Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 39



Rania berdiri berjalan menghampiri Nalendra, "Cctv yang di atas sana lebih baik di cabut atau biarkan saja?"


"Cctv, emang ada cctv?" Nalendra sangat terkejut begitu melihat cctv yang ditunjukan Rania.


"Ternyata ada!" Nalendra terpaku menyipitkan matanya memandang cctv yang bertengger di sana. Dia tidak menyangka jika ada cctv di rumah Rania.


"Benarkah kamu baru tau ada cctv di rumah ini?" tanya Rania lagi terkekeh.


"Iya," Nalendra mengangguk, matanya masih fokus menatap cctv.


"Kalau ada cctv ... berarti dia tau dong aku suka nginep di sini!" pikirnya terkejut.


"Rania," panggil Nalendra pelan. "Jadi kamu tau dong kalau aku terkadang nginep di sini, waktu kamu di Bandung?" tanyanya dengan raut wajah antara cemas dan penasaran.


"Tau, aku juga tau saat pertama kali kamu nginep di sini," jawab Rania tertawa. "Makanya, besoknya aku telepon kamu, minta kamu menginap lagi!"


"Ah, iya ... i-itu, maaf," ujarnya salah tingkah. Nalendra merasa bersalah menginap tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Ya, aku maafkan."


Pak Idris tersenyum melihat Rania tertawa, walaupun dia juga cukup terkejut karena melupakan soal cctv di rumah anak perempuannya. "Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik buatmu Teh," doanya dalam hati.


"Dareen mau ikut ga, Abah mau beli sesuatu ke mini market depan?" tanya pak Idris pada cucunya.


"Beli apa pak?" tanya Rania.


"Ini bapak harus beli ... apa ya namanya lupa lagi, pokonya itulah. Bapak lupa namanya tapi ingat bentuknya," jawab pak Idris meyakinkan Rania.


"Abah, pakai motor aja ya. Aku mau naik motor," Ujar Dareen.


"Iya, ayo!" Pak Idris langsung mengeluarkan motor Rania dan pergi ke mini market bersama Dareen.


Tinggallah Rania dan Nalendra berdua, duduk di pelataran rumah menikmati semilir angin.


"Cctv nya ga usah di copot, biarkan saja di situ," ucap Nalendra tanpa memandang Rania. "Sekarang, banyak yang rumah kosong dibobol. Ya, buat jaga-jaga aja."


"Yang di dalem juga?" tanya Rania.


"Apa nya?"


"Cctv nya! apa yang di dalem juga ga usah di copot?"


"Di dalem juga ada?" Nalendra menghembuskan napasnya menenangkan jantungnya yang berdetak kencang, seperti seorang pencuri yang ketauan pemilik rumah.


Rania tertawa terbahak melihat raut Nalendra yang sulit diartikan, sedangkan Nalendra mengerutkan dahinya semakin cemas dengan Rania yang tertawa puas melihat dirinya.


"Aku minta maaf, aku sungguh minta maaf. Berhentilah tertawa!" ucap Nalendra menundukkan kepalanya menyesal. "Maaf, harusnya aku memberitahumu, meminta izin darimu dahulu sebelum menginap." suaranya terdengar sangat menyesal.


Rania akhirnya berhenti tertawa dan menggantinya dengan kekehan kecil. "Dia lucu sekali," batin Rania.


"Aku udah maafkan ko, lagian Dareen 'kan yang memintamu menginap di sini," jawab Rania. "Ini weekend, ga pulang ke Bandung?" Rania mulai mengalihkan pembicaraan.


"Tidak." Nalendra menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Kemarin aku baru tugas dari Bandung dan mampir nginep di rumah."


"Tugas ke Bandung, kapan?" tanya Rania. Seingatnya hampir tiap Sabtu atau Minggu, Nalendra selalu ngajak main Dareen.


"Waktu kamu ke Bandung, aku juga ada kerjaan di sana," ungkapnya.


"Ko aku ga tau!" seru Rania terkejut. Kalau diingat lagi lima hari dia di Bandung, Nalendra dua atau tiga kali menginap di rumahnya. "Ah, maaf. A-aku liat kamu kemarin nginep di sini." Rania berusaha menutupi kegugupannya.


Nalendra menatap wajah Rania, lalu tersenyum, "Rabu kemarin, Rabu pagi aku ke Bandung dan pulang Kamis malam." Nalendra kembali menegakkan posisi duduknya. "Jadi, Rabu depan pindahan atau hanya barang-barang dulu yang pindah?"


"Iya, sekalian kayanya," jawab Rania pelan.


"Jadi ga bisa nginep di hari kerja lagi dong," Nalendra terkekeh dengan ucapannya. Tersirat sedikit rasa kecewa dalam suaranya.


"Iya," Rania tertawa kecil.


"Akan aku usahakan pulang Jumat malam!" ujarnya yakin.


