Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 83



Rania dan Nalendra sepakat untuk tidak tidur satu tempat tidur selama pernikahan mereka belum sah di mata hukum. Namun, itu pun jika mereka bisa.


"Aku tidur dengan Dareen," ujar Nalendra.


"Iya, aku masuk kamar dulu ya," jawab Rania berdiri hendak masuk ke kamarnya lalu berhenti karena Nalendra mengikuti. "Kenapa?"


"Aku mau ngambil ponselku," jawab Nalendra.


Nalendra telah berganti pakaian dengan baju santai, dia selalu sedia pakaian ganti di mobilnya. Setelah acara, dia membersihkan diri di kamar Rania.


Rania mengangguk, mereka berdua pun masuk ke dalam kamar. Rasa canggung sangat terasa diantara mereka. Nalendra merogoh kantong celana yang sebelumnya dia pakai, mengeluarkan ponsel dari sana.


"Baju kotornya taro aja di keranjang." Rania menunjuk ke arah dekat pintu toilet, di sana ada keranjang khusus cucian kotor. "Nanti biar aku yang cuci."


"Bolehkah?"


"Tentu saja boleh, masukan saja!"


Nalendra pun menurut, dia memasukan pakaian yang dia pakai tadi ke dalam keranjang. Setelah itu duduk di tepi tempat tidur mencari headset yang dia simpan di travel bag nya.


Dengan rasa canggung dan debaran yang tak kunjung mereda, Rania membuka jilbab yang dia kenakan. Dia berjalan ke arah Nalendra dan duduk di sampingnya.


Bagaimanapun kami telah menikah, dia suamiku sekarang. Tak kan masalah dia melihatku seperti ini! sekarang ataupun nanti sama saja! ujarnya dalam hati.


Nalendra telah menemukan headset yang dia cari dan berdiri menyimpan travel bag nya kembali di sofa kecil samping meja rias. Ketika berbalik, dia tertegun melihat Rania yang sudah tidak berhijab. Rambut hitam panjang yang tergerai, membuat wajahnya terlihat lebih cerah. Debaran jantung kian menderu, dia segera menundukkan pandangannya.


Nalendra tersenyum dan menghampiri Rania, dia duduk kembali di tempat semula. Nalendra mengambil tangan Rania yang sedang bertaut dan menggenggamnya. "Terima kasih, sudah mau menikah denganku."


Nalendra menarik pelan tubuh Rania ke dalam pelukannya. Pelukan yang kedua, tetapi ini yang pertama setelah mereka sah menjadi suami istri. Nalendra membelai rambut Rania dengan lembut, sesekali diciumnya kepala Sang istri.


Nalendra melepaskan pelukannya, dipandangnya wajah Rania dengan lekat. Mata cokelatnya sungguh sangat indah, ditambah senyuman yang Rania berikan.


"Kamu sangat cantik," ucapnya, dengan tangan yang sedikit gemetar Nalendra memberanikan diri membelai wajah Rania yang sudah memerah.


Nalendra mencium Rania di keningnya, ciumannya turun ke kedua matanya, pipi, hidung. Nalendra menempelkan dahinya di dahi Rania. Hembusan hangat napas mereka terasa. Nalendra memicingkan wajahnya dan mencium lembut bibir Rania. Lama bibir mereka saling menempel, hanya sekedar menempel. terdengar deruan napas yang kian tak terkontrol.


Rania melepaskan ciuman, mengalungkan tangannya di lehernya, memeluk Nalendra. "Biarkan seperti ini sebentar, aku malu," ujarnya.


Nalendra mengeratkan pelukan sambil terkekeh. "Maaf, aku kaku sekali ya?"


Rania tertawa, "Tidak," ujarnya.


"Apa aku harus tidur denganmu malam ini?" tanyanya.


Rania kembali tertawa. "Ayo, sana tidur ke kamar Dareen! Besok kamu harus berangkat subuh," ujar Rania melepaskan pelukannya. Dia merasa belum siap jika harus melayani Nalendra malam ini, walaupun mereka sudah menikah. Namun, pernikahan mereka tidaklah direncanakan sebelumnya.


**


Rania bangun pukul tiga subuh, tidak lupa membangunkan Nalendra yang tengah tidur di kamar Dareen. Nalendra berencana naik kereta dari stasiun Bandung ke stasiun Gambir dengan keberangkatan pukul 5 pagi.


Rania segera membuatkan bekal untuk suaminya. Dia membuat sandwich yang mudah dibuat. Sementara Nalendra mandi bersiap berangkat.


Pukul empat subuh, Nalendra telah siap berangkat diantar Rania setelah berdebat kecil dengannya.


Setengah jam kemudian mereka tiba di Stasiun Bandung, tidak banyak orang di sana malah terlihat sepi, mungkin karena hari masih subuh.


