
Rania memegang cincin yang berada di jarinya. Dia tahu jika Nalendra serius dengan semua yang diucapkannya. Dia pun melepas cincin yang tadi disematkan oleh Nalendra dan memberikannya pada Nalendra.
"Apa maksudmu?" tanya Nalendra terkejut.
"Apa kamu serius ingin menikahiku malam ini?" tanyanya. "Jadikanlah ini mas kawin buatku!"
"Ehm, bolehkah?" tanyanya berbalik ke arah para orangtua di sana.
"Baiklah, Bapak akan segera ke rumah Pak Haji Usep." jawab pak Idris, keluar memanggil Zyan.
Alaric setengah berlari masuk ke rumah. "Bro, lu bener mau nikah sekarang?" tanyanya terkekeh. "Gila lu, bener-bener!" ucap adiknya tak percaya dengan keputusan Kakaknya yang selalu sulit ditebak.
Keluarga Pak Sulaiman berembuk, mengenai mas kawin. Bu Shafira bersikukuh ingin menambah mas kawin dengan uang tunai. Nalendra mengeluarkan dompet dari kantong celana, Hanya ada selembar uang 50 ribu, dia pun mengeluarkan lagi dari kantong celana depan ada 12 ribu.
"Ya, ampun Kakak. Kamu pemimpin perusahaan, kenapa cuma bawa uang 62 ribu!" seru Bu Shafira.
Nalendra malah cengengesan, dia beralasan jika dirinya jarang menggunakan uang cash.
Entah kenapa, semua yang di sana tidak ada yang membawa uang tunai dalam jumlah besar. Setelah dikumpulkan pun uangnya tidak mencapai 1 juta, hanya beberapa ratus ribu saja.
"Aku akan ke ATM ngambil uang dulu," kata Nalendra.
"Pengantin, diamlah sini. Jangan kemana-mana!" ketus Bu Shafira.
Rania memberanikan diri mendekati keluarga Sulaiman. "Ndra, mas kawinnya yang ada saja jangan terlalu memaksakan diri. Perhiasannya juga 'kan banyak."
"Aku ingin memberi mas kawin yang pantas untukmu," jawabnya lirih. "Tenang saja, aku akan menyuruh Aziz mengambil uang."
Rania tersenyum, "Ndra, ga apa-apa hanya perhiasannya juga. Kalau kamu keukeuh, gini aja, berapa jumlah uang cash yang kamu bawa sekarang?"
"62 ribu. Kalau ditambah dengan semua uang yang dikumpulkan ada 700rban," lirihnya.
"Ibu juga tidak mengerti kenapa dia tidak bawa uang cash!" timpal Bu Shafira nampak kesal.
"62 ribu ya," Rania tertawa. "Ya udah, segitu juga ga apa-apa."
"Tunggu saja, Aziz sebentar lagi juga datang bawa uangnya," ujar Nalendra.
"Benar, Ayah juga kurang setuju. Masa mas kawinnya 62 ribu!"
"Itu kan hanya tambahan. Aku mau tambahannya segitu aja. Nilainya membuat aku tertawa," ujar Rania.
"Kamu menyindirku?"
"Tidak, aku hanya merasa jumlahnya membuatku tertawa. Aku senang," jawab Rania.
"Baiklah, jika Rania maunya seperti itu. Lagian nanti kakak bisa memberikan semua uang Kaka pada Rania. Salah siapa pengen nikah dadakan kaya gini!" Ketus Pak Sulaiman. "Kita tunggu Pak Idris," Pak Sulaiman melihat jam sudah setengah 10 malam. Sudah setengah jam berlalu sejak pak Idris pergi memanggil penghulu.
"Assalamu'alaikum," ucap seorang pria berusia awal 40 an.
Rania menelisik pria di depan pintu rumahnya, baru pertama kali ini mereka bertemu.
"Ziz, masuk!" titah Nalendra.
Tepat pukul 10 malam, Pak Idris datang dengan Pak Haji Usep seorang ustad yang juga penghulu di kampung tempat tinggal keluarga Idris.
Pak Haji Usep bersedia menjadi penghulu menikahkan Rania dan Nalendra secara agama setelah beliau mendengar alasan Nalendra dan seluruh keluarga.
Sebelum ijab kabul Nalendra telah menuliskan bacaan untuk akad di secarik kertas dengan dibantu keluarga. Ijab kabul dalam prosesi pernikahan memiliki bacaan khusus dan sangat sakral, tidak heran banyak mempelai pria merasa gugup ketika membacakannya. Untuk mengurangi kegugupannya, maka keluarga memintanya menghafal sebentar.
Nalendra telah duduk di dampingi Ayahnya, di depan Pak Idris dan Pak Haji Usep, sebagai penghulu. Di antara mereka juga duduk Abah Danu dan pak Khalid sebagai saksi pernikahan Rania dan Nalendra.
