Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 43



"Boleh Om bicara sama bunda berdua saja?" tanya Nalendra pada Dareen.


"Kenapa?"


"Ehm, kenapa ya. Ehm, Om mau bujuk bunda, nanti kalau ada Dareen takutnya bunda malu sama Dareen." Dareen semakin mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Ini obrolan orang besar, orang dewasa. Anak kecil tidak boleh tau, boleh?" tanya Rania. Dareen mengangguk dan berpindah tempat ke depan tv untuk menonton acara kesayangannya.


"Ada apa?" tanya Rania to the point.


"Hari Rabu nanti aku ngambil cuti sampai Jumat. Tenang aja, jatah cutiku belum aku ambil satu pun di tahun ini," kata Nalendra. "Bolehkah hari Selasa nanti aku jemput Dareen untuk menginap di sini? hanya satu malam, Rabu pagi kami akan pulang," pinta Nalendra penuh harap.


"Tapi hari Rabu Kami akan pindah," jawab Rania mencari alasan untuk menolak.


"Aku tau, aku 'kan bilang Rabu pagi kami pulang. Aku akan mengantar Dareen tepat waktu ko."


"Nanti aku kabari lagi, aku harus ngobrol dulu sama bapak." Rania terlihat kesal karena merasa Nalendra tidak peka dengan penolakan yang dia ucapkan tadi. Rania menekuk wajahnya dan memalingkan wajah dari depan layar ponsel.


"Rania, jangan tekuk wajahmu. Kamu terlihat menggemaskan ketika menekuk wajahmu, tetapi kamu jauh lebih cantik ketika tersenyum," ujar Nalendra tiba-tiba. Nalendra sadar jika Rania tidak mengizinkan Darren menginap.


Rania mengangkat wajahnya, memandang Nalendra sejenak kemudian menghela napas pelan. "Ndra, apa kamu sekarang sedang merayuku?" tanya Rania. "Ndra aku buka seorang gadis lagi." Rania memejamkan mata, menenangkan jantung yang menderu bahagia mendengar gombalan Nalendra.


"Aku tau kamu bukan seorang gadis. Rania, sepertinya aku harus minta maaf dan menjelaskan soal di tempat makan tadi." Nalendra memperhatikan Rania yang masih memejamkan mata. "Maafkan aku, tadi aku makan siang sendiri. Tiba-tiba saja ada dua orang gadis menghampiriku dan mengajak aku mengobrol. Mereka seperti sedang merayuku."


"Tinggal kamu pindah tempat, 'kan beres!"


"Ini hari Minggu dan waktu makan siang juga, jadi ga ada kursi kosong, semua tempat duduk penuh."


"Lalu?"


"Aku bersyukur Dareen meneleponku, jadi aku punya alasan untuk menjauh," terang Nalendra. "A-aku, minta maaf jika kamu merasa kurang nyaman soal tadi."


"Baiklah, tak apa-apa. Lagian kemaren juga aku bilang pada tetangga di sini kamu sudah menikah, agar mereka tidak bertanya lebih padaku. Ya, aku mengerti!"


"Ra-nia, a-aku ... aku menunggu jawabanmu secepatnya." Nalendra sedikit gugup berbicara dengan Rania.


"Jawaban apa?"


"Ehm? jawaban yang tadi, kamu kan belum jawab soal boleh enggaknya Dareen menginap di sini!"


"Oh iya, aku lupa. Nanti aku kabari lagi secepatnya. Assalamu'alaikum," ujarnya langsung pamit. Dia tidak mau mengakui tentang perasaan yang mulai berdebar saat tahu Nalendra menatapnya.


"Tidak boleh secepat ini!" tegas Rania dalam hati.


"Wa'alaikumsalam, dia sungguh menggemaskan," gumam Nalendra terkekeh.


"Hari Minggu, waktunya beresin rumah!" Nalendra memandang berkeliling. Nalendra menjadwalkan setiap hari libur untuk membersihkan tempat tinggal, tetapi sudah beberapa Minggu ini dia tidak sempat membersihkannya.


Nalendra mulai menarik selimut dan seprei dari tempat tidur dan menumpuknya di lantai, mengeluarkan bantal dari sarungnya lalu memasukan semua cucian ke keranjang, "Tinggal bawa ke laundry." Dia mengangkat keranjang cucian ke dekat pintu masuk, agar terlihat harus segera ke laundry.


**


Hari Selasa, Nalendra membuat semua orang di kantor terkejut. Dia membawa seorang anak kecil bersamanya ke kantor. Membuat Aziz kewalahan karena banyak sekali yang mengirim pesan, menanyakan siapa yang dibawa Nalendra.


