
Liana, anak bungsu dari tiga bersaudara. Dia anak perempuan satu-satunya di keluarga karena semua saudaranya laki-laki. Orangtua Liana adalah pemilik perkebunan sayuran. Sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.
Namun, semua berubah ketika bapaknya meninggal. Dia tidak lagi selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi dia berani melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dia mulai dekat dengan Nalendra sejak kelas XI SMA. Walaupun Nalendra adalah siswa baru, tetapi dia ikut menjenguk Liana yang sedang di rawat di rumah sakit.
Liana mulai tahu Nalendra menyukai Rania dari foto yang dia simpan di dompetnya. Liana tahu persis gadis di foto tersebut adalah Rania. Dia tidak mungkin salah mengenali sahabatnya sejak kecil, apalagi di foto tersebut Rania menggunakan gelang pemberiannya. Gelang itu dia buat khusus untuk Rania sebagai hadiah ulang tahun.
Awalnya dia hanya berniat untuk mengorek sejauh mana Nalendra menyukai Rania. Namun, lambat laun perasaan itu muncul tanpa direncanakan. Dia mulai kesal ketika Nalendra selalu memperhatikan Rania. Dia yang memberitahu pada teman sekelas mereka jika Rania sudah mempunyai kekasih agar Nalendra tidak lagi berharap pada Rania.
Namun, Allah-lah Yang Maha membulak-balikan hati seseorang, Nalendra tetap menyukai Rania. Menyimpan rapat rasa sukanya di dalam hati.
Liana begitu senang ketika tiba-tiba Nalendra menghubunginya saat mereka sudah lulus dari SMA. Tidak pernah terbersit dalam pikirannya jika Nalendra mendekati hanya untuk mencari tahu tentang Rania.
Liana selalu bercerita pada Rania jika Nalendra menemaninya menonton, makan, jalan-jalan. Liana tahu Rania putus dengan kekasihnya terdahulu dan mulai menjalin kasih dengan Ergha, teman kuliah Nalendra.
Liana juga selalu meminta Rania untuk memberitahunya tentang Nalendra, jika Ergha bercerita tentangnya.
Liana sangat khawatir ketika pertama kali melihat Nalendra di rumah orangtua Rania, beberapa hari setelah Ergha meninggal. Dia tahu jika Nalendra mendekati Rania lewat Dareen.
Dia tidak pernah menyangka jika Rania juga menyukai Nalendra dan menerimanya menjadi suaminya. Perasaannya hancur mengetahui hal tersebut.
Hari itu, Liana pulang dari rumah Rania dengan rasa marah yang sangat. Begitu sampai di rumahnya, Liana masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras. Bu Ratna yang sedang di dapur pun langsung berlari ke arah kamar Liana yang sudah tertutup. Dia mencoba membuka pintu kamar, tetapi pintu itu terkunci.
"Na, ko dikunci? buka pintunya," ujar Bu Ratna menggedor pintu tersebut, dia sangat khawatir dengan keadaan putri bungsunya.
Suara barang jatuh dan pecah mulai terdengar diantara jeritan Isak tangis Liana dari dalam kamar. Bu Ratna semakin kuat menggedor pintu kamar Liana.
"Kenapa, ayo buka!"
"Buka pintunya, Sayang!"
Kakak sulungnya dan istrinya yang sudah berada di dalam kamar pun keluar mendengar Sang ibu setengah berteriak menggedor pintu. "Ada apa, Mih?"
"Tolong bukain pintu kamarnya. Amih ga tau dia kenapa, Amih takut A," ujarnya pada putra sulung.
Agus menggedor pintu kamar Liana dan berusaha membukakan pintu kamarnya, tetapi tidak berhasil. "Sudah, Mih. Sebaiknya biarkan saja dulu. Agus yakin, nanti dia akan keluar!" Agus tahu persis bagaimana sifat adik bungsunya itu.
"Amih takut, A. Amih takut dia akan nekad!" seru Bu Ratna berderai air mata. "Apa ga bisa kalau didobrak aja pintunya!"
