
"Kata Bunda, Allah suka sama anak yang bangun subuh dan shalat subuh." Dareen berdiri di tempat tidur melewati Nalendra yang masih terlelap dan turun dari sana.
"Cucu Kakek," ucapnya menggendong Dareen membawanya keluar kamar.
"Mana Nalendra?" tanya Bu Shafira melihat Pak Sulaiman menggendong Dareen, tetapi tidak melihat Sang anak keluar kamar.
"Tuh, masih tidur. Ayah bangunin yang besar, yang bangun malah Dareen!"
"Si ayah mah, bukannya bangunin. Ini udah subuh!" Bu Shafira segera berjalan cepat memasuki kamar yang ditempati Nalendra dan Dareen.
Tidak berapa lama kemudian, Bu shafira keluar dengan diikuti Nalendra yang masih sempoyongan karena baru terbangun.
"Kek, ayo ke kolam. Ini udah pagi, Katanya kemarin aku boleh berenang sama ikan," ujar Dareen mengajak Pak Sulaiman yang baru saja duduk, sehabis pulang dari shalat subuh di mesjid.
"Masih gelap. Nanti kalau udah asa matahari, kalau jam segini masih gelap," terang Pak Sulaiman memegang tangan Dareen.
"Dareen, sini!" Nalendra melambaikan tangan pada Dareen. "Ayo sini, Dareen mau liat perapian ga? Abah Uu punya perapian," ajak Nalendra.
"Perapian itu apa?" tanya Dareen masih berdiri di dekat Pak Sulaiman.
"Ayo, sini. Nanti Om tunjukan!"
Dareen berjalan ke arah Nalendra yang berdiri di pintu ke arah dapur. "Mana per apiannya Om?" tanya Dareen. "Kata bunda ga boleh main api, nanti kebakaran," tutur Dareen.
"Bukan per apian, tapi perapian Jagoan!" Nalendra menuntun Dareen memasuki dapur.
Dareen dan Nalendra duduk di bangku kecil depan perapian. "Itu apa Om?"
"Ini singkong, kita bakar," ujar Nalendra memasukan beberapa singkong ke dalam perapian.
"Kenapa dimasukan ke sana?"
"Biar matang, biar bisa di makan. Dareen suka singkong bakar?" tanya Nalendra. Dareen menggelengkan kepalanya.
"Dareen suka beli keripik ga?" tanya Bu Shafira yang sedang memotong sayuran.
"Suka, Abah suka beliin Dareen keripik. Tapi nanti dimarahi bunda kalau makan kebanyakan," ungkapnya.
"Bunda suka marahi Dareen?" tanya Bu Shafira.
"Enggak, kalau aku banyak makan keripik baru bunda marah."
"Gimana marahnya?" tanya Bu Shafira lagi.
"Katanya aku ga boleh makan banyak keripik, nanti batuk-batuk."
"Oh, jadi bunda marahi Dareen karena suka batuk-batuk ya kalo kebanyakan makan keripik?" Dareen mengangguk pelan.
"Iya, nanti ini nya gatel." Dareen menunjuk tenggorokan pada Bu Shafira.
"Kak, ada ubi nih. Bakar juga," ujar Bu Shafira menyodorkan ubi.
Dareen berdiri mengambilkan ubi dan memberikannya pada Nalendra, "Ubinya dimasukin juga?" tanya Dareen sambil duduk lagi tempat semula.
"Iya, kan biar bisa dimakan. Nanti kalau udah matang Dareen coba makan ubi sama singkong juga, rasanya manis."
Dareen senang bersama Nalendra dan keluarganya, dia senang dapat mencoba hal baru seperti menghangatkan badan di perapian, membakar ubi dan singkong lalu memakannya, diajari membuat mainan oleh Abah Danu.
Matahari mulai naik, udara pun menjadi sedikit lebih hangat. Dareen berdiri di teras rumah, melihat para petani yang sedang bekerja membajak sawah. Musim tanam sudah dimulai, tanah harus dibajak terlebih dahulu menggunakan kerbau. Zaman sekarang banyak yang telah menggunakan traktor, tetapi di kampung Abah Danu masih ada beberapa yang menggunakan kerbau.
"Om, lihat!" seru Dareen dengan riang, menunjuk kerbau yang sedang membajak.
"Ada kerbau ya," ujar Nalendra, Dareen mengangguk dengan semangat.
Dareen langsung berbalik berlari ke arah Abah Danu. "Ayo!"
"Sini Abah Uu tuntun, biar ga jatoh!"
Dareen langsung menyambut uluran tangan Abah Danu dan berpegangan padanya. Mereka bertiga dengan Pak Sulaiman berjalan ke arah Empang, menangkap ikan sekaligus mengajak Dareen.
"Mana Dareen?" tanya Bu Shafira pada Nalendra yang sedang asik berselancar di ponsel.
"Ke Empang, tadi diajak Abah sama ayah," jawab Nalendra tanpa melihat ke Bu Shafira.
"Ikutin atuh, Kak. Gimana sih, malah diem di sini. Masa nyuruh orangtua ngasuh anak. Cepet sana!" titah Bu Shafira.
Nalendra segera beranjak dari tempat duduknya, dia masuk ke dalam rumah untuk menyimpan ponsel serta mengganti celana dengan celana olahraga yang tersedia di lemari kamar depan.
Keluarga Nalendra memang menyimpan baju di rumah Abah Danu, untuk ganti baju mereka jika sewaktu-waktu mereka datang menginap tanpa perencanaan seperti saat ini.
Nalendra melihat Dareen sudah berada di dalam kolam ikan atau Empang. Dia bermain air dengan di pegang oleh Pak Sulaiman. Kolam ikan di sana memang dibuat tidak dalam hanya sebatas paha orang dewasa setinggi Abah Danu.
Nalendra duduk di tepi Empang dengan kaki dimasukan ke dalam air. Air di dalam Empang Abah Danu lumayan jernih, sehingga ikan-ikan terlihat jelas.
"Dareen main sama Om ya," ujar pak Sulaiman yang mulai merasa dingin.
Nalendra pun turun dan mengambil alih Dareen. "Dareen mau nangkap ikan ga?" tanya Nalendra.
"Udah, tuh!" Dareen menunjuk jaring yang berisi ikan di kaitkan di tepi Empang.
"Banyak amat nangkapnya, Yah!" kata Nalendra.
"Iya, sekalian buat dibawa pulang," jawab pak Sulaiman yang sudah duduk di tepi kolam.
"Bawa idup atau dipasak dulu?"
"Paling bawa yang udah dibumbui." Pak Sulaiman berdiri dari duduknya. "Ayah duluan ya. Dareen, Kakek duluan ya, 'kan ikannya harus dibersihkan dulu terus nanti digoreng sama nenek. Dareen mau 'kan makan ikan lagi?"
"Iya," jawabnya yang masih asik menangkap ikan dengan jaring kecil.
"Abah kemana?" tanya Nalendra.
"Tadi bilang mau ke kebun sebentar." Pak Sulaiman berlalu pulang. Nalendra masih harus menemani Dareen yang masih asik bermain menangkap ikan.
Sesuai janji pada Rania, Nalendra dan keluarganya pulang sehabis shalat Jumat. Dareen berjanji pada Abah Idris akan kembali untuk berlibur ke rumahnya, tentu dengan membawa Sang Bunda.
Mereka sampai di rumah orangtua Rania sekitar pukul empat sore.
"Maaf, saya sudah merepotkan Ibu sama Bapak," ucap Rania merasa tidak enak hati.
"Ga perlu minta maaf, justru kami yang harus minta maaf karena Dareen pulang telat." Bu Shafira mengelus lengan Rania.
"Mari, masuk dulu, Pak, Bu!" Pak Idris mempersilahkan orangtua Nalendra.
"Ini, Pak. Ada sedikit oleh-oleh dari Abahnya Nalendra," Pak Sulaiman menyodorkan kantong kepada Pak Idris.
"Oh, haturnuhun. Jadi tambah merepotkan." Pak Idris menerima kantong tersebut.
"Pak, nanti kapan-kapan boleh saya ke sini dengan istri ya. Saya ingin mengajak Dareen jalan-jalan lagi," ujar Pak Sulaiman yang mulai sayang dengan bocah cilik itu.
"Ah, itu harus ditanyain sama Rania. Kalau saya setuju-setuju aja kalau Dareennya mau mah," jawab pak Idris merasa bersyukur banyak yang menyayangi cucunya.
"Assalamu'alaikum," ucap Bu Sekar yang baru pulang. "Eh, ada tamu. Apa kabar Pak, Bu?" tanya Bu Sekar menyalami mereka lalu duduk di samping Pak Idris.
"Alhamdulillah baik, Bu," jawab Bu Shafira. "Ibu mengajar sampai sore?"