
Keluarga Darmawan masih memikirkan kejadian Jumat lalu. Mereka kedatangan orangtua Rania, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pak Idris memberitahu sekaligus mengundang keluarga Darmawan ke acara pernikahan Rania dan Nalendra, yang akan diselenggarakan di mesjid dekat kantor urusan agama setempat.
Walaupun mereka telah menduga hal itu akan terjadi, tetapi mereka tidak menyangka jika akan secepat ini.
Perasaan mereka tentu saja senang. Bagaimana tidak, Mantu pertama mereka yang telah menjanda akan menikah. Namun, dibalik itu semua tetap ada kesedihan yang terselip. Terbersit perasaan tidak rela mantunya menikah lagi, padahal anak mereka belumlah genap satu tahun meninggal.
"Jangan melamun!" seru Bu Darmawan yang baru datang dan ikut serta duduk mengambil angin sore.
"Bu, rasanya Bapak belum rela Rania nikah lagi!"
"Enggak boleh begitu, Pak!" sergah Bu Darmawan. "Relakan, ikhlaskan. Allah yang ngatur jodoh seseorang!"
"Bapak sudah berusaha untuk berpikir ikhlas, tapi Aa Ergha belum juga genap setahun tapi udah mau nikah lagi!" keluh pak Darmawan.
"Pak, Allah yang mengatur segalanya. Bapak tidak boleh tidak rela dengan sesuatu yang sudah diatur oleh Yang Maha Pemilik. Kasian Teh Rania kalau Bapak punya pemikiran seperti itu." Bu Darmawan berusaha memberi pengertian pada suaminya. Dia mengerti kenapa dia sampai begitu. "Kita harus mendukungnya, agar dia juga bahagia dengan pilihannya. Ingatlah ada Dareen yang harus Teh Rania jaga," lanjutnya mengusap punggung Sang suami.
"Benarkah dia mau nikah lagi?" Tanya Febri dengan suara yang lumayan tinggi. "Bagaimana bisa, apa dia tak punya hati!"
"Febri!" seru Bu Darmawan.
"Kenapa, emang benar 'kan? kalau dia punya hati, dia tidak akan menikah secepat itu!" sergahnya pada Bu Darmawan. "Apa dia tidak merasa bersalah pada Ergha, sudah mengkhianatinya!"
"Siapa yang berkhianat, Rania tidak pernah mengkhianati siapa pun. Jodoh Allah yang ngatur!" kata pak Darmawan dengan nada tinggi juga berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Bapak sama Ibu sama saja terus belain wanita itu, lama-lama ngelunjak tuh orang. Apa Bapak ga ngerasa dia mulai berani dengan ngambil semua asuransi Ergha, sekarang malah mau nikah!"
"Asuransi apa, itu memang haknya dia dengan Dareen!"
Pak Darmawan tidak mengerti, kenapa putrinya selalu mempermasalahkan asuransi kakaknya yang jatuh ke ahli warisnya.
"Dareen? alasan!" sergahnya lagi. "Heran mau-mau nya dibohongi terus!"
Bu Darmawan terdiam, helaan napas berulang kali dia lakukan, berpuluh-puluh kali dia berpikir tetap tidak ingin mempercayai putri semata wayangnya dapat berbicara kasar seperti itu. Febri berbeda sekali dengan Ergha. Walaupun seorang perempuan, dia berani berteriak pada orangtua.
Pak Darmawan terduduk begitu Febri pergi, sambil mengumpat mereka. Dadanya serasa sesak kekurangan oksigen. Entah salah siapa sampai dia mempunyai perangai seperti itu.
**
Seminggu telah berlalu, Nalendra masih disibukan dengan pekerjaan meskipun besok adalah acara penting dalam hidupnya.
"Pak, ayo saya antar ke stasiun!" Aziz telah diwanti-wanti Bu Shafira agar mengantarkannya ke Stasiun dan memastikan keselamatan Si putra sulung.
Bu Shafira tidak mengizinkan Nalendra kembali ke Jakarta dengan menyetir mobil sendiri. Dia menyuruhnya untuk naik kereta menjaga keselamatan sebelum hari H.
Nalendra sempat bersitegang dengan sang Ibu ketika dia akan berangkat ke Jakarta. Dia beralasan jika Pernikahannya Sabtu mendatang hanya untuk meresmikan. Dia sudah menikah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Namun, melihat Bu Shafira yang bersikukuh dengan pandangannya, dia pun menurut.
"Nanti sebentar, aku perlu melihat beberapa dokumen lagi."
Aziz menghela napas, dia tahu Nalendra seorang yang bertanggung jawab. Dia tidak akan mungkin meninggalkan pekerjaannya, kecuali ada hal mendesak.
