Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 107



Setelah solat asar, Nalendra dan Alaric membantu menaikan koper dan bawaan yang akan dibawa orangtuanya mudik ke dalam bagasi. Bu Shafira dan pak Sulaiman masih bercengkrama dengan Dareen, seakan mereka tidak ingin jauh dari cucunya.


"Dareen ikut Nenek, ya." Bu Shafira merayu cucunya. "Kak, Dareen ikut duluan ajalah ya sama Ibu. Besok juga kan Kakak sama Teteh nyusul ke Garut."


"Jangan, Bu. Kasian pak Idris sama Mama Sekar juga pengen ketemu dulu sama dia. Apalagi kita mau lebaran bareng Ibu di Garut."


"Iya, Bu. Mereka juga sama kaya kita pengen deket terus sama Dareen!"


"Besok jangan terlalu sore berangkat dari sininya. Macet!"


"Iya, aku usahakan berangkat siang."


Setelah orangtuanya berangkat, Nalendra dan Rania pun pergi ke rumah orangtua Rania, tentu Dareen pun ikut bersama mereka. Sama seperti orangtua Nalendra, orangtua Rania pun langsung menyambut cucunya terlebih dahulu baru ke anak dan mantunya.


"Teh, jadi lebaran dimana?" tanya Pak Idris memastikan.


"Saya mau minta izin ngajak Rania dan Dareen berlebaran di Garut bersama keluarga saya," ucap Nalendra segera.


"Oh, ga perlu minta izin atuh A. Apanan Teh Rania udah jadi istri Aa, harus ikut aa kemanapun. Ga perlu lagi minta izin Bapak." Pak Idris menepuk punggung mantunya. "Bapak titip Teteh sama Dareen, ya."


Nalendra tersenyum, "Iya, Pak. Tenang saja. Kami berangkat besok siang. Tapi, besok pagi ke sini dulu ko, kami mau ziarah ke makam Ergha."


Rania melirik Nalendra, dia malah lupa harus berziarah ke makam ayah Dareen. Nalendra tersenyum dan mengangguk pada Rania yang memandangnya.


Pak Idris hanya mengangguk, dia tahu mantunya pasti tidak akan melupakan Ergha, sahabatnya yang telah meninggal itu. Rasa syukur yang dia rasakan kian bertambah karenanya.


"Malam ini Teteh mau nginep ga?" tanya Bu Sekar. "Seprei nya belum dipasang."


"Kayanya pulang, Rania belum beresin baju buat besok."


"Dareen biar nginep di sini dulu aja. Teteh kan besok ke sini lagi, jadi biar dia di sini," ucap Bu Sekar. "Dareen nginep di sini ya, Ibu sama Abah kangen. Besok kan Dareen mau ke rumah Abah Uu, Ibu sama Abah ditinggal lagi." Dareen mengangguk setuju.


"Dareen mau nginep di sini?" tanya Rania memastikan. "Bunda sama Daddy mau pulang ke rumah kakek. Ga apa-apa sendiri di sini?"


"Iya, Dareen mau tidur sini aja!"


"Ya udah, besok pagi Daddy jemput lagi ya?" Dareen mengangguk kembali.


"Teh, mau nengok Liana dulu ga? dia baru pulang tadi siang. Mama juga belum nengokin. Kalau Teteh mau sekarang aja, yuk!" ajak Bu Sekar.


Rania melirik Nalendra meminta persetujuannya. "Iya, boleh. Aku sini aja ya, ga ikut," ujar Nalendra. "Kalau ikut nanti dia tambah sakit!" bisiknya.


Rania menepuk keras paha Nalendra hingga dia mengaduh dan tertawa kecil. "Dasar!"


"Dareen mau ikut ga nengok Tante?"


"Enggak!" jawabnya langsung menarik Pak Idris ke kolam ikan.


"Aku pergi dulu ya." kata Rania dijawab anggukan oleh Nalendra.


"Mama ngambil kerudung dulu." Bu Sekar masuk ke kamarnya. "Teh, kita ke sana ga bawa apa-apa?"


"Ya, bawa apa? orang dadakan. Rania ga tau kalau mau nengok sekarang. Apa kita beli kue dulu ke depan?"


"Iya, beli ke depan aja gih sama Aa!" seru Bu Sekar.


Kurang dari setengah jam kemudian Rania dan Bu Sekar berjalan kaki ke rumah Liana. Rumah Liana tidak terlalu jauh dari rumah mereka, dengan berjalan kaki pun hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.