Rania hanya tersenyum menunduk. "Ya, pulang ke rumah orangtuanya," pikir Rania.


"Wa'alaikumsalam,"jawab Rania membalas salamnya. Dia berdiri menghampiri Bu Herman.


"Iya Bu. Ada apa?"


"Ini ada bingkisan oleh-oleh. Kemarin Riko habis dari luar kota. Dia bawa banyak kue," ujarnya menyodorkan bingkisan kepada Rania.


"Makasi ya, Bu." ucap Rania menerima bingkisannya.


"Lagi ada tamu ya?" Bu Herman melirik Nalendra yang sedang duduk menatap mereka yang sedang mengobrol.


"Iya," jawab Rania singkat.


"Teh, ibu boleh minta bunga mawarnya. Ibu lihat sudah pada mekar, mau nyoba nanem." Rania menghela napasnya, ingin rasanya menolak, tetapi pasti nanti jadi bahan obrolan.


"Silahkan masuk, Bu." Rania melebarkan pagarnya agar Bu Herman masuk ke dalam pekarangannya.


Mereka berjalan beriringan, Rania mengambil gunting tanaman untuk memotong dahan mawar yang Bu Herman inginkan.


"Temannya Rania ya?" tanya Bu Herman pada Nalendra yang sedang asik menscroll layar ponselnya. Rania memandang Bu Herman dan Nalendra bergantian, dia tidak menyangka Bu Herman berani bertanya langsung pada Nalendra.


"Iya, Bu. Kenapa? maaf saya tadi sedang ...," ujarnya sambil mengayunkan tangannya memperlihatkan ponsel yang dia pegang.


"Aa ini temannya Rania?"


Rania menatap Nalendra sambil menggeleng kepala pelan, berharap Nalendra mengerti.


"Sa-ya ...."


"Dia keluarga saya Bu," ujar Rania cepat.


"Ehm?" Nalendra mengernyitkan dahinya memandang Rania.


"Oh, saudaranya, saya kira teman. saya baru ingat yang suka ke sini itu kan, ko sendiri aja tidak sama istrinya?" tanya Bu Herman.


"Istri? I-istri saya ...," Nalendra mengernyitkan dahi, memandang tajam pada Rania yang hanya memberinya senyuman. Dia mengkode dengan matanya agar Rania membantunya. "Cerita apa yang dia buat!" gerutunya dalam hati.


"Ini Bu." Rania segera menyodorkan setangkai mawar yang telah dia potong, berharap Bu Herman cepat pergi.


"Oh, makasi ya Teh," ucapnya.


"Mari Bu," Rania memegang pundak Bu Herman sedikit mendorongnya agar segera pergi dari sana, sambil tersenyum.


"Moga ga gagal ya, yang kemarin saya tanem gagal mulu, tangkainya kering." ceritanya. Rania hanya tersenyum.


"Makasi ya teh," ucap Bu Herman lagi.


"Sama-sama, Bu. Saya juga makasi bingkisannya," jawab Rania.


"Kenapa kamu bilang aku keluargamu? dan istri ...!" tanya Nalendra setelah Bu Herman pergi dan Rania duduk kembali di kursi sampingnya.


"Kalau aku bilang kamu teman lamaku, mungkin nanti malam akan banyak pesan yang masuk nanyain kamu, aku juga bercerita jika kamu sudah mempunyai istri untuk meyakinkan mereka. Maaf ... !" jawab Rania menyesal.


"Ibu-ibu sini suka ngegosip?"


"Begitulah."


"Ya, semoga secepatnya kita menjadi satu keluarga dan kamu yang jadi istriku!" harap Nalendra dalam hati sambil mencuri pandang pada Rania.


"Bapak ko lama ya," ujar Rania yang baru menyadari udah setengah jam lebih mereka keluar dan belum juga kembali. "Apa bapak sengaja pergi?" pikir Rania. "Ah, jangan negatif mulu, mungkin barang yang bapak cari belum ketemu!" pikirnya lagi.


"Oh ya, gimana udah jadi fix ngajarnya?" tanya Nalendra mencari pembahasan.


"Alhamdulillah, udah. Insyaallah nanti aku ngajar di SMP," ungkapnya.


"Alhamdulillah, anak SMP masa peralihan ya?" Nalendra tersenyum.


"Iya, masa mencari siapa diri."


Mereka berdua terdiam cukup lama, menyelami pikiran masing-masing. Langit lembayung sudah terlihat, sebentar lagi waktu magrib tiba. Lampu-lampu di rumah seberang pun sudah mulai dihidupkan pemiliknya.


"Rania," panggil Nalendra pelan, dia memandang lurus ke depan seperti ada yang menarik di sana. "Bolehkah aku menginap malam ini di rumahmu?" tanyanya lagi beralih memandang wajah Rania yang juga memandangnya karena terkejut.