
Nalendra memiliki kamar untuk beristirahat di ruang kantornya. Kamar tersebut biasa dia gunakan untuk shalat dan tidur ketika mengharuskan dia lembur.
Nalendra mengambil ponsel di meja kerjanya, melihat siapa yang beberapa kali menghubungi ketika dia sedang shalat. Senyum mengembang dibibir, mengetahui Rania yang menghubungi dan mengirim pesan padanya.
"Ya, Assalamu'alaikum." Rania terlihat melambaikan tangan kepadanya. Nalendra melakukan panggilan video pada istrinya yang sangat dia rindukan.
"Wa'alaikumsalam, udah sampai. Sama siapa ke rumah ibu?" tanyanya memandang sang istri yang sedang tiduran menyamping.
"Tadi dijemput Alaric. Apa aku ganggu?" tanya Rania.
"Tidak, kamu tidak pernah mengangguku, Sayang. Tadi aku baru selesai shalat, udah makan, mana Dareen?" tanya Nalendra tersenyum membayangkan Sang istri sedang berbaring di tempat tidurnya.
"Dareen sedang main bersama Alaric. Di sini belum asar, mungkin satu jam lagi dan aku sudah makan tadi siang." ucap Rania menjawab semua pertanyaan yang diajukan Nalendra. Ya, Singapore lebih cepat satu jam dibanding waktu Indonesia bagian barat. "Ndra, tadi Liana ke rumah. Dia mengajakku ke acara reuni, buka bersama. Aku mau ikut reuni kelas, boleh ya. Tadi aku udah bilang iya ke dia," ungkap Rania.
Ngapain Liana ngajak Rania Segala. pikir Nalendra. "Sabtu besok ya?" tanya Nalendra.
"Ko kamu tau?"
"Tau lah, temen-temen pada ngobrolin itu di grup!" ujar Nalendra.
Nalendra memang jarang nimbrung di grup chat SMA atau pun kuliah, tetapi dia tahu acara apa yang akan mereka adakan. Teman-temannya selalu merayu dia untuk ikut, walaupun seringnya dia tolak.
"Oh, aku enggak masuk grup." Rania termenung sebentar. "Udah ya, aku pengen tidur sebentar. Aku ngantuk, baik-baik ya di sana," ucap Rania melambaikan tangan lalu menekan tanda mengakhiri panggilan.
"Sayang, Yank, Sa ...." Video call mereka sudah terputus, diputus sepihak oleh Rania. "Eh, udah putus lagi aja!" gerutu Nalendra. "Sebenarnya dia kenapa, apa dia cemberut karena rindu padaku?" ujarnya lirih dengan penuh percaya diri.
Nalendra menarik napas kasar. Dia segera keluar dari ruangan kerjanya dan masuk ke dalam ruang kerja Aziz.
Nalendra duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Aziz, tanpa permisi. Dia menatap Aziz lekat.
Aziz langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Sang atasan. "Ada apa, Pak?"
"Sepertinya Rania memang lagi marah, tapi aku ga tau dia marah kenapa?" ungkap Nalendra sendu. "Barusan dia mematikan video call-nya!"
Aziz menarik napas pelan. Nalendra sangat pintar dalam berbisnis, hingga dapat menjadi seorang pimpinan di kantor cabang walaupun umurnya baru diawal 30. Namun, dalam urusan cinta dia seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
"Perempuan memang suka berteka-teki. Mereka ingin kita pandai menebak apa yang mereka inginkan."
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Nalendra menatap kosong meja di depannya.
"Coba Bapak ingat baik-baik. Apa yang kalian lakukan sebelum istri Bapak menunjukan sikap marah seperti yang Bapak katakan barusan," ujar Aziz memberi saran.
Nalendra mencoba mengingat kembali ketika dia berangkat ke Jakarta.
"Apa dia marah karena aku membawa mobilku ke Jakarta?"
"Bukankah Rania juga mempunya mobil pribadi." Aziz mengetahuinya karena dia berpikir, jika seorang wanita yang hanya Ibu rumah tangga bisa mengendarai mobil dan punya SIM, tentu dia memiliki kendaraan tersebut. "Adakah percakapan perdebatan tentang itu?"
"Tidak, dia terlihat baik-baik saja!" jawab Nalendra yakin Rania marah bukan karena hal tersebut. "Apa dia marah karena aku memintanya tinggal di rumah yang aku sedikan, setiap aku pulang ke Bandung?"
Ya, Nalendra ingat, sikapnya sedikit berubah mulai malam itu.
"Aku kurang paham, apa maksud Bapak?"
"Lalu?"
"Ya aku jelaskan, rumah itu aku beli udah lama. Bahkan saat dia masih pacaran dengan Ergha, aku sudah membelinya!"
"Ergha, siapa Ergha?"
"Dia almarhum temanku sekaligus suami pertama Rania," jawab Nalendra santai.
"Nah, itu ... itu, mungkin karena itu istri Bapak marah. Bapak tidak seharusnya membicarakan almarhum suami pertama istri Bapak. Mungkin dia merasa bersalah atau bagaimana gitu ketika mendengar suaminya sekarang menyebut suami pertamanya dulu!" ujar Aziz dengan ketus, Nalendra langsung menaikan satu alis memandang Aziz dengan tajam.
"Maaf, saya terbawa suasana," ucapnya lirih sambil menunduk.
"Apa aku harus menjual rumah itu dan membeli yang baru?" tanya Nalendra mulai mengerti.
"Kalau bisa seperti itu, tapi alangkah baiknya diobrolkan kembali dengan istri Bapak." Aziz memelankan suaranya.
"Aku akan pulang Sabtu besok. Tolong atur kembali jadwalku dan pesankan tiket untukku. Aku akan kembali hari Minggu, paling telat Senin pagi sebelum meeting dimulai!" Nalendra mengucapkannya dengan cepat dan berlalu dari ruangan Aziz. "Terimakasih sarannya," Ucap Nalendra menutup kembali pintu ruangan Aziz.
Aziz ternganga melihat atasannya bersikap seperti itu. Nalendra memang terbiasa meminta Aziz membeli tiket, tiba-tiba memintanya mengatur ulang jadwal dan semua sikap dingin, ketusnya. Namun, rasanya dia tetap selalu terkejut dengan sikap Nalendra yang mudah berubah kalau sudah berkaitan dengan Rania.
**
Setelah salat asar, Rania membantu ibu mertuanya menyiapkan makanan untuk buka bersama keluarga dari pihak Bu Shafira.
"Teh, Nanti jam lima sopnya angetin lagi ya," titah Bu Shafira. "Ini, tolong kupasin buah-buahan. Kita buat sop buah aja, rumput laut dan biji selasih ya ambil di kulkas."
Bu Shafira begitu cekatan mengerjakan persiapan buka puasa keluarganya, hanya dibantu oleh Rania dan Pak Sulaiman. Dia memang senang memasak dan rasanya sangat enak. Dia juga pandai membuat kue.
"Bu, kapan mereka akan datang?" tanya Rania yang penasaran, kenapa tidak ada seorang pun dari saudaranya yang membantu mempersiapkan.
"Nanti jam lima atau setengah enam. Ini hari kerja, jadi pada datang setelah pulang kerja," jawab Pak Sulaiman.
Rania memotong-motong beberapa macam buah-buahan. Dia juga membuat sop buah sesuai arahan yang diberikan oleh Bu Shafira.
"De, beliin ambil pesanan sate di tempat biasa. Ayo, cepat udah jam lima. Ajak Dareen sekalian jalan-jalan, tapi harus di sini sebelum adan!" titah Bu Shafira pada Alaric.
"Yah, karpetnya udah dikeluarkan? biar nanti di gelar sama yang datang duluan!"
Rania tersenyum melihat ibu mertuanya memberikan perintah pada semua anggota keluarga. Tidak ada satu pun yang berani menyanggahnya, semua menuruti perintah beliau.
"Jangan kaget, memang begini tiap ada acara di rumah. Tidak ada sodaranya yang datang, makanya diadakan di hari kerja agar tidak terlalu terlihat kalau mereka ...," ujar Pak Sulaiman berbisik pada Rania.
"Mereka apa?" tanya Rania dengan pelan.
"Ya seperti ini, tidak datang."
Rania berusaha mencerna apa yang Pak Sulaiman katakan. "Apa mereka tidak akur?"
"Setengah-setengah," jawabnya berbisik.
"Maksudnya?" tanya Rania.