Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 77



"Kakek!" Suara anak kecil terdengar memanggil. Sontak Pak Sulaiman berbalik pada arah suara.


"Assalamu'alaikum, Pak," ucap Pak Idris.


"Wa'alaikumsalam, Bagaimana kabarnya?" jawab Pak Sulaiman, balas menyapa.


"Alhamdulillah, sawalerna? mari masuk pak. Dari tadi?" tanyanya, mempersilahkan pak Sulaiman.


"Tidak, saya baru saja tiba. Dari mana, Pak?"


"Biasa, nganter Dareen ke warung," jawab pak Idris memperlihatkan tentengan kresek belanjaan. "Punten, saya tinggal sebentar, Pak," kata pak Idris berlalu masuk ke ruang tengah.


"Dareen beli apa?" tanya pak Sulaiman setelah dia duduk di ruang tamu.


"Beli makanan. Kakek ko sendiri ke sini, Omnya mana?"


"Om kerja, Nenek di rumah." jawabnya. "Bunda belum pulang?"


"Belum, nanti habis adan asar. Kemarin om sama bunda aku tinggal di rumahku yang di sana. Bunda pulang malem, katanya macet," ujar Dareen mulai bercerita.


"Kemarin, Oh om Nalendra kemarin jalan-jalan sama Dareen? terus Dareen pulang sama siapa kalau bukan sama Om?" Pak Sulaiman merasa tidak mengerti dengan yang diceritakan Dareen.


"Kemarin aku sama Bunda sama Abah, Ibu, om Zyan, om Nalendra," Dareen menekuk jarinya satu persatu. "Ke rumahku yang jauh yang dulu aku tinggal mau bersihin rumah, tapi bukan aku yang bersihin. Dibersihin sama Abang-abang banyakan. Terus ke rumah Oma," tutur Dareen.


"Cerita apa, Dareen?" tanya pak Idris yang keluar membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan satu gelas air putih untuk Dareen. Dia juga membawa beberapa toples cemilan.


"Jadi ngerepotin," ujar Pak Sulaiman.


"Enggak ngerepotin ko, Pak. Mangga," ucap Pak Idris mempersilahkan Pak Sulaiman menyicipi jamuannya.


"Iya, hatur nuhun." Pak Sulaiman menyeruput teh manis yang masih hangat.


"Kemarin itu, kami ke Bekasi ke rumah Dareen. Ada yang mau ngontrak rumah jadi harus dibersihkan dulu. Kami juga bersilaturahmi dengan ke rumah kakek Dareen di sana. Nalendra juga ikut," ungkap Pak Idris, menjelaskan yang Dareen ceritakan tadi.


Pak Sulaiman mengangguk. "Saya ke sini mau membicarakan anak-anak." Pak Sulaiman langsung ke tujuan.


"Oh, iya," jawab pak Idris. Dia menebak jika Nalendra sudah bercerita soal restu yang sudah dia dapat dari keluarga Ergha.


"Tadi pagi, Nalendra bercerita jika Rania sudah menerima lamarannya. Saya ke sini sebagai orangtua Nalendra ingin meminta kepada bapak, mengizinkan anak bapa untuk menjadi istri Nalendra anak saya dan menjadi mantu saya," ucap pak Sulaiman penuh harap.


Pak Idris sedikit terkejut karena Rania belumlah bercerita tentang keputusannya menerima Nalendra, walaupun dia sudah menebak dari sikap mereka berdua tadi malam.


Ini memang bukanlah pertama kali ada yang melamar Rania padanya. Dahulu Ergha yang meminta izin pada dia untuk menjadikan Rania istrinya. Namun, ini adalah yang pertama kali bagi Pak Idris, ada seorang ayah yang ingin menjadikan Rania sebagai istri anaknya.


Rasa haru dirasakan oleh diri Pak Idris. Bersyukur, banyak orang yang menyayangi Putri semata wayangnya.


"Kalau Rania sudah menerimanya, tentu saya akan mengizinkan Rania menikah dengan anak Bapak, Nalendra. Terima kasih Bapak sudah mau menerima Rania menjadi calon mantu Bapak. Saya benar-benar bersyukur akan hal itu," ungkapnya terharu.


"Pak, saya dan keluarga berencana datang ke sini untuk melamar Rania secara resmi besok. Apakah Bapak dan keluarga tidak keberatan jika kami besok ke sini?"


"Tentu, tentu silahkan. Saya sangat berterima kasih, saya dan keluarga sama sekali tidak keberatan. Kami menyambut kedatangan Bapak dan keluarga," jawab pak Idris penuh semangat.


"Kalau rencana pernikahannya gimana?" tanya pak Sulaiman yang sudah tidak sabar ingin melihat nalendra segera menikah.


