
Rania sudah berada di terminal 3 bandara internasional Soekarno-Hatta. Terminal 3 memiliki total luas 422.804 meter persegi. Luas Terminal 3 lebih besar dari Terminal 3 Bandara Changi, Singapura. Gate 1 sampai 10 di Terminal 3 digunakan untuk penerbangan internasional, sementara gate 11 sampai 28 untuk penerbangan domestik.
Rania dan Dareen menunggu gate kedatangan. "Bunda, itu Daddy!" Dareen menunjuk ke serombongan orang yang keluar.
"Daddy ...!" Dareen berlari menerobos orang-orang yang keluar dari pintu kedatangan.
"Dareen, jangan lari. Awas 'Nak ketabrak, hati-hati!" Rania berteriak, setengah berlari mengejar Dareen.
"Dareen!" Rania memanggil Dareen, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Jantungnya berdegup kencang karena tidak menemukan Sang buah hati. "Dareen!"
"Sayang." Rania langsung berbalik mendengar suara yang dia kenal.
Nalendra berdiri di sampingnya sbil menggendong Dareen. Rania pun berhambur memeluk mereka.
"Bunda nyari Dareen," ujarnya mengelus pipi Sang anak. "Lain kali jangan lari seperti tadi!"
"Maaf, Bunda!" ucap Dareen dengan wajah menyesal.
"Ga apa-apa," Nalendra mencium Dareen lalu memeluk kembali Rania. "Apa aku bisa menciummu di sini," bisik Nalendra, Rania langsung memandang tajam Nalendra.
"Maaf, Pak." Aziz yang sedari tadi melihat mereka berpelukan memutar bola matanya. Dia juga sangat merindukan keluarga kecilnya, tetapi dia tetap harus memastikan Nalendra pulang dengan selamat.
"Pak, Mobilnya sudah siap. Mari saya antar Bapak dulu."
"Oh, aku pulang dengan Rania. Dia bawa mobilku, jadi ga usah mengantarku pulang. Kamu pasti lelah. Selamat berlibur!" ucap Nalendra.
"Baiklah, terima kasih. Selamat berlibur juga, Pak, Bu," ucap Aziz lalu pamit.
"Ayo!" Nalendra mendorong kopernya dan menuntun Dareen.
**
Malam harinya, Nalendra dan Rania duduk berdua menonton tv sementara Dareen telah tidur. Rania menyenderkan kepalanya di bahu Nalendra yang sedari tadi terus mendekapnya.
"Sebaiknya kita lebaran di mana?" tanya Nalendra sembari mengelus rambut hitam panjang Rania.
"Di mana pun kamu mau, aku pasti mengikutimu," jawab Rania.
"Kalau begitu, hari pertama kita di keluargamu saja. Ibu sama Bapak ku sudah dipastikan akan berlebaran di Garut, di rumah Abah Danu."
"Bicarakan dulu saja dengan Ibu, mintalah izin dulu sama Beliau. Aku merasa tidak enak jika belum mendapat izinnya. Dia juga pasti ingin berlebaran berkumpul dengan anak sulungnya yang jarang sekali pulang!" ucap Rania penuh penekanan.
"Aku sudah meminta izin darinya. Bahkan aku meminta izin untuk berlebaran di Singapore. Namun, sayangnya kamu dan Dareen belum punya visa."
"Ya, kalau pun punya juga aku ga mau. Masa iya lebaran di negeri orang, lagian juga kamu kan bisa pulang."
Nalendra tertawa. "Aku bilang Ibu dan Bapak sekalian bulan madu."
Rania tersenyum malu mendengarnya. Bulan madu? ya Allah, dia nyampe pengen bulan madu. pikirnya.
"Kenapa, apa kamu ga mau berbulan madu?"
"Ehm, enggak, bukan begitu. Hanya saja ... Dareen bagaimana?"
"Ya kita bawa. Masa ditinggal!"
"Apa tidak apa-apa kalau kita membawanya?" Rania merasa tidak enak dengan Nalendra.
"Kalau kamu mau, kita bisa membawa semua orang berlibur dengan kita. Nanti biar ada yang jagain Dareen."
"Baiklah, aku menurut saja."
"Sayang, kalau menstruasi kaya gitu biasanya berapa hari?"
"Ehm?" Rania terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. "Ehm, sekitar seminggu. Tapi kalau lancar empat atau lima hari juga sudah bersih," jawab Rania dengan wajah merona.
"Kenapa?" tanya Rania melihat Nalendra menekuk jarinya satu persatu.
"Menghitung kamu kapan selesainya," jawab Nalendra dengan wajah polos.
"Benarkah?" Rania mengangguk malu melihat Nalendra tersenyum menggodanya.
Keesokan harinya, Keluarga kecil Nalendra sudah bersiap hendak mudik ke Bandung. Dareen sudah duduk manis di kursi belakang dengan memeluk bantal yang sudah ada di sana.
"Kenapa?" tanya Rania.
"Tidak apa-apa, hanya senang saja melihat kalian." Nalendra memandang Dareen dan bagasi mobil yang telah penuh oleh barang bawaan mereka.
Perjalanan Jakarta-Bandung yang biasa ditempuh dengan tiga hingga empat jam, kini lebih dari itu. Sudah lebih dari lima jam, tetapi mereka baru sampai di kilometer 94, daerah Purwakarta.
"Mau istirahat dulu atau gantian?" tanya Rania.
"Langsung aja."
"Apa kamu ga cape? gantian aja sini sama aku."
"Kita istirahat dulu di 88 kalau begitu," kata Nalendra. Dia tidak akan membiarkan Rania menyetir mobil.
Bisa jantungan nanti kalau dia yang menyetir! pikir Nalendra.
Rania selalu menyetir dengan kecepatan minimal 80 km/jam dan bisa lebih dari 100 km/jam jika jalanan kosong. Nalendra tidak akan pernah lupa saat Rania datang ke Jakarta membawa mobilnya dengan hanya membutuhkan waktu 2 jam saja.
Nalendra bersyukur rest area daerah Purwakarta penuh oleh pemudik yang sedang beristirahat. Dia melanjutkan kembali perjalanannya ke Bandung.
Mereka tiba di rumah orangtua Nalendra dua jam kemudian. Bu Shafira dan Pak Sulaiman menyambut kedatangan anak, mantu dan cucunya di depan rumah.
"Cucu kakek udah dateng!" Pak Sulaiman langsung menggendong Dareen masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh Bu Shafira.
"Udah ada cucu, lupa sama aku!" ujar Nalendra memandang orangtuanya masuk tanpa menyapanya dahulu.
Rania terkekeh, "Udah ayo, sama aku aja!"
Nalendra tersenyum nakal, dia mencubit pipi Rania hingga Siempunya merona. Nalendra menggenggam tangan Rania, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Ndra, bawaannya?" Rania menunjuk bagasi yang belum dibuka.
"Nanti saja!"
Nalendra tersenyum melihat Sang istri. Malam ini, pikirnya, terkekeh.
Nalendra baru menyadari Rania telah selesai menstruasi saat tadi mereka solat duhur di sebuah mesjid di pinggir jalanan di Bandung. Sejak itu, dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti malam bersama Rania.
"Assalamu'alaikum," Rania memberi salam begitu mereka masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," ucap Pak Sulaiman dan Bu Shafira berbarengan.
"Kak, mau lebaran di mana?" tanya Bu Shafira.
"Ibu lebaran di mana?" Nalendra balik bertanya.
"Ih, Kakak ini gimana malah balik nanya! Dareen ikut ke Garut ya sama Nenek?" Bu Shafira mengalihkan pandangan dari Nalendra ke Dareen yang sedang berada di pangkuan Pak Sulaiman.
"Kita mancing ikan lagi," ujar Pak Sulaiman merayu cucunya.
Rania memandang Nalendra. Dia begitu bersyukur keluarga Nalendra mau menerima dan menyayangi Dareen. Rania memegang tangan Nalendra kemudian mengangguk padanya, menyetujui keinginan Sang mertua.
"Ibu kapan berangkat ke Garut?" tanya Nalendra.
"Nanti sore, nunggu Alaric!"
"Kalau begitu, aku nyusul besok aja ke sananya. Nanti sore mau ke rumah Mama Sekar dulu," kata Nalendra.
"Ya udah, besok jangan sore ke sananya pasti macet banget!"
Pukul empat sore, Nalendra dan Rania berangkat ke rumah orangtua Rania, tentu Dareen pun ikut bersama mereka. Sama seperti orangtua Nalendra, orangtua Rania pun langsung menyambut cucunya terlebih dahulu baru ke anak dan mantunya.
"Teh, mau nengok Liana dulu ga? dia baru pulang tadi siang. Mama juga belum nengokin. Kalau Teteh mau sekarang aja, yuk!"