
Bu Shafira bercerita pada Nalendra, jika Rania sudah memberitahunya kalau dia tidak ber-KB lagi. Dia bersikeras ingin segera mempunyai cucu lagi selain Dareen. Cucu kandung anak Nalendra, bukan cucu bawaan.
Bu Shafira juga meminta Nalendra agar menjaga kesehatan agar mereka cepat di beri momongan.
"Kak, Rania kan lagi menstruasi tuh, nah bentar lagi masa suburnya. Yang semangat bikinnya. Jangan lupa jaga kesehatan ga boleh terlalu lelah, biar bagus bibitnya!"
Nalendra tersenyum malu mendengar nasihat dari Ibunya. Dia malu sekali membicarakan masalah ranjang dan bibit, seperti hendak menanam saja.
"Bu, apa aku lebaran di Singapore aja gitu ya?" Tanya Nalendra.
"Maksudnya bagaimana, Kak. Kakak kenapa ga mau lebaran di sini?"
"Kata Ibu tadi disuruh semangat buatnya. Ya Nalendra 'kan kerjanya lagi di Singapore. masa iya harus pulang tiap hari!"
Bu Shafira nampak berpikir, "Bener juga ya, Kak. Kakak lagi LDR ya, tapi kan bentar lagi juga pulang lagi ke sini. Lebaran di sini, buat di Indonesia aja. Rania kan baru kemaren dapetnya. Kemungkinan Minggu depan, pas kakak lagi liburan hari raya masa suburnya. Nah gempur deh langsung, tapi jangan terlalu kelelahan, ga baik juga!"
"Tadi disuruh gempur, terus bilang jangan kelelahan. Gimana sih ibu ini, jadi gempur enggak?" tanya Nalendra terkekeh.
"Apa yang digempur, Kak?" tanya Pak Sulaiman, bergabung duduk di ruang tv dengan anak dan istrinya.
"Tau tuh Ibu," jawab Nalendra sekenanya. Dia merasa malu jika harus menjelaskan pada ayahnya.
"Ibu lagi ajarin Nalendra memanfaatkan waktu, biar cepat dapet momongan," jawab Bu Shafira.
"Ibu ini, baru juga mereka nikah. Santai aja, Bu. Kalau sudah waktunya juga nanti dikasih," ucap Pak Sulaiman.
"Ish, Ayah ini. Ya harus diusahakan dari sekarang dong, umur mereka kan sudah 30 tahun. Dareen juga sudah besar, sudah cukup umur untuk punya adik lagi. Iya 'kan, Kak?" kata Bu Shafira mencari dukungan.
"Biarkan mereka menikmati pengantin baru dulu, Bu."
"Ah, Gimana sih Ayah. Sekalian menikmati, sekalian usaha juga." Bu Shafira nampak kesal. "Jangan kaya Ibu, dinanti-nanti. Eh, malah kebablasan. Makanya Nalendra dan Alaric jauh banget beda usianya!"
"Tenang, Bu. Kali ini, Kakak akan menuruti kemauan Ibu. Kakak pasti usaha terus, tapi Ibu juga berdoa karena Allah lah yang Maha Memberi, Maha Menentukan!" Nalendra berusaha menenangkan Sang Ibu yang terus berdebat dengan suaminya.
"Teh, sini ... duduk sini!" Bu Shafira memanggil Rania yang hendak ke kamar Dareen.
"Ada apa, Bu?" tanya Rania agak was-was melihat mereka berkumpul seperti hendak mengintrogasinya.
"Teh, Teteh kemarin bilang sama ibu 'kan kalau Teteh ga akan menunda ngasih adik buat Dareen?"
"Ehm, i-iya. Kenapa?" wajah Rania langsung merona, dia merasa malu ditanya di depan Pak Sulaiman.
"Tuh, benar 'kan Yah. Rania juga sama dengan Ibu," ujar Bu Shafira pada suaminya.
Rania melirik Nalendra, meminta penjelasan darinya.
"Ga apa-apa, cuma tadi Ibu semangatin aku buat gempur kamu," Ujar Nalendra polos.
"Apa?" wajah Rania sudah memerah seperti tomat, rasanya malu sekali. Apalagi melihat Nalendra yang tersenyum cengengesan, menggodanya.
**
"Ziz, apa tiketnya sudah kamu pesan?" tanya Nalendra pada Aziz lewat sambungan telepon.
