Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 103



Nalendra merasa bahagia berkumpul dengan istri dan anaknya. Berbuka puasa bersama dengan mereka.


Semoga kita bisa selalu seperti ini, harap Nalendra dalam hati.


"Maaf, Pak Nalendra 'kan?" Seorang wanita cantik dengan memakai pakaian casual berdiri di samping Nalendra.


Nalendra melirik wanita tersebut, mengernyitkan dahi. "Iya," jawab Nalendra.


Rania tidak menoleh wanita tadi, dia lebih fokus menikmati makanan di depannya.


"Saya tidak menyangka bisa bertemu Bapak di sini." Wanita tadi melihat Rania yang berada di depan Nalendra. Namun, Rania seperti tidak menghiraukannya sama sekali.


Wanita ini orang lain ternyata, aku kira dia kekasihnya. pikir wanita tadi ketika melihat Rania membantu Dareen memotong makanannya.


Dia mengambil bangku kosong tak jauh dari meja Nalendra dan duduk di sebelah Nalendra tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Nalendra yang memandang tajam wanita tadi dan beralih melihat Rania yang tersenyum kecut sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Boleh saya bergabung?" tanyanya setelah duduk di sebelah Nalendra.


"Saya kira Bapak masih di Singapore. Saya baru mengantar ponakan saya, dia mudik terlebih dahulu," ucap wanita tadi dengan cepat.


"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Nalendra, dia sungguh tidak mengingat wanita di sampingnya.


"Ehm, Saya Kiki sekertaris Pak Justin."


"Oh, begitu." Nalendra menunduk melanjutkan makannya.


"Daddy, aku mau itu." Dareen menunjuk shrimp roll di tempat makan Nalendra.


"Jangan sayang, itu udang," ujar Rania tersenyum.


Wanita tadi memandang Nalendra dan Rania. "Maaf, apa saya mengganggu waktu Bapak?" tanyanya.


"Tidak ko Mbak. Tidak apa-apa," ujar Rania tersenyum.


"Maafkan ya, Pak. Saya kira Bapak sendirian." ucapnya dengan ketakutan. "Kalau begitu, saya permisi. Maaf ya, Pak." Wanita tadi berdiri, langsung pergi dengan wajah memerah karena malu.


"Kasian, dia malu!" kata Rania setengah mengejek.


"Aku tidak melakukan apapun. Dia yang membuat malu diri sendiri!" jawab Nalendra, Rania terkekeh.


Rania jadi menyadari satu hal, Nalendra seorang pria mapan, walaupun tidak terlalu tampan karena ketampanan itu relatif. Namun, karena jabatannya yang mentereng pasti banyak wanita yang mendekatinya.


**


"Aku berangkat besok sebelum subuh aja, pesawatnya take off setengah 6 pagi," ujar Nalendra, duduk menyender di tumpukan bantal tempat tidur.


"Mau aku antar?" tanya Rania membuka selimut, ikut bergabung duduk di tempat tidur.


"Ga usah, aku naik taksi saja. Kasian Dareen. Nanti saja kalau aku pulang, jemput aku di Bandara," kata Nalendra melirik Rania. "Tidak apa 'kan aku tinggal kalian beberapa hari di sini?"


"Iya, ga apa-apa. Aku bisa mengajaknya bermain di taman atau berkeliling di bawah."


"Aku akan menyuruh Aziz mengurus visa kalian agar nanti bisa ikut denganku," kata Nalendra menepuk tangan Rania yang berada di genggamannya.


"Emang boleh kita ikut denganmu?"


Nalendra berbalik menatap istrinya. "Tentu saja, kamu istriku dan Dareen anakku. Ga da yang akan berani melarang kalian ikut bersamaku." kata Nalendra.


Dini hari, Rania sudah selesai memasak makan sahur untuk bekal Nalendra. Dia akan sahur di perjalanan.


"Padahal bangunin aja," ujar Rania pada Nalendra yang menutup pintu kamar Dareen.


"Jangan, kasian. Biarkan dia tidur sebentar lagi." Nalendra menghampiri Rania, dia memeluk istrinya erat. "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Nalendra mencium kening, mata, pipi Rania.