"Sayang, mau menonton atau mau tidur siang?" tanya Nalendra sambil berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.


"Om?"


"Om harus bekerja dulu, kerjaan Om belum selesai. Dareen duduk dulu di sini boleh?" tanyanya lagi. "Kalau Dareen lelah mau tidur siang, ada kamar kecil di sana tempat om tidur kalau menginap di sini." menunjuk pintu di sudut ruangan yang hampir tidak terlihat karena terhalang rak buku.


"Om tidur di sini?"


"Om tidur di sini kalau pekerjaan om banyak banget dan belum selesai sampai malam. tapi kalau kerjaannya selesai, om pulang ke rumah," tuturnya.


"Aku di sini aja," ujar Dareen membuka tasnya dan mengeluarkan mobil dan kereta kecil.


"Ya udah, Om kerja dulu ya. Dareen main di sini, kalau lapar atau mau sesuatu, Dareen harus bilang Om biar nanti Om pesankan," jawabnya mengusap rambut Dareen lembut.


Rania mengizinkan Dareen menginap di rumah Nalendra semalam, setelah berbicara panjang lebar dengan Pak Idris. Dia setuju dengan usul pak Idris yang berpikir jika Dareen rindu sosok Ergha dan dia menemukannya di Nalendra.


Awalnya Rania sangat tidak setuju dengan usul itu, tetapi hatinya mulai luluh ketika Dareen mengigau memanggil ayahnya dalam tidur. Dulu saat Ergha masih hidup, beberapa kali dia mengajak Dareen ke kantor. Tidak ada salahnya jika sekarang mencobanya dengan Nalendra, bukan? Pikir Rania.


Nalendra kembali sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali dia melirik ke arah Dareen yang sedang bermain di sofa, tidak jauh dari meja kerjanya. Dia merasa seperti seorang ayah yang sedang menjaga anaknya.


Suara ketukan pintu membuat Dareen berlari ke arah Nalendra. Bukan karena takut, tetapi ini adalah pertama kalinya Dareen ke kantor Nalendra, sehingga dia berusaha mempertegas pada semua orang yang melihatnya jika dia bersama Nalendra.


"Kenapa, Sayang?" tanya Nalendra berbalik pada Dareen yang berada di sampingnya, dia membelai pipi Dareen dengan lembut. Dareen menggelengkan kepalanya menunjuk ke arah pintu.


Aziz masuk ke ruangan Nalendra, memberi senyuman terbaiknya pada Dareen. "Maaf, Pak. Dokumen untuk ke PT. Kupoh belum bapak tanda tangani," ujarnya menyodorkan map dokumen ke arah Nalendra.


"Jangan diliatin aja, nanti dia takut sama kamu!" seru Nalendra sambil menandatangani dokumen tersebut.


"Dareen, ini Pak Aziz. Dia bekerja dengan Om di sini. Nanti kalau Dareen ikut Om ke sini lagi dan kalau Om sibuk, Dareen boleh minta apapun sama Pak Aziz." Dareen tersenyum malu-malu melihat Aziz .


Nalendra mendudukan Dareen di pangkuannya. "Ziz, tolong foto kami ya!" pinta Nalendra menggeser ponsel di meja.


Aziz mengambil ponsel Nalendra dan memotret mereka beberapa kali. "Mereka memiliki wajah yang lumayan mirip," gumam Aziz tersenyum sambil mengambil foto mereka kembali.


"Terima kasih," Nalendra tersenyum, dengan gemas menciumi pipi Dareen sampai dia tertawa terbahak.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak." Nalendra hanya memberi anggukan, dia terlalu sibuk menciumi Dareen hingga tertawa.


"Ayo kita kirim foto ke bunda!" ajak Nalendra. "Coba, Dareen bisa ga mengirim foto tadi ke bunda?" tanya Nalendra membenarkan posisi duduk Dareen.


"Bisa ko, aku pernah dulu sama bunda kirim foto ke ibu," ungkap Dareen memegang ponsel Nalendra dan mengklik icon percakapan berwarna hijau.


"Coba, Om mau lihat."


Dareen menggulir layar ponsel dengan lincah. "Dareen suka mainin ponsel ga di rumah?" tanya Nalendra melihat Dareen yang begitu lancar mengirim foto pada Rania tanpa bertanya.


"No, Kata bunda Dareen ga boleh mainin ponsel atau nonton di ponsel. Kata bunda nanti mataku bisa sakit kalau main ponsel kelamaan. Om ga akan bilang bunda kan kalau Dareen main ponsel Om?"


"Tentu, jagoan. Dareen kan hanya mengirim foto, bukan nonton di ponsel, iya 'kan?"