
Pagi di rumah keluarga Pak Sulaiman lebih cerah dari matahari yang baru menampakan diri. Walaupun di luar suhu udara lumayan dingin, tetapi perasaan Nalendra terasa hangat. Bagaimana tidak, pagi tadi Rania membangunkannya lewat telepon. Dia meminta diantar ke sekolah tempatnya mengajar.
Inilah kali pertama Rania meminta seperti itu. Senyum Nalendra terus mengembang di bibir seksinya. Membayangkan jika kelak mereka sudah menikah, tentu dia yang akan membangunkan Nalendra. Bukan lewat telepon! mungkin lewat sebuah kecupan. Dia juga yang akan mengantar Rania kemanapun dia pergi.
Nalendra menambahkan gula ke dalam cangkir teh hangatnya sambil bersenandung. Tanpa menyadari ada tiga pasang mata yang sedang cekikikan menertawakan kelakuannya.
"Awas salah masukin!" ujar Bu Shafira sambil tertawa kecil melihat Si sulung. Namun, sepertinya perkataannya tidak dia dengar.
Nalendra berjalan ke arah meja makan dan duduk di depan Bu Shafira. Dia terus tersenyum sambil sesekali menyeruput teh hangatnya.
"Apa kita ga keliatan gitu ya, Yah!" seru Bu Shafira menyindir Nalendra.
"Bro, jangan senyum-senyum sendiri, nanti kesambet lho!" ketus Alaric merasa ngeri melihat Nalendra.
"Biarin, suka-suka gue. Kapan dateng?" tanya Nalendra yang baru menyadari Sang adik berada di rumah.
Alaric menghela napas memandang Sang Kakak. Ternyata seperti itu sikap Nalendra ketika jatuh cinta, sampai-sampai ketika dia baru datang pun tidak dia sadari. Padahal saat Alaric datang, berpapasan dengannya.
"Aku ikut senang, akhirnya Kakak tunangan juga," ucapnya ngeri melihat Nalendra masih senyum-senyum sendiri.
"Kak, berhentilah senyum-senyum kaya gitu. Ibu ngeri liatnya!" ujar Bu Shafira. "Dengerin Ibu, Ayah mau jemput Abah ke Garut diantar Alaric. Ibu ga ikut soalnya harus ke toko perhiasan buat beli Cincin nanti siang. Kakak mau ikut ga?" tanya Bu Shafira.
"Tidak, aku ada rapat nanti siang. Jadi ga bisa diganggu. Aku juga harus sedikit merubah jadwalku agar nanti sore bisa pulang." Nalendra segera menghabiskan teh hangatnya dan berpamitan dengan kedua orangtuanya juga Sang adik.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut," pesan Nalendra pada Alaric. "Bu, Yah, aku berangkat."
"Lho, ini baru jam setengah enam, Kakak ga sarapan?" tanya Bu Shafira melirik jam di dinding.
"Nanti aja, aku mau nganter Rania ke sekolah. Mungkin sekalian sarapan dulu bareng dia," jawabnya tersenyum.
"Pantesan aja senyum-senyum terus dari tadi!" sindir Pak Sulaiman.
"Assalamu'alaikum," pamit Nalendra.
**
"Pak, Nanti Ibu pulang setelah duhur ya. Nanti Bapak undang lagi Pak haji, takutnya beliau lupa," ujar Bu Sekar mengingatkan sebelum dia berangkat.
"Iya, yang masak datang jam berapa?"
"Itu nanti Ceuceu ke sini, biar dia yang stay di sini nerima pesanan daging sama sayuran. Mama udah telepon Bu Halimah untuk masak nanti, mungkin duhur baru dateng." Pak Idris mengangguk, dia bersyukur mempunyai istri yang gesit seperti Bu Sekar.
"Teh, jangan lupa izin sama kepala sekolahnya. Pulang abis duhur aja!" Bu Sekar berpamitan kepada suami dan anaknya. Dia berangkat lebih awal karena akan mampir ke beberapa tempat dahulu.
"Teh, ga bareng sama Mama?" tanya pak Idris yang baru melihat istrinya berangkat sendiri.
"Tidak, Rania mau berangkat bareng Nalendra. Mungkin bentar lagi nyampe," jawabnya.
"Oh, Aa mau ke sini?"
Rania mengangguk. "Pak, Dareen belum mandi. Rania titip Dareen ya," ujarnya.
