Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 54



"Aku menyukainya," ujar Ergha membuat Nalendra tersentak kaget.


"Suka siapa?" tanya Radit.


"Riana lah. Udah terbukti dia setia," ujar Ergha tersenyum.


"Bukannya kamu udah punya pacar di Bekasi?" tanya Nalendra dengan suara yang cukup mengintimidasi Ergha.


"Iya, Rania juga tahu aku punya pacar. Kami sering teleponan, aku cerita soal pacarku sama dia," ungkap Ergha.


"Kasian dia harus dengerin ceritamu, padahal dia sendiri baru putus!"


"Dia ga pernah komplen. Dia pendengar yang baik menurutku. Dia juga suka ngasih saran," jawab Ergha.


"Kamu mau ngedua gitu?" Nalendra mengernyit.


"Enggaklah. Aku mau putus sama pacarku, dia jarang bales pesanku dan kalau aku telepon juga jarang dia angkat," ungkap Ergha santai.


"Jadi kamu mau putus ma pacarmu terus pacaran sama Rania?" tanya Indro.


"Ya, kalau bisa," harap Ergha.


Nalendra mengepalkan tangan kesal mendengar penuturan Ergha. dia sangat menyesal mengizinkannya menghubungi Rania dahulu.


Andai dulu aku hubungi nomor itu. Tidak, bukan seperti itu! andai dulu aku tidak cerita sama mereka jika ada yang suka misscall padaku. Bodohnya! pikir Nalendra kesal.


"Kaka!" Bu Shafira memukul lengan Nalendra kuat, hingga dia mengasuh kesakitan.


"Aww, sakit, Bu!" rengek Nalendra.


"Kaka ini gimana sih, ditanya malah bengong dari tadi. Jadi, kenapa Kaka dulu ga ngejar dia malah ngejarnya sekarang?" Rasa kesal Bu Shafira bertambah gara-gara Nalendra lama menjawab.


"Ya, ga tau, Bu. Kaka hanya ga pede aja, waktu itu dia juga sudah punya pacar."


"Ya Allah, anakku ko begitu. Ga pede saat dia gadis, tapi malah pede ngejar saat dia udah jadi janda. Gimana sih Kaka ini!"


"Emang kenapa kalau dia udah janda Bu? yang penting kan aku tetap suka sama dia. Rania juga bukan janda karena bercerai, tapi karena suaminya meninggal." bantah Nalendra.


Untung aja mereka berada di kolam renang Waterboom, pertengkaran mereka terdengar samar oleh orang sekitar.


"Bu, boleh ya Kaka jadikan Rania istri Kaka?" tanya Nalendra pelan, dia menundukkan kepala berharap Sang Ibu memberi restu.


"Kak, apa Kaka tidak mau sama gadis aja?" tanya Bu Shafira yang masih berpikir Nalendra harus mendapatkan yang terbaik dan seorang gadis tentu lebih baik dari pada janda.


"Kaka mencobanya belasan tahun ini melupakan Rania. Kaka sudah ikhlas ketika dia menikah dengan Ergha, Kaka juga mendoakan mereka hidup bahagia. Saat Ergha meninggal, Kaka juga sedih. Tapi perasaan Kaka ga bisa hilang, Bu. Kaka sudah istikharah, perasaan itu kian kuat, Bu. Kaka cinta sama Rania!" ungkap Nalendra.


"Kak, Pokonya nanti hari Sabtu, kosongkan jadwal Kaka. Kaka ikut Ibu, ga ada bantahan!" ucap Bu Shafira tegas.


Nalendra menghela napas pelan, padahal dia sudah membuat jadwal sendiri selama dia cuti ini. Dia ingin mengajak Dareen dan Rania main keliling tempat wisata di Bandung.


"Sebenarnya ibu suka sama Dareen. Ibu senang main sama Dareen, yang Ibu ga senang tuh niat Kaka deketin Dareen karena Rania!"


Nalendra tercengang mendengar perkataan Bu Shafira. "Aku deketin Dareen bukan buat deketin Rania. Ya mungkin secara tidak langsung begitu, tapi Kaka sayang sama Dareen tuh beneran sayang dia, bukan karena Rania," bantah Nalendra.


"Ya udah, nanti pulang dari sini, anterin Ibu mau nengok Abah dulu mumpung ke Garut," kata Bu Shafira masih mengeluarkan taringnya.


"Baiklah," jawab Nalendra tidak bisa menolak Sang Ibu, apalagi setelah Bu Shafira mengomel panjang lebar. Bisa di coret dari kartu keluarga jika dia menolak.


