Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 62



"Ayo ikut Ibu ke dalam!" pintanya seraya berlalu ke dalam ruang makan yang telah mereka bereskan tadi.


"Ada apa, Bu?" jantung Nalendra tiba-tiba berdetak cukup cepat.


Apa aku akan diomelinya lagi? batin Nalendra.


"Kakak, mau bertemu Dareen 'kan?" tanya Bu Shafira melihat anaknya sedikit jauh dari dia berdiri.


"I-iya Bu," jawab Nalendra gugup.


"Bawain ini buat Dareen?" titah Bu Shafira menyodorkan kantong makanan yang cukup besar pada Nalendra.


"Apa ini, Bu?" tanya Nalendra penasaran.


"Itu ayam goreng tepung, Dareen suka sekali makan itu. Waktu di kolam renang juga dia habis beberapa potong, jadi ibu buatkan lagi untuknya," terang Bu Shafira.


"Oh, baiklah. Makasi ya, Bu," ucap Nalendra tersenyum bahagia. Perasaannya mulai hangat akan sikap Ibunya.


"Di dalam juga ada beberapa cupcakes buat Rania dan keluarganya," ujarnya lagi. "Kenapa melihat Ibu seperti itu?" tanya Bu Shafira, Nalendra memandang Ibunya cukup tajam.


Nalendra berjalan menghampiri Sang Ibu, Dia memeluknya erat. "Makasi ya, Bu," ujarnya mengeratkan pelukan.


Bu Shafira menepuk Nalendra cukup keras. "Jangan terlalu erat, nanti Ibu ga bisa napas!" Nalendra tertawa sambil memeluk Ibunya.


"Ibu bukan tidak merestuimu meminang Rania, tapi cobalah cari yang gadis dulu, ya," ujarnya tersenyum.


"Jadi, apa aku harus membawa makanan ini atau aku tinggal saja?" jawab Nalendra yang mulai bingung kembali dengan sikap Sang Ibu. Menurutnya, sikap dan ucapan Bu Shafira bertolak belakang.


"Ih, Kakak ini!" Bu Shafira kembali menepuk keras lengan Nalendra hingga dia meringis.


"Makasi ya, Bu. Aku sama Rania saja, ga usah cari yang lain. Nanti malah ga ketemu-ketemu," ujarnya tersenyum.


"Ga ketemu-ketemu. Udah sana berangkat, kasian Dareen nunggu!" jawabnya dengan raut sedikit kesal.


Nalendra menenteng beberapa totebag berisi makanan sebagai oleh-oleh untuk Dareen dan Rania dari Sang Ibu. Wajahnya yang semula ditekuk berubah cerah. Dia pun bersenandung ketika berjalan dari dapur menuju mobil yang sudah terparkir di luar garasi.


"Hari yang indah," gumamnya.


Setelah berpamitan pada keluarganya, Nalendra melajukan mobil menuju rumah orangtua Rania. Sampai di depan pagar rumah, Nalendra turun untuk membuka pagar sendiri.


Pak idris sedang mencabut rumput liat yang tumbuh di halaman rumah, ditemani Dareen yang melipat tangannya di dada dengan wajah cemberut yang menggemaskan.


"Ko, mukanya ditekuk gitu?" tanya Nalendra yang baru saja memarkirkan mobil di carport.


"Assalamu'alaikum." Nalendra menghampiri Pak Idris untuk memberi salam.


"Wa'alaikumsalam, biasalah. lagi ada maunya," ujar Pak Idris terkekeh melihat tingkah Sang cucu.


"Kenapa?" tanya Nalendra lagi mendekati Dareen.


"Lama banget sih, katanya pagi. Ini udah siang, Om!"


"Jadi Dareen cemberut karena nungguin Om lama datengnya?" ujar Nalendra duduk di samping Dareen. Dia mengelus rambut anak itu dengan lembut.


"Ya iyalah. Cape tau aku duduk mulu nungguin Om," jawabnya masih dengan melipat tangan di dada.


"Maaf ya, tadi Om nungguin Nenek dulu masak."


"Nenek 'kan udah gede ko ditungguin?" tanya Dareen sewot.


"Nenek mau masakin ayam krispi buat Dareen, jadi 'kan harus ditungguin sama Om," jawab Nalendra yang ingin tertawa terbahak melihat tingkah lucu Dareen.


"Coba mana, aku liat." Dareen berbalik pada Nalendra dan menurunkan lipatan tangannya.


"Sebentar, Om ambil dulu di mobil." Nalendra berdiri berjalan ke arah mobilnya untuk membawa makanan yang Bu Shafira buatkan buat Dareen dan Rania.


