
Nalendra langsung berangkat ke Bandung usai shalat asar. Dia berharap bisa sampai di rumah orangtuanya sebelum waktu isya ataupun paling telat jam setengah delapan malam. Namun, jalanan tol Jakarta-Bandung sepertinya sedang ingin menguji emosinya. Dia sampai pukul delapan lewat.
"Assalamu'alaikum," ucapnya begitu pintu rumah di buka oleh si mpu-nya.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Ibu kira kakak akan sampai nanti malam," ujar Ibunya.
"Bu, aku lapar," rengek Nalendra, setelah memberi salam mencium tangan Ibunya.
"Ayo, masuk dulu. Minta makan ko di pintu rumah, masuklah dulu!" Bu Shafira menepuk lengan kekar anaknya sambil tersenyum senang, akhirnya si anak sulung pulang juga.
"Ayah mana, Bu?" tanya Nalendra.
"Ada, di dalem lagi nonton," jawab Bu Shafira.
Nalendra segera melangkah ke dalam. Dia melihat ayahnya sedang menonton berita, di salah satu Chanel tv nasional yang khusus tentang news.
"Serius amat," ujar Nalendra menghampiri ayahnya untuk memberi salam.
"Ada kerjaan di Bandung?" tanya pak Sulaiman, mengulurkan tangan pada anak sulungnya. Nalendra biasanya hanya akan pulang ke Bandung jika ada kerjaan di sana atau ada acara keluarga yang harus dia hadiri, itu pun di hari libur tidak di hari kerja seperti sekarang.
"Tidak, ada acara aja besok," jawabnya tersenyum lalu duduk di samping ayahnya.
"Acara apa?" tanya ayahnya mengernyitkan dahi. Seingatnya besok tidak ada acara keluarga.
"Besok 7 harian temen meninggal," ucapnya sedikit sendu.
"Oh, yang temen kuliah kamu itu ya. Yang dulu suka nginep di sini. Siapa sih namanya, ayah lupa?" tanyanya nyerocos.
"Ergha, Yah. Namanya Ergha," jawab Nalendra.
Pak Sulaiman mengangguk-angguk tanda mengerti. Dia kembali menonton tv nya.
"Ayah ga bosan nonton berita terus?" tanya Nalendra, berusaha mencari bahasan dengan sang ayah.
"Ya, apalagi coba. Ayah udah pensiun jadi ga ada yang pekerjaan yang bisa dikerjakan. Paling ya, ini ... Nonton, berkebun, ngasih pakan ikan, jalan-jalan, nonton lagi, tidur," tuturnya.
"Kak, katanya lapar mau makan. Ko malah duduk di situ. Ayo cepat makan dulu, nanti maag nya kambuh lho telat makan!" gerutu ibunya.
Nalendra berdiri, berjalan mengikuti langkah ibunya ke ruang makan. Ibunya sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Ibu udah makan?" tanyanya.
"Sudah, Ibu sudah makan. Tadi sore ibu masak banyak karena tau kakak mau pulang," ungkap Bu Shafira.
Nalendra segera duduk di kursi, mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi juga teman lauk pauknya. Dia memang seorang pengusaha dan bisa makan apapun yang diinginkan dari berbagai macam restoran. Namun, tetap saja makanan favoritnya adalah pasakan ibunya. Walau sederhana, tetapi sangat nikmat melebihi masakan restoran manapun.
"Kak, ayo makan ini." Ibunya mengambilkan beberapa perkedel dan menyimpannya di piring Nalendra. Dia sangat tahu betul kalau anaknya sangat menyukai perkedel.
"Makasi, Bu," ucapnya dengan mulut penuh makanan.
"Kak," panggil Bu Shafira. Dia memperhatikan anaknya yang sedang makan, dia begitu lahap seperti belum makan beberapa hari. "pelan-pelan, Kak. Nanti tersedak lho." Nalendra hanya tersenyum menanggapi omelan ibunya.
"Kak, kakak senang ya makan makanan buatan ibu?" tanya Bu Shafira masih asik memandang anaknya makan.
Nalendra mengangguk. "Iya."
"Kaka, ga ada niatan buat makan pasakan perempuan lain?" tanyanya.
"Perempuan lain, siapa Bu? yang tukang nasgor di pertigaan depan atau perempuan mana?" tanyanya masih mengunyah makanan.
"Ih, Kaka. Maksud ibu, Kaka ga ada niatan makan pasakan istri kaka? Ga seru deh!" sergah Bu Shafira mulai kesal.
"Ya ada, nanti kalau udah nikah, Bu. Kalau sekarang 'kan emang belum nikah jadi makan pasakan ibu dulu aja," sahutnya.
"Jadi, kapan Kaka mau nikah?" dengan mata berbinar-binar mendengar jawaban anak pertamanya.
"Kak, apa ga ada perempuan yang bikin Kaka tertarik, gitu?" tanya Bu Shafira, kesalnya sudah naik ke level dua.
"Ada," jawabnya singkat.
"Ada, jadi Kaka udah punya pacar sekarang. Ko ibu ga dikasih tau. Kapan mau di bawa ke sini?" cerocos ibunya yang senang bagai mendapat durian runtuh.
"Belum, Kaka belum punya pacar, Bu," sahutnya lalu mengambil gelas minum.
Bu Shafira menepuk tangan anaknya yang sedang minum hingga dia tersedak.
"Ibu, ko ditepak. Basah jadinya," Kata Nalendra kaget.
"Makanya jangan buat ibu PHP, katanya lagi suka ma perempuan, tapi pas ditanya udah punya pacar belum malah jawab belum punya. Gimana sih!" rutuk ibunya.
"Ya, karena emang belum jadi pacar Bu!" sahutnya mengelap baju dan meja yang basah dengan tisu.
"Ya, jadiin pacar dong secepatnya."
"Ga bisa gitu juga Bu. Nanti kalau memang udah jadi juga, pasti Kaka bawa ke sini ko Bu, pasti Kaka kenalkan ke ibu sama ayah," jawabnya sedikit kesal.
Inilah salah satu yang membuat Nalendra jarang pulang ke Bandung, ke rumah orangtuanya dalam beberapa tahun terakhir. Dia menghubungi ibunya lewat telepon atau Vidio call hanya untuk bertanya kabarnya. Jika bahasan tentang menikah sudah keluar, dia akan langsung beralasan mau mengerjakan sesuatu lalu mengakhiri teleponnya.
"Bu, Kaka harap ibu bersabar lagi ya. Kaka belum bisa memberitahunya dalam waktu dekat kalau Kaka suka dia. Ibu doakan saja semoga Kaka mendapat jodoh yang terbaik," ujarnya sambil memegang tangan ibunya.
"Kak, apa mau ibu carikan istri buat Kaka?" tanyanya.
Nalendra terkekeh mendengarnya. "Ga usah Bu. Kaka sudah lama menyukai perempuan ini. Mungkin sekitar 14 tahunan."
"Apa, 14 tahun. Lama banget!" seru ibunya.
"Iya, lama ya," ujar Nalendra tersenyum. "Makanya, Kaka mohon sama ibu, agar ibu bisa bersabar sebentar lagi. Jadi ga usah cariin Kaka perempuan buat dijadiin istri, karena Kaka udah ada perempuan yang Kaka suka," tegasnya.
"Baiklah, tapi Kaka juga harus janji kalau ga jadi dengan itu harus mau ibu kenalin ma anak-anak temen ibu," jawabnya.
Nalendra hanya mengangguk pelan. Dia sungguh lelah dan bertambah lelah karena pembahasan tentang pernikahan dengan ibunya tercinta belum usai juga.
"Bu, aku masuk kamar dulu ya. Mau mandi," ujarnya. Dia sudah terlalu lelah, tetapi badannya terasa lengket.
Ketika Nalendra sudah masuk ke dalam kamarnya, Sang ibu menghampiri suaminya.
"Yah," panggilnya sambil tersenyum-senyum.
"Ada apa, Bu?" jawab pak Sulaiman.
"Yah, Nalendra bilang udah ada perempuan yang dia suka, Yah," ucap Bu Shafira dengan riang.
"Oh," jawab suaminya singkat.
"Ko cuma oh aja sih, Yah!" cemberut karena merasa tidak didengarkan.
"Ya, Alhamdulillah kalau sudah ada yang dia suka, Bu. Terus apa lagi," ujar pak Sulaiman menyadari sikap istrinya yang mulai cemberut.
"Apa ayah ga penasaran dengan perempuan yang dia suka?" tanya istrinya.
"Memangnya kenapa perempuannya, Bu?" tanya pak Sulaiman pada akhirnya.
"Ibu juga ga tau, Yah. Dia hanya bilang sudah ada perempuan yang dia suka, tapi ga ngasih tau siapa namanya atau asalnya dari mana. Cuma bilang minta ibu bersabar, katanya," ungkap Bu Shafira kesal.
"Sabar aja, Bu. Kalau dia sudah bilang begitu, ya sabar aja. Nanti juga pasti dikenalin ma kita," jawab pak Sulaiman dengan santai.
"Ah, ayah sama aja. Ibu mau tidur duluan kalau gitu!" seru Bu Shafira meninggalkan suaminya yang masih menonton ulangan pertandingan bola di Chanel internasional.
"Emmm, emang sulit mengerti perempuan. Mood-nya bisa berubah dengan cepat," gumamnya tersenyum sendiri.