
Rania telah bercerita pada mama juga ibu mertuanya tentang dia yang akan mendatangi Liana. Kedua wanita paruh baya tersebut setuju dengan usulnya. Mereka juga berpikir sama dengan Rania, jika seorang ibu sekaligus istri sah memang harus maju ke depan jika ada yang ingin menghancurkan rumah tangganya.
Bu Sekar juga telah berbicara dengan Bu Ratna dan meminta izin padanya agar sang anak dapat diperkenankan berbicara dengan Liana. Tentu saja tempatnya di rumah Liana, tidak mungkin di rumah Rania atau di restoran seperti terakhir kali mereka berkumpul.
Hari Jumat, Rania dan keluarga kecilnya tiba di Bandung. Mereka menginap di rumah orangtua Nalendra. Hari Sabtunya, mereka akan berkunjung ke rumah orangtua Rania.
Pagi itu, Bu Shafira menyuruh Dareen untuk mengajak Daddy-nya berenang. Bu Shafira tahu jika Nalendra tidak mungkin menolak permintaan sang anak. Sedangkan Rania akan pergi ke rumah orangtuanya dengan ditemani Bu Shafira. Dia yang akan menjaga baby Ara selagi Rania pergi ke rumah Liana.
"Ayo sekarang aja, Teh!" ajak Bu Sekar.
"Apa ga kepagian?" Rania sempat ragu, dia merasa tidak enak hati dengan keluarga Liana. Bagaimana pun juga niat mereka ke rumahnya untuk melabrak Liana agar tidak mengganggu keluarga Rania lagi.
"Enggak, ayo!" Bu Sekar sudah berdiri menunggu Rania. "Ini udah jam 10 juga."
"Udah pergi aja sekarang, Teh. Lagian Mama Sekar udah bicara juga dengan ibunya dan diizinkan. Kalau nunggu siang, takutnya Nalendra keburu pulang." timpal Bu Shafira.
"Ibu tidak apa-apa sendiri di sini?" tanya Rania lagi.
"Ga apa-apa, lagian ga sendiri juga. Ada baby Ara juga kan'?"
Rania beranjak dari tempat duduk, diciumnya baby Ara yang berada di gendongan Bu Shafira. "Bunda pergi dulu ya."
"Bu, kita pergi dulu ya." Rania meminta izin pada mertuanya.
"Bu, kita berangkat."
"Iya, hati-hati. Jauhkan benda-benda tajam!" ucap Bu Shafira mengingatkan besannya. Dia teringat cerita mereka tentang Liana yang hendak bunuh diri di restoran saat terakhir mereka berkumpul.
Tidak butuh waktu lama, Rania dan mamanya telah sampai di rumah Liana yang masih lingkungan. Rumah itu nampak sepi dari luar, tetapi pintu depan terbuka menandakan ada orang di rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Rania dan Bu Sekar di depan pagar rumah.
Dari dalam keluar Bu Ratna setengah berlari ke arah mereka, membukakan pintu pagar. "Wa'alaikumsalam, mari Bu, Teh, masuk!"
"Maaf menganggu pagi-pagi," ucap Rania berbasa-basi.
"Ga apa-apa, ayo masuk. Liana ada di kamar, Nanti ibu panggilkan. Duduklah dulu." Bu Ratna mempersilakan kedua wanita beda generasi itu untuk duduk di ruang tamu. Dia pun masuk ke dalam kamar, memanggil Liana.
"Rania, ada apa?" tanya Liana yang tidak menyangka akan kedatangan Rania pagi itu.
"Hai, apa kabar?" tanya Rania sedikit gugup.
"Baik, mana anakmu. Ko ga dibawa?" tanyanya dengan nada datar.
Sudah Rania duga, dia pasti akan menanyakan baby Ara. "Ada di rumah lagi tidur."
"Sok ngobrol berdua, mama di sana sama Amih Liana," bisik Bu Sekar menunjuk kursi yang tak jauh dari ruang tamu. Rania pun mengangguk pelan.
"Teh, ini di minum." Bu Ratna membawakan dua cangkir plastik teh hangat dan diletakannya di meja. Bu Ratna terlalu takut Liana menggunakan cangkir beling untuk menyakitinya ataupun Rania.
"Haturnuhun," ucap Rania.
"Si cantik sama ayahnya?" tanya Liana. Rania tahu siapa maksud temannya itu.
