Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 113



Dua hari lagi Nalendra harus kembali ke Singapore, masa cutinya akan segera habis. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah orangtuanya bersama dengan Rania dan yang lain.


Pak Idris dan Sekar berpesan pada Nalendra agar tidak ke rumah mereka dahulu. Bukan tanpa alasan, rumor tentang Rania yang telah merebut Nalendra dari Liana telah menyebar. Mereka khawatir itu akan membuatnya bersedih hati, apalagi mereka cukup dekat sedari kecil.


Bu Shafira yang mengetahui hal tersebut meminta Nalendra membujuk Rania agar resign dari pekerjaannya dan ikut ke Singapore bersamanya. "Pokoknya cari alasan apa kek!"


"Aku bingung, Bu. Aku udah bahas itu dengan Rania dahulu, aku setuju agar dia menyelesaikan satu semester ini. Kalau aku sekarang memintanya resign, aku harus bilang apa?"


"Bilang aja, ga mau jauh-jauh, ga kuat LDR-an. Suruh siapa coba dulu ngelakuin hal kaya gitu! pengen tau Rania ko deketin temennya!"


"Ya, banyak ko yang ngelakuin begitu. Tapi mereka biasa aja!" sergah Nalendra tidak mau kalah dengan Sang ibu.


"Biasa aja kalau temen yang Kakak deketin itu juga biasa. Masalahnya, teman yang Kakak deketin itu suka sama Kakak. Ribet kan' jadinya!" Nalendra terdiam, menunduk. Ya, dia memang salah tidak memperhitungkan akibat dari perbuatannya.


"Bagaimana dengan Dareen, dia harus sekolah?" tanya Nalendra pada Bu Shafira, pasti Rania juga akan menggunakan sekolah Dareen sebagai dalih, pikir Nalendra.


"Gampang, Dareen itu masih TK. Bilang aja nanti daftarin les atau sekolah sejenjang TK di sana!" sahur Pak Sulaiman yang baru saja duduk bergabung dengan Nalendra dan istrinya.


"Kakak masih ingat pesan Ayah sebelum kalian menikah? Terkadang yang buat sakit itu bukan orang yang ga kenal tapi orang yang dekat. Contohnya, ya rumor yang sekarang lagi kalian hadapi, bukan dari orang lain tapi dari teman dekat kan!" tutur Pak Sulaiman. "Jaga istrimu baik-baik. Jangan tinggalin dia sendiri, apalagi dalam keadaan kaya gini. Mungkin kita liat dia tersenyum, cuek dengan semuanya, tapi belum tentu dengan hatinya. Bisa saja dia sangat terluka dan pasti terluka kalau menurut Ayah, bisa jadi di dalam hatinya sedang menangis. Itu yang bahaya!"


"Betul, Kak. Ibu juga perempuan, Ibu tahu pasti Teh Rania sakit hati walaupun cuma sedikit. Bawalah dia ke Singapore atau paling tidak bawa pindah dia ke Jakarta. Jangan biarkan dia tinggal di sini, ngadepin sendirian!"


Bu Shafira ingat ketika saudara-saudaranya datang bersilaturahmi ke rumah. Mereka dengan sengaja menyindir Rania yang sudah janda, sangat beruntung mendapatkan Nalendra. Namun, Rania tetap tersenyum pada mereka.


"Kak, Ibu mungkin bisa menyemangatinya, beda dengan Kakak. Dia bisa menceritakan keluh kesahnya pada Kakak, dia akan malu kalau harus cerita sama Mamanya apalagi sama Ibu."


"Iya, baiklah. Nanti Kakak akan ngobrol dengan Rania. Kakak akan memintanya untuk ikut. Kakak juga ga akan tega ninggalin dia sendirian di sini."


"Ingat, sekarang Kakak sudah jadi suami. Bukan hanya fisiknya saja yang harus dijaga, tapi batinnya juga. Rania hanya punya Kakak, tempatnya untuk bersandar. Sekarang, kalau kalian berjauhan. Mungkin dia akan bercerita, tapi bukan bercerita tentang sakit hatinya. Ayah yakin kalau kalian berjauhan, Rania tidak akan menceritakan hal yang dapat membuatmu khawatir."


Nalendra berusaha mencerna apa yang orangtuanya katakan.


Malam harinya, seperti biasa Nalendra dan Rania selalu melakukan pillow talk sebelum mereka tidur. Belakangan memang Rania menjadi sedikit pendiam, biasanya dia akan menceritakan apapun padanya.


