Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 11



Hari lumayan cerah, Rania telah sampai di rumahnya setelah menempuh beberapa jam perjalanan. Terlihat teras rumah berdebu karena ditinggal pemiliknya pergi selama seminggu lebih. Dedaunan pun berserakan di parkiran mobil rumahnya. Rania mendorong kopernya masuk, Dareen berlarian ke depan pintu dan pak Idris mengambil beberapa kantong yang masih berada di mobil.


Memasuki rumah, ada perasaan hampa menyelinap di hatinya. Rumah itu terasa sangat sunyi dan dingin. Mainan Dareen berserakan di mana-mana, malam itu dia berencana akan membereskannya setelah Dareen tidur. Tiba-tiba tercium bau tidak sedap dari dapur, ah ... makanan yang dia masak untuk makan malamnya dengan Ergha, sudah basi di penggorengan. Malam itu tidak pernah terpikir olehnya, masakan yang dia buat tidak termakan padahal itu adalah menu kesukaan Ergha.


"Biar bapak yang buang, teh," ucap pak Idris melihat ada beberapa belatung yang bersarang di sana.


"Ah, iya pak. Maaf harusnya bapak istirahat," ujar Rania yang merasa bersalah pada bapaknya.


"Ish ... nanti juga bisa kalau semua udah beres."


"Rania mau ambil sapu dulu," ujarnya.


"Dareen, nanti kita beresin mainannya yuk. Lantainya mau bersihkan bunda, Abah mau buang ini dulu," ujar pak Idris pada cucunya.


"Oke, Abah. Dareen ambilin keranjangnya ya," sahut Dareen.


Rania masuk ke kamarnya, menyimpan koper di sana. Namun matanya tertuju pada foto keluarga kecilnya berukuran besar yang terpajang di dinding. Nampak Ergha tersenyum memandangnya dan Dareen.


"Ayo, mana keranjangnya?" tanya pak Idris pada cucunya, setelah dia selesai membuang sampah ke luar.


"Ini Abah." Dareen menggusur dua box besar dan satu keranjang.


"Ini gimana cara beresinnya?" tanya pak Idris lagi.


"Bukan gitu Abah, mobilan sama kereta taro di box yang tutupnya hijau, yang tutupnya orange buat Lego, bekoan dan yang besar-besar taro di keranjang," tuturnya memetakan pengaturan pada pak Idris.


"Teh, udah beres nih," ucap pak Idris memanggil anaknya yang tak kunjung keluar dari kamar.


"Teh," panggilnya lagi, tetapi tidak ada jawaban. "coba liat bunda lagi apa, katanya mau nyapu," titahnya pada Dareen.


Dareen setengah berlari ke kamar bundanya, terlihat dia sedang duduk ditepian tempat tidur.


"Bunda," panggil Dareen. "bundaaa ...." Daren menggoyangkan tangan Rania hingga dia tersadar.


"Eh, apa Sayang?" tanyanya terkejut.


"Bunda, kenapa? kata Abah katanya mau nyapu," ujar Dareen.


" Oh, maaf. Bunda lupa."


Rania segera membereskan rumahnya, menyapu, mengepel, mencuci piring bekas makan Dareen malam itu yang belum tercuci.


"Teh, udah pulang?" tanya seorang ibu berumur lebih dari setengah abad ketika dia sedang menyapu dedaunan yang berserakan.


"Eh, Ibu. Udah Bu tadi," sahut Rania.


"Gimana kabarnya?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah, sehat Bu."


"Maaf ibu ga bisa dateng ke Bandung kemarin," ucapnya.


"Ga apa-apa ko Bu," jawab Rania tersenyum.


"Nanti ibu ke sini lagi ya, ibu mau ke warung dulu," ujarnya berpamitan. Rania tersenyum mengangguk.


Rasanya lelah sekali, bukan hanya fisik saja, tetapi juga hati dan pikirannya terasa sangat lelah. Dia membaringkan tubuh di sofa ruang tamu dan tertidur, sampai Dareen menggoyangkan tubuhnya untuk membangunkannya.


"Bunda," panggilnya.


"Iya, sayang," jawab Rania dengan mata yang masih terpejam.


"Bunda, aku mau ice cream."


"Minta ambilin ke Abah di kulkas," jawab Rania lembut.


"Ga ada Bunda, udah habis," ungkapnya.


"Boleh bunda tidur dulu lima menit lagi?" pinta Rania, matanya sulit sekali terbuka.


"Boleh, Bunda. Aku nunggu di sini," ujarnya duduk di samping Rania yang tidur terlentang di sofa.


"Bunda, udah lima menit belum?" tanya Dareen, tetapi tak ada jawaban dari bundanya.