"Belum, Pak. Saya menghubungi untuk bertanya, Bapak mau ikut penerbangan yang kapan?" jawab Aziz.
"Kalau malam ada yang jam berapa, kalau besok yang paling awal jam berapa?"
"Kalau besok pagi, setengah 6 berarti nyampe sana pukul 8 lebih ya. Kalau jam 10 malam nyampe sana hampir pukul satu dini hari," ujar Nalendra memetakan.
"Jadi, Bapak mau ngambil yang pukul berapa?"
"Ziz, Senin besok, apa ada meeting pagi?" tanya Nalendra.
"Tidak ada, Pak."
"Kalau begitu, saya ngambil yang besok pagi saja. Tolong kamu jemput saya di Bandara," titah Nalendra. "Kalau begitu terima kasih." Nalendra mengakhiri teleponnya.
Besok pagi, pikir Nalendra, sambil mengetuk-ngetuk ponsel ke dahinya.
Nalendra segera mencari Rania. "Rania ...," panggil Nalendra. "Sayang ...."
"Apa?"
"Nanti habis asar kita ke Jakarta. Besok antar aku ke Bandara, aku terbang pukul setengah 6. Kita menginap di apartemen saja."
"Tapi, Dareen?" Rania merasa tidak enak hati jika harus selalu menitipkan Dareen pada orangtuanya ataupun mertuanya.
"Bawa saja. Aku janji mengajaknya jalan-jalan. Lagian kita belum pernah tinggal satu rumah bertiga, pasti seru!"
"Terus nanti kalau kamu ke Singapore lagi, aku dan Dareen bagaimana?
"Ya kamu bisa menungguku di apartemen. Lagi pula dalam beberapa hari ke depan, aku akan pulang kembali ke Indonesia."
"Baiklah, tolong pintakan izin pada keluargaku juga keluargamu."
"Baiklah, aku akan menghubungi Pak Idris dahulu. Kalau orangtuaku pasti mengizinkan. Tenang saja," ucap Nalendra.
Sore itu sehabis asar, Nalendra benar-benar memboyong Rania dan Dareen ke Jakarta. Dia merasa lebih santai karenanya. Tentu setelah mendapat izin dari orang tua Rania dan Nalendra. Bahkan, Bu Shafira berdoa agar Rania segera selesai haid nya.
Nalendra mengajak Rania dan Dareen untuk naik kereta api. Dareen sangat antusias naik kereta. Sepanjang jalan,dia selalu berceloteh tentang berbagai hal yang ada di pikirannya.
Mereka sampai pukul 17.55 WIB di stasiun Gambir. Stasiun gambir merupakan salah satu stasiun terbesar yang ada di Indonesia. Berlokasi tepat di sebelah timur Monumen Nasional (Monas) membuat salah satu bangunan ikonik kota Jakarta ini menjadi pusat transportasi.
Terdapat beberapa gerai makan ayam terkenal di sini, salah satunya melayani 24 jam. Gerai makanan lain pun ada, seperti, gerai mie, gerai bakso, Makanan Nusantara, Chinese hingga western.
"Ayo, udah masuk waktu buka!" Nalendra mengajak istri dan anaknya ke salah satu franchise Jepang yang terkenal.
Rania segera mengantri memesan, sedangkan Nalendra dan Dareen mencari tempat duduk yang masih kosong. Hari ini stasiun sudah mulai padat oleh arus mudik dan tempat makan di dalam stasiun pun ramai dikunjungi di waktu berbuka.
"Dareen, tunggu sebentar di sini. Daddy mau bantu bunda ngambil makanannya." Dareen mengangguk setuju, Nalendra segera membantu Rania membawa pesanan mereka. Tentu sesekali pandangannya tertuju pada Dareen, memastikan dia baik-baik saja ditinggal sendirian.
"Ini Makananmu," Rania menyiapkan makanan untuk Dareen. Dia sudah terbiasa makan sendiri, tidak disuapi lagi. "Paket mainannya habis, jadi Bunda pesankan yang biasa aja."
Rania juga segera menyiapkan makanan untuk Nalendra, dia mengambil eggroll dan menukarnya dengan shrimproll.
"Makasi, Sayang," ucap Nalendra.
Mereka makan dengan khidmat, sesekali Rania mengelap bibir Dareen.
"Maaf, Pak Nalendra 'kan?" Seorang wanita cantik dengan memakai pakaian casual berdiri di samping Nalendra.