
Rania tersenyum melangkah ragu menghampiri Nalendra yang sudah naik ke motornya Kevin. "Ayo!" ajaknya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Rania naik ke motornya dengan posisi menghadap ke samping karena dia berkerudung dan tentu menggunakan rok panjang. Tangan kirinya memegang handle motor dan tangan kanannya mencoba memegang sedikit baju Nalendra.
"Berpeganglah," titah Nalendra sebelum dia melajukan motornya.
Satu kata yang biasa saja, tetapi membuat Rania tersipu dan memerahlah wajahnya. Inilah kali pertama mereka begitu dekat setelah kejadian di depan Mading dulu.
Rumah Nalendra hanya beberapa blok dari sekolah mereka. Jalan kaki pun hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit. Namun, naik motor berdua dengan Rania membuat Nalendra berharap jarak ke rumahnya bertambah.
"Lama amat!" seru Liana yang sudah menunggunya di depan pagar besi putih yang menjulang tinggi, tetapi kau bisa melihat ke halaman rumah Nalendra dari luar pagar.
Nalendra tidak mengindahkan perkataan Liana, dia turun dan membukakan gerbang agar teman-temannya masuk ke rumahnya.
"Sini dulu ya, ngadem," ucap Eri. "Mangganya udah pada gede ya, 'Ndra boleh ga minta mangganya?"
"Ambil aja," jawab Nalendra yang masuk ke dalam rumah dan membawa tikar untuk dia gelar di teras.
Rania duduk melihat sekeliling halaman rumah Nalendra. Halamannya cukup luas dengan pohon mangga yang berada di tengah halaman sisi kanan, di bawahnya ditanami rumput Jepang yang tertata sangat rapi sehingga kau bisa menggelar tikar di atasnya sebagai alas untuk duduk atau rebahan. Bagian kiri dipakai carport yang cukup untuk dua mobil mini bus. Terdapat banyak bunga mawar yang sedang bermekaran berjejer di dekat pintu pagar, bunga anggrek bulan bertengger di ujung dahan mangga.
"Sangat asri," pikir Rania, memperhatikan pot-pot besar berisi tanaman dengan daun yang lebar-lebar.
"Ayo, jumatan dulu," ajak Habib yang baru saja tiba.
Rania berdiri mengambil kresek berisi sayuran yang disodorkan Habib padanya. Dia dan para gadis langsung menuju dapur yang telah Nalendra tunjukan sebelumnya.
"Berasnya udah aku cuci, tuh ada di wastafel," ujar Eri.
Para gadis mulai mengeksekusi semua bahan. Kini tinggal Nena yang sedang memasak, Dini yang membuat sambel dan Rania yang seperti mandor melihat mereka berdua memasak.
"Rania, bisa ambilkan garam," pinta Nena menunjuk tempat garam di sebelah cobek.
Rania menyodorkan tempat garam tersebut pada Nena. "Ini," ujarnya.
Sejam lebih kemudian nasi liwet sudah jadi dengan cah kangkung, tempe dan tahu goreng, sambal buatan Dini dan Ikan asin.
Mereka sudah menggelar daun pisang untuk alas nasi liwet di teras rumah. Mereka duduk mengelilingi daun pisang.
Mereka langsung memakan nasi liwet dengan lahap. "Itu liat Si Arif makannya kaya orang baru liat nasi," Ujar Rezky tertawa.
"Kenapa 'Ndra?" tanya Liana yang melihat wajahnya memerah karena pedas.
"Hahaha ... aku lupa ngasih tau kalau dia ga kuat makan pedas." Rezky merasa iba melihat temannya. "Minum nih!" titah Rezky menyodorkan air minum pada Nalendra.
**Flashback off**
Adzan asar berkumandang, Rania melihat cangkir tehnya yang telah tandas. Dia membereskan semuanya dan masuk ke dalam rumah. Dilihatnya ada beberapa pesan yang Nalendra kirim.
"Makan di luar?" gumamnya. "Bolehkan aku makan di luar dengannya? bagaimana jika ada yang melihat dan salah sangka. Bagaimana jika ...," pikirannya kembali dipenuhi oleh ketakutan akan prasangka orang kepadanya.
"Ayolah, dia hanya seorang teman lama yang sedang menghiburmu Rania," ucapnya meyakinkan diri jika tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Pukul lima sore, Mobil Nalendra telah terparkir di halaman rumahnya. Nalendra asik memberi pakan ikan di kolam teras rumah menunggu Rania dan Dareen bersiap. Nalendra memang menjaga diri agar tidak masuk ke dalam rumah kecuali untuk urusan urgent seperti ke toilet. Dia tidak ingin Rania merasa terganggu atau pun risih karena keberadaannya.