"Sayang, paspor kamu dan Dareen kan sudah selese. Gimana kalau kalian ikut aku saja ke Singapore," ujar Nalendra penuh kehati-hatian.


Nalendra memang meminta temannya membuatkan paspor untuk Rania dan Dareen, sebelum dia berangkat terakhir kali ke Singapore. Paspor mereka sudah selesai sejak beberapa hari lalu dan dikirim ke alamat apartemen Nalendra.


"Maaf, tapi aku harus mengajar dan Dareen juga kan sekolah," jawab Rania.


"Gampang, Dareen bisa kita sekolahin di sana. Rasanya aku ga akan kuat kalau terlalu lama berjauhan. Bisa saja aku pulang seminggu sekali, tapi akan sangat melelahkan. Tahu kan, terakhir kali aku ke sini mengejar waktu reunian, rasanya badanku sakit semua walaupun hanya duduk 2 jam di pesawat dan dilanjut kereta."


"Ndra, aku merasa ga enak jika keluar sekarang."


"Nanti aku temani ke sekolah. Biar aku yang bicara."


"Aku juga ingin memberimu waktu, tapi aku pikir akan lebih baik jika kalian ikut denganku. Aku akan tenang kalau kalian berada bersamaku."


"Apa kamu berbicara begini karena masalah rumor itu?" tanya Rania.


"Apa kamu baik-baik saja dengan itu semua? apa kamu baik-baik saja saat mendengar orang menjelekanmu?"


Rania terdiam, "Aku baik-baik saja, lagian aku tahu Liana pasti lebih sakit lebih dari yang ku bayangkan."


"Aku bertanya tentangmu, Sayang. Bukan Liana!" sergah Nalendra. "Aku tahu kamu tidak baik-baik saja dengan itu semua. Aku tahu kamu pun sakit hati mendengar orang menjelekanmu, apalagi rumor itu dari teman dekatmu. Jika kamu sakit hati bicaralah, tunjukanlah kalau kamu sakit, merasa sedang tidak baik-baik saja. Jadi aku akan lebih mengerti."


Rania menunduk, tak terasa buliran bening mulai keluar dari sudut matanya. Iya, dia sedang tidak baik-baik saja, hatinya merasa sakit mendengar temannya memfitnahnya seperti itu.


"Tapi ...," Rania termenung kembali. "Sekolah baru akan dimulai nanti setelah jadwal keberangkatan mu."


"Aku bisa mengambil cuti untuk menemanimu." jawab Nalendra tegas. "Aku ga mau kamu menolak keinginanku kali ini."


"Baiklah, nanti aku akan menghubungi kepala sekolah dahulu dan ketua yayasan. Aku juga harus bilang dulu ke Mama."


"Aku sudah membicarakan ini dengan Bapak dan Mamamu tadi sore. Mereka setuju denganku."


"Apa?" Rania terkejut. "Kenapa kamu ngasih tau mereka?"


"Aku harus mendapat persetujuan mereka dulu agar kamu tidak bisa menjadikan mereka alasan menolakku," tutur Nalendra. "Jadi kamu setuju kan?"


"Bagaimana dengan Dareen. Aku juga harus berbicara dengan gurunya, bukan?"


"Kamu juga bisa besok membuat janji dengan gurunya Dareen. Biar aku yang mengurusnya."


Rania tiba-tiba merasa kesal pada Nalendra. Kenapa aku tidak bisa ngasih alasan yang bagus! pikir Rania.


**


Sesuai rencana, hari Sabtu Rania pergi ke sekolah ditemani oleh Nalendra. Dia sudah membuat janji denga kepala sekolah tempat Rania mengajar. Sehari sebelumnya dia telah bertemu dengan guru yang mengajar Dareen dan mengutarakan maksud mereka.


"Assalamu'alaikum," salam Rania begitu memasuki kantor kepala sekolah.


"Wa'alaikumsalam, silakan, Bu Rania."


Nalendra duduk di sebelah Rania, dia menggenggam tangan Rania. "Pak, maaf. Sesuai yang disampaikan istri saya di telepon kemari. Saya mau meminta izin untuk istrinya agar diperkenankan resign dari kegiatan ini."


"Sebenarnya Bu Rania tidak bisa sembarangan resign, ada peraturannya. Apa tidak bisa diundur saja keberngkatannya. Hanya tinggal tiga atau empat bulan lagi!"