Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 14



"Apa sejak kecelakaan itu tidak ada status atau pesan wa dari nomornya?"


Nalendra berusaha mengingatnya. Kalau tidak salah yang dia ingat, pemberitahuan di grup nongkrongnya dari nomor Ergha. Indro juga saat itu pernah menghubungi nomor Ergha.


"Aku rasa pernah ...."


Nalendra sedikit tersenyum membayangkan dia menghubungi Rania, untuk memberitahunya kalau dia tidak bisa datang.


"Seperti suami yang memberitahu istrinya akan dinas ke luar kota," gumamnya dalam hati.


"Ni orang kenapa ya, dari pagi marah-marah Mulu, sekarang senyum-senyum! apa dh ga waras kali ya?" pikir Aziz yang memperhatikan Nalendra ngeri.


***


Nalendra sampai di sebuah hotel berbintang, tempat dia akan menginap seminggu ke depan atau sampai pekerjaannya selesai.


Nalendra duduk di lobi menunggu Aziz. "Mari, pak," ucap Aziz yang masih merasa ngeri karena melihat Nalendra tersenyum-senyum sambil memandang ponselnya yang mati.


"Ziz," panggil Nalendra ketika mereka sudah di lift.


"Iya, Pak," jawab Aziz mengelus dada karena terkejut. Entah kenapa dia menjadi mudah terkejut oleh Nalendra, seperti seorang yang sedang ketakutan.


"Menurutmu, aku harus menghubunginya sekarang atau besok saja?"


"Menghubungi siapa, pak?" tanya Aziz gelagapan, seingatnya tidak ada yang harus dia hubungi malam ini terkait pekerjaan.


"Ya, menghubungi Rania!" seru Nalendra.


"Rania, siapa pak?" mulai takut, keringatnya mulai bermunculan padahal suhu dalam lift tidak panas.


"Perempuan yang ku ceritakan tadi," ucap Nalendra yang kesal karena Aziz melupakan orang penting dalam hidup Nalendra.


"Oh, i-itu," jawab Aziz. "acaranya besok ya, pak?"


"Iya, acaranya besok sore," terang Nalendra.


"Bapak telepon aja besok siang, jangan sekarang. Kalau bapak telepon sekarang, nanti dia ngira bapak udah fix ga akan datang, tapi kalau bapak teleponnya besok siang mungkin dia akan berpikir bapak usaha mau datang tapi ga bisa," tutur Aziz.


"Oh, begitu ya Ziz."


Aziz hanya mengangguk, berharap liftnya cepat sampai dan terbuka.


Keesokan harinya, Nalendra langsung meninjau proyek pembangunan. Hari sungguh cerah, secerah hatinya yang tidak sabar ingin menghubungi Rania.


Aziz bersyukur melihat mood Nalendra yang terlihat bagus sedari tadi. "Semoga mood nya tetep bagus." harap Aziz dalam hati.


Matahari sudah berada di tengah, Nalendra makan siang dengan beberapa petinggi perwakilan dari perusahaan pusat.


"Tidak seperti kita, pak Nalendra ini masih muda dan belum menikah," ujar pak Sulistio, yang bercerita kalau istrinya selalu menghubunginya sejam sekali.


"Hahaha, Ya begitulah kalau sudah beristri. Kita telat menghubungi saja langsung marah," timbal pak Krisna. Memperlihatkan ponselnya yang berbunyi, tertera nama sang istri sedang memanggilnya. "Maaf, sebentar saya harus mengangkatnya," ujarnya lagi langsung berdiri menjauh untuk menerima telepon.


"Kalau saya berbeda. Istri saya tidak suka menghubungi saya, hanya saja kalau saya tidak menghubunginya bisa-bisa saya harus puasa sampai hatinya luluh kembali."


"Nah, itu dia yang susah. Meluluhkan wanita itu hal yang paling susah. Apalagi kalau mereka sudah diam, rasanya ingin sekali saya terjun dari ketinggian sambil berteriak," ujar pak Sulistio yang ditertawakan oleh yang lain.


"Apa pak Nalendra sudah punya kekasih?" tanya pak Sulistio sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Belum," jawab Nalendra singkat.


"Ah, saya tidak percaya. Kalau saya lihat, pak Nalendra ini kan udah ganteng, tinggi, mapan juga. Masa sih belum punya kekasih?" tanya pak Krisna yang baru saja duduk kembali setelah bertelepon dengan istrinya.


"Ya, memang belum ada pak." Nalendra tersenyum.