Nalendra tiba di stasiun tepat 10 menit sebelum keberangkatan jadwal keretanya. Dua jam kemudian dia tiba di stasiun Bandung dan merengut ketika tahu yang menjemputnya bukanlah Rania, tetapi Alaric.
"Ko Lu yang jemput!"
"Ayo cepetan, gue ngantuk nih!" ketus Alaric.
"Kemana Rania? tadi siang ibu bilang Rania yang jemput!"
"Masuk aja, cepet. Bawel banget!"
Sepanjang jalan, Nalendra terus memandang tajam Sang adik. Dia masih penasaran kenapa bukan istrinya yang jemput.
"Ga usah Mandang gue kaya gitu! apa lu ga kasian ke istri lu. Ini udah malem!"
"Ko ke rumah?" tanya Nalendra begitu tahu telah sampai di rumah orangtua mereka.
"Terus lu berharap kemana?"
"Bukankah acaranya di tempat orangtua Rania?"
"Iya, udah masuk. Lu banyak nanya banget dari tadi!"
Nalendra pun masuk ke dalam rumah mengikuti Alaric yang sedari tadi tak henti menguap.
"Akhirnya dateng juga!" seru Khalid, kakak dari Bu Shafira.
"Om," sapa Nalendra menyalami semua orang yang berada di sana.
"Istirahatlah," titah pak Sulaiman.
"Biasanya pengantin susah tidur, pengen cepet-cepet besok!" ejek Angga, adik dari Bu Shafira.
Nalendra hanya tersenyum, dia meminta izin untuk masuk ke kamarnya. Dia pun masuk ke kamarnya dan langsung kembali ke bawah mencari Bu Shafira.
"Bu," panggil Nalendra. "Ibu mana?" tanyanya pada salah satu saudaranya.
"Di dapur. Kenapa A, butuh sesuatu?"
Nalendra hanya menggeleng lalu berlalu ke dapur mencari ibunya. "Bu, Ibu."
"Apa sih, Kak. Ibu-ibu mulu!" ketus Bu Shafira yang sedari tadi mendengar Nalendra memanggilnya.
"Rania mana, ko ga ada?" tanyanya mengerutkan dahi.
"Rania, ya di rumahnya dong, Kak. Masa di sini!"
"Kalau begitu kakak ke rumahnya sekarang," ujarnya berbalik, tetapi segera dihentikan Bu Shafira.
"Hei, hei, hei. Kakak mau kemana, udah malem banget ini!" sergah Bu Shafira. "Sini, sebentar. Sini!" Nalendra mendekat ke arah Bu Shafira. "Kakak, ga boleh kemana-mana. Diem di rumah!"
"Tapi, Bu."
"Ga ada tapi-tapi!" ujar Bu Shafira. "Ibu sengaja mengatur kalian tidak bertemu dulu. Kakak sama Rania harus dipingit dulu!"
"Kenapa dipingit, Bu. Bukankah kami sudah sah suami istri!" Bu Shafira segera membekam mulut Nalendra dengan tangannya.
"Jangan keras-keras. Yang tahu kamu sudah menikah cuma om Khalid aja sama istrinya. Makanya Ibu menyarankan kalian harus dipingit!"
"Kenapa tuh, Teh?" Tanya Nyimas, istri adik Bu Shafira.
"Biasa, rengekan yang mau nikah," jawab Bu Shafira tertawa kecil.
"Sabar, A. Besok juga ketemu," ujarnya ikut menertawakan Nalendra.
**
Keluarga Idris dan Sulaiman telah menentuka tempat terbaik pernikahan Nalendra dan Rania. Mereka akan menikah di mesjid besar dekat kantor urusan agama. Mesjid itu berada di pinggir jalan besar.
Hanya keluarga besar dari keluarga orangtua Rania yang datang ke acara tersebut, termasuk orangtua Ergha juga sudah berada di sana. Begitu pula dengan keluarga Nalendra. Hanya keluarga besar orangtua Rania, mereka sepakat tidak mengundang dulu saudara persepupuan apalagi kerabat jauh dan teman. Aziz, asisten Nalendra pun datang bersama dengan istri beserta anaknya.
Berhubung menikah di bulan Ramadhan, mereka menjadwalkan menikah di sore hari agar bisa berbuka puasa bersama keluarga yang hadir.
Nalendra kembali mengucapkan ijab kabul, di depan penghulu KUA, kali ini ada Rania yang sudah berada di sampingnya. Ijab kabul berjalan sangat lancar, tanpa harus menghafal seperti sebelumnya.
"Maafkan, aku," ucap Nalendra tersedu begitu menerima buku nikah. Dia menarik Rania ke dalam pelukannya, membuat yang hadir bersorak.