
Bu Darmawan beranjak dari tempat duduk. "Ibu mau ke ****** dulu," kata Bu Darmawan pada Sang suami.
"Pak, Bu, saya permisi izin ke belakang dulu." Bu Darmawan meminta izin pada orangtua Rania, lalu berjalan pelan ke arah dapur.
Terdengar obrolan pelan dan tawa kecil dari dalam dapur. Bu Darmawan pun tersenyum karena mendengar suara Rania yang sedang berbicara. "Alhamdulillah, dia sudah bisa tertawa."
Bu Darmawan berjalan dan tercengang melihat siapa yang sedang bersama dengan Rania. Dia diam mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bilanglah sama dia, nanti keburu diambil orang lho!" Rania terkekeh.
"Aku ingin, tapi belum berani. Aku takut ...."
"Takut ditolak?" Rania memotong pembicaraan Nalendra. "Ndra, ditolak ataupun tidak ya itu takdir. Bilang aja dulu."
Mereka tidak menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di dekat pintu masuk dapur, mendengarkan setiap kata yang mereka bicarakan.
"Iya, aku merasa belum terlalu dekat dengannya." Nalendra memandang Rania.
"Dekatilah, perempuan itu gampang didekati asal kamu tau apa yang diinginkan dia. istilahnya pepet aja terus!" Rania tertawa dengan candaannya.
"Rania ...." Ucapan Nalendra terpotong oleh suara wanita yang memanggil Rania.
"Teh!" Bu Darmawan berdiri tak jauh dari mereka duduk menatap Rania dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ibu?" Rania cukup terkejut melihat Bu Darmawan ada di sana.
Sejak kapan dia berada di sana? apa dia mendengar pembicaraanku dengan nalendra? tanyanya dalam hati.
Bu Darmawan mendekati mereka dan duduk di kursi seberang Rania.
"Ada apa ya Bu?" tanya Rania sedikit gugup, namun dia dapat tutupi dengan sempurna.
"Kalau begitu, aku permisi ke depan dulu." Nalendra mulai berdiri. Namun, di cegah oleh Bu Darmawan.
"Duduklah A, ga apa-apa ko. Duduklah!" titah Bu Darmawan sambil tersenyum hangat. Bu Darmawan berpikir, dia harus menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran selama ini.
"Teh, A, Ibu mau nanya. Boleh?" Rania mengangguk pelan.
"Apa kalian sudah lebih dekat. Maksudnya apa hubungan kalian lebih dari teman?"
Deg, seperti mendengar suara kembang api yang tiba-tiba meletus. Rania dan Nalendra hanya terdiam lalu saling melirik pelan.
"Ka- kami ...." Rania mengernyitkan dahinya. "Kami hanya berteman, Bu. Tidak lebih."
Nalendra melirik Rania, ada rasa ingin membantahnya. Namun, memang itulah hubungan mereka saat ini, hanya berteman.
Bu Darmawan menelisik raut wajah Rania dan Nalendra. Bu darmawan tahu, Rania bukanlah seorang yang pandai berbohong. Dia tahu jika Rania berkata jujur. Dia pun tahu Nalendra menyimpan rasa lebih untuk menantunya tersebut, terlihat jelas dari cara dia menatap Rania.
"Terima kasih ya A, sudah mau direpotkan jagain Dareen. Dareen memang suka begitu kalau udah mau sama satu orang, terus aja lengket," ucap Bu Darmawan tersenyum. "Terima kasih ya A." Dia merasa harus berterima kasih karena mau menyayangi Dareen.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya justru senang bermain dengan Dareen. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan," jawab Nalendra.
"A, kalau boleh. Ibu mau bicara sebentar berdua dengan Rania." Bu Darmawan menatap Rania yang sedari tadi terlihat termenung menatap meja.
Bu Darmawan tersenyum menatap kepergian Nalendra. Dia menunggu sampai merasa Nalendra sudah tidak berada dekat dapur lagi dan menatap lekat ke arah Rania yang masih dengan posisi seperti tadi.
"Teh, boleh ibu bicara lepas ke Teteh?" Rania mengangguk. Dia gugup merasa seperti telah ketahuan berkhianat pada suami.