"Dia tidak akan nekad, Mih. Biarkan saja dulu," ujar Agus mencoba menenangkan ibunya.
"Emang dia habis ngapain, ko bisa kaya gitu?" tanya Nadin, istri Agus. dia membopong Bu Ratna duduk di sofa.
"Tadi dia pamit mau jalan ke depan sekalian moyan (berjemur). Amih ga tau dia dari mana, cuma pas pulang ya begitu langsung marah-marah," terang Bu Ratna.
Tidak ada lagi suara benda jatuh atau pecah, hanya ada Isak tangis yang masih terdengar oleh mereka. Bu Ratna dengan setia duduk menunggu pintu kamar Liana terbuka dengan ditemani Agus, sedangkan istrinya melanjutkan apanyang tadi dikerjakan oleh mertuanya dia dapur.
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya pintu kamar Liana terbuka. Dia keluar dengan mata yang bengkak karena menangis. Dia menghampiri Bu Ratna yang sedang duduk menunggunya dan bersandar pada bahunya.
"Alhamdulillah, kamu teh kenapa?" tanya Bu Ratna menepuk tangan Liana yang sedang menggenggam tangan kirinya. "Kalau ada masalah, cerita ka Amih. Jangan kaya gitu lagi, bikin Amih jantungan!"
"Amih, Naha Amih ga cerita ke Liana suami Rania teh Nalendra!"
"Nalendra, Mih," lirih Liana.
"Kamu kenal?"
"Dia yang dulu pernah ngasih oleh-oleh kapal dalam botol tea."
"Oh," jawab Bu Ratna. "Terus kunaon nangis Sagala?"
"Ah, si Amih mah meni ga ngerti!"
"Nya moal ngerti kalau Na' ga cerita mah. Sok cerita, ku Amih didengerin."
Liana terdiam, dia kesal kenapa ibunya tidak mengerti dengan yang sedang dia rasakan.
Esok harinya, Liana ikut solat Ied di mesjid agung kampung mereka. Dia bersama teman-temannya yang lain.
"Tau ga suami barunya Rania?" bisiknya pada Yumna.
"Ranai udah nikah lagi?" Yumna berbalik menatap Liana yang sedang duduk di sampingnya dengan terkejut.
"Masa ga tau!"
"Aku kira Si mama becanda pas bilang dia nikah. Ternyata bener ya!" Liana menjawab dengan mengangguk. "Siapa? ga pernah keliatan di rumah Pak Idris!"
"Sama mantan aku," jawab Liana mulai mengarang cerita.
Yumna tertawa kecil karena takut mengganggu orang-orang yang sedang mendengarkan khutbah Ied. "Bisa aja candanya!"
"Aku ga becanda, aku beneran. Inget ga dulu aku pernah cerita dikasih kapal dalam botol sama temen. Nah itu, Rania nikah sama dia!"
"Katanya mantan, barusan ko bilang temen?"
"Kan masih pendekatan dulu, masih temenan," sergah Liana. "Padahal kan belum setaun suaminya meninggal, ga malu ya udah nikah lagi aja. Mantan aku itu temen deket almarhum suaminya!"
"Yang bener?"
"Bener, sok tanyain sama Rania langsung geura!"
"Ah, malulah. Terus kenapa kamu sama dia putus?"
Liana nampak berpikir, "Entahlah, dia ghosting aku!"
"Aku kira dia ga akan ninggalin aku. Dia hanya bilang ke aku kalau dia kasian liat anaknya Rania, masih kecil udah yatim. Terus lama-lama, Rania selalu nelepon dia minta dia Dateng ke rumahnya, ajakin anaknya jalan-jalan. Ya, pertamanya aku izinkan, toh emang beneran kasian kan ya. Eh, lama-lama malah keenakan!" tutur Liana dengan sendu.
"Masa sih, Rania ga mungkin ngelakuin kaya gitu kali!"
"Jadi maksudmu aku bohong gitu?"
"Bukan, terus udah ditanyain sama mantanmu kenapa putus sepihak?"
"Buat apa, dia udah jadi suaminya Rania!" ujar liana lirih.