Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 9



"Teh, mama mau berangkat. Nanti bentar lagi ada bibi ke sini bantu-bantu buat tahlilan nanti sore. Mama juga udah pesan Kue-kue basah, nanti datangnya jam 9 an kayanya." kata Bu Sekar sebelum berpamitan mengajar. Rania hanya mengangguk mendengarkan semua yang mamanya katakan.


"Oh, iya hampir Weh lupa. Nanti jam 7an si mbak dateng nganterin belanjaan sayuran sareng daging. Kade dagingna keluarin terus masukin hela weh ke kulkas, tar kalau umi udah dateng kasih tau," lanjutnya berdwi bahasa memetakan apa yang harus anaknya lakukan.


Bu Sekar memang mengundang tukang masak untuk memasak di rumahnya, menyiapkan makan untuk tamu yang datang dari jauh. Biasanya di hari ke tujuh banyak tamu dari keluarga, tetangga, ataupun teman yang datang kembali menghibur keluarga yang ditinggalkan. Makanya, Bu Sekar menyiapkan makanan untuk mereka, karena keluarga Ergha bukan dari daerah Bandung.


"Nanti siang ge meren guru-guru ti sakola mama pada ke sini," ungkapnya.


"Iya," sahutnya singkat.


"Pak, Kade cai pesenkeun ka glosir suruh di anterin aja. Jangan ku bapak bisi cape teuing," kata Bu Sekar mengingatkan suaminya.


Pak Idris hanya mengangguk dan tersenyum, "Pagi-pagi meni udah riweh si Ibu mah," gumamnya pada Dareen yang berada di pangkuannya.


Hari ini Dareen tidak ikut ke sekolah bersama neneknya. Entah kenapa dari kemarin dia sedikit rewel. Dia hanya mau di gendong saja oleh Rania dan pak Idris.


"Sayang, makan dulu yuk. Bunda udah beliin bubur nih buat Dareen." rayu Rania.


"Dareen mau susu," pinta Dareen.


"Makan dulu, nanti bunda buatin susu buat Dareen. 'kan susunya juga belum dateng," ujar Rania lembut.


Dareen mengangguk dan beralih pangkuan ke bundanya. Rania membawa Dareen duduk di depan rumah untuk menyuapinya, sekalian melihat bunga-bunga, buah tanam Bu Sekar dan pak Idris.


"Dareen duduk ya di kursi," ucap Rania. "biar bunda gampang nyuapinya, Dareen udah tinggi badannya. Agak susah bunda nyuapinya." rayu Rania lagi.


Riana mendudukan Dareen di kursi depannya dan mulai menyuapi bubur.


"Bunda, ko Om lama banget ya belinya," rengeknya melihat ke arah jalanan di depannya.


"Sabar, nanti juga datang. 'Kan emang baru berangkat Om-nya juga," jawab Rania.


"Kenapa bunda lupa ga bawa susu aku. Coba kalau bunda ga lupa," rengeknya lagi.


Rani tersenyum melihat Dareen merengek. "Jangankan susu, bunda aja serasa ga nginjek tanah waktu pulang kemaren," gumamnya dalam hati.


"Kemarin 'kan emang kita buru-buru ke sininya." Rania mengingatkan kembali ketika dia dan Dareen buru-buru memasukan semua barang yang akan dia bawa ke Bandung.


Dareen tertawa kecil, "Iya nyampe bunda juga lupa ga bawain aku baju tidur," ucapnya terkekeh.


Mereka berdua tertawa mengingat kejadian saat dia mengeluarkan semua baju di travel bagnya mencari baju tidur Dareen. Akhirnya dia meminjam baju tidur milik saudaranya dan menyuruh adiknya membeli baju ke supermarket terdekat.


"Teh, mau ke makam jam berapa?" tanya pak Idris yang menghampiri mereka duduk.


"Gimana bapak aja," jawab Rania sambil menyuapi Dareen.


"Rada siangan aja ya." pak Idris mengusap kepala Dareen lembut.


Dari kejauhan terlihat sebuah motor matic masuk pekarangan mereka.


"Om," teriak Dareen, wajahnya berubah menjadi berseri-seri. "Om, lama banget. Aku tungguin dari tadi, baru dateng. Kemana dulu sih Om?"


Dareen langsung mengomeli Zyan yang datang membawakan susu untuknya.


"Berangkat lagi nih om, kalau Dareen ngomel terus," ujar Zyan memundurkan motornya.