Sebelum ijab kabul, pak penghulu memberikan khutbah nikah yang diisi dengan bacaan Al-Quran, wejangan bagi kedua mempelai, dan doa bagi para tamu undangan yang telah berkesempatan hadir.
Dengan dibimbing oleh penghulu, Nalendra membaca beberapa bacaan doa, seperti kalimat istighfar, dua kalimat syahadat, dan juga shalawat sebelum nantinya membacakan ijab kabul.
Mempelai pria dan juga wali nikah saling berpegangan tangan kanan sebagai sebuah tanda berlangsungnya proses serah-terima atau akad. Jabat tangan sendiri bukan menjadi salah satu syarat ataupun kewajiban ijab kabul yang sah. Sehingga seseorang yang tidak mempunyai tangan atau cacat fisik akan tetap bisa melakukan pernikahan dengan sah tanpa perlu melakukan jabat tangan.
Pembacaan ijab kabul tersebut dimulai dengan wali nikah yang membacakan ijab sesuai dengan ketentuan yang ada. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan kabul atau tanda terima dari laki-laki. Kemudian pembacaan ijab kabul selesai, saksi akan memberikan pernyataan sah terkait proses akad yang sudah dilangsungkan.
Nalendra dan Pak Idris berpegangan tangan, "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Nalendra Sulaiman bin Sulaiman Kertawidjaya dengan anak saya yang bernama Rania Syahmi Princen dengan maskawinnya berupa Perhiasan 34 gram dan uang 62 ribu, tunai,” Ucap Pak Idris membacakan ijab.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rania Syahmi Princen binti Idris Princen dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai," Jawab Nalendra membacakan kabul.
"Sah," jawab kedua saksi dan yang lain yang berada di ruangan tersebut.
"Alhamdulillah," ucap Penghulu, lalu membacakan doa untuk kedua mempelai.
Rania tersenyum, dalam hatinya ingin tertawa bahagia mengingat keputusan yang sakral yang telah dia pilih malam ini.
"Sini, 'Nak," panggil Pak Haji Usep pada Nalendra.
"Bersyukurlah bagi kedua mempelai yang menikah hari ini karena melalui pernikahan ini, keduanya dipertemukan dan dipasangkan sebagai suami istri yang telah digariskan oleh Allah SWT sebagai pasangan yang kelak akan memberikan kebahagiaan bagi diri masing-masing. Pernikahan mereka tidak tercatat di Kantor Urusan Agama, dan bisa berimbas pada dokumen-dokumen negara yang terkait seperti kartu tanda penduduk, kartu keluarga, hingga akta kelahiran anak nantinya. Jadi tolong persiapkan semua persyaratan untuk ke KUA nya," Kata Pak Haji Usep.
Nalendra dan Rania bertukar cincin kembali, kali ini mereka memasangkan di jari manis tangan kanan.
Bu Sekar meneteskan air mata haru. Begitu pun dengan beberapa orang yang berada di sana. Mereka tahu bagaimana perjuangan Nalendra untuk mendukung Rania dan Darren ditengah duka yang menyelimutinya.
Walaupun perjuangan untuk menikahi Rania itu belum usai karena masih harus ke KUA agar sah di mata hukum. Kini mereka telah menjadi suami istri yang sah di hadapan Allah.
Setelah pernikahan dadakan berjalan dengan lancar, dan Pak Haji Usep diantar pulang oleh Zyan. Keluarga Nalendra pun berpamitan pulang.
"Kami pulang ya, Kak. Inget sekarang Kakak sudah jadi seorang suami dan Ayah. Jaga baik-baik keluarganya. Soal dokumen persyaratan tidak usah dipikirkan nanti Ayah dan Bapaknya Rania yang akan mengurusnya," Kata Pak Sulaiman sebelum masuk ke dalam mobil bersama istri dan bapaknya, Abah Danu beserta Alaric. Begitu juga dengan Kakak Bu Shafira, Pak Khalid dan Sang istri telah lebih dulu pamit pulang.
"Bro, Gue Jalan sekarang ya." Aziz ikut berpamitan dan akan kembali ke Jakarta. Dia sudah terbiasa pulang larut dari Bandung dan kerja pagi keesokan harinya.
"Aku akan balik besok, mungkin naik kereta," ujar Nalendra. "Makasi ya. Uangnya besok aja gue transfer." Tadi Aziz membawakan uang titah Nalendra untuk mas kawin, tetapi Rania menolaknya. Uangnya tetap Nalendra pegang, untuk dikasihkan ke Rania.
Dareen telah tertidur sebelum ijab kabul dimulai. Rania duduk di kursi depan tv, dia merasa lelah setelah membereskan rumah, membantu mamanya. Orangtua Rania telah masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat, Zyan pun telah kembali ke rumah Rania setelah mengantar Pak Haji Usep pulang.
"Hay," ujar Nalendra, gugup. Dia duduk di samping Rania dan memegang tangan Sang istri.
"Ada apa?" tanya Rania. "Kamu pasti cape, tidurlah."
"Aku tidur dengan dan Dareen," ujar Nalendra.