"Untuk itu, sebaiknya kita ikuti saja anak-anak. Takutnya saya salah kalau menentukan tanggal tanpa berdiskusi dengan yang akan menjalani."


"Baiklah, Memang benar kata Bapak, kita harus mendiskusikannya dengan mereka berdua. Tapi saya berharap mereka menikah sebelum Nalendra berangkat ke Singapore."


"Oh, bukannya 'nak Nalendra baru saja pulang dari sana?" tanya pak Idris.


"Iya, dia akan berangkat lagi di Minggu ke dua bulan Ramadhan. Berarti sekitar tiga Mingguan lagi," jawab Pak Sulaiman.


"Tiga Minggu?" Pak Idris tersentak kaget. Kalau mereka menikah sebelum Nalendra berangkat berarti harus menyiapkan segala sesuatunya kurang dari sebulan. Hanya tiga Minggu kurang. Bukan! hanya dua Minggu untuk persiapan.


"Saya inginnya mereka sah dulu saja. Resepsi bisa dilaksanakan belakangan." Pak Sulaiman sangat berharap pak Idris setuju dengan idenya.


"Iya, saya mengerti. Apa tidak bisa kita nikahkan mereka secara agama dulu saja?"


Pak Idris tersenyum, tetapi dalam hati dia tertawa. Terlihat jelas jika Pak Sulaiman sangat menginginkan pernikahan ini.


"Saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Bukankah niat baik harus disegerakan," lanjut Pak Sulaiman.


"Iya, kalau begitu nanti akan saya bicarakan dahulu dengan istri saya juga Rania."


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Sekar yang baru saja pulang mengajar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Idris dan Pak Sulaiman berbarengan.


"Pak," sapa Bu Sekar menangkupkan kedua tangan di dada sebagai pengganti bersalaman.


"Bu," jawab Pak Sulaiman melakukan hal yang sama.


"Sini, Bu. Duduklah sebentar." Pak Idris menepuk tempat duduk di sebelahnya agar Sang istri duduk di sana.


"Ada apa?" tanya Bu Sekar.


"Ini, Pak Sulaiman ke sini melamar Rania untuk Nalendra. Besok beliau dengan keluarganya berencana ke sini, melamar Rania secara resmi," terang pak Idris, Bu Sekar hanya mengangguk mendengarkan.


"Iya, Bu. Besok saya ke sini bersama keluarga, bermaksud melamar Rania. Tadi juga saya sudah menceritakan segalanya pada Pak Idris."


"Kalau saya ikut kata suami saja, pak. Kalau memang Rania sudah menerima, saya mendukung semua keputusannya," ucap Bu Sekar. "Pak, Ibu ke dalam dulu ya." Bu Sekar menunjuk baju yang sedang dipakainya.


"Pak, saya permisi ke dalam dulu."


"Mangga, Bu. Silahkan," jawab pak Sulaiman. "Kalau begitu saya pamit."


"Lho ko pamit. Masih siang ini," ujar pak Idris


Pak Sulaiman tersenyum, dia ingin cepat pulang memberitahu Bu Shafira agar segera mempersiapkan segalanya untuk besok.


"Kasian istri sendirian di rumah," jawabnya beralasan.


"Baiklah, kami tunggu kedatangannya besok." pak Idris mengantarkan pak Sulaiman sampai ke depan rumah.


**


"Teh," panggil Pak Idris. "Bapak sama Mama mau ngobrol sebentar, boleh?"


Rania yang baru saja menidurkan Dareen, mengikuti Bapaknya keluar dari kamar. Di ruang keluarga Bu Sekar sedang mengerjakan pekerjaannya, mempersiapkan untuk mengajar besok.


Bu Sekar segera menghentikan kerjanya dan bergabung dengan Sang suami.


"Ada apa?" tanya Rania yang merasa seperti akan diintrogasi oleh orangtuanya.


"Mama mau nanya, bagaimana hubungan Teteh dengan Nalendra?"


"Baik," jawab Rania singkat.


"Apa hubungan kalian lebih dari teman, apa teteh menyukainya?" tanya Bu Sekar pelan.


Rania menunduk, "Maaf, Rania belum cerita ke Bapak sama Mama. Rania menerima lamaran Nalendra kemarin," jawabnya.


"Alhamdulillah," ucap pak Idris dan Bu Sekar berbarengan.


Rania mengangkat kepalanya, mengernyitkan dahi heran dengan tanggapan dari kedua orangtuanya.


"Kami bersyukur Teteh mau membuka hati untuk Nalendra. Tadi siang Bapaknya Nalendra datang ke sini, beliau meminta Teteh ke Bapak buat jadi istri Nalendra. Besok mereka sekeluarga mau datang melamar Teteh secara resmi," ungkap pak Idris melirik Sang istri.


"Apa?"