Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 95



Rania membantu mempersiapkan jamuan untuk buka bersama keluarga Nalendra dari pihak Bu Shafira. Dia membuat sop buah sesuai arahan dari ibu mertuanya.


Rania sempat bertanya dalam hatinya, mengapa tidak ada satu pun dari keluarga Bu Shafira yang datang untuk membantu. Dia berusaha berpikir positif, mungkin karena acara itu diadakan di hari Kamis yang kebetulan hari kerja.


Namun, diam-diam Pak Sulaiman memberitahu tentang keluarga istrinya pada Rania. Bukan tanpa alasan, Pak Sulaiman mengerti saat melihat Rania yang mungkin penasaran tentang keluarga istrinya yang tidak datang untuk membantu.


"Jangan kaget, memang begini tiap ada acara di rumah. Tidak ada sodaranya yang datang, makanya diadakan di hari kerja agar tidak terlalu terlihat kalau mereka ...," ujar Pak Sulaiman berbisik pada Rania.


Rania berusaha mencerna apa yang Pak Sulaiman katakan. "Apa mereka tidak akur?"


"Setengah-setengah," jawabnya berbisik.


"Maksudnya?" tanya Rania.


"Sebaiknya perhatikan nanti ketika mereka sudah datang. Teteh akan tahu sendiri bagaimana sikap keluarganya. Cukup perhatikan saja, jangan banyak bicara. Nanti kena tegur," ucap Pak Sulaiman memberi tahu.


Rania mengerutkan kening, dia akan mengingat semua yang bapak mertuanya katakan.


Benar saja, adik dan kakak Bu Shafira mulai berdatangan pukul setengah enam sore, saat semua persiapan sudah selesai. Setiap tahun Bu Shafira yang selalu mereka tunjuk menjadi tuan rumah. Namun, bukankah lebih baik jika mereka datang lebih awal untuk membantu, walaupun hanya sekedar menggelar karpet dan menata hidangan.


Sebelum adan magrib berkumandang, Pak Sulaiman memberikan sambutan sebagai tuan rumah. Dia juga mengenalkan Rania dan Dareen sebagai menantu dan cucunya pada semua keluarga yang hadir karena sebagian keluarga Bu Shafira tidak bisa hadir disaat pernikahan Rania.


"Assalamu'alaikum, Puji syukur kehadirat illahi Rabbi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Saw." Pak Sulaiman memulai sambutannya.


"Alhamdulillah, hari ini kita bisa berkumpul kembali di bulan Ramadhan, setelah kemarin di acara pernikahan Nalendra dan Teh Rania. Hari ini, kami sekeluarga ingin mengenalkan mantu kami, Teh Rania dan cucu kami Dareen." ucapnya mengelus rambut Dareen yang duduk di pangkuannya.


"Kalau bertemu, berpapasan di jalan, sapalah karena kini mereka keluarga saya, anak dan cucu saya."


Ekspresi wajah yang mereka tunjukan berbeda-beda. Sebagian besar tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya, sebagian lain berlaku masa bodoh.


Pak Sulaiman tidak begitu lama memberi sambutan. Dia menelisik setiap ekspresi yang ditunjukan mereka.


Adan magrib berkumandang sesaat setelah pak Sulaiman selesai memberi sambutan. Mereka menikmati hidangan yang tersedia yang sudah tersedia di depannya.


"Teh, ada yang kurang?" tanya Bu Shafira. "Tolong ambilkan kue basah lagi."


"Masih ada, Bu." Rania beranjak dari tempat duduknya mengambil apa yang diperintahkan Bu Shafira.


"Teh, ibu mau solat dulu. Teteh lagi dapet 'kan. Tolong atur buat makannya, takut ada yang ketinggalan," pinta Bu Shafira. Rania membatalkan puasa hari ini bulanannya menyapa stelah dia salat asar.


Sepeninggal Bu Shafira ke kamarnya, bisik-bisik mesra pun mulai menjalar diantara mereka. Rania tidak terlalu mengambil hati sikap yang ditunjukan oleh keluarga Bu Shafira karena dia sadar kalau dia memang janda beranak satu.


"Teh, katanya dulu teman satu kelas Kak Nalendra ya waktu SMA?" tanya seorang gadis berumur 20an.


"Iya," jawab Rania tersenyum.


"Apa ini cinta lama bersemi kembali?" Selidik gadis tersebut dengan berani.