"Eh, Om kira Dareen masih duduk di sana," ujar Nalendra yang melihat Dareen membuntutinya ke mobil.


Dareen terus mengikuti setiap langkah Nalendra. Mereka pun duduk di teras dan membuka totebag berisi makanan untuk Dareen. Senyum Dareen mengembang tatkala melihat tempat makan yang Nalendra keluarkan.


"Bisa buka sendiri?" tanya Nalendra menyodorkan kotak makan itu.


Dareen tersenyum dan mengambilnya, dia membuka kotak makanan di pangkuannya. "Ehm, enaknya."


"Jangan lupa bagi Abah," ujar pak Idris setengah berteriak.


"Buat kamu, Jagoan!"


"Kata Om ini buat aku, Abah!" Dareen dengan lantang memberitahu Pak Idris.


"Abah minta kalau gitu!"


"Jangan, Abah minta Om aja!" Dareen langsung menutup kotak makannya.


"Itu apa Om?" Dareen menatap totebag yang satunya.


"Oh, itu buat Abah dan Bunda," jawab Nalendra melihat ke arah totebag.


"Abah, kata Om yang ono yang buat Abah!" Sambil menunjuk ke arah totebag.


Dareen kembali membuka kotak makannya. "Aku boleh makan 'kan Om?" tanya dareen langsung mengambil satu dan melahapnya tanpa menunggu jawaban dari Nalendra.


"Tentu, makanlah," Nalendra tertawa melihat Dareen langsung memakannya. Dia mengacak rambut anak kecil itu dengan gemas.


"Pak, ini ada titipan dari Ibu, buat Bapak sekeluarga," kata Nalendra pada Pak Idris.


"Oh, iya. Makasi 'Nak." Pak Idris menyudahi pekerjaannya, dia mencuci tangan di keran depan rumah dan ikut berkumpul dengan dan Nalendra juga cucunya.


"Makasi, tolong bilang ke Ibu makasi gitu." Pak Idris segera mengambil totebag yang disodorkan oleh Nalendra dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Nalendra menatap Dareen sambil tersenyum, senang sekali rasanya melihat dia makan dengan lahap.


Dasar Dareen, tadi aja marah. Dikasih makanan kesukaan lupa sama marahnya. batin Nalendra.


Rania membawa nampan berisi teh manis juga beberapa toples berisi kastangel dan sistik bawang, dia juga membawa pie buah buatan sendiri.


"Wah, anak bunda lagi makan apa tuh?" tanyanya sambil meletakan nampan yang dia bawa di lantai dekat Nalendra duduk.


"Makasi makanannya," ucap Rania pada Nalendra.


"Bunda, aku mau pie buah," ujar Dareen menunjuk piring berisi pie.


"Habisin dulu makanan yang ditangan, baru nanti boleh makan pie. Itu gurih, Sayang, pie manis, masa dimakan barengan!" sergah Rania.


"Dareen suka pie?" tanya Nalendra.


"Iya, pie buatan Bunda enak."


Nalendra beralih menatap Rania. Ternyata dia serba bisa.


"Hari ini kita main ke mana ya?" tanya Nalendra pada Dareen.


"Renang kaya kemarin aja yuk, Om!"


"Kalau renang kayanya ga bisa, tempat kemarin 'kan lumayan jauh. Om harus pulang lagi ke Jakarta, besok Om harus kerja," kata Nalendra. "Apa kamu mau ikut, jalan-jalan?" tanya Nalendra pada Rania.


"Aku?" Rania tersentak menunjuk dirinya.


"Ayo, Bunda. Ikut aja!" ujar Dareen sambil mengunyah makanan.


"Makanlah dulu, itu mulut Dareen penuh makanan. Kalau bicara nanti pada keluar makanannya!" ujar Rania pada Sang anak. "Emang mau ke mana?"


"Keliling-keliling Bandung, mau?" tanya Nalendra tertawa.


"Ngapain keliling Bandung, macet tau!" jawab Rania ikut tertawa.


"Ya, sambil kita cari tempat bagus buat makan, main atau apa gitu," ujarnya.


"Lembang gimana? katanya di sana ada banyak tempat baru, aku udah lama ga main ke sana." ucap Rania memberi ide.


"Oke, Deket juga," jawab Nalendra tersenyum senang.


"Apa kita cuma bertiga aja?" tanya Rania, masih merasa segan pergi bertiga dengan Nalendra.


"Kita pernah pergi bertiga makan. Ga masalah, Ayo!"


"Oke, aku siap-siap dulu." Rania beranjak dari duduknya hendak pergi ke dalam rumah untuk bersiap ketika seseorang datang dan menyapa Nalendra.


"Hai, Ndra!" Suara perempuan yang sukses membuat Rania berbalik.