Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 19



"Rania takut dia bukan hanya sekedar nengokin Dareen."


"Takut dia mau godain teteh ya?" Rania tidak menjawab pertanyaan pak Idris. dia terdiam cukup lama.


"Teh, harus berpikiran positif. Mungkin memang benar Nalendra hanya ingin menengok Dareen. Dia mungkin merasa sedih, anak sekecil Dareen sudah tidak mempunyai ayah yang menjaganya."


"Tapi, pak ...," ucap Rania, tidak melanjutkan perkataannya.


"Teh, Bapak liat Nalendra memang tulus sayang sama Dareen."


"Bapak, tau dari mana kalau dia tulus?" tanya Rania.


"Ya, dulu 'kan Bapak pernah ikut jalan-jalan sama Nalendra, waktu dia beliin sepeda buat Dareen. Bapak liat Dareen juga seneng, langsung lengket ma dia. Teh, anak kecil mah masih jernih pikirannya, masih suci, suka lebih tau mana orang yang baik tulus sama orang yang baik cuma pura-pura. Beda sama kita yang kadang banyak berpikir negatif duluan," ucap pak Idris mengingatkan Sang anak.


"Benarkah dia tulus?" batin Rania.


"Udah, ayo ke atas lagi. Jangan cemberut terus, kasian Dareen. Dia senang banget di tengok Nalendra nyampe teriak minta digendong." Rania mengangguk.


"Pak, kalau misalkan dia suka sama Rania gimana?" tanya Rania ragu, dia masih berpikir sikap Nalendra itu seperti ada udang di balik batu.


"Ya ga apa-apa. Jangan kegeeran dulu, biarkan saja. jalani aja apapun yang di depan teteh, ga boleh berpikir negatif duluan. Harus positif!"


"Bapak ga keberatan gitu kalau dia suka sama Rania?"


"Bapak ga keberatan siapapun suka, sayang sama anak Bapak. Bapak seneng, yang Bapak ga seneng itu dengan pikiran teteh yang belum apa-apa udah negatif duluan. Inget Teteh masih masa Iddah. Lagian Nalendra kesininya juga sama Bapak, dia minta izin dulu ke Bapak buat ikut ke sini. Dia juga belum bilang apa-apa soal suka atau apa yang Teteh pikirkan barusan!" Pak Idris begitu gemas dengan pemikiran anaknya yang satu ini.


Saat tiba di kamar tempat Dareen dirawat, Rania terkejut melihat sudah ada mertuanya di sana.


"Bapak, Ibu ko ga bilang Rania mau ke sini?" ujarnya lalu menyalami mereka.


"Iya, Bapak pengen cepat-cepat ketemu cucu, begitu sampe di rumah. Nyampe lupa ga bawa ponsel. Punya Ibu habis masa aktifnya. Alhamdulillah Teteh udah ngasih tau di ruangan berapanya," ungkap Bu Darmawan.


"Teteh, dari mana?" tanya pak Darmawan.


"Dari minimarket, beli beberapa roti sama donat." Rania menyodorkan bungkusan donat pada mertuanya.


"Nak Nalendra, silahkan," ucap pak Darmawan.


Rania langsung melihat Nalendra. Dia bahkan lupa ada Nalendra di sana, dengan posisi yang masih sama menggendong Dareen.


"Dareen, ayo tiduran lagi. Kasian Om nya pegel, gendong Dareen. Dareen kan udah besar, udah berat," ujar Rania yang tidak enak hati pada Nalendra.


Dareen malah memalingkan wajahnya memeluk erat Nalendra.


"Ga apa-apa, mungkin dia bosan tiduran mulu," jawab Nalendra membenarkan posisi Dareen yang melorot.


Pukul tujuh malam, orangtua Nalendra pamit pulang.


"Kami pulang dulu ya. Badan saya rasanya lengket semua, maklum tadi langsung ke sini," ucap pak Darmawan pada pak Idris, tersenyum.


"Kakek pulang ya, Dareen." pak Darmawan memegang tangan Dareen. Namun, Dareen menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nalendra.


"Oma besok sini lagi ya," ucap Bu Darmawan. Dareen langsung berbalik melihat Bu Darmawan.


"Oma, beliin Dareen mobilan warna kuning ya?" pintanya.


Bu Darmawan mengangguk tersenyum. "Yang kaya gimana?"


"Ada ko di Afla, kemaren Dareen liat ada."


"Oh, nanti Oma beliin ya," ucapnya. "Oma pulang ya."


Jadwal kunjungan sebentar lagi berakhir. Pak Idris pun berpamitan pada Rania.


"Bapak pulang sekarang ya," pamitnya pada Rania.


"Iya, besok Bapak ke sini agak siangan aja. Ga apa-apa, istirahatlah di rumah." Rasanya tidak tega membiarkan bapaknya bolak-balik antara rumah dan rumah sakit.


"Nanti Teteh sendirian," kilahnya.


"Ga apa-apa, nanti Rania telepon Bapak kalau ada apa-apa. Rania malah lebih khawatirin Bapak bolak-balik ke sini. Kalau kecapean gimana," ungkapnya.


"Ya udah. Dareen, besok Abah ga ke sini dulu ya. Nanti Abah pasti jemput Dareen pulang," ucapnya. membelai kepala cucu kesayangannya.