"Siniin dulu susunya, Om," pinta Dareen.


Zyan turun dari motor, memberikan kantong belanjaan pada Dareen yang langsung disambut gembira.


"Cium dulu Om nya dong, 'kan udah dibeliin susu," pinta Zyan.


Dareen meletakan kantong belanjaannya dan melompat ke arah Zyan.


"Makasi, Om." ucapnya mencium pipi Zyan.


"Dareen makan apa?" tanyanya mengayun-ayunkan badan Dareen di pangkuannya.


"Oh, bubur. Om dibeliin bubur ga?"


Dareen menggeleng, "Abah yang beliin." Dareen menunjuk pak Idris.


**


Hampir pukul 9, mereka telah berada di pemakaman keluarga milik keluarga pak Idris. Rania, pak Idris mengaji surat Yassin sedang Dareen dalam pangkuan Zyan memetik beberapa jambu *** dan memakannya setelah di cuci di wastafel yang berada tak jauh dari sana.


Selesai mengaji, Rania medudukan Dareen di pangkuannya. "Sayang, ini makam ayah. Dareen harus rajin ibadahnya dan menjadi anak yang shaleh juga jangan lupa doakan ayah, agar nanti kita berkumpul kembali dengan ayah di surga-Nya Allah."


Rania memeluk Dareen erat, menghela nafas mencoba menguatkan diri.


Ketika kembali ke rumah, keluarga Ergha sudah berada di sana. Pak Darmawan langsung menyambut sang cucu kesayangan dan menggendongnya.


"Gimana kabar teteh?" tanya Bu Darmawan, ibunya Ergha.


"Alhamdulillah, sawalerna?" Rania bertanya balik sambil memeluk Bu Darmawan yang dibalas anggukan olehnya.


Mereka mengobrol hingga adzan Dzuhur terdengar.


Siang itu, rumah orangtua Rania ramai sekali. Tamu silih berganti berdatangan mendoakan mendiang Ergha dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan.


"Assalamu'alaikum," terdengar salam dari arah pintu masuk.


Pak Idris yang telah mengenal Nalendra mempersilahkan nya masuk. Nalendra datang bersama kedua orangtuanya.


"Ini orangtua saya." Nalendra mengenalkan orangtuanya pada pak Idris.


"Oh, silahkan masuk Pak, Bu."


Rania menyalami kedua orangtua Nalendra. Dia beberapa kali bertemu dengan mereka ketika sekolah dulu. Begitu pun dengan orangtua Ergha menyalami mereka.


"Ini bapak dan ibunya Nalendra," ujar Rania mengenalkan orangtua nalendra pada mertuanya.


"Ini orangtua alm. suami saya," ujar Rania pada Bu Shafira dan dibalas anggukan oleh Bu Shafira.


"Maaf, Ibu baru bisa datang hari ini." ucapnya membelai lembut tangan Rania.


"Tak apa, Bu. Haturnuhun udah datang," jawab Rania.


"Ibu kaget ketika mendengar kabar itu dari Nalendra." Rania hanya mengangguk pelan.


"Ibu kenal anak saya?" tanya pak Darmawan tiba-tiba.


"Tentu, Ergha teman kuliahnya Nalendra. teman-teman Nalendra sering main ke rumah bahkan setelah mereka menikah, makanya saya kenal mereka," ungkap Bu Shafira.


"Oh, jadi dulu kalau Ergha nginep di rumah temennya itu di rumah ibu?"


Mereka pun banyak mengobrol tentang kelakuan teman-teman Nalendra yang sering sekali menginap di rumahnya.


"Mereka bahkan sudah tidak segan lagi untuk datang, walaupun Nalendra sedang tidak berada di rumah," ungkap Pak Sulaiman.


Mereka juga bercerita jika Rania dan Nalendra satu sekolah ketika SMA.


"Oh, jadi teteh satu sekolah sama Nalendra?" tanya pak Darmawan dibalas Rania dengan anggukan pelan.


"Bukan hanya satu sekolah, tapi juga satu kelas. Iya 'kan Kak," ujar Bu Shafira menegaskan.


"Ya, mungkin sudah berjodoh. Padahal dulu Ergha itu lulus di UI juga tapi lebih milih kuliah di Bandung, iya kan Bu?"


"Iya," jawab Bu Darmawan.


Dari dalam terdengar suara anak kecil menghampiri mereka.


"Om ... Om ...," teriaknya sambil berlari kearah Nalendra.