Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 91



Rania mengajak Nalendra berkunjung ke rumah orangtuanya, tentu dengan paksaan. Dia tidak habis pikir, kenapa Nalendra tidak mau menemani orangtuanya padahal beberapa hari lagi dia akan pergi ke luar negeri.


"Hari ini orangtuaku ke Garut, mereka akan tinggal di sana seminggu." jawab Nalendra.


"Kenapa?"


"Kalau bulan puasa mereka lebih sering tinggal di sana. Sekalian nganter Abah juga."


"Alaric?"


"Dia di kosan, dari Bapak pensiun dulu saat aku SMA juga kami sering ditinggal berdua. Aku ingat Alaric masih SD saat itu."Ungkap Nalendra.


"SD? apa dia ga sedih atau gimana gitu?" tanya Rania. Dia membayangkan Dareen ditinggal, pasti dia udah uring-uringan duluan. Kemarin aja Rania menginap di apartemen Nalendra, Dareen langsung cemberut padahal dia juga liburan di Garut.


"Iya, makanya mungkin sekarang kami jadi kurang respek." Nalendra menghela napas, "Rasanya canggung walaupun dengan orangtua sendiri. Berbeda denganmu dan keluargamu," ujarnya sendu.


Rania mendekati Nalendra yang sedang duduk bersandar pada beberapa tumpukan bantal dan berselonjor di tempat tidur.


"Kasian banget, suamiku." Rania memeluk Nalendra, mendekapkan kepalanya ke dadanya.


"Puasa, Yank." Nalendra terkekeh.


"Oh, dasar mesum!"


"Bukan mesum. Normal kali, kita pengantin baru, jadi kalau dekat kamu rasanya pengen lebih dari pelukan," ujar Nalendra membuat Rania merona.


Rania menepuk keras lengan Nalendra sampai dia mengasuh kesakitan. "Tega banget sih, sakit tau," Nalendra mengusap-usap lengan yang dipukul istrinya.


"Abisnya kebiasaan!" Rania merengut, menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Kalau meluk kamu batal ga ya?" tanya Nalendra, mencolek Rania.


"Aku mau keluar dulu, aku lupa liat Dareen." Nalendra terbahak melihat Rania yang langsung keluar dari kamar mereka.


**


Nalendra mengambil cuti di hari Senin. Dia ingin sedikit lebih lama dengan istrinya. Hari ini, Nalendra mengantar jemput Rania ke sekolah.


Nalendra tersenyum melihat Rania sudah menunggunya di depan gerbang. Terbersit rasa sedih di hati, melihat wajah lelah istrinya. Semalam, mereka bergumul mesra hingga Rania kelelahan, dini hari dia harus bangun menyiapkan sahur dan pagi hari berangkat ke sekolah untuk mengajar.


Begini rasanya menjemput istri kerja. Apa aku suruh dia di rumah aja ya? rasanya kasian melihatnya kecapean kaya gitu, pikirnya.


Rania masuk ke dalam mobil, cukup terkejut melihat Dareen ikut bersama Nalendra menjemputnya.


"Bunda kira Dareen ga ikut," ujar Rania.


"Aku ikut bunda!"


"Ayo, kita jalan." Nalendra segera melajukan kendaraannya. Mereka mengobrol dan bercanda sepanjang jalan.


"Kita mau ke mana?" tanya Rania menyadari jalan yang ditempuh bukan arah ke rumahnya.


"Ke rumah kita," jawab Nalendra.


"Rumah kita?" Nalendra mengangguk. Nalendra membawa mereka ke sebuah perumahan cukup elit di Bandung.


Rania mengernyitkan dahinya. Kapan dia membeli rumah? pikirnya senang.


Nalendra memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah bertingkat. Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ada beberapa orang pekerja yang sedang merenovasi.


"Ini akan menjadi rumah kita, sebelum kita pindah ke Jakarta. Tahun ini sepertinya aku akan cukup sibuk, jadi lebih baik kamu di sini dahulu. Sebenarnya aku ingin langsung mengajakmu pindah ke sana, tapi kamu masih mengajar," terang Nalendra.


"Ayo berkeliling!" ajak Nalendra, tangan kanannya menuntun Dareen, sedangkan tangan kiri menggenggam tangan Rania.


Rumah dengan luas 120/180 m², memiliki halaman yang cukup luas dengan tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, ruang tamu, ruang keluarga, satu ruang kerja.


"Pak Nalendra," panggil seorang pekerja.


Mungkin Arsiteknya. pikir Rania, melihat dia berpakaian cukup rapi dengan kemeja dan celana jeans juga sepatu kets yang cukup mahal, jika melihat gambar centang di sepatunya, itu pun kalau original.


"Hey, apa kabar Pak Tommy," sapa Nalendra. "Oh iya, kenalkan ini istri dan anak saya." Rania menganggukkan kepalanya untuk memberi salam.


"Istri dan anak Bapak? saya kira Bapak masih bujangan, maaf," ucapnya. "Maaf ya, Bu. saya bercanda," lanjutnya merasa tak enak hati pada Rania.


"Tidak apa-apa," jawab Rania tersenyum.


"Sayang, Beliau ini seorang Arsitek. Dia yang akan mendesain rumah kita. Kalau ada yang ingin kamu rubah atau tambahkan atau buat bisa bicarakan kepadanya."


"Saya ingin bertanya, biasanya ibu-ibu ingin mendesain dapurnya sendiri atau kamar tidurnya dan si kecil. Ini ada beberapa contoh desain yang pernah saya kerjakan dan desain terbaru untuk tahun ini." kata Tommy menyerahkan beberapa katalog pada Rania.


Rania mengambilnya dan membuka-buka katalog tersebut. "Apa boleh aku pilih desain yang ini?"


"Tentu, pokonya sesuaikan saja. Terserah kamu," ucap Nalendra tersenyum.


Rania menunjukan beberapa desain pilihannya, dia berkonsultasi dengan Tommy. Dia tidak mau gegabah dengan pilihan yang akan dia ambil. Dia harus paham tentang desain yang sesuai dengan ukuran ruangannya dan keselamatan untuk anak kecil.


Nalendra menyunggingkan senyum, dia senang melihat istrinya begitu antusias mendesain rumah mereka. Dareen berlari berkeliling ruangan.


"Jangan jauh-jauh!" seru Nalendra. "Dareen, hati-hati banyak paku!"


Setelah selesai berkonsultasi dengan Tommy, Rania mengajak Nalendra pulang. Dia merasa lelah dan badannya cukup lengket.


"Terima kasih," ucap Rania.


"Untuk apa?"


"Untuk rumah baru kita."


**


Malam harinya, Rania dan Nalendra sudah berada di tempat tidur. Mereka melakukan pillow talk sebelum beristirahat malam.


"Ndra, Apa kita harus pindah ke sana?" tanya Rania. "Kenapa ga di rumahku aja yang sekarang ditempati Zyan?" Rania tahu jika Nalendra mungkin tidak akan merasa nyaman kalau mereka terus-menerus satu rumah dengan orangtua Rania.


"Aku ingin istri dan anakku tinggal di rumah yang aku beli," ungkapnya. "Kalian boleh tinggal di sini kalau aku sedang di Jakarta, tetapi kalau aku pulang, kalian harus tinggal denganku di rumah yang aku beli buat kita. Itu impianku sejak lama!" terangnya.


"Terima kasih," ucap Rania lalu mencium pipi Nalendra.


"Ndra, ko kamu ga bilang-bilang kalau beli rumah di sana. Ndra, bukankah nanti kita akan tinggal denganmu di Jakarta. Kenapa kamu harus beli rumah. Sayaang tahu uangnya, padahal kita bisa tinggal dulu di sini atau di rumahku," keluh Rania.


"Rumah itu udah aku beli sejak lama. Itu rumah pertama yang aku beli dari gajiku." ungkap Nalendra. "Apa Ergha tidak pernah cerita mengenai rumah itu. Padahal dulu kita sering nongkrong di sana."


Ergha. pikir Rania. Hatinya sedikit mencelos mendengar Nalendra berkata soal Ergha.


Bagaimana bisa dia menceritakan mantan suami istrinya, di depannya. batin Rania.


"Ndra, aku tidur duluan." Rania langsung merebahkan diri di tempat tidur dengan membelakangi Nalendra.


"Kamu beneran udah ngantuk?" tanya Nalendra karena beberapa menit yang lalu dia yang meminta pillow talk, tidak ada jawaban dari mulut Rania. Mata Rania mulai berkaca, dia teringat dengan obrolan orang-orang di acara pernikahan kemarin.


"Oh, Jadi calonnya Nalendra udah janda beranak satu?" ucap salah satu ibu-ibu. "Padahal Nalendra tampan, tajir juga. Tapi malah dapet bekas!"