"Katanya suami teteh yang dulu teman dekat Kak Nalendra. Katanya juga suami teteh yang dulu udah meninggal?"


"Iya," ujar Rania berusaha tersenyum. Dia tidak menyangka mereka begitu sangat penasaran tentangnya.


"Ko bisa Teteh nikah sama kak Nalendra, padahal almarhum suami teteh temen kak Nalendra?" pertanyaan yang sukses membuat Rania tersenyum geram.


"Entahlah, aku juga masih penasaran soal hal itu. Tapi, aku bersyukur karena Allah menjodohkanku dengan Nalendra. Dia pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Walaupun aku seorang janda dan Dareen bukan anak kandungnya, dia tetap menyayangi kami!"


Gadis itu seperti ingin menyudutkan Rania. "Kenapa kalian nikah diam-diam, kenapa teteh ga ikut ke Singapore dengan kak Nalendra?


"Kalau sudah ada niat baik harus disegerakan. Aku tidak ikut karena ada tanggung jawabku sebagai guru yang harus aku tunaikan terlebih dahulu. Walaupun tanggung jawab sebagai istri harus lebih diutamakan, tetapi selama Nalendra Ridho aku mengajar dulu, itu tidak jadi masalah!"


"Apa Teteh tidak takut kak Nalendra melirik cewek lain di sana?"


"Tidak, aku percaya dia seperti dia percaya padaku. Kalau nanti kamu sudah menikah pasti mengerti maksudku. Allah Maha Penjaga dan Maha Pembolak-balik Hati seseorang. Aku percaya Allah akan menjaganya untuk!"


Aku percaya dia menjaga hatinya untukku seperti yang dia lakukan selama belasan tahun." batin Rania.


"Asik banget ngobrolnya, apa yang kalian obrolkan?" tanya Bu Shafira menghampiri Rania dan Demi.


"Hanya bertanya hal biasa," jawab Demi, melirik Rania dengan sinis.


Rania merasa sedikit risih dengan perlakuan keluarga dari Bu Shafira yang terkadang menyudutkannya. Seakan mereka menganggap Rania tidaklah pantas menjadi istri Nalendra. Namun, Pak Sulaiman dan Bu Shafira selalu menguatkan Rania dengan segala perlakuan lembut mereka.


Keluarga Bu Shafira satu persatu pulang setelah selesai makan besar. Mereka seperti masuk dan keluar dari restoran, hanya datang untuk makan dan pulang setelahnya. Tidak ada ungkapan permintaan maaf atau apa ketika mereka tidak bisa membantu membereskan bekas acara buka bersama tersebut.


"Terima kasih ya, Teh. Mulai tahun ini ibu dapat bantuan dari Teteh kalau ada acara-acara kaya gini lagi," ucap Bu Shafira terkekeh.


"Iya, Bu. Sama-sama, Rania juga senang bisa bantu dan lebih mengenal keluarga semuanya," ungkapnya.


"Jangan diambil hati ya kalau ada perkataan dari sodara ibu. Mereka memang seperti itu, harap Teteh maklum," ucapnya meminta maaf pada Rania.


"Tidak apa, Bu. Aku tidak pernah permasalahkan itu, jangan terlalu dipikirkan. Aku bersyukur bisa mengenal dan menjadi anggota keluarga di sini," jawab Rania tersenyum.


Mereka mengobrol sambil membereskan meja makan, dapur yang masih banyak makanan berceceran.


"Teh, boleh Ibu tanya?"


"Nanya apa, Bu?" Rania mengerutkan dahinya.


"Teteh pakai KB apa sekarang?" tanya Bu Shafira pelan, dia tidak mau suaminya dan Alaric mendengar dia menanyakan hal sensitif seperti itu pada istri dari anak sulungnya.


"Ehm, aku tidak pakai KB, Bu. A-aku sudah tidak pakai KB, mungkin sudah lebih dari setahun," jawab Rania pelan. Sebelum Ergha meninggal rania sudah tidak minum pil KB lagi karena mereka berencana untuk menambah momongan. Namun, takdir berkata lain, Ergha meninggal dan dia menikah lagi dengan Nalendra.


"Oh, Teteh sudah tidak berKB ya. Kalau boleh, jangan pakai KB dulu. Ibu ingin Teteh dan Nalendra punya anak lagi!"