"Dareen lagi apa, 'Nak?" tanya pak Idris melihat cucunya duduk cukup lama di samping Rania.


"Ini udah lima menit belum Abah? Dareen mau bangunin bunda," ungkapnya dengan wajah yang menggemaskan.


"Bangunin aja bundanya atau mau Abah yang bangunin?" ucap pak Idris.


"Dareen aja." dia menggoyangkan tubuh bundanya kembali.


"Rania, bangun. Itu Dareen nungguin."


"Emang Dareen mau apa bangunin bunda?" tanya pak Idris lagi.


"Dareen mau ice cream, Abah. Kata bunda tunggu lima menit," tuturnya.


Dareen menatap bundanya dan pak Idris bergantian, " Dareen ga punya uang Abah," ungkapnya memelas.


"Kan Abah punya. Ayo dari Abah aja," ajak pak Idris.


Wajah Dareen langsung berbinar senang dan tersenyum.


"Bangunin bunda dulu, kan harus bilang. kalau ga bilang, nanti bunda kasian nyariin Dareen sama Abah," ujarnya tersenyum.


Setelah membangunkan Rania, pak Idris dan Dareen berpaminan ke minimarket terdekat. Rania membersihkan diri, mengguyur kepalanya dengan air agar lelahnya hilang.


"Assalamu'alaikum."Terdengar salam dari luar ketika Rania sedang memotong wortel hendak memasak.


"Assalamu'alaikum," salam itu terdengar kembali, Rania langsung membuka celemeknya dan berjalan ke arah pintu.


Ibu-ibu telah berkumpul di depan gerbang rumahnya begitu dia membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam," sahutnya dengan sedikit menaikan volume suara agar terdengar oleh mereka.


"Eh, Ibu-ibu. Masuk Bu," ujar Rania membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.


"Maaf lho jeng, kita baru datang sekarang," ujar salah seorang ibu yang berpenampilan elegan.


"Tak apa, mari masuk."


Rania segera mengambil air kemasan botol kecil untuk mereka dan beberapa cemilan yang dia bawa dari Bandung. Bu Sekar menyuruhnya membawa banyak cemilan tadi pagi. "Bisi ada nu Dateng," ujarnya.


"Ga perlu repot-repot, teh."


"Ga apa-apa, Bu. ga ngerepotin ko," jawab Rania tersenyum.


"Sekali lagi, maaf ya teh. Kita baru dateng, ga ikut ke Bandung," ujar Bu Herman yang tadi pagi menyapanya diluar gerbang.


"Ga apa-apa, Bu."


"Gimana kabar teteh sama Dareen?" tanya Bu permata.


"Alhamdulillah, baik Bu."


"Itu, gimana sih ceritanya jeng. Aku tuh penasaran banget, ko bisa," tanyanya.


Rania menceritakan kejadian kecelakaan yang menewaskan suaminya dari awal sampai dia di makamkan. Ibu-ibu terkejut di saat Rania bilang kalau Ergha korban kecelakaan beruntun Karena kelalaian pengemudi yang mengantuk. Mereka ikut bersedih meneteskan air mata, membayangkan bagaimana sedihnya tiba-tiba ditinggal pasangan kita.


"Emang bener-bener kalau kita mengantuk ga boleh nyetir, bahaya banget," ucap salah seorang ibu.


"Terus gimana Dareen? dia ga nanyain ayahnya?" tanya Bu permata.


"Ya pasti nanyain Bu."


"Terus teteh bilang apa?"


"Ya bilang jujur Bu kalau ayahnya sudah meninggal,"


"Pasti anak Segede Dareen belum terlalu paham juga kali ya," ucap Herman.


Mereka mengobrol lumayan lama, hingga ...,


"Teh, kita pulang dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa hubungi kita ya, kasih tau kita jangan sungkan," ucap Bu Herman.


"Baik Bu," jawab Rania.


"Teteh baik-baik ya."


"Oh, iya. Ko dari tadi ga liat Dareen. Dia kemana?"


"Dareen lagi keluar dengan bapak," jawab Rania.


"Bapak mertua?"


"Bukan. Bapak saya, Bu."


"Ya, udah. Kami pamit ya," ucapnya berpamitan.


"Iya, makasi ya Bu dah dateng," ujar Rania.


***


Pukul lima sore, Rania bersiap-siap hendak pergi ke rumah keluarga Ergha bersama Dareen ditemani pak Idris. Karena sebelumnya pak Darmawan menghubungi Rania dan memintanya datang ke rumah mereka.


"Dareen ga mau ikut!" serunya.


"Kenapa?"


"Dareen mau sini aja!"