harus masuk!" keluh Nalendra sambil memeluk Rania.


"Jangan malas, paksain aja. Bismillah dulu," jawab Rania mengelus punggung Nalendra. "Ndra, kamu seneng banget meluk aku?" Rania berpikir jika Nalendra selalu memeluknya di banyak kesempatan.


"Karena aku bersyukur, kamu bersamaku sekarang. Apa aku cuti aja hari ini?" ujarnya.


"Katanya ada kerjaan dan meeting juga!"


"Ada Aziz yang bisa mewakili ku. Dia pasti mengerti!" seru Nalendra.


"Kerja aja!"


"Baiklah Nyonya besar," jawab Nalendra mencubit hidung Rania.


**


Nalendra tersenyum pada semua orang yang berpapasan dengannya di kantor.


Aziz telah tiba lebih dulu dibanding Nalendra. Dia langsung mengikuti Nalendra masuk keruangannya untuk mengkonfirmasi jadwal yang akan mereka kerjakan hari ini.


Moodnya kelihatan bagus hari ini. ujar Aziz tertawa terbahak dalam hati.


"Ziz, adakah jadwal pentingnya setelah jam tiga sore nanti?" tanya Nalendra.


Aziz melihat tabs nya, "Tidak ada, Pak. Anda selesai meeting sekitar jam dua atau jam tiga."


"Baiklah, Rania ada di sini. Jadi, aku harus pulang jam empat," ungkap Nalendra dengan wajah berseri.


"Baik, Pak," jawab Aziz bersemangat.


Istrinya, penyelamatku. pikir Aziz. Semalam Aziz mengirimkan email ke Nalendra molor satu jam dari waktu yang Nalendra pinta, tetapi Nalendra tidak mengomel atau menyindirnya pagi ini.


"Pak, Meeting akan di mulai 10 menit lagi. Ini berkas untuk meeting hari ini." ucapnya menyerahkan sebuah map pada Nalendra.


Meeting pertama selesai pukul 11. Nalendra mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dia ingin melihat wajah Sang istri.


"Assalamu'alaikum, ada apa?" tanya Rania, wajahnya bantalnya terlihat menggemaskan.


"Kamu tidur?" tanya Nalendra.


"Iya, setelah menjemur, aku ngantuk."


"Bukannya mau jalan-jalan ke bawah?"


"Ga jadi, nanti aja sama kamu. Aku ingin tidur lagi," jawab Rania memejamkan matanya.


"Baiklah, kalau lapar telepon aku aja. Nanti aku pesankan atau kamu juga bisa memesannya sendiri 'kan?"


"Iya, biar aku pesan sendiri aja. Aku ngantuk Ndra, aku tidur dulu!" ucap Rania langsung matikan Video call-nya sepihak.


"Dasar istriku, kamu menggemaskan sekali. Kalau ga inget ada meeting, aku pasti pulang ikutan tidur," gumam Nalendra.


Hari Jumat, Nalendra seperti laki-laki muslim yang lain menunaikan kewajibannya pada Sang Khalik, beribadah shalat Jumat. Setelah selesai dan juga makan siang, dia kembali disibukan dengan pekerjaan dan meeting yang molor hampir setengah Jam.


"Pak, Bapak mau pulang sekarang?" tanya Aziz memastikan.


"Iya, aku mau jalan-jalan dulu sebelum nanti Senin kita harus lembur, mulai mengerjakan untuk proyek di Singapore." ucapnya.


Astaga, bagaimana aku melupakannya, Selasa nanti harus ke Singapore! pikir Aziz.


"Baik, Pak. Selamat weekend dengan istri," ucap Aziz.


"Terima kasih," jawab Nalendra, berjalan ke arah lift meninggalkan Aziz yang masih berdiri memandanginya.


"Dia sudah tahu rasanya mempunyai istri. Pengantin baru." gumam Aziz terkekeh, menertawakan Nalendra.


"Siapa yang pengantin baru?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba berada di samping Aziz. "Pak Aziz, Pak Nalendra udah pulang ya. Tumben pulang cepat, biasanya hari Jumat lembur?" tanya Clara, salah seorang sekertaris di kantor Nalendra.


"Biasa, kangen istri," ujar Aziz.


"Becanda nih. Semua orang juga tahu, dia belum punya istri. Jangankan istri, pacar aja belum!" kata Clara tertawa.


"Ya sudah kalau tidak percaya!"


"Kalau becanda mesti dipikirkan dulu, kalau dia udah nikah pasti semua orang tahu."


Aziz tidak menjawabnya, dia hanya menggedikkan bahunya dan berlalu dari sana.


Wanita tadi terdiam, nampak berpikir lalu mengejar Aziz. "Seriusan pak, bener Pak Nalendra udah merried?"


"Aku cerita, kamu juga ga akan percaya!"