Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 148



Rasa bahagia dan syukur tentu dirasakan oleh setiap wanita yang sedang hamil. Kebahagian yang tak bisa terungkapkan hanya melalui kata-kata pun dirasakan oleh Rania. Ini memang kehamilannya yang kedua, tetapi rasa bahagia itu melebihi saat kehamilan pertama dahulu.


Dia lebih bisa menikmati kehamilannya kini, terlebih ketika ingat kata-kata yang diucapkan oleh sahabat masa kecilnya, Liana. Ya, walaupun Liana adalah orang yang siap menghancurkan rumah tangganya, tetapi fakta berkata lain, dia tetaplah sahabat masa kecil Rania.


Liana sempat berkata jika dia akan mengikuti seperti yang Nalendra lakukan ketika Rania menikah dengan Ergha, yaitu menunggunya. Walaupun itu hanyalah sebatas perkataannya saja. Namun, karenanya Rania sangat sadar jika waktu bersama dengan orang terkasih sangatlah berharga. Dia harus menikmati setiap momen kebersamaan mereka karena ajal memang tidak ada yang tahu. Dia lebih memilih bersyukur, menikmati dibanding harus mendengar dan mengkhawatirkan Liana dengan segala tingkahnya.


Kontraksi-kontraksi palsu sudah Rania rasakan sejak beberapa hari yang lalu. Karena ini adalah kehamilan kedua, dia sudah siap dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika muncul kontraksi.


"Kenapa?" Nalendra melihat Rania memegang perutnya, meringis menahan sakit.


"Ga apa-apa, hanya sedikit kontraksi. Nanti juga hilang," jawab Rania berusaha menenangkan Nalendra.


Nalendra menjadi suami siaga, bahkan sangat siaga sekali. Dia selalu memaksa Rania untuk periksa ke dokter setiap kali dia merasakan kontraksi. Namun, selalu Rania tolak karena dia tahu itu hanyalah kontraksi palsu.


"Kita periksa aja ya," bujuk Nalendra, kekhawatirannya terpampang jelas di raut wajah yang dia tunjukan.


"Nanti saja kalau kontraksinya sudah berdekatan. Ini masih sangat jarang, hanya sekali atau dua kali aja, setelah itu hilang." Rania mengelus pipi Nalendra sambil tersenyum, dia tahu lelaki itu sangat mengkhawatirkannya. Namun, memang itu adalah kontraksi palsu dan tidak harus langsung ke dokter untuk memeriksakannya.


"Maafkan aku, aku sangat tidak berpengalaman." Nalendra mulai merajuk.


"Bukan soal pengalaman atau tidak, Sayang. Menurutku itu sangat normal ketika seorang suami yang sangat menyayangi istrinya mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sedang hamil besar. Tetapi, ini hanyalah kontraksi palsu. Kamu ingat kata dokter kemarin, bukankah dia juga bilang minggu-minggu ini akan mulai kontraksi palsu. Dia juga menjelaskan perbedaan kontraksi palsu dan kontraksi asli. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, aku senang," ucap Rania.


"Iya, aku ingat. Tapi tetap saja aku khawatir!"


Beberapa hari telah berlalu, Nalendra masih saja selalu membujuk sang istri jika dia mengetahui kalau Rania merasakan kontraksi. Karenanya, Rania pun lebih memilih menyimpan rasa sakit kontraksinya sendiri dibanding harus bercerita dan membuat lelaki tersebut tambah khawatir.


Namun, malam itu berbeda. Rania beberapa kali terbangun saat tidur, seperti ibu hamil yang lainnya dia menjadi lebih sering buang air kecil. Dua jam lagi waktu subuh tiba, Rania masuk ke dalam kamar mandi hendak berwudhu, tetapi niat itu dia urungkan setelah melihat bercak darah di celananya.


Apa aku harus memberitahu Nalendra? tanyanya dalam hati, melihat suaminya yang masih tertidur pulas.


"Sebaiknya aku tunggu hingga pagi!" gumamnya, dia belum terlalu sering merasakan kontraksi.


Pagi harinya, dia masih mampu menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Rania telah bercerita pada Nalendra tentang bercak darah tadi dan memintanya agar tetap tenang. Dia tidak mau Dareen bolos sekolah gara-gara hal tersebut.


Mereka berangkat ke rumah sakit setelah mengantar Dareen ke sekolah. Rania langsung masuk IGD dan diperiksa oleh dokter kandungannya.


"Sudah pembukaan empat, kami akan segera membawa ibu ke ruang operasi." dokter tersebut segera berpamitan dan pergi setelah meminta perawat menyiapkan ruangan untuk Rania.