"Teh, rezeki, jodoh, maut itu sudah ditentukan oleh Allah sejak dari sebelum dia lahir ke dunia. Ibu sama Bapak sudah ikhlas dengan kepergian A Ergha karena memang sudah takdirnya, rezekinya sampai saat itu aja. Ibu sama Bapak juga berharap Teteh bisa lebih ikhlas lagi melepas kepergian A Ergha. Teh, Dareen masih kecil, Teteh juga masih muda, Ibu sama bapak ga akan keberatan jika teteh mau membuka hati buat orang lain." kata Bu Darmawan tersenyum lembut menatap Rania yang menundukkan kepalanya.
"Ibu sama Bapak berharap Teteh bisa lebih bahagia lagi. Teteh punya hak buat bahagia, jangan terus bersedih," tutur Bu Darmawan. "Jika nanti ada orang yang sayang sama Teteh dan teteh juga merasakan hal yang sama, kami sungguh tidak keberatan kami karena kami menginginkan anak-anak kami bahagia."
Rania meneteskan air mata, dia bersyukur mempunyai Ibu mertua seperti Bu Darmawan. Beliau tidak seperti sebagian yang menekan menantunya agar tidak menikah lagi untuk jangka waktu tertentu, sampai hati mereka benar-benar ikhlas.
"Teh." Bu Darmawan memegang tangan Rania di meja. "Percayalah Allah ngasih yang terbaik buat Teteh. Jangan menutup hati karena takut disangka berkhianat pada Ergha, jangan! bukalah hati Teteh untuk kebahagiaan Teteh dan Dareen. Jangan takut digosipin orang. Orang mah emang seneng bergosip mau baik atau buruk pasti diomongin. Yang penting Teteh berbuat baik pada orang lain, biarkan saja mereka mau berkata apapun juga." Rania mengangguk melihat Bu Darmawan tersenyum hangat padanya.
"Ibu mau ke ****** dulu, udah ga kuat," ujar Bu Darmawan terkekeh, dia berdiri masuk ke toilet. Bu Darmawan ingin memberikan ruang untuk Rania berpikir.
Lama Rania termenung, lalu dia pun beranjak dari tempat duduknya. Di ruang tamu masih ada orangtuanya bersama Pak Darmawan sedang berbincang hangat.
"Teh liat Ibu ga?" tanya pak Darmawan. "Tadi katanya mau ke toilet, tapi ko lama banget," kata Pak Darmawan cemas.
"Ada, baru masuk. Tadi ngobrol dulu sama Rania di dapur," jawab Rania memberitahu.
"Oh, syukurlah. Bapak takut Ibu kenapa-kenapa." Pak Darmawan mengambil sistik yang berada di depannya. "Bapak kayanya ga bisa nginep, Bapak sama Ibu pulang habis asar aja ya."
"Kenapa?" tanya Rania yang duduk di sebelah Bu Sekar, ikut berbincang dengan mereka.
"Bapak khawatir, Febri sendirian di rumah. Nanti dia ngomel panjang lebar lagi sama Bapak!"
"Kenapa atuh ga diajak ikut ke sini?" tanya Bu Sekar.
"Dia bilang sudah ada janji," jawab Pak Darmawan.
"Kapan Bapak ke sini lagi?" tanya Rania.
"Doain aja Bapak sama Ibu sehat, insyaallah nanti pasti main ke sini nengokin Dareen sama Teteh," jawab pak Darmawan.
"Bapak ga mau ke makam dulu?"
"Nanti sajalah, kalau ke sini lagi ya," jawabnya. "Bu, ko lama banget. Bapak nungguin dari tadi!" kata Pak Darmawan begitu melihat Sang istri datang.
"Iya, tadi Ibu ngobrol sedikit sama Teteh dulu," jawab Bu Darmawan lalu duduk di sebelah Pak Darmawan.
"Ngobrolin apa?" tanyanya lagi.
"Ngobrolin sekolah Dareen, Ibu nanya Dareen udah di daftarkan ke TK lagi apa belum. Kata Teteh udah di daftarkan." Bu Darmawan berbohong, dia takut Suaminya kesal kalau tahu pembicaraan antara dia dan Rania. "Ibu takut Teteh lupa."
"Pulang sekarang aja yuk!" ajak Pak Darmawan.
"Lho kok pulang sekarang, Kemarin katanya mau nginep, lalu berubah mau pulang habis asar, sekarang malah mau pulang cepat. Nanti aja atuh, nginep aja!" ujar Bu Sekar pada Pak Darmawan.
"Pengen shalat di mesjid yang 99 itu lho Bu. pemandangannya bagus di sana," jawab Pak Darmawan beralasan.