Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 128



Dareen bersekolah di salah satu sekolah Singapore yang setara teman kanak-kanak. Walaupun diawal, dia tidak memahami bahasa yang guru dan teman barunya katakan, tetapi hanya butuh seminggu buat Dareen beradaptasi memahami bahasa mereka. Dareen juga telah mempunyai banyak teman, baik itu teman satu kawasan apartemen ataupun teman sekolah.


Dareen sangat menikmati setiap waktu yang dia habiskan bersama teman-temannya. "Kenapa kita tidak di sini saja? Aku suka sekolah di sini!"


Rania melirik Nalendra. "Dareen suka sekolah di sini?" tanya Nalendra.


"Kenapa Dareen suka sekolah di sini?" timpal Rania yang melihat Dareen mengangguk ketika ditanya Nalendra.


"Aku suka di sini. Aku punya banyak teman, mereka baik-baik!"


"Nanti juga di sana akan punya banyak teman!" ujar Rania.


"Aku ga mau sekolah di sekolah dekat rumah Abah. Ada anak yang suka ngejek aku, aku ga suka!"


"Dareen kan' sekolahnya nanti dekat rumah kita di Jakarta. Jadi ga akan sekolah di sekolah dekat rumah Abah lagi!" terang Nalendra bergeser ke dekat Dareen.


"Nanti aku ga punya teman?"


"Bukankah dulu saat pertama Dareen sekolah di sini juga belum punya teman?"


"Sekarang aku udah punya, Daddy!"


"Ya sama berarti di sana juga. Nanti juga Dareen pasti punya teman."


Malam itu, Rania dan Nalendra berusaha merayu, meyakinkan Dareen untuk mau pindah sekolah lagi. Ya, seorang anak memang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Namun, dia juga harus diyakinkan terlebih dahulu, tentang tempat yang akan dia tempati nanti. Anak kecil akan lebih waspada terhadap tempat baru. khawatir tentang seberapa amankah tempat baru tersebut untuknya.


**


Seminggu kemudian, mereka kembali ke Indonesia dengan penerbangan pagi dari Changi airport, Singapore. Sekitar jam delapan pagi waktu Indonesia bagian barat, mereka sudah tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta, Tanggerang.


"Tenang saja, nanti dia akan langsung ke apartemen kita, dia memang bertugas mengantarku pulang. Ga usah merasa tidak enak, itu pekerjaannya!" Nalendra tahu jika Rania merasa tidak enak telah meminta Aziz mengantarkan koper mereka.


"Bukankah dia asistenmu, bukan supirmu?"


"Iya, kamu benar. Tapi memastikan aku pulang juga tugasnya, selama itu berkaitan dengan pekerjaan kantor."


"Pekerjaan kantor?" Rania mengernyitkan dahinya. Bukankah ini hari Sabtu, hari libur.


"Kita baru pulang mengerjakan proyek kantor, jadi ini masih berhubungan. Sudah jangan terlalu dipikirkan, nanti malah jadi pusing!"


Dareen sangat menikmati waktu menaiki kereta. Pandangannya tidak teralihkan, dia selalu melihat keluar jendela.


Nalendra sengaja mengajak Dareen naik kereta, Sebagai penghiburan untuknya. Sejak dia tahu kalau mereka akan pulang kembali ke Indonesia, Dareen selalu cemberut dan sedikit merengek. Bahkan tadi pagi pun, susah sekali membangunkannya.


Dari Stasiun Manggarai, mereka naik taksi menuju apartemen. Tentu saja, merekalah yang tiba lebih dahulu dibanding Aziz.


"Istirahatlah," ujar Nalendra pada Rania dan Dareen. "Biar aku yang menunggu Aziz. Mungkin sebentar lagi dia tiba."


Tidak perlu dititah berulang kali, Rania yang sudah merasa lelah langsung masuk ke dalam kamar setelah memastikan Dareen tidur di kamarnya. Mualnya m mang sudah berkurang, tetapi dia merasa cepat kelelahan.


Rania menggulir ponselnya sambil berbaring di tempat tidur. Ada beberapa pesan chat untuk dari teman sepermainannya saat kecil yang belum dia baca.


Bagaimana kabarmu?


aku dengar kamu masuk rumah sakit?


aku tahu dari mamaku