Pembukaan adalah proses membukanya leher rahim atau serviks per sentimeter (cm) sebagai jalur lahir bayi saat persalinan atau melahirkan. Proses pembukaan atau yang juga dikenal dengan nama dilatasi menjadi salah satu cara bagi dokter kandungan atau bidan untuk melacak waktu saat ibu melahirkan. Proses pembukaan persalinan biasa dihitung dengan angka 1-10.


"Sayang, jangan lupa jemput Dareen!" kata Rania.


"Iya, tenang saja." Nalendra melihat jam yang melingkar di tangannya. Masih beberapa jam lagi Dareen pulang dari sekolahnya. Dia juga sudah menghubungi keluarga di Bandung sejak pagi, memberitahu mereka jika Rania akan segera melahirkan.


Nalendra meminta kedua orangtuanya untuk secepatnya datang ke Jakarta. Dia juga meminta mereka untuk menjemput Dareen dari sekolah. Lelaki itu takut jika harus meninggalkan Rania sendirian di rumah sakit.


Tidak memerlukan waktu lama dari pembukaan ke 4 sampai pembukaan penuh atau pembukaan 10. Mungkin karena ini yang kedua kalinya, Rania merasa proses melahirkannya begitu cepat. Tidak seperti ketika melahirkan Daren, butuh waktu lebih dari 12 jam dari pembukaan pertama.


Nalendra meneteskan air matanya, diciumi wajah Rania ketika dia berhasil melahirkan buah hati mereka dengan selamat. Rasa haru menyeruak dalam hati ketika melihat putri kecilnya berada di dada sang istri. Tak terbendung limpahan rasa syukur akan kuasa sang ilahi memberinya begitu banyak rezeki dan kebahagiaan.


Ya, Rania melahirkan seorang putri yang cantik dan sehat. Nalendra segera mengadzani putrinya setelah dia dibersihkan oleh perawat.


Tiga jam kemudian, Rania sudah berada di ruang inap. Mencoba menyusui sang anak yang baru lahir.


"Bundaaa!" Dareen berlari ke arah Rania yang berada di ranjang pasien.


"Aa udah dateng." Rania menyapa Dareen yang berdiri di samping tempat tidurnya. Dia memandang ke arah bayi yang berada di pangkuan Rania.


Nalendra yang mengerti langsung memangku sang anak, agar dia bisa melihat adiknya lebih dekat. "Dede, Aa udah dateng. Kenapa dia tidur, Bunda?" tanya Dareen melihat adiknya tertidur pulas sambil menyusuu.


"Dia kenyang, makanya dia tidur. Nanti dia akan bangun kalau lapar atau buang air," terang Rania pada putra semata wayangnya.


"Apa dulu aku begitu?"


"Tentu, Aa juga waktu bayi banyak tidurnya." Rania tersenyum.


"Teh, sini biar ibu tidurkan di box tidurnya." Bu Shafira merasa tak sabar ingin segera menggendong cucunya yang baru lahir.


"Mama Sekar baru keluar tol," ujar Nalendra ketika melihat pesan di ponselnya. Rania pun hanya memberi anggukan pada suaminya.


"Cucu Ibu cantik banget ya. Rambutnya bagus, hitam gomplok (lebat)." Bu Shafira menidurkan bayi tersebut di box tidurnya. Dia memandang lekat bayi tadi sambil terus tersenyum.


"Iyalah, sama kaya rambut Kakak!" timpal Nalendra tersenyum.


"Hei, lagi apa?" tanya Rania yang melihat Nalendra terus mengambil foto putri mereka.


"Buat status," jawab Nalendra sekenanya.


"Jangan diperlihatkan wajahnya. Kalau mau posting tangannya aja atau kakinya!" pinta Rania. Dia masih belum mau membagi wajah sang anak dengan semua orang di dunia Maya.


"Iya, baiklah."


Ponsel Nalendra tak henti berbunyi beberapa saat setelah dia memposting foto sang putri cantiknya. Banyak sekali pesan yang masuk, memberi ucapan selamat juga doa untuk mereka terutama untuk putri kecil dan ibunya.


Teman-teman tongkrongannya pun tak mau kalah. Mereka memposting ulang, story' Nalendra, Ikut merasakan kebahagian temannya itu. Tak terkecuali Liana, dia pun tahu Rania telah melahirkan seorang putri dari postingan teman Nalendra.


"Putriku, akhirnya kamu lahir ke dunia. Tunggu Mama, Sayang. Sebentar lagi kita akan segera berkumpul!" ucapnya, senyuman tersungging di bibir gadis tersebut.