
Sabtu pagi yang cerah, Nalendra bersiap untuk bersiap untuk pulang ke Indonesia. Jadwal penerbangannya pukul 09.30 waktu Singapore menggunakan maskapai milik pemerintah Singapore.
Dia mengepak beberapa oleh-oleh untuk istri dan anaknya juga untuk orangtua dan mertuanya. Rasanya tidak sabar ingin segera sampai di rumah, Itulah yang Nalendra rasakan.
"Pak, mari saya antar ke Bandara." Aziz sudah bersiap di depan pintu kamar Nalendra menunggunya. "Biar saya yang bawa," ujar Aziz mengambil alih koper dari tangan Nalendra.
"Kamu yakin ga mau pulang denganku sekarang?" tanya Nalendra. "Aku yang akan membeli tiketnya, PP," tambahnya.
"Tidak, Pak. Nanti saja Minggu depan, sekalian libur hari raya," jawab Aziz tersenyum.
Hari raya tinggal satu minggu lagi, mereka akan mendapat libur selama satu minggu. Bukan hanya masalah tanggung sebentar lagi libur panjang, tetapi Aziz mempertimbangkan biaya yang akan dia keluarkan untuk membeli tiket, berkali lipat dari harga normal. Ya, harga tiket menjelang hari raya selalu naik beberapa puluh hinga seratus persen dibanding hari biasa.
Aziz mengantarkan Nalendra ke bandara Changi airport. Bandara ini termasuk pusat penerbangan kelas dunia yang telah dikenal sebagai destinasi wisata tak terlupakan. Dengan beragam penghargaan yang diraihnya, Bandara utama Singapura ini menawarkan beragam aktivitas menarik, mulai berbelanja dan bersantap hingga hiburan.
Bandara ini terdiri atas empat terminal dan Jewel Changi pusat gaya hidup. Ditiap lantainya yang secara apik menghubungkan Terminal 1, 2, dan 3, serta menggabungkan keindahan seni, arsitektur, dan alam dalam ruang yang sama.
Nalendra berjalan masuk terminal dua keberangkatan. Terminal lumayan padat karena banyak orang yang akan berlibur atau pulang ke negara Asia tenggara lainnya lebih awal, mengingat hari raya tinggal satu Minggu lagi.
Sesuai jadwal, pesawat yang membawa Nalendra pulang ke Indonesia take off pukul 09.30 waktu Singapore. Nalendra menempuh perjalanan selama 1 jam 45 menit . Berhubung perbedaan waktu satu jam lebih cepat di singapore, Nalendra tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 10.15 waktu Indonesia barat.
Terminal di Bandara internasional Soekarno-Hatta lebih padat dari pada di Bandara Changi, sepertinya banyak yang akan mudik lebih awal. Nalendra menggulir ponselnya dengan cepat, melihat jadwal kereta terawal dari Bandara.
Nalendra berlari mengejar kereta yang sebentar lagi akan jalan. Akhirnya dia naik kereta pukul 10. 49 dari Bandara tujuan akhir stasiun Manggarai dengan napas tak beraturan karena berlari.
Nalendra keluar dari stasiun Manggarai dan naik ojek online ke stasiun Gambir untuk mengejar kereta yang berangkat pukul 12.30 tujuan akhir Bandung.
Perjuangan yang tidak sia-sia, Kini dia duduk lemas di dalam kereta yang akan membawanya ke Bandung. Dia tertidur pulas karena kecapean mengejar waktu.
"Pak, sudah sampai," ujar salah seorang Prama, petugas pramugara di kereta api. Dia menepuk lengan Nalendra pelan.
Nalendra mengerjapkan mata pelan. "Ah, sudah sampai ya. Terima kasih," ucapnya. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Setengah empat," ujarnya menghela napas.
Nalendra segera keluar dari kereta, pergi ke musholla stasiun Bandung untuk beribadah solat asar dan melanjutkan perjalanan kembali, pulang ke rumah orangtuanya. Dia tahu Rania dan Dareen menginap di sana sampai hari Minggu besok.
"Daddy," teriak Dareen yang sedang bermain air di halaman begitu melihat Nalendra membuka pintu pagar rumah.
Dareen mengubah panggilannya untuk Nalendra. Nalendra sendiri yang meminta Dareen memanggilnya Daddy saat dia dan Rania resmi menikah.
