Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 76



Sejak mengantarkan Rania kembali ke rumah keluarganya. Nalendra mulai berpikir, mencari ide bagaimana caranya dia segera mendapatkan restu dari Sang Ibu tercinta.


Kepalanya berdenyut sakit. Apa aku harus memperkosa Rania dahulu agar Ibu langsung menikahkanku dengannya? Tidak mungkin bisa juga seperti itu! Bisa-bisa Ranianya yang tidak mau menikah denganku! batin Nalendra.


"Bagaimana jika aku menikah dulu, setelah itu baru minta restu Ibuku?" tanya Nalendra bermonolog, pikirannya dipenuhi dengan ide-ide gila lainnya. "Aku harus segera bersiap!" gumamnya melihat jam digital di atas nakas menunjukan pukul 5 lebih 45 menit.


Senyumnya terus mengembang di bibir sexy Nalendra. Walaupun pikirannya suntuk gara-gara memikirkan cara mendapat restu Sang Ibu, tetapi hatinya tetap senang karena kejadian kemarin.


Sarapan sudah tersaji di meja makan. Bu Shafira tahu Nalendra akan pulang karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di Bandung. Pak Sulaiman dan istri sudah menunggu Nalendra di meja makan.


Tepat pukul 6 pagi, mereka sarapan bersama. Hanya terdengar suara denting sendok beradu dengan piring.


Sebaiknya aku bilang sekarang, tidak ada bedanya sekarang ataupun nanti! gumamnya dalam hati meyakinkan diri.


"Aku melamar Rania tiga Minggu yang lalu!" ucap Nalendra memberitahu Sang Ibu. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi.


Bu Shafira terkejut mendengar perkataan Sang anak. Mereka terlibat sedikit perdebatan karenanya.


"Jadi, kapan kita ke rumahnya untuk lamaran resminya?" tanya Pak Sulaiman, berusaha melerai perdebatan.


"Lamar apa nya, Yah!" sergah Bu Shafira.


"Kak, besok kamu kerja lembur tidak?" tanya Pak Sulaiman tidak mengindahkan sergahan Sang istri.


"Kenapa?" Nalendra bertanya balik. "Besok aku beres sekitar jam tiga atau empat sore. Ayah mau ditemani kemana?"


"Kalau begitu, besok kita ke rumah Pak Idris buat melamar Rania sebelum Kakak berangkat ke Jakarta. Jangan tunggu lama-lama lagi. Bukankah dua Minggu lagi Kakak harus ke Singapore?" Pak Idris tahu jadwal Nalendra karena sebelumnya dia bercerita tentang proyek yang akan dia kerjakan di Singapore di Minggu ke dua bulan Ramadhan.


Nalendra terdiam, dia tidak berani mengeluarkan perkataan apapun. Dirinya sungguh bingung, ayahnya mengajak melamar secepatnya, sedangkan Sang ibu belum memberikan restu padanya.


"Udah setengah 7, ayo berangkat. Nanti terlambat!" titah Pak Sulaiman. "Jalanan Bandung tidak ada bedanya dengan Jakarta, sama-sama macet!"


Nalendra mengangguk, dia pun berangkat setelah meminta izin pada kedua orang tuanya.


Sepeninggal Nalendra bekerja. Pak Sulaiman mengajak Bu Shafira mengobrol serius tentang anak sulung mereka.


"Sudahlah Bu. Restui aja mereka," ujar Pak Sulaiman pada Sang istri yang masih belum mau memberi restu.


"Tapi, Yah. Nalendra kan bujang, walaupun umurnya sudah 30 tapi dia mapan, Yah. Dia tidak kurang satu apapun. Banyak gadis yang bersedia jadi istrinya!" sergah Bu Shafira.


"Bu, Jodoh, rezeki, meninggal, semua Allah yang ngatur. Bersyukur aja Nalendra sudah mau melamar anak orang di usia 30. Kalau Ibu tidak ngasih restu sekarang, apa Ibu yakin Nalendra masih mau dengan yang lain?"


"Tapi, Pak!"


"Bu, Ibu pasti tahu Nalendra seperti apa. Ibu ingat beberapa tahun yang lalu Nalendra pernah di jodohkan oleh ibu dengan anak teman ibu, dia bersedia tetapi jadi jarang sekali pulang karena tidak mau bertemu dengan anak teman ibu itu. Bahkan saat dia punya kerjaan di Bandung saja dia menginap di hotel, tidak mau pulang ke rumah!" tambah Pak Sulaiman.


Bu Shafira mengingatnya dengan sangat jelas, Nalendra menjauh darinya karena hal itu. Nalendra mau pulang dan tidur lagi di rumah mereka setelah dia memutuskan perjodohan tersebut.


"Ayah ini, tapi Dareen bukan anak kandung Nalendra. Bedalah!" tolak Bu Shafira.


"Apa bedanya Bu. Ga baik membeda-bedakan seperti itu! Apa Ibu tidak memerhatikan bagaimana Nalendra mengurus Dareen? dia sudah seperti seorang ayah yang mengurus anaknya. Kalau Allah mengizinkan, nanti kita akan dapat cucu lagi." Nasehat Pak Sulaiman.


"Bagaimana dengan tanggapan keluarga kita, Pak?"


"Tidak ada masalah dengan Abah Danu. Beliau malah mendukung Nalendra untuk segera meminang Rania," jawabnya.


"Tanggapan adik-adikmu juga keluargaku?" Bu Shafira tidak dapat menutupi rasa khawatirnya. Dia tahu bagaimana adik-adiknya, pasti mereka akan membicarakan masalah ini.


"Biarkan saja, itu urusan mereka. Yang Nalendra butuhkan itu dukungan dari kita sebagai orangtuanya. Kalau masalah keluarga menanggapi negatif hal ini, ya ... biarkan saja, Bu. Toh kita tidak merugikan mereka 'kan," bantah Pak Sulaiman.


Bu Shafira terdiam setelah mendengar penuturan Sang suami. Mungkin dia yang terlalu khawatir berlebih dengan tanggapan yang akan Nalendra dapatkan dari keluarganya. Mungkin benar kata suaminya, dia hanya harus bersyukur Nalendra sudah punya wanita untuk dijadikannya istri.


"Bu, apa sebaiknya nanti siang Ayah ke rumah Rania ya? Nunggu Nalendra lama, rasanya Ayah sudah tak sabar."


"Ayah saja sendiri yang ke sana. Ibu enggak ikut," tolak Bu Shafira.


"Lho, kenapa? apa ibu masih belum mau Nalendra menikah secepatnya?" tanya pak Sulaiman terkejut.


"Bukan gitu, Yah. Ayah 'kan tau sendiri kalau Rania dan mamanya ngajar. Mereka pasti tidak akan ada di rumah kalau siang. Ibu enggak mau dengerin Bapak-bapak ngobrol!" terang Bu Shafira.


"Ya udah, biar Ayah yang bicara dulu sama Bapaknya Rania. Setidaknya kita harus pastikan besok Nalendra melamar Rania. Kalau bisa mereka menikah secepatnya sebelum Nalendra tugas ke Singapore," harap Pak Sulaiman.


"Ko jadi Ayah ngebet banget!"


Ayah tuh bosan ngedengar Ibu ngomel mulu. Mungkin kalau Nalendra udah nikah, Ibu akan berhenti ngomel! gerutu Pak Sulaiman dalam hati.


Pak Sulaiman hanya tersenyum, dia tidak mungkin mengatakan pemikirannya pada Sang istri. Bisa tidak dapat jatah sebulan!


"Ibu mau kabari Alaric biar besok dia pulang dulu. Jemput Abah mau siang atau besok pagi aja?"


Pak Sulaiman tersenyum senang, akhirnya istrinya sudah memberikan lampu hijau untuk Si sulung menikahi wanita pilihannya. Itulah pentingnya komunikasi antara pasangan, agar semua masalah dapat diatasi bersama. Apalagi soal anak, harus dipikirkan berdua.


Siang itu Pak Sulaiman berkunjung ke rumah Rania sendirian. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan depan rumah pak Idris.


"Assalamu'alaikum," ucapnya setengah berteriak dari depan pagar rumah.


Beberapakali dia mengucap salam, tetapi belum ada juga orang keluar dari dalam rumah.


Apa pak Idris sedang keluar ya? tanyanya dalam hati.


Salahnya, dia tidak memberi kabar dahulu jika akan bertamu siang ini.


"Kakek!" Suara anak kecil terdengar memanggil.