Nalendra tidak langsung masuk ke boarding pass, dia duduk dahulu di lobby Stasiun bersama Rania setelah shalat subuh. "Ndra, dari stasiun naik apa ke kantor?"


"Paling taksi, kalau enggak ya ojek online," jawab Nalendra. "15 menit lagi, aku masuk ya. Kalau ga terlalu banyak kerjaan aku pulang nanti Jumat malam atau Sabtu pagi." Nalendra merangkul Rania dan mencium dahinya.


"Aku ingin menciummu, tapi ini di stasiun. Boleh enggak ya?"


"Dasar mesum, udah sana masuk!" sergah Rania ketus.


"I love you," bisik Nalendra di telinga Rania dan mencium pipinya.


Rania beranjak meninggalkan stasiun setelah memastikan Nalendra sudah selesai boarding pass. Dia mengemudikan mobil Nalendra dengan sesekali tersenyum lalu tertawa, melepaskan rasa gugup yang masih dia rasakan.


"Bunda, dari mana aja. Aku nungguin lama banget!" keluh Dareen begitu melihat Rania masuk ke rumah.


"Maaf ya, Sayangku." ucap Rania.


**


Kamis siang, Rania sudah berada di rumah, menyiapkan keperluan Dareen yang akan ikut dengan keluarga Nalendra ke Garut. Mereka akan mengantarkan Abah Danu pulang.


Pukul setengah dua, keluarga Sulaiman datang menjemput Dareen.


"Dareen, nurut sama Nenek dan Kakek," ucap Rania memberi pesan pada anak semata wayangnya. "Titip Dareen ya, Bu. Maaf jadi ngerepotin."


"Ga repot sama sekali. Dareen anak yang nurut, kami senang akhirnya ada cucu yang bisa kami ajak kemanapun," ungkap Bu Shafira. "Teh, kenapa Teteh ga nyusul Si Kakak aja ke Jakarta, Pulang hari Sabtu. Ibu akan kirim alamat apartemen Nalendra," ujar Bu Shafira.


"Tapi ...."


"Berangkat aja Teh, kasih surprise. Pasti Si Aa seneng!" timpal Bu Sekar.


"Ya udah, besok aku ke sana," jawab Rania.


"Eh jangan besok! besok mah Jumat, mungkin dia langsung pulang ke sini dari kantor. Hari ini aja, Ibu kasih alamat sama password apartemennya."


Rania nampak berpikir sejenak. "Baiklah."


"Pak, ini persyaratan untuk ke KUA." Pak Sulaiman menyerahkan map kepada Pak Idris. "Hari nya yang sudah kita sepakati aja. Jangan bilang dulu sama pengantinnya," bisik pak Sulaiman terkekeh.


"Ayah ini, pake bisik-bisik segala!"


"Nanti juga Ibu tahu!" seru pak Sulaiman. "Yuk, berangkat sekarang. Biar santai di jalannya!" ajaknya.


Setelah keluarga Sulaiman pergi, Rania mendekati Bu Sekar. "Mah, bolehkah Rania menyusul Nalendra?"


"Nya boleh atuh, 'kan Teteh udah jadi istrinya. Ga apa-apa, ga akan ada yang larang! malah Bu Shafira juga 'kan yang nyuruh Teteh ke sana!"


"Berangkat aja, Teh. Hati-hati di jalannya," ucap pak Idris memberi pesan.


Rania segera beranjak dari sana, masuk ke kamar menyiapkan semua keperluannya.


Setelah shalat asar, dia berangkat dengan menaiki mobil Nalendra yang kemarin ditinggalkan di rumahnya. Hatinya gugup sekaligus bahagia, senyuman selalu menghiasi wajahnya sepanjang jalan.


Jalanan tidak terlalu padat, Rania sampai di apartemen Nalendra di kawasan Jakarta Selatan setelah magrib. Mobil yang Rania gunakan sudah terdaftar di apartemen itu. Rania juga membawa acsess-card yang diberikan Bu Shafira untuknya, tidak lupa Bu Shafira juga menghubungi Aziz, asisten Nalendra. Dia memberitahunya jika Rania akan ke Jakarta dan mewanti-wanti agar Nalendra pulang cepat. Tentu saja dia juga memperingati Aziz agar tidak memberitahu Nalendra.


Nalendra pulang cepat hari ini, walaupun sebelumnya dia berencana untuk lembur. Aziz meminta Nalendra untuk segera pulang dan dia menjanjikan akan menyelesaikan pekerjaan Nalendra.


Nalendra sampai di apartemennya pukul 8 malam. "Apa tadi pagi aku lupa mematikan lampu?" gumamnya melihat hampir semua lampu menyala. "Sebaiknya aku mandi dulu," ujar Nalendra merasa badannya sangat lengket dan lelah.


"Aaaaaaa ...."