Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 29



"Febri mana Teh?"


"Ehm, Febri. itu ...." Rania gelagapan, dia tidak tahu harus menjawab apa.


Bu Darmawan menghela nafas, dia tahu anak gadisnya belum datang dari cara Rania yang tidak bisa menjawabnya.


"Apa Bapak yang ngasih tau Teteh kalau Ibu di sini?" tanya Bu Darmawan.


"Ada yang mau Ibu makan?" tanya Rania. "Apa Ibu lapar?" tanyanya lagi mencoba mengalihkan pembicaraan dari membahas adik iparnya.


"Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. Beliau tahu jika Rania mencoba mengalihkan pembicaraan. Beliau sangat bersyukur, Allah menjadikan Rania sebagai menantunya.


"Ibu mau jeruk atau apel?" tanyanya lagi. Rania langsung mengambil apel dan pisau, dia segera mengupasnya tanpa menunggu jawaban Sang Ibu mertua.


Bagi Rania, Bu Darmawan adalah sosok ibu yang penyayang. Dia sendiri adalah seorang wanita karier, tetapi tetap berusaha mengurus rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Dia seorang yang sangat sabar menghadapi sifat suaminya yang gampang tersulut emosi.


Saat Bu Darmawan masih bekerja, anak-anaknya diasuh oleh nenek mereka, orangtua dari pak Darmawan. Namun, karena beberapa hal setelah Ergha SMA dan Febri masuk SD, neneknya kembali ke kampung halaman tidak lagi mengurus Ergha dan Febri. Mungkin itu sebabnya kenapa sifat Ergha dan Febri dalam beberapa hal sangat bertolak belakang.


Satu jam kemudian, Pak Darmawan menghubungi Rania. Dia memberitahu jika sudah selesai makan dan akan kembali ke kamarnya. Pak Idris pun berpamitan pada Bu Darmawan.


"Kalau begitu, saya pulang dulu Bu. Cepat sehat kembali ya Bu." pamitnya.


"Terimakasih sudah datang," ucap Bu Darmawan.


Pak Idris pun langsung pergi setelah Rania memintanya agar menunggu sebentar di lobi. Rania akan menunggu Pak Darmawan dulu baru menyusul Pak Idris ke bawah. Dia tidak mungkin meninggalkan Ibu mertuanya sendirian, bisa berabe kalau tiba-tiba terjadi sesuatu, pasti dia yang disalahkan.


"Teh," panggil Pak Darmawan yang baru masuk dan duduk di kursi samping brangkar istrinya.


"Teh, teteh mau pulang?" tanya pak Darmawan seakan tidak rela jika Rania meninggalkan mereka sendirian.


"Aku harus jawab apa ya, aku pengen pulang. Tapi kayanya ga boleh pulang," pikir Rania.


"Apa Bapak mau pulang?" Rania balik bertanya.


"Iya, kalau Teteh mau nunggu Ibu, Bapak mau pulang dulu. Bapak pengen mandi ganti baju, Bapak dari semalam belum ganti juga ga bawa salin buat Ibu," ujarnya.


"Ya Allah," batin Rania. rasanya ingin sekali dia langsung memeluk keduanya. Diusianya yang sudah lanjut harus kehilangan anak laki-laki satu-satunya yang paling diandalkan dan juga harus menerima sifat anak gadisnya yang begitu cuek dengan keadaan mereka.


"Rania aja yang nemenin Ibu, Lagian Rania udah bawa baju ganti dan perlengkapan lainnya. Kalau gitu Rania mau ke bawah dulu mau ngasih tau Bapak juga Dareen kalau Rania jadi nemenin Ibu," jawab Rania, dibalas anggukan oleh pak Darmawan.


Rania segera turun ke lobi memberitahu bapaknya jika dia akan menemani ibu mertuanya malam ini, juga dia membujuk Dareen agar mengizinkannya menginap di rumah sakit.


"Ya, boleh ya, Sayang. 'Kan kasian Oma sakit, pengen ditemenin sama Bunda katanya," bujuk Rania.


"Nanti aku sama siapa?" tanyanya memelas.


"Ya sama Abah, 'kan ada Abah," kata pak Idris.


Setelah membujuk dengan segala bujuk rayu dari ice cream hingga jalan-jalan, dia pun menginginkan berlibur lagi dengan Nalendra.


Kalau berlibur lagi dengan Om Nalendra tentu semua yang bundanya sebutkan tadi akan dia dapatkan dari Om Nalendranya. pikir Dareen.


"Tentu, nanti malam kita telepon Om nya ya," kata pak Idris membuat Rania menggigit bibir kesal. "Kenapa harus Nalendra yang dipilih Dareen?" pikirnya kesal.


"Bapak sama cucu sama aja!" gerutunya dalam hati.


"Hati-hati di jalannya ya. Dareen, ingat ga boleh ngerengek ke Abah," kata Rania dengan wajah yang serius.


"Namanya juga masih kecil, wajarlah ngerengek. Yang ga wajar itu udah besar tapi suka merengek kaya anak kecil," bantah pak Idris, membela cucunya.


***


Dareen menagih perkataan pak Idris yang akan menelepon Nalendra ketika sudah di rumah.


"Bah, Abah katanya mau nelepon Om?" tanya Dareen.


"Nanti aja, jam segini Om nya juga masih kerja." Pak Idris menunjuk jam dinding yang menunjukan masih pukul empat sore.


"Terus jam berapa neleponnya?"


"Nanti malam habis magrib aja ya, nanti Abah ngasih tau dulu om kalau mau telepon, takutnya dia masih di jalan 'kan bahaya," ujarnya pada Dareen.


"Nanti kasih tau aku ya, Bah." Dareen langsung ngeloyor menarik boks mainannya ke ruang tv.


"Abah mau mandi dulu, ya. Dareen main dulu sendiri ya," ucap pak Idris.


"Iya." Dareen mengangguk. Pak Idris pun mandi setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Dia takut Dareen keluar rumah tanpa sepengetahuan nya.


Begitu adzan magrib berkumandang, Dareen langsung berlari ke arah pak Idris sambil membawa ponselnya.


"Abah, ayo telepon Om!" pintanya menyodorkan ponsel yang dia pegang.


"Kalau Dareen denger adzan bukan ambil telepon tapi Dareen harus ambil wudhu terus shalat," ujar pak Idris.


"Tadi kata Abah mau telepon abis magrib!"


"Ya, tapi shalat dulu. 'Kan Om nya juga pasti lagi shalat dulu."


Pak Idris pun mengirimkan pesan pada Nalendra jika dia akan menghubunginya setelah shalat magrib.


Dareen begitu tidak sabar untuk menelepon Nalendra. Di mesjid pun dia selalu bertanya kapan selesai, kapan kita pulang.


"Abah, ayo!" ajak Dareen menarik baju Koko pak Idris.


"Nanti, harus dzikir dulu terus berdoa," jawabnya dengan santai. Dareen pun duduk kembali di sebelahnya.


Tidak berapa lama kemudian, "Abah ko lama banget, sih!"


"Sabar," jawab pak Idris singkat.


Dareen menarik tangan pak Idris agar secepatnya bisa sampai di rumah.


Begitu dibuka, Dareen langsung berlari ke toilet.


"Ternyata dia kebelet pipis, dikira kebelet pengen telepon," gumamnya tertawa melihat tingkah lucu cucunya dan pikiran negatif yang sempat terlintas di benaknya.


Pak Idris memastikan dulu cucunya bersih setelah buang air sebelum dia mengambil ponselnya.


"Abah, itu ada suara telepon," ujar Dareen begitu keluar dari toilet.


"Ambil aja, coba lihat dari siapa!" titahnya sementara dia masih di kamar mandi.


"Dari om." Dareen langsung menerima video call dari Nalendra tanpa menunggu pak Idris.


"Hallooo Oommm ...!" serunya setengah berteriak.


"Assalamu'alaikum, jagoan Om. Lagi apa?"


"Habis pipis," ujarnya.


"Oh, Dareen habis pipis. Udah dibersihin belum?"


"Udah, 'kan udah gede udah bisa sendiri," jawabnya.


"Assalamu'alaikum, gimana kabarnya?" tanya pak Idris sambil mendudukkan Dareen dipangkuan ya.


"Alhamdulillah pak, Gimana kabar bapak sekeluarga?" tanyanya balik.


"Alhamdulillah, baik juga. Maaf ya mengganggu," ucap pak Idris yang melihat Nalendra masih memakai kemeja kerjanya.


"Tidak apa-apa, saya senang ko diganggu bapak," jawabnya jujur.


"Masih di kantor?"


"Iya, tapi udah ga ada kerjaan ko. Santai aja," tambahnya, Nalendra takut jika pak Idris berpikiran dia mengganggu waktu Nalendra.


"Om, aku punya mainan baru lho. Aku ambil ya, tunggu," dia langsung meloncat dari pangkuan pak Idris berlari ke kamarnya.


"Hahaha, Dareen Dareen. Dia pengen nelepon kamu dari tadi ternyata mau nunjukin mainan barunya," ucap pak Idris tertawa.


"Ko rasanya sepi di sana?" tanya Nalendra berpura-pura padahal dia menanyakan Rania.


"Iya nih. Rania lagi di rumah sakit ...."


"Rania sakit? sakit apa?" tanyanya memotong perkataan pak Idris.


"Bukan Rania, Ibu mertuanya masuk rumah sakit jadi dia nemenin malam ini." pak Idris meluruskan.


"Oh, syukrlah. Aku kira Rania masuk Rumah Sakit," ujar Nalendra bersyukur Rania baik-baik saja.


"Iya, makanya kami cuma berdua di rumah," ucap pak Idris.


"Om, lihat ini om," seru Dareen. "Abah balik ke sini biar om liat mainan aku."


Pak Idris pun mengarahkan kamera ponselnya ke arah Dareen.


"Om lihat bagus 'kan?" tanyanya.


"Oh iya bagus banget, beli di mana? Om juga mau mainan kaya gitu," kata Nalendra.


"Bunda yang beliin, nanti Dareen minta Bunda beliin buat Om," jawabnya membuat pak Idris tersenyum.


"Iya, jangan lupa bilangin Bunda ya. Bilang kalau Om mau."


"Iya, tapi bundanya ga ada lagi nemenin Oma sakit," jawab Dareen tiba-tiba sendu.


"Oh, kalau gitu doain Oma nya biar cepat sembuh," ucap Nalendra tersenyum.


"Om, mau ga nemenin Dareen sekarang?" tanya Dareen.


"Sekarang?" tanya Nalendra, "emang Dareen mau ditemenin tidurnya sama Om?" tanyanya lagi.


Dareen mengangguk, "Ga bisa atuh, 'kan omnya besok kerja. Kejauhan kalau berangkat dari sini," kata pak Idris.


"Kalau Dareen mau ditemenin Om, Dareen jangan lupa makan ya terus nurut sama Abahnya dulu, jangan lupa nanti berdoa sebelum tidur ya. Om mau pulang dulu, boleh?" tanyanya.


Dareen terlihat sedih, "Boleh Om," ujarnya lalu berbalik ke kamarnya.


"Dasar anak-anak," ucap Pak Idris.


"Pak, saya pulang dulu ya. Nanti saya hubungi lagi," pamit Nalendra.


"Iya, makasi sudah telepon," jawab pak Idris. "Assalamu'alaikum," pamitnya pada Nalendra.


"Wa'alaikumsalam." Nalendra mematikan telepon, bergegas membereskan meja kerjanya.


Pukul setengah 9 malam, Pak Idris membujuk Dareen untuk tidur, tetapi dia menolaknya beralasan masih belum mengantuk dan masih ingin bermain.


Akhirnya pak Idris mengalah, dia menonton tv sambil menemani Dareen bermain Lego.


"Bah, bel nya bunyi noh. Ada tamu," ujar Dareen membangunkan pak Idris yang sudah setengah tertidur.


"Bel rumah orang lain kali, siapa yang mau bertamu malam begini," jawabnya pada Dareen.


"Ih Abah. Bangun!" seru Dareen. "Itu denger bel nya bunyi!"


Pak Idris akhirnya bangun berjalan ke arah pintu melihat siapa yang datang malam-malam.


"Eh, iya ada tamu. Siapa ya?" gumamnya, Pak Idris segera membuka pintu dan berjalan ke arah pagar depan.


"Eh ko bisa da di sini?" tanyanya terkejut.