"Iya, Abah. Abah, jangan lupa kasih makan Kiko ya," ujarnya sendu.


Kiko adalah ikan milik Dareen, Ergha yang membelikannya karena Dareen sempat menangis meminta ikan seperti ikan milik temannya. Ergha pun membuatkan kolam kecil di teras rumahnya.


"Bapak naik ojek online saja, mobil biar ditinggal di sini aja." Yang masih mengkhawatirkan bapaknya, membayangkan bapaknya menyetir sendirian malam hari.


"Bapak ga bawa mobil," jawab pak Idris. "Bapak 'kan ikut mobil 'Nak Nalendra."


Rania pun mengangguk. "Oh, ya udah ikut Nalendra aja lagi."


"Iya, nanti biar Bapak aku anterin sampe rumah," timpal Nalendra senang.


"Om pulang dulu ya jagoan," ucap Nalendra pada Dareen yang masih duduk di pangkuannya.


Sejak Nalendra datang, Dareen tidak pernah turun dari pangkuannya. Ketika minum obat pun Dareen berada di pangkuan Nalendra.


"Om, besok ke sini lagi 'kan?" pintanya sendu.


"Besok Om harus kerja dulu," jawab Nalendra. Nanti kalau Om libur, Om pasti main ke rumah Dareen. Ngajak Dareen jalan-jalan, tapi Dareen juga harus janji sama Om kalau Dareen harus cepat sembuh," jawab Nalendra.


"Janji ya Om. Kata bunda kalau udah janji harus ditepati. Ga boleh boong, Allah lebih senang anak yang jujur," ucap Dareen.


Nalendra tersenyum. Dia bangga, ternyata Rania benar-benar mendidik Dareen dengan baik. Dia semakin ingin menjadikan Rania istri dan ibu dari anak-anaknya. Nalendra merasa senang dapat langsung diterima oleh Dareen, anak dari wanita bermata cokelat yang selalu mengisi hatinya selama belasan tahun.


Rania menghela nafas. Sejujurnya dia masih merasa tidak suka Nalendra berjanji seperti itu pada Dareen. "Pasti nanti Dareen nanyain dia Mulu," pikirnya.


Nalendra menidurkan Dareen di tempat tidur, lalu membelai kepalanya lembut. "Cepet sembuh ya, Om sedih kalau Dareen sakit. 'Kan kasihan Kiko ga ada yang kasih makan," ucapnya.


"Kan ada Abah yang kasih makan," kilahnya.


"Tapi kikonya rindu sama Dareen," ucapnya.


"Janji ya Om, nanti kalau Om libur main sama Dareen. Om kapan sih liburnya?" tanya Dareen. "Dulu ayah libur hari Sabtu dan Minggu. Kalau Om?"


"Om juga libur di hari Sabtu dan minggu, tapi kadang-kadang Om juga harus kerja keluar kota di hari Sabtu."


"Om, nanti jangan lupa telepon Dareen ya," ujarnya.


Rania langsung menatap tajam Sang anak. "Aduh, kenapa Dareen pake bilang gitu sih!" tetapi tidak digubris Dareen.


"Ayo, cepat tidur. Nanti Abah ga pulang-pulang kalau Dareen ngajak Om Nalendra ngobrol terus."


"Om pulang ya," pamit Nalendra.


"Om, Om telepon bunda ya besok," pintanya.


**


Nalendra tidak berhenti tersenyum. "Dareen, Dareen," gumamnya.


"Kenapa 'Nak?" tanya pak Idris membuat nalendra terkejut.


"Ah, tidak. Dareen lucu ya pak," ujarnya.


"Iya, Sebenarnya Dareen itu tipe anak yang susah didekati. Malahan dulu saat dia umurnya masih lebih kecil dari sekarang, suka takut kalau ketemu orang. Saya juga ga nyangka bisa langsung lengket sama 'Nak Nalendra," ungkapnya.


"Masa sih pak?" kata Nalendra tidak percaya.


"Benar, jangankan sama orang yang tidak dikenal. Sama saudara aja yang jarang bertemu dia akan langsung lari ke kamar, kadang nyampe nangis takut."


"Tapi nih ya, Bapak cuma mau pesan buat sekarang. Bapak minta maaf jika perkataan bapak ini menyinggung 'Nak Nalendra," Ucap pak Idris terdengar serius.


"Nanti kalau mau main ke rumah sebaiknya 'Nak Nalendra telepon dulu ke Rania atau ke saya. Kalau bisa ke saya aja," kata pak Idris berpesan.


"Kenapa?"


"Ya, Rania 'kan masih dalam masa Iddah. Kurang bagus rasanya jika 'Nak Nalendra berkunjung ke rumah Rania. Kecuali kalau ada saya. Walaupun niatnya hanya untuk mengunjungi atau mengajak main Dareen."


"Maafkan Bapak, tapi Bapak harus bilang gini untuk melindungi anak Bapak, Rania dari fitnah," lanjutnya.


"Baik pak, saya paham." Nalendra berpikir sejenak. "Kalau boleh saya mau save nomor Bapak. Biar nanti saya telepon Bapak saja kalau mau datang," ujarnya.


"Terimakasih, 'Nak Nalendra sudah mau mengerti ucapan Bapak."


"Tapi, apa Pacar 'Nak Nalendra tidak marah kalau terus nengokin Dareen?"