Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 59



Nalendra menghubungi Dareen. Dia begitu merindukan anak kecil yang selalu membuat tertawa ketika berada dekatnya. Dia juga merindukan Rania, merindukan senyuman yang selalu membuat hangat hatinya.


"Iya, Om harus nemenin Nenek dulu." Nalendra memberi penjelasan pada Dareen ketika dia bertanya Nalendra sedang di mana.


"Nenek 'kan udah besar, Ko minta ditemenin?" tanyanya.


Nalendra terkekeh, "Iya, ga tau tuh Nenek pengen ditemenin mulu!"


"Ga boleh gitu, Sayang. Nenek mungkin lagi kangen sama Om, makanya dia minta ditemenin. Dareen juga 'kan suka minta ditemenin sama Bunda. Ibu juga suka minta ditemenin sama Bunda kalau mau belanja. Iya 'kan?" Suara Rania terdengar menasehati Dareen.


"Mas, masih ingat sama aku?" tanya Shareen.


Nalendra langsung berbalik ke arah sumber suara. "Itu siapa?" tanya Dareen.


"Maaf, siapa ya?" Nalendra balik bertanya, Nalendra mengerutkan dahi.


"Ga tau, Sayang. Sebentar ya, Nanti telepon lagi." Nalendra segera mengakhiri teleponnya.


Nih cewe datang-datang, maen nyolot aja. batin Nalendra.


"Aku, Shareen. Anak temen Ibumu, kita tadi bertemu," ujarnya yang mulai kesal karena Nalendra tidak mengingatnya.


"Oh, iya. Ada apa ya?"


Shareen duduk di sebelah Nalendra tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Mas, Apa mas lupa sama aku?" tanyanya lagi.


"Aku ingat, mbak ini anaknya temen Ibuku, anak Bu Marta 'kan?"


Shareen menghela napas. Ternyata dia memang tidak mengingatku, syukurlah. batinnya.


"Denger ya, Mas. Aku mau langsung ke intinya aja, Mas aku udah punya pacar!" kata Shareen dengan nada tidak suka.


"Jadi?" Nalendra masih tidak mengerti arah pembicaraan wanita muda di sampingnya.


"Jadi, tolaklah jika ibumu mau menjodohkan kita! ini udah bukan zaman Siti Nurbaya!" ucapnya kesal.


"Oke," jawab Nalendra singkat, lalu kembali berselancar dengan ponselnya.


Bener-bener Nih cowo, bikin kesal! gerutu Shareen dalam hati yang merasa tidak dianggap oleh Nalendra.


"Ingat ya Mas, jangan sampe aku denger Mommy menyuruhku buat bertemu denganmu lagi!"


Nalendra tidak mengindahkan perkataan wanita muda itu. Dia sudah tidak menyukainya sejak awal bertemu di ruangan tadi.


kegeeran banget tuh cewek! pikir Nalendra.


Bu Shafira beberapa kali menghubungi Sang anak, Nalendra. Namun, selalu saja dia beralasan bertemu teman agar tidak ke ruangan itu lagi.


Shareen yang sudah kembali dan tahu Nalendra tidak kunjung datang pun tersenyum bahagia. "Nurut juga tuh duda! begitu pikirnya.


Sampai pertemuan selesai pun Nalendra tidak menampakan lagi batang hidungnya. Dia menunggu Bu Shafira di dalam mobil di parkiran basement. Dia tidak peduli jika Sang Ibu akan mengomelinya panjang lebar, yang penting dia tidak dekat-dekat dengan wanita muda tadi.


Nalendra melihat dari dalam mobil, Bu Shafira melangkah dengan wajah masam. "Siap-siap!" gumamnya sambil mengelus dada.


"Kaka!" Bu Shafira mengetuk kaca pintu mobilnya agak keras. Nalendra melambaikan tangan dari dalam mobil melihat Sang Ibu yang sudah siap meledakan semua kekesalannya.


"Turun!" titah Bu Shafira sambil memberi kode keluar dengan tangannya.


Nalendra pun keluar dari mobil sambil tersenyum, menangkupkan kedua tangannya meminta belas maaf dari Sang Ibu.


Bu Shafira hanya memberi kode lagi pada Nalendra agar menjauh dari pintu masuk mobil. Nalendra pun menurutinya. Baru saja nalendra mundur beberapa langkah, dengan cepat Bu Shafira masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat kemudi. Dia menutup pintu mobil dengan sedikit keras.


