
"Assalamu'alaikum," ucap Bu Sekar yang baru pulang. "Eh, ada tamu. Apa kabar Pak, Bu?" tanya Bu Sekar menyalami mereka lalu duduk di samping Pak Idris.
"Alhamdulillah baik, Bu," jawab Bu Shafira. "Ibu mengajar sampai sore?"
"Iya, Bu. Tiap hari Jumat, di sekolah ada acara mengaji sehabis asar," jawab Bu Sekar. "Kalau Ibu bekerja juga kah?" tanya Bu Sekar yang mulai penasaran dengan orangtua Nalendra.
"Dulu saya bekerja di perusahaan asuransi. tapi sekarang di rumah aja, kerjaan di rumah ternyata jauh lebih banyak ya, Bu." Bu Shafira tertawa kecil.
"Iya betul, Bu. Kerjaan di rumah lebih banyak macemnya, tapi nyante ngerjainnya," timpal Bu Sekar. "Jadi ibu sudah pensiun juga, saya kira masih bekerja."
"Disuruh pensiun dini," jawabnya malu-malu.
Tepat pukul lima, mereka berpamitan pada orangtua Rania.
"Dareen," panggil Bu Sekar. "Mana Dareen?" tanyanya pada Pak Idris.
"Ada di dalam, tadi sih mandi," jawab Pak Idris masuk ke dalam rumah hendak memanggil Dareen dan Rania.
Mereka bertiga pun keluar rumah, mengantarkan Nalendra dan keluarganya sampai di gerbang.
"Nanti Kakek sini lagi ya," ujar Pak Sulaiman mengacak rambut Dareen, gemas.
"Kakek, nanti kita ke rumah Abah Uu lagi ya," pinta Dareen.
"Iya, nanti kita ke sana bertiga aja sama Nenek. Ga usah nunggu Om Nalendra," jawab Pak Sulaiman.
"Kenapa?"
"Om nya 'kan kerja." Dareen mengangguk tersenyum.
"Om, pulang dulu ya. Nanti hari Minggu Om main lagi sini, boleh?" tanya Nalendra, dijawab anggukan oleh Dareen. "Nanti Minggu aku main ke sini, sebelum balik ke Jakarta," ujar Nalendra setengah berbisik pada Rania.
"Oke," jawab Rania sambil mengangguk.
"Jangan lupa mie telornya," ujar Nalendra tersenyum melihat lirikan tajam dari Rania.
"Ayo, jangan bisik-bisik mulu, udah sore banget ini!" kata Bu Shafira membuat wajah Rania bersemu merah.
Kalau bisa, ingin sekali Nalendra menarik tangan Rania dan memeluknya erat. "Sabar, sabar," gumam Nalendra.
Nalendra melambaikan tangan pada Dareen sebelum dia melajukan mobilnya.
"Kak," panggil Bu Shafira. "Rania cantik ya?"
"Ya," jawab Nalendra singkat.
"Kak, dia bisa masak ga?"
"Bisalah!"
"Enak ga pasakannya?"
"Banget!" jawab Nalendra lagi.
"Enak mana pasakan Ibu atau Rania?"
"Apa, Bu. Ibu nanya apa?" Nalendra bertanya balik.
"Ga jadi, udah tau jawabannya!" kata Bu Shafira kesal.
"Ibu ini, aku ga kedengaran barusan," kata Nalendra. "Lagi fokus nyetir, Kaka!"
"Ga jadi, Kakak!" seru Bu Shafira. "Nyetir aja!"
Pak Sulaiman menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan istrinya.
**
"Kak, ayo cepat. Telat nih!" seru Bu Shafira yang sudah menunggu hampir setengah jam. "Laki, tapi lama. Berasa kaya nunggu anak cewe aja!" gerutunya.
Nalendra turun dengan memakai T-shirt dan celana jeans panjang. Hari ini dia harus menemani Sang ibu pergi, entah kemana tujuannya.
Jalanan Kota Bandung di hari Sabtu lebih padat dari hari kerja. Banyak orang yang dari luar kota datang untuk berlibur.
Bandung merupakan surga bagi yang ingin melepas penat setelah melakukan aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Di Bandung banyak tempat yang sangat bagus untuk dijadikan tempat berlibur. Kau hanya tinggal memilih tempat yang tepat di sini, Ada gunung, kawah, pemandian air panas, hotel, Mall bagi pecinta fashion, juga kuliner yang tak kalah banyak menu serta dengan harga yang relatif terjangkau.
"Bu, ada acara apaan sih. Ko kita masuk ke hotel?" tanya Nalendra yang tidak bisa membendung rasa penasaran. Mereka memasuki salah satu hotel terkenal dan berbintang lima di kota Bandung.
"Udah, ayo. Jalan aja!" ujar Bu Shafira.
Nalendra memarkirkan mobilnya di basemen. Dia melihat sekeliling tempat parkir tersebut. Sudah banyak yang datang, mungkin karena hari Sabtu. pikirnya.
Nalendra mengikuti langkah Sang Ibu dari belakang, seperti bodyguard yang menjaga tuannya. Mereka menaiki lift ke lantai atas, tempat restoran berada.
Bu Shafira terus berjalan melewati beberapa meja, sampailah dia di sebuah ruangan VVIP. Seorang waitress membukakan pintu untuk Bu Shafira. Di dalam telah ada beberapa wanita seusia Bu Shafira sedang bersenda gurau.
"Jeng, akhirnya datang juga," sapa seorang ibu yang berpakaian sangat modis dengan beberapa aksesoris yang pasti akan membuatmu berpikir dia seorang penggemar perhiasan.
"Iya, Jeng. Jadi dong, masa ga jadi," Ujar Bu Shafira sambil tertawa kecil. Dia pun duduk di tempat yang telah disediakan.
"Ini Nalendra ya?" tanya Ibu yang tadi.
"Iya," jawab Nalendra tersenyum sembari menyalami semua teman Ibunya yang berada di sana.
"Kenalin ini anak Tante." Ibu tadi menunjuk seorang wanita muda berkerudung yang duduk di sampingnya. Wanita muda tadi cukup cantik, berkulit putih ber-make up flawless.
"Shareen," ujarnya memperkenalkan diri pada Nalendra.
"Nalendra," jawab Nalendra yang mengernyitkan dahinya.
"Bu, aku ke toilet dulu ya," bisik Nalendra pada Bu Shafira.
"Jangan lama, nanti balik lagi sini!" jawabnya dengan berbisik pula.
Sebenarnya, toilet bukanlah tujuan utama dia keluar dari ruangan itu. Dia ingin segera pergi dari sana, menghindari rencana terselubung Bu Shafira.
Nalendra bersembunyi di taman hotel, dia duduk sembari menonton reality show.
Bu Shafira melihat jam tangannya, sudah lebih dari setengah jam Nalendra izin ke toilet. Apa toiletnya penuh, tapi tidak mungkin. Ini hotel, banyak toilet tersedia di tiap lantai. pikirnya.
"Jeng, anakmu mana?" tanya Ibu tadi.
"Tadi izin ke belakang. Kayanya dia ketemu temannya, semalam dia cerita temannya mau berlibur bersama keluarganya di Bandung." Bu Shafira dengan cepat membuat alasan. "Shareen ini, anak ibu yang kedua itu kah?" tanya Bu Shafira mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Jeng. Dia yang kerja di Jakarta itu lho," ucapnya dengan berbangga diri.
"Jakarta mana?" tanya Bu Shafira. "Nalendra juga 'kan kerja di Jakarta, tapi Jakarta Selatan yang kawasan Mega Kuningan. Apartemennya juga kawasan sana," Kata Bu Shafira tidak mau kalah.
"Saya juga daerah sana, Tante," jawabnya tersenyum.
"Benarkah?" Mata Bu Sekar berbinar. "Oh iya, kapan kamu pulang ke Jakarta?"
"Mungkin nanti sore," jawab Shareen.
"Besok aja, biar sekalian. Nalendra juga besok pulang ke Jakarta," rayu Bu Shafira.
Bukannya Nalendra udah punya anak ya, apa mommy mau ngejodohin aku sama duda beranak gitu? batin Shareen.
Shareen ingat, dia dulu pernah bertemu dengan Nalendra di apartemen temannya. Dia juga tahu Nalendra mempunyai anak, sewaktu mereka makan satu meja dan Nalendra mendapat telepon dari anaknya.
Shareen hanya menyunggingkan senyum termanis buat Bu Shafira. "Mom, aku ke toilet dulu ya," ujarnya pada Sang Ibu.
Shareen berjalan keluar, dia menengok beberapa kafe di hotel tersebutencari keberadaan Nalendra. Dia pikir, dia harus menyelesaikan ini secepatnya.
Jangan sampe deh gue dijodohin ma duda! dia memang cakep, tapi kalau duda dan punya anak. Enggak deh kayanya! pikir Shareen.
"Akhirnya ketemu juga tuh orang!" gerutu Shareen yang sudah kesal. Dia berjalan cepat ke arah Nalendra. lalu menepuk bahunya.
"Mas, masih ingat sama aku?"