"Assalamu'alaikum," ucap Rania depan pintu rumah Liana yang terbuka.


"Eh, wa'alaikumsalam. Masuk, panya teh saha!" Bu Ratna mempersilakan Bu Sekar dan Rania masuk. "Ayo duduk."


"Teh, masuk aja ke kamar. Dia masih lemas katanya," titah Bu Ratna pada Rania.


Rania pun beranjak dari duduknya, segera masuk ke kamar Liana. Dilihatnya dia terbaring lemas di tempat tidur. Senyum yang dipaksakan mengembang di wajahnya yang pucat.


"Hai, Na' gimana keadaannya?" tanya Rania duduk di sebelahnya.


"Beginilah, lemes banget," jawab Liana tersenyum kecut.


"Maaf, baru bisa nengok," ucap Rania. "kata dokter kenapa, cenah?"


"Ga apa-apa, aku tau kamu sibuk. Entahlah, mungkin Allah nyuruh aku istirahat." Liana terdengar sedikit ketus.


Mereka terdiam mendalami pikiran masing-masing. Sebenarnya Liana enggan mengobrol dengan Rania, dia masih merasa kesal pada temannya itu.


"Kemarin kamu kemana?"


"Aku? aku kemaren di Jakarta." Rania berusaha jujur.


"Oh, sama suamimu?" tanyanya ketus.


Rania mengangguk, dia memang kemarin bersama Nalendra di Jakarta, pikir Rania. Liana menyunggingkan senyum, Hatinya sedikit terkuris dengan jawaban Rania.


Bukan, bukan Nalendra. Dia bilang akan berangkat lagi ke luar negeri setelah acara kemarin. Berarti bukan Nalendra! batin Liana berusaha menguatkan diri.


"Kamu baru datang hari ini?" Rania mengangguk kembali.


"Na' mau minum?" tanya Rania yang mendengar suara Liana seperti tercekat.


Rania segera mengambilkan air minum di atas meja kerjanya dan meminumkannya kepada Liana. "Na' aku pulang dulu ya. mungkin besok atau nanti setelah lebaran aku ke sini lagi. Baik-baik ya, cepat sembuh," Ujar Rania.


"Iya, makasi udah datang," jawab Liana lirih.


Rania dan Bu Sekar segera kembali ke rumah karena sebentar lagi Adan magrib berkumandang.


Rania dan Nalendra pulang setelah solat teraweh, tanpa Dareen. "Berdua lagi kita," ujar Rania begitu sampai di rumah orangtua Nalendra.


Nalendra tersenyum dan menggenggam tangan Rania. Dia menuntunnya masuk ke dalam rumah, seperti sepasang pengantin baru yang malu-malu.


"Ndra, lapar ga?"


"Enggak, tadi kan udah makan di rumah Mama." Nalendra melirik Rania, "kamu lapar?"


"Enggak. Ndra, mau nonton ga?"


"Nonton apa?"


"Apa aja yang seru. Streaming aja di inet, biasanya banyak nontonan seru!" Rania ingat, dahulu dia sering menonton streaming ketika Dareen sudah tertidur. "Aku mau ganti baju dulu."


Rania pergi ke kamar mereka meninggalkan Nalendra sendirian di ruang keluarga. Dia ingat, Bu Shafira memberinya sebuah totebag sebelum dia berangkat mudik. Dilihatnya isi totebag tersebut.


"Ya Allah, lingerie," ujar Rania melihat lingerie yang sangat bagus, kainnya begitu halus. Namun, transparan dan cukup terbuka. "Apa aku harus memakainya sekarang?"


Dia pergi ke walk-in closet untuk mencoba lingerie tersebut. Dia tidak mau berganti di luar, takut nanti tiba-tiba Nalendra masuk dan melihatnya, pasti akan malu sekali.


Rania memakai lingerie, benar-benar transparan. Pakaian dalamnya terlihat jelas dan sebagian besar tubuhnya juga terekspos.


Jantung Rania berdegup lebih dari normal ketika dia memutuskan akan memakainya. Dia berjalan keluar dari kamarnya dan turun ke ruang keluarga. Nampak Nalendra sedang menyenderkan kepalanya ke bahu sofa sambil memejamkan mata.


Rania sedikit cemberut melihatnya, Apa aku harus balik lagi berganti pakaian? pikirnya.