
Riana tidak menduga akan kedatangan Liana, ke rumah orangtua Nalendra. Dia tidak terlalu berharap kedatangan dia yang tiba-tiba untuk meminta maaf padanya. Benar saja, Liana datang bukan untuk meminta maaf. Namun, dia tetap menginginkan Nalendra menjadi suaminya.
"Aku masih mencintai Nalendra dan akan tetap menunggunya. Aku tidak mendoakan kamu berpisah dengannya. Aku hanya akan berdoa semoga Allah menjadikan Nalendra jodohku, menjadi suamiku nanti!"
Rania mengernyitkan dahinya. Apa dia sudah ga waras! pikir Rania.
Sudah dia duga, Liana tidak akan mudah menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Selalu seperti itu sejak dia kecil, sifatnya tidak pernah berubah.
"Kamu boleh bersenang-senang sekarang. Namun, kamu juga harus selalu ingat, kalau Nalendra pun mungkin melakukan apa yang aku lakukan sekarang ketika kamu menikah dengan almarhum suamimu dulu!" ketus Liana.
Apa dia sedang mengancam ku? pikir Rania.
"Nalendra tidak seperti itu, dia bukan orang yang menginginkan milik orang lain!" bela Rania tegas, dia berusaha memelankan suaranya agar tidak terdengar orang-orang yang berada di sekitar mereka.
"Buktinya dia masih mencintaimu walaupun kamu sudah menikah!" jawab Liana, ketus. "Jangan munafik, dia pun sama!"
"Sepertinya, apapun yang aku katakan tidak akan mengubah pandanganmu tentang suamiku!" sergah Rania. "Dia tidak pernah mengganggu rumah tangga orang lain. Dia mungkin memang mencintaiku, tapi dia menghormati keputusanku yang menikah dengan sahabatnya. Dia baru mendekatiku saat aku sudah single, ketika aku sudah menjanda!" tegas Rania yang merasa mulai kehilangan kesabaran.
"Tapi kamu ga pernah tahu kan, mungkin saja dia mendoakan almarhum suamimu cepat mati, dan akhirnya dia mati hingga dia bisa menikahi denganmu. Apa salahnya aku melakukan hal yang sama dengannya?"
Rania menarik napas kasar, menenangkan hati dan pikirannya yang ingin sekali menjahit mulut Liana yang sudah lancang berkata demikian. Andai dia tidak berada di rumah mertuanya, andai dia sedang tidak hamil, tentu akan dia jambak rambut temannya itu.
"Kenapa kamu tidak coba tanya sama orangnya saja. Tanya pernahkah dia mencoba mendekatiku ketika aku bersama Ergha? Jawabannya pasti tidak, sekalipun dia tidak pernah mendekatiku karena dia tau adab dan menghormati kami!"
"Maksudmu aku tidak tahu adab?" tanya Liana melirik tajam Rania. "Justru karena aku tahu adab, makanya bilang sama kamu. Kalau aku ga tahu adab, mungkin sudah aku rebut paksa suamimu!"
"Bisakah kamu pergi saja dari sini, jika tujuanmu hanya untuk mengancam ku!"
"Aku tidak mengancammu, aku hanya memberitahumu jika aku akan menunggu Nalendra. Bahkan kalau mau, aku bisa menjadi istri keduanya!"
Dia sudah benar-benar ga waras! gerutu Rania dalam hati.
"Kalau begitu, hatur nuhun sudah datang. Sepertinya kita tidak bisa mengobrol lagi jika hanya itu yang kamu bahas. Aku sungguh tidak tertarik dengan kisah cintamu atau harapan yang kamu katakan tadi." Ujar Rania berdiri melangkah menjauh, tetapi dia berhenti sejenak lalu berbalik kembali ke arah Liana. "Satu hal lagi, aku tidak pernah dan tidak akan pernah mau berbagi suami dengan wanita lain, apalagi dengan wanita egois sepertimu!"
Rania kembali melangkah menjauh dari Liana. Dia menghampiri Nalendra yang masih asik bersenda gurau dengan teman-temannya.
Rania sungguh kesal dengan Liana. Dia kesal dengan obrolan Liana yang mengaitkan posisinya saat ini dengan posisi Nalendra saat dia menikah dengan Ergha. Rania berpikir, posisi mereka jelas sangat berbeda, tanggapan mereka pun sangat berbeda.
Nalendra dan teman-temannya memandang Rania penuh tanda tanya. Dari raut yang ditunjukan Rania, mereka menebak jika obrolannya barusan bukan obrolan damai, tetapi obrolan perang dunia ke tiga.
Rania berbalik, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Dia melewati mertua dan para tetangga yang sedang asik berbincang. Dia harus merebahkan diri, menenangkan pikiran.
Nalendra yang melihat Rania masuk dengan kesal langsung berdiri mengejar sang istri. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu, tak ada di sana. Dia pun melihat Rania menaiki tangga.
"Kenapa Kak?" tanya Bu Shafira.
"Ga kenapa-napa, Bu. Aku lupa memberi tahu sesuatu pada Rania." jawabnya mencari alasan.
Nalendra setengah berlari mengejar Rania ke kamar mereka. Dilihatnya Rania sedang tidur telentang, matanya terpejam.
"Sayang, are you ok?" tanya Nalendra segera menghampiri Rania dan duduk di samping dia.
"Ehm," jawab Rania tanpa membuka manik matanya. Napasnya sedikit tidak beraturan.
"Kenapa, mau cerita?"
"Tidak, aku hanya lelah saja. Bolehkah aku tidur sebentar? rasanya kepalaku kliyengan."
"Mau ditemenin?"
"Ga usah, kamu ke bawah saja. Kasian teman-temanmu ditinggal!"
"Baiklah, Kalau da apa-apa, tolong hubungi aku!" Rania mengangguk setuju, tetapi matanya masih terpejam.
Sementara itu, di halaman rumah orangtua Nalendra, Faqih menghampiri Liana yang masih duduk santai di kursi yang sejak tadi dia duduki.
"Hai, Na' apa kabar?