"Taksinya udah di pesan?"


"Udah, sebentar lagi aja. Aku masih mau memelukmu," ucap Nalendra.


**


Di sebuah kamar, seorang gadis menangis sesenggukan hingga matanya memerah dan bengkak.


"Kenapa kamu tega banget sama aku!" lirihnya.


Gadis itu adalah Liana. Hari itu saat buka bersama, dia keluar mengejar Habib Putra yang akan pulang terlebih dahulu. Dia mendengar percakapannya dengan Rezky, Nalendra dan Rania.


Saat itu, Liana baru menyadari jika suami sahabat kecilnya adalah Nalendra, laki-laki yang dia inginkan.


Dia teringat cincin yang dipakai Nalendra hampir mirip dengan yang Rania pakai, dia ingat jika cincin kawin Rania berwarna gold sedang yang dia pakai sekarang berwarna silver. Dia juga teringat perkataan Rania tentang suaminya yang sedang berada di Singapore.


Nalendra baru saja pulang dari luar negeri, bukankah Singapore juga luar negeri. pikirnya.


Dia masih sulit percaya jika benar mereka menikah, kenapa Rania tidak memberitahunya tentang pernikahan mereka. Dia merasa kesal dan marah pada Rania.


Kenapa harus dengan Nalendra, padahal dia tahu aku menyukainya! batin Liana.


Malam itu, dia pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal tak menentu. Dia bertanya pada Amih, tetapi ibunya itu hanya menjawab tidak tahu.


Liana juga sempat bertanya pada Indro, Yudhi, Faqih, tetapi mereka juga menjawab dengan jawaban ambigu. Dia mengambil ponselnya dan melihat media sosial milik Rania.


Liana menggulir layar ponsel mencari story' yang mungkin berhubungan dengan pernikahan temannya itu. Namun, dia tidak menemukan apapun, Rania memang tidak pernah membagikan moment tertentu di media sosial.


"Hanya ada resep masakan!" keluh Liana kesal.


Dia beralih ke media sosial milik Nalendra. Tidak ada yang aneh. "Pemandangan, pemandangan," ujar Liana terus menggulir hingga dia berhenti di foto tangan yang saling berpegangan.


Liana menghela napas berat, jari manis di kedua tangan yang berpegangan itu melingkar cincin berwarna silver yang sangat indah. Liana memeriksa kapan foto tersebut di upload.


"Bukan Rania, Amih bilang dia menikah awal bulan Ramadhan," gumam Liana, melihat foto tersebut di upload sebelum bulan Ramadhan.


"Aku harus segera menanyakannya!"


Ketukan pintu kamar mengalihkan pandangan Liana dari layar ponselnya. Pintu itu terbuka, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar yang gelap, hanya ada cahaya dari ponsel Liana yang langsung padam juga.


"Hayu saur, meni mopoek!" ujar Amih segera menyalakan lampu kamar. Liana langsung memejamkan mata karena silau.


"Kunaon, abis nangis?" Amih langsung menghampiri putri bungsunya setelah melihat wajah Liana yang memerah dan mata yang bengkak.


"Ga apa-apa, aku mau tidur lagi. Ga sahur dulu. Tadi udah makan ko!" Liana menunjuk bungkusan roti yang telah kosong.


"Coba balik sini, Naha wajahna meni bengkak kitu! habis nangis, kunaon?" ujar Amih, terdengar rasa khawatir dalam suaranya.


"Ga apa-apa, nanti tolong tutup lagi pintunya!" Liana langsung merebahkan diri, menyamping membelakangi Amih.


Amih menghela napas, beranjak dari tempat tidur Liana dan keluar dari kamarnya. Dia merasa khawatir melihat Sang anak yang tiba-tiba mengurung diri di kamar, sejak pulang dari acara reuninya.


Sahur dan buka puasa lun dia lakukan di dalam kamar. Dia enggan keluar dari sana. Sudah satu hari dua malam, Amih mendengar Liana menangis sesenggukan.


Ingin rasanya memeluk sang anak dan mendengar semua kesakitan ya. Namun, nampaknya Liana enggan berbagi cerita, walaupun itu dengan ibunya sendiri.