"Bu," panggil Nalendra memelas.


"Pulang sendiri!" seru Bu Shafira yang langsung melajukan mobil, keluar dari parkiran basement.


"Sudahlah, Alhamdulillah ponsel dan dompet aku simpan di saku," ucap Nalendra sambil meraba kantong celananya.


Dia pun memesan ojek online, tetapi tidak dengan tujuan rumah. Dia berhenti di depan salah satu tempat makan yang menyediakan Steak. Nalendra berjalan ke dalam rumah makan tersebut.


Seorang wanita yang sedang duduk di sudut ruang tersenyum pada Nalendra. Dia melambaikan tangan padanya.


"Hai," sapa wanita itu.


"Hai juga," jawab Nalendra lalu duduk di kursi seberang wanita tadi. "Ada apa mau ketemu sama aku?"


"Ih, sombong amat sih!" ujarnya tersenyum.


"Tau dari mana aku ada di Bandung. Ah iya, apa Rania yang bilang kalau aku di Bandung?" tanya Nalendra.


"Kemarin sore aku liat kamu dan keluargamu di rumah orangtua Rania. Jadi aku ... malemnya aku nanya sama dia." wanita tadi menyeruput caramel latte sambil sedikit menggoyangkan sedokatannya.


"Jadi, ada apa?" tanya Nalendra to the point.


"Ga ada apa-apa, aku cuma mau ketemu aja sama kamu." wanita tadi memandang Nalendra. "Udah pesan makanan?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku udah makan siang." jawabnya, Nalendra agak risik dengan wanita itu.


Dahulu, dia tidak pernah merasa risih dengannya, malah mereka berteman cukup dekat. Hingga suatu waktu, Nalendra tahu jika wanita itu menyimpan rasa lebih untuknya.


"Temani aku makan siang," ujarnya melihat waiters datang membawakan pesanannya.


"Maaf, aku ga bisa lama." ujar Nalendra.


"Sebentar," kata wanita tadi. Dia mengeluarkan ponsel dari tas Selempang. Dia diam-diam mengambil foto Nalendra yang sedang menunduk melihat ponselnya.


Wanita tadi tersenyum, setelah mengirimkan foto Nalendra pada seseorang. Dia memasukan kembali ponsel itu ke dalam tas.


"Aku pergi ya," ujar Nalendra bangun dari duduknya.


"Tunggu, kenapa kamu ga mau menemaniku makan? dulu kamu selalu mau menemaniku makan, nonton, selalu mau kalau aku ajak jalan," rengek wanita tadi. "Apa kamu mau ke rumah Rania?"


Nalendra mengernyitkan dahi, "Aku mau pulang. Ibuku pasti sedang menungguku!" Nalendra memandang wanita yang sedang duduk di depannya. "Maaf ya," ucapnya lalu berlalu dari sana.


Wanita tadi menatap kepergian Nalendra dengan tajam. "Kapan kamu akan melihatku. Selalu saja dia, dulu ataupun sekarang!"


**


Nalendra tiba di rumahnya, mobil yang tadi pagi dia pakai telah terparkir di garasi rumah. Dia menghela napas kasar, menenangkan irama jantung yang kian menderu.


Ayo, Nalendra. Hadapi saja, ini bukan yang pertama Ibu mengomelimu!" gumamnya menyemangati diri.


Benar saja, Bu Shafira berada di ruang tamu sedang duduk manis, menunggu Si anak sulung pulang.


"Kakak, ko baru pulang?" tanyanya dengan nada naik beberapa oktaf.


"Tadi ketemu temen dulu, Bu. Ibu menungguku?" tanyanya berusaha bersikap normal meski lutut sedikit bergetar..


"Duduk!" titahnya.


Nalendra pun duduk di sofa samping Bu Shafira. Dia menunduk, tidak berani melihat wajah Sang Ibu.


"Kakak, tahu 'kan apa kesalahan yang Kakak perbuat?" tanya Bu Shafira berusaha menurunkan nada suara.


Nalendra hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Bu Shafira.


"Kakak buat malu Ibu. Kakak 'kan udah janji nemenin Ibu ke acara, tapi kakak malah hilang, diem di mobil!"


"Maaf," ucap Nalendra tetap menundukkan kepalanya.