"Hallo jagoan!" Nalendra merentangkan tangannya melihat Dareen berlari ke arahnya, tidak memperdulikan baju Dareen yang basah.
"Kak, pulang ko ga bilang dulu. Apa Rania tahu?" tanya Bu Shafira melihat sang anak tiba-tiba berada di halaman rumahnya, Rania tidak berkata apapun padanya soal kepulangan Nalendra.
"Tidak, aku sengaja ingin memberi kejutan untuk kalian."
"Tapi Rania ga ada. Dia pergi ke reuni sekolah," kata Bu Shafira memberitahu Nalendra.
"Iya, aku tahu. Ini aku juga mau pergi, mau mandi dulu. Daddy mandi dulu, boleh?" tanyanya menurunkan Dareen dari pangkuannya. Dareen mengangguk mengerti, lalu berlari kembali ke tempat semula bermain air.
"Dareen, Daddy berangkat ya. Cepat mandi nanti masuk angin!" titahnya pada Dareen.
"Daddy mau kemana?"
Nalendra menghampiri Dareen, berjongkok mensejajarkan diri dengannya. "Daddy mau jemput bunda," ujarnya tersenyum.
"Bunda ada acara dengan temannya, aku ga ikut, soalnya mau ikut kakek ke mesjid. Kakek, nanti kita ngapain di mesjid?"
"Buka bersama," jawab Pak Sulaiman.
"Iya, itu buka di mesjid. Daddy mau ikut?"
"Daddy 'kan mau jemput bunda, jadi ga ikut dulu ya." Nalendra melihat Dareen mengangguk. "Nanti Daddy ajak Dareen jalan-jalan kalau Daddy libur lama."
"Bener, ya. Janji," ucap Dareen berbinar.
"Janji."
Nalendra berangkat ke restoran tempat acara buka bersama. Tempatnya sudah di share di pesan grup, dia tidak perlu lagi bertanya. Dia tiba di restoran hampir pukul 6.
Nalendra masuk ke dalam restoran yang sudah penuh dengan pengunjung. Dia bertanya pada waiters di lobi restoran tempat reservasi atas nama temannya.
Nalendra berjalan cepat ke tempat yang ditunjukan tadi. Dia melihat teman-temannya sedang bersenda gurau. Matanya dengan cepat menemukan Rania yang sedang duduk di samping laki-laki berbadan tinggi kurus, membelakanginya.
"Assalamu'alaikum," sapa Nalendra. Nalendra masuk ke dalam saung tempat mereka duduk lesehan.
Mereka yang ada di sana melihat ke arah sumber suara dan tertegun. Berbeda dengan Rania yang tidak menoleh, dia hafal suara itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih dari biasanya, dia ingin menoleh ke arah sumber suara, tetapi takut jika orang yang datang bukanlah yang ada di pikirannya.
"Akhirnya datang juga," kata Liana membuyarkan semua yang ada di sana. Dia bergeser duduknya sedikit dan menepuk tempat kosong di sebelahnya, berharap Nalendra duduk di sana.
Nalendra tersenyum, dia mendekati Habib Putra dan memintanya bergeser sedikit. Nalendra duduk diantara Habib Putra dan Rania. Dia tidak rela Rania duduk bersebelahan dengan pria lain.
Rania melirik Nalendra sebentar dan sedikit bergeser dari tempat duduknya.
Adan magrib berkumandang, semua berdoa dan meminum minuman di depannya. Rania membuka botol air mineral di depannya dan menggesernya ke arah Nalendra. "Minumlah, hari ini aku ga puasa," ujar Rania setengah berbisik.
"Rania kalian minum satu botol berdua?" tanya Retno yang berada di depannya. Dia tahu Rania memberikan air minumnya pada Nalendra.
"Oh, aku kebetulan sedang bulanan. Jadi biar buat dia aja. Lagian kasian dia belum pesan apapun kayanya. Aku ada milkshake cokelat," ujar Rania sambil menggoyangkan sendok di gelasnya hingga berdenting.
Nalendra merapatkan diri ke Rania, tangan kanannya dia letakan di belakang Rania, terlihat seperti menyender. "Aku merindukanmu," bisik Nalendra membuat wajah Rania merona.
"Awww," ujar Nalendra.