"Ayo, Om." Dareen terlihat sangat segar setelah membersihkan diri dan berganti baju.
"Bunda mana?"
"Ada tuh, bentar lagi juga keluar." Dareen berjongkok melihat ikan yang sedang berebut pakan. "Ikannya nanti Minggu depan mau diambil Om Zyan," ujarnya sendu.
"Oh, mau dipindahin ke Bandung ya?" tanya Nalendra.
"Oh, Abah lagi buat kolam." Nalendra ikut berjongkok bersama Dareen.
Rania keluar dari rumahnya tersenyum melihat dua orang berjongkok di depan kolam ikan. "Jadi berangkat ga nih?" tanya Rania yang mulai bosan dari tadi berdiri di belakang mereka.
Dareen dan Nalendra berbalik bersamaan. Nalendra membulatkan matanya melihat Rania yang tampak anggun dalam balutan dress warna peach.
"Ayo, Om!" Dareen menepuk lengan kekar Nalendra. "Om!" serunya lagi.
"Ah iya, maaf. Ayo!" Nalendra mengusap wajahnya, berharap tidak ada rona merah di wajah yang terlihat.
"Aku mau di depan bunda, boleh?" Rania pun membukakan pintu buat anak semata wayangnya. "Ko bunda ga masuk?" tanyanya lagi begitu Rania menutupnya.
"Mau nutup pagar dulu," jawab Rania singkat.
Beberapa rumah dari rumahnya ada sebuah toko kecil, di sana beberapa ibu sedang berkumpul dan langsung melirik ke arah Rania yang hendak masuk ke mobil.
"Rania, kemana?" teriak Bu Herman.
"Mau keluar bentar, ada perlu," jawab Rania tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.
"Keluar bentar ko gaya banget ya," gumamnya pada ibu-ibu yang lain.
"Aku pernah liat laki itu beberapa kali datang," timpal Bu Leni.
"Dia saudaranya Ergha katanya, Rania dulu pernah bilang pas di toko Bu permata. Dia juga ke sini nya waktu ada bapaknya Rania 'kan?"
"Eh, Bapaknya udah beberapa hari ga keliatan, kayanya lagi pulang ke Bandung. Apa keluarganya ga ada yang ngingetin dia ya, malu gitu di liat orang 'kan belum setaun juga suaminya meninggal!"
"Mereka saudaraan Bu, kalau pun mereka pacaran 'kan ga mungkin Rania duduk di belakang, pasti dia duduk di depan di samping pacarnya!"
"Ah Bu Permata mah ga seru banget. Ya bisa aja nanti di tikungan depan pindah duduknya!" sela Bu Leni.
Mereka asik mengobrol bergosip tentang Rania. Berbeda dengan yang sedang diobrolkan, Rania memang sengaja duduk di belakang agar dia bisa lebih leluasa, lebih bisa menjaga hati dan pikirannya.
"Makan di mana?" tanya Nalendra.
"Dareen mau di mana?" Rania malah bertanya pada Dareen. Rania tetap berpikir jika Nalendra mengajaknya karena ingin mengajak Dareen untuk makan malam, tetapi takut dilarang olehnya.
"Bunda, Dareen mau Ayam bakar yang dulu makan sama Abah," pintanya.
"Oh, baiklah." Rania memberi tahu tempatnya pada Nalendra.
Rumah makan itu terkenal dengan ayam bakarnya yang enak, pengunjungnya pun tidak pernah surut. Apalagi di weekend seperti sekarang, pengunjung beberapa kali lipat lebih banyak dari biasanya.
"Penuh ya?" gumam Rania.
"Mari Mbak, masih ada tempat di atas," ujar seorang pelayan mempersilahkan mereka masuk.
Mereka pun pergi ke tempat yang ditunjuk sang pelayan, tidak seperti di lantai bawah yang menggunakan kursi, di lantai atas mereka menyediakan tempat lesehan outdoor. Banyak lampu bergelantungan menambah indah pemandangan sore hari menjelang malam.
Rania memesankan ayam bakar untuk Dareen dan kwetiau goreng pedas untuknya. "Pesankan aku menu yang sama denganmu," ujar nalendra.
❄️❄️❄️❄️❄️
Hallo the real Readrs ataupun ghost Readrs. Mohon dukungannya dengan like, rate, koment atau hadiahny. Dengan begitu anda telah menghargai karya setiap author. 🥰
Stay safe everyone, see u on next chapter. 👋🥰