Dareen sangat bahagia hari ini, bermain dengan Nalendra dan keluarganya. Dia merasa sedang bermain dengan ayah kandung sendiri. Terlihat dari cara dia mulai tidak menolak ketika Pak Sulaiman mengajaknya bermain tanpa Nalendra ataupun meminta makanan kepada Bu Shafira. Dia juga sudah mulai nyaman saat Nalendra tiba-tiba menyebut diri sendiri Daddy ketika bersamanya.


"Daddy, dasar!" gerutu Bu Shafira.


"Biarkan saja, anggap saja Nalendra sedang belajar jadi seorang ayah!" timpal Pak Sulaiman yang juga tersenyum melihat tingkah Si anak sulung.


"Dia tuh sengaja bilang begitu biar ga ada yang godain. Padahal lihatlah, cewek-cewek banyak yang merhatiin dia dari tadi!"


"Sabar aja, toh Allah yang ngatur jodoh seseorang. Berdoa saja jodohnya dapat yang terbaik." Pak Sulaiman menenangkan Sang istri yang terus mendumel pada Si sulung.


Tepat pukul dua, mereka sudah membereskan semua bawaan. Dareen juga sudah dimandikan oleh Nalendra, walaupun sangat susah ketika memintanya untuk berhenti bermain air.


"Om, janji ya nanti main lagi sama aku. Kata bunda ga boleh bohong!" Ujar Dareen.


"Iya, Sayang. Nanti kita berenang lagi, kita ajak bunda sekalian, ya." Nalendra menggendong Dareen, merayu agar tidak merengek.


"Dareen, ayo sini sama Nenek. Biar Daddy-nya bawain bawaan!" ucap Bu Shafira yang kesal pada Nalendra dan menyindirnya dengan menyebut Daddy.


Pak Sulaiman terkekeh mendengar sindiran Bu Shafira untuk Nalendra. "Ayo Dareen, sama Kakek saja." Dia langsung mengambil Dareen dari pangkuan Nalendra dan berjalan keluar dari tempat renang.


Bu Shafira berjalan mengejar Pak Sulaiman, tanpa membawa apapun.


"Yah, tunggu. Beli makanan dulu di sana ya." Bu Shafira menunjuk beberapa toko oleh-oleh.


Dia langsung berjalan ke arah toko tersebut tanpa menunggu jawaban Sang suami. Akhirnya Pak Sulaiman pun mengikutinya.


Toko oleh-oleh itu cukup besar, di sana bukan hanya menjual makanan ringan khas kota Garut, tetapi juga menjual berbagai pernak-pernik aksesoris dan pakaian batik.


"Dareen, sini 'Nak."


Dareen pun diturunkan oleh Pak Sulaiman dari gendongannya dan berlari ke arah Bu Shafira yang sedang asik memilih baju, celana rumahan buat anak-anak.


Dia mengambil beberapa dan mengukurnya di tubuh Dareen. "Ini aja," gumamnya.


Nalendra dengan setia menunggu orangtuanya yang membawa Dareen entah kemana. Beberapa kali dia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, Nama Rania terpampang di layar. Membuat Nalendra tersenyum senang.


"Ya, assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam.


"Wa'alaikumsalam, Ndra. Gimana Dareen, apa dia menyusahkan mu?" tanya Rania di seberang telepon. Dari suaranya terdengar khawatir.


"Tidak, tenang saja. Dia sama sekali tidak menyusahkan ku, ini 'kan bukan pertama kali dia main bersamaku. Jangan terlalu khawatir," jawab Nalendra.


"Aku takut dia merepotkan kamu dan keluargamu," kata Rania lagi masih dengan nada khawatir.


"Tenang saja, dia senang bermain dengan ayah dan ibuku. Sekarang aja aku ga tau mereka di mana, aku lagi menunggu mereka di parkiran tapi mereka belum juga nampak. Kayanya beli sesuatu dulu di toko oleh-oleh." tutur Nalendra.


"Oh, sudah mau pulang ya?" tanya Rania.


"Iya, kami berencana mau ke rumah Abahku dulu. Ibu ingin mengunjunginya, kata dia mumpung lagi ke Garut." ungkap Nalendra.


"Apa ga masalah jika Dareen ikut? maaf ya," ucap Rania.


"Tentu saja ga masalah. Mungkin kami akan pulang agak malam. Ehm, bolehkah Dareen menginap bersamaku. Aku takut kami pulang terlalu malam," tanya Nalendra.


"Apa!"