"Iya, tenang aja. Dareen udah besar udah bisa mandi, sarapan sendiri, udah ga mau sama Bapak sekarang mah." jawabnya terkekeh mengingat Sang cucu.
Rania tertawa kecil, Dareen memang sudah tidak mau lagi di mandikan ataupun disuapi sejak ulang tahunnya yang ke 5 bulan Januari lalu. Dia berkata jika dia sudah besar.
Suara Nalendra memberi salam terdengar dari depan teras rumah. Dia membuka sepatunya dan berjalan ke arah pintu dengan hanya beralaskan kaos kaki hitamnya.
"Wa'alaikumsalam, ayo Masuk!" ajak Rania. "Udah sarapan?" Rania memperhatikan Nalendra yang memakai kemeja warna biru terang dengan dasi yang senada dan celana bahan reguler fit warna hitam.
"Belum, nanti aja di jalan. Kamu udah sarapan?" tanyanya balik.
"Belum, kita sarapan di luar kalau begitu atau kamu mau sarapan di sini, ada nasi goreng buatan Mama."
"Di luar aja," ujarnya sedikit berbisik. "Bapak mana?"
"Tunggu sebentar aku ambil tas dulu." Rania masuk ke ruang tengah memanggil Pak Idris.
"Assalamu'alaikum," sapa Nalendra mencium tangan Pak Idris.
"Wa'alaikumsalam, udah dateng," ujarnya.
"Sepi banget." Nalendra menengok ke dalam ruang tengah.
"Dareen tidur lagi tadi abis subuh. Katanya ngantuk," kata Pak Idris, tahu jika Nalendra mencari cucunya.
"Ayo," ajak Rania yang keluar dan menyampirkan tas di bahunya. "Pak, Mios."
"Pak, kami berangkat dulu," pamit Nalendra pada pak Idris. "Assalamu'alaikum," ucapnya mencium tangannya lagi. Rania pun melakukan hal yang sama.
Nalendra berjalan di belakang Rania. Ini kali pertama dia melihat Rania dalam balutan blazer putih klasik yang sederhana dengan rok berbahan satin. Perpaduan tersebut menciptakan perpaduan yang kontras dan cantik.
"Kenapa?" tanya Rania yang melihat Nalendra terus tersenyum.
"Enggak kenapa-kenapa, seneng aja liat kamu pagi-pagi," jawabnya.
Rania mengerlingkan matanya, menghela napas. Dasar, pagi-pagi udah mulai gombal. gerutu Rania dalam hati.
"Kamu mau makan bubur? ada bubur enak di pertigaan jalan besar, tapi pinggir jalan," tanya Rania melihat Nalendra dalam balutan kemeja kerja.
"Ayo!" jawabnya setuju.
Nalendra segera menjalankan mobilnya ke tempat yang ditunjukan Rania.
Tukang bubur itu berada di pinggir jalan, walaupun begitu pembelinya sangat ramai. hampir semua tempat duduk yang mereka sediakan terisi, belum lagi orang yang berdiri menunggu pesanan yang dibungkus.
"Ayo, di sana kosong!" ajak Rania menarik tangan Nalendra agar mengikutinya setelah mereka memesan terlebih dahulu.
Nalendra memperhatikan kedua tangan Rania yang berada di atas meja. Matanya tertuju pada jari-jari yang saling bertaut, tidak ada cincin yang terpasang di sana hanya terlihat kulit yang berwarna lebih putih melingkari jari manisnya tempat yang sebelumnya cincin itu berada.
Dia melepasnya, pikirnya tersenyum.
Rania memang melepas cincin kawinnya dengan Ergha setelah dia menyetujui pertunangannya dengan Nalendra. Bukan hanya untuk menghormati Nalendra, tetapi juga untuk dirinya.
Nalendra menggenggam kedua tangan Rania yang sedang bertaut dengan kedua tangannya. "Dingin ya," ujarnya.
"Ndra, kenapa bapakmu ingin kita menikah sebelum kamu ke Singapore? apa kamu akan tinggal lama di sana?" tanya Rania.
"Lumayan sekitar dua atau tiga bulan, bisa juga lebih. Kenapa?"
"Lama berarti ya," lirihnya yang mulai mengerti alasan pak Sulaiman memintanya mempercepat pernikahan. Rania menambahkan banyak-banyak sambal ke buburnya, "Lebaran nanti di sini atau di sana?"
"Maunya aku lebaran di mana?"
"Malah balik nanya!" ketus Rania. "Kamu makan pedas?" tanya Rania melihat Nalendra menambahkan sambal di buburnya