Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 78 Tunangan dulu aja!



Malam itu, Pak idris dan Bu Sekar memanggil Rania. Mereka ingin segera membicarakan lamaran yang akan diadakan besok. Mereka juga tidak yakin Rania tahu kalau keluarga Nalendra akan datang.


Bu Sekar segera menanyakan hubungan Rania dan Nalendra. Dia sungguh tidak ingin ada kesalah pahaman, apalagi dia sangat tahu bagaimana sifat anaknya tersebut.


"Kami bersyukur Teteh mau membuka hati untuk Nalendra. Tadi siang Bapaknya Nalendra datang ke sini, beliau meminta Teteh ke bapak buat jadi istri Nalendra. Besok mereka sekeluarga mau datang melamar Teteh secara resmi," ungkap pak Idris melirik Sang istri.


"Apa?" Rania membelalakkan mata terkejut. "Apa maksud Bapak?"


Sudah mereka duga jika Rania belum tahu keluarga Nalendra akan datang esok hari.


"Keluarga Nalendra akan datang besok untuk melamar Teteh secara resmi. Sepertinya Nalendra pun belum mengetahui hal itu kalau dilihat dari sikap Teteh barusan," ujar pak Idris. "Bapaknya malah minta kalian segera dinikahkan," lanjutnya sambil terkekeh.


"Menikah? tadi sore dia telepon juga ga bilang apa-apa. Mah, apa harus tunangannya besok, bisa ga diundur aja? rasanya ko buru-buru ya!"


"Mama sih gimana Teteh, tapi 'kan orangtua nalendra besok ke sini. Masa iya harus telepon sekarang buat ngebatalin. Enggak enak juga lah Teh!" tolak Bu Sekar.


"Jadi Rania harus gimana?" tanyanya panik.


"Tunangan dulu aja. Kalau langsung nikah, Mama agak sibuk, Pak. Apalagi mau bulan Ramadhan," kata Bu Sekar.


"Ya tanya Ranianya, Mah. Dia yang mau nikah, ko Mama yang nolak!" sergah pak Idris.


"Ya dia yang nikah, tapi Mama sama Bapak yang sibuk ke sana ke sini ngurus semuanya!" mereka melirik Rania.


"Kenapa ngeliatin Rania kaya gitu?" tanya Rania melihat orangtuanya meliriknya tajam. "Nanti Rania obrolkan sama Nalendra. Masa langsung nikah!"


"Jadinya Teteh mau ga tunangan dulu?" tanya Pak Idris lagi karena Rania belum memberi jawaban.


"Iya, terima aja. Malu juga kalau Bapak sama Bapaknya udah nentuin begitu!" ketus Rania.


"Harus ikhlas lho, Teh!"


Rania malu mengungkapkan kalau dia mau, ingin, bahagia mendengar acara lamarannya akan diadakan besok. Dahulu, Ergha lah yang menyampaikan pada orangtua Rania kalau keluarganya akan datang, itupun setelah dia berbicara dengan Rania dengan persetujuan Rania di awal. Ini malah Pak Sulaiman yang meminta langsung pada Bapaknya, tentu dia terkejut sekaligus bahagia.


"Iya," jawabnya tersenyum malu. "Udah 'kan, aku mau ke kamar dulu," ujar Rania menahan senyum.


Kalau tidak malu dengan orangtuanya, mungkin Rania sudah berteriak kegirangan mendengar itu semua. Dia menepuk-nepuk pipinya yang memerah.


"Benarkah bapaknya ke sini melamarku untuknya, benarkah besok aku bertunangan!" pikirnya.


Rania segera mengambil ponsel hendak menelepon Nalendra, tetapi dia urungkan. "Harusnya dia yang nanya duluan, nanti dia kira aku kepedean lagi!" gumamnya bermonolog.


"Apa aku kirim pesan aja ya." Rania mengetikan beberapa kata menanyakan kabar dia, tetapi langsung dia hapus. Begitu berkali-kali, mengetik beberapa kata lalu hapus lagi.


Akhirnya dia mengetik kata 'Ndra' saja sebagai panggilan untuk Nalendra dan mengirimkannya. Sudah lewat 10 menit, tetapi belum ada balasan dari Nalendra. Rania mengetuk-ngetuk ponselnya di tempat tidur.


"Apa aku harus meneleponnya?" gerutunya yang mulai kesal karena menunggu. "Tunggu aja sebentar lagi!"


Ndra, lagi apa? sibuk ya. apa masih di kantor? bukannya tadi isya bilang udah di jalan?


Belum sempat dia mengklik kirim, Nalendra menghubunginya.


"Dia telepon, angkat jangan!" ujarnya seperti takut ketahuan menunggu.


"Halo, assalamu'alaikum." Rania mengangkat telepon setelah teleponnya berbunyi beberapa kali.


"Wa'alaikumsalam, Udah tidur?" tanya Nalendra di seberang telepon.


"Belum, tadi dari belakang. Oh ya, Ndra. Bapak bilang tadi bapakmu datang ke rumah," ujar Rania.


"Tidak apa, nyante aja. Datang saja, ga apa-apa ko," ujar Rania.


"Benarkah? Aku tidak mau kamu merasa terbebani atau terpaksa. Aku bisa mencari alasan."


"Aku bilang tidak apa-apa. Datang saja, aku tunggu!" ucap Rania meyakinkan Nalendra dengan nada yang terdengar kesal.


"Aku merindukanmu." ucap Nalendra yang tahu Rania kesal dari suaranya.


"Ndra, tapi kita tunangan dulu aja ya. Kata bapak, kamu mau ke Singapore lagi ya?"


"Iya, sekitar tiga Mingguan lagi."


"Kata bapakku, tadi bapakmu pengen kita nikah sebelum kamu ke Singapore," ujar Rania. "Bisakah nikahnya nanti aja. Aku baru saja mengajar lagi! rasanya tidak enak jika aku menikah dan berhenti mengajar karena harus ikut denganmu. Dareen juga 'kan baru masuk sekolah."


"Bapakku bilang begitu?" tanya Nalendra balik dengan nada terkejut. "Aku tidak akan memaksamu. Kita akan menikah jika kamu sudah siap, aku akan menunggumu," jawab Nalendra yang senang mendengar jika Rania akan ikut bersamanya, ketika mereka sudah menikah nanti.


"Ndra, maaf ya aku minta begini. Aku tau umur kita tidak muda lagi, aku, ehm, aku minta sedikit waktu lagi padamu, aku ingin lebih meyakinkan diri." ucap Rania ragu.


"Meyakinkan diri, maksudmu?"


"Aku takut Ndra, aku sungguh takut. Kamu tahu sendiri jika aku seorang janda, aku takut kamu kesusahan karena itu!"


"Aku tahu dan aku tidak peduli dengan itu. Rania, Apa kamu lupa jika Rasulullah Saw menikah dengan Ibunda Khadijah yang juga seorang janda?"


"Aku tahu, tapi aku udah punya anak, Ndra!"


"Itu bonus dari Allah untukku," jawab Nalendra.


"Terima kasih karena sudah mau menerimaku dan Darren," ucap Rania.


"Rania, apa kamu mau memilih sendiri cincin pertunangannya? tadi Mama bertanya padaku. Jika kamu mau, nanti aku kirim katalognya padamu," tanya Nalendra.


"Tidak, kamu saja yang memilih. Aku suka yang sederhana," jawab Rania.


"Baiklah." Nalendra mencoba mengingat cincin yang selalu Rania pakai. Cincin kawin yang berwarna kuning emas dengan ukiran beberapa garis yang melengkung.


"Ndra, aku ngantuk. Aku tidur dulu ya," ujar Rania.


"Iya, besok aku telepon lagi. Mungkin besok Ibuku meneleponmu buat cincinnya," jawab Nalendra.


"Iya, assalamu'alaikum," pamit Rania yang langsung mematikan teleponnya setelah mendapat balasan salam dari Nalendra.


Malam itu Rania maupun nalendra tidak bisa tidur nyenyak, selalu terbangun gara-gara memikirkan acara pertunangan mereka. Jantung mereka berdegup lebih dari biasanya, tidak sabar dengan acara esok hari.


**


Pagi-pagi Bu Sekar sudah disibukan dengan menghubungi beberapa pembuat kue basah dan kue kering langganannya, berharap mereka bersedia menyiapkan pesanannya walaupun dia memesan di hari yang sama.


Dia juga menghubungi beberapa keluarga terdekat. Pak Idris sendiri sudah memberitahu dan mengundang tokoh setempat untuk datang ke acara yang akan diadakan di rumahnya.


"Pak, Nanti Ibu pulang setelah duhur ya. Nanti Bapak undang lagi Pak haji, takutnya beliau lupa," ujar Bu Sekar mengingatkan sebelum dia berangkat.


"Iya, yang masak datang jam berapa?"


"Itu nanti Ceuceu ke sini, biar dia yang stay di sini nerima pesanan daging sama sayuran. Mama udah telepon Bu Halimah untuk masak nanti, mungkin duhur baru dateng." Pak Idris mengangguk, dia bersyukur mempunyai istri yang gesit seperti Bu Sekar.


"Teh, jangan lupa izin sama kepala sekolahnya. Pulang abis duhur aja!"