"Tapi pasti banyak kan yang suka atau naksir atau nyatain cinta ke pak Nalendra?" tanyanya lagi.


"Entahlah pak, saya kurang memikirkan itu."


Nalendra tersenyum. "Tidak usah pak, terimakasih. Saya sedang menunggu seseorang," ungkapnya.


"Menunggu?" tanyanya mengernyitkan dahi. "Sudah ada toh. Kalau boleh tau, Gadis yang pak nalendra tunggu itu sedang kuliah atau bagaimana?"


"Saya sedang menunggu waktu ... waktu yang tepat buat ngelamar dia," ujarnya.


"Oh, hahaha ... saya kira dia sedang kuliah. Kenapa ga langsung lamar aja?" tanya pak Krisna.


"Mau saya seperti itu, tapi belum bisa," jawabnya tersenyum. "Karena dia masih dalam masa Iddah," gumamnya dalam hati.


Selesai makan siang, Nalendra langsung mengeluarkan ponsel dari kantong jas nya. Dia segera menghubungi nomor Ergha.


Dia segera menekan tanda telepon, lama dia menunggu hingga bunyi panggilan terakhir.


"Mungkin ponselnya ditaro di kamar," ujarnya, lalu segera menghubunginya lagi. Namun, tetap saja tidak ada yang menjawab.


"Sepertinya dia sedang sibuk," pikirnya. lalu mulai menghubungi lagi.


Sudah tiga kali dia menghubunginya, tetapi hanya terdengar nada panggilan, tidak terdengar suara Rania menjawab teleponnya.


"Ini yang terakhir, kalau tidak diangkat lagi ... nanti malam aku hubungi lagi," gumamnya sedikit kesal karena kecewa.


Sedangkan di rumah orangtua Rania. Rania tengah sibuk memandangi ponsel alm. suaminya yang sedari tadi berbunyi.


Rania memang sedang sibuk menyiapkan bingkisan dan makanan untuk acara tahlilan nanti malam, tetapi bunyi ponsel yang sangat dia hafal membuatnya setengah berlari ke kamarnya. "Mungkin itu dari rekan kantornya," pikir Rania, karena selama ini hanya rekan kantor Ergha yang sering menghubunginya untuk mengurus beberapa dokumen di kantor.


Ketika melihatnya, nama Nalendra tertera di layar ponsel. Ada perasaan ragu yang menyelinap di hatinya. "Ada apa dia menelepon Ergha?" gumamnya menghela nafas pelan.


"Ah, biarkan saja," pikirnya. Namun, sebelum dia mencapai pintu keluar kamar, ponselnya kembali berbunyi. Masih dengan nama yang sama di layarnya.


Rania pun duduk memegang ponsel alm. Ergha. Dia memandanginya, "Sudah dua kali berbunyi kalau tidak diangkat lagi dia pasti akan mengira aku sibuk dan tidak menghubungiku lagi."


Bu Sekar datang ketika ponselnya berbunyi lagi untuk yang ketika kalinya.


"Kenapa ga diangkat?" tanyanya.


"Aku ga tau nomor siapa, tidak ada namanya," ujar Rania beralasan, segera menyimpan ponselnya terbalik di tempat tidur agar tidak terlihat Bu Sekar.


"Angkat aja, kali aja itu penting," ucap Bu Sekar.


"Iya, Mah."


Bu Sekar keluar dari kamar Rania. Diambilnya Kembali ponsel Ergha, panggilannya sudah terputus.


"Alhamdulillah," ujar Rania, tetapi begitu dia berdiri hendak menyimpan ke meja ponsel itu kembali berbunyi. Rania menarik nafas kesal, "apa benar ini penting!"


Rania menekan tombol hijau gambar telepon dengan kesal.


"Assalamu'alaikum," terdengar salam dari seberang telepon.


"Ya, wa'alaikumsalam," jawabnya.


"Tidak terdengar suaranya lagi setelah salam, sampai "Hallo ...," ujar Rania memastikan apa masih ada orang diseberang telepon.


"Iya," jawabnya. "Rania ...." suara Nalendra terdengar gugup dari seberang telepon.


"Rania, apa kau masih di sana?" tanyanya.


"Iya, tentu. Ada apa?" kata Rania.


"A-pa kabar?" tanyanya.


"Alhamdulillah, baik. Ada apa?" Rania mengulang kembali pertanyaannya.


"Maaf ...," ujar Nalendra, suaranya terdengar lemah dan merasa bersalah.