"Oh iya, Aku punya beberapa baju untuk Si cantik, nanti jangan lupa bawa terus pake ya."
Rania tersenyum miris, dia menghela napas pelan. "Na' terima kasih kamu sudah peduli dengan anakku, membelikan banyak baju juga mainan untuknya. Tapi, sebaiknya kamu kasihkan saja ke orang lain, ke anak lain yang lebih membutuhkan. Aku benar-benar minta maaf harus mengatakan ini."
"Kenapa?" tanya Liana tanpa rasa berdosa. "Apa aku harus membelikannya baju untuk usia 5 atau 6 tahun?"
Rania mengernyitkan dahi. "5 atau 6 tahun, maksudmu?"
"Ah tidak, ya kamu sama Nalendra kan menikah saat anakmu usia segitu," ucapnya pelan.
Rania terkekeh kesal. "Na' Nalendra tidak pernah sekalipun mengganggu hubunganku saat aku dengan Ergha dulu. Dia mendekatiku saat aku single!"
"Aku juga tidak menganggu. Aku hanya apa ya namanya ..., ehm, aku hanya sekedar persiapan aja."
"Persiapan jika aku mati gitu?!"
"Aku ga pernah bilang gitu!"
"Tapi perbuatanmu seakan mendoakanku secepatnya mati Na!" gerutu Rania.
"Aku ga mendoakanmu seperti itu. Aku bilang ini hanya persiapan. Bukankah Nalendra juga melakukan hal yang sama denganku?"
"Nalendra tidak pernah membelikan Dareen baju atau mainan. Kami bahkan tidak pernah sekalipun bertemu setelah dia dan teman-temannya menengokku ketika lahiran Dareen dahulu!"
"Tapi suamimu dulu berkontak dengan dia kan?" tanya Liana. "Mungkin saja dia menanyakan kabarmu lewat suamimu!"
"Na' jangan mengharapkan Nalendra lagi. Dia suamiku sekarang!"
"Aku sudah bilang. Aku akan melakukan seperti yang Nalendra lakukan ketika kamu menikah dengan orang lain dulu. Aku cinta sama dia dan aku yakin dia juga cinta sama aku. Bukankah kamu juga menyukainya dari SMA dulu?!"
Rania mengernyitkan alisnya, memandang Liana tajam.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu jika dulu kamu juga menyukai Nalendra!" lanjut Liana. "Jangan munafik, aku tahu semua tentangmu!"
"Iya, memang benar aku menyukainya. Tapi rasa itu sudah aku kubur dalam-dalam dan hilang saat aku memutuskan untuk berhubungan dengan Ergha. Tidak pernah sekali pun aku melirik ke arah Nalendra!"
Hanya beberapa kali, maafkan aku ya Allah. Mungkin inilah akibat lirikanku yang hanya beberapa kali sehingga suamiku dilirik wanita lain! ujar Rania dalam hati penuh penyesalan.
"Benarkah?!" Liana tertawa "Aku tidak percaya. Bukankah dulu kamu memberitahuku tentang Nalendra saat kamu berhubungan dengan suamimu yang dulu itu!"
"Itu karena aku tahu kamu menyukainya!" timpal Rania kesal.
"Iya dan aku masih menyukainya hingga saat ini. Lalu kenapa kamu menikah dengannya, padahal kamu tahu aku sangat menyukainya!"
Rania tertegun, entah dia harus menjawab apa lagi. Haruskah dia juga berkata jujur?
"Karena aku menyukainya dan dia juga menyukaiku. Kamu tahu sendiri aku pun menyukai Nalendra sejak SMA dahulu, tetapi rasa itu aku pendam karena aku tahu kamu menyukainya. Aku memendamnya untukmu, aku memberitahu semua yang aku dengar tentang Nalendra dari Ergha padamu karena aku tahu kamu menyukainya. Tapi, walaupun setelah belasan tahun kamu bahkan tidak sedikit pun bisa membuatnya tertarik padamu! jadi di mana salahku?!" ungkap Rania.
"Harusnya kamu tetap memendamnya sendirian!" Liana setengah berteriak pada Rania. "Harusnya kamu tetap menjanda saja!"
Bu Ratna yang melihat perdebatan mereka berdua pun hendak berdiri ketika Liana mulai berteriak, tetapi dicegah oleh Bu Sekar. "Biarkan